<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-4691295274548167167</id><updated>2011-09-27T15:08:31.613-07:00</updated><title type='text'>Menemu Hikmah, Membangun Keadilan</title><subtitle type='html'>"Berbuat Adillah, Karena Adil itu Lebih Dekat Kepada Taqwa"


"(Ulil Albab) Mereka yang mendengarkan Perkataan, Lalu Mengikuti yang Terbaik"</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://nuimhidayat.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4691295274548167167/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nuimhidayat.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Nuim Hidayat</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04748613359481249234</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='22' src='http://2.bp.blogspot.com/_5sXuNmRv_aA/SXrAMvDXeaI/AAAAAAAAAAM/KQ9cesHTMeQ/S220/FOTO+1.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>50</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4691295274548167167.post-5746077807698766681</id><published>2010-11-23T02:22:00.001-08:00</published><updated>2010-11-23T02:23:23.338-08:00</updated><title type='text'>Nasib Bahasa Indonesia</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_5sXuNmRv_aA/TOuWElsw2jI/AAAAAAAAAII/t5VeJy0F_Eo/s1600/square_kufi_14.png"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_5sXuNmRv_aA/TOuWElsw2jI/AAAAAAAAAII/t5VeJy0F_Eo/s320/square_kufi_14.png" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5542688771993033266" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Nasib Bahasa Indonesia&lt;br /&gt;Oleh: Nuim Hidayat &lt;br /&gt;(Litbang Sekolah Alam dan Sains Al Jannah dan Kepala Sekolah SMA Pesantren Husnayain)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Tanah air kini bermunculan SMP dan SMA internasional. Sekolah-sekolah menengah internasional ini memungut bayaran yang mahal, puluhan juta dan kelebihannya terutama hanya satu yaitu menggunakan bahasa Inggris dalam berbagai mata pelajarannya. Perlu didukung  atau dihentikankah tren seperti ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita faham bersama bahwa bahasa adalah alat untuk menyampaikan suatu makna benda atau peristiwa. Bila dua orang atau lebih berkomunikasi, menggunakan sebuah bahasa, mereka saling paham, maka telah cukuplah fungsi bahasa itu. Bahasa bukan untuk bergaya-gaya atau menghegemoni suatu komunitas/bangsa ke bangsa lain. Raja Ali Haji, ulama besar dan ahli bahasa Melayu menyatakan bahwa tujuan belajar bahasa adalah untuk makrifat kepada Allah, Sang Pencipta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahasa juga adalah kebiasaan. Orang yang dilahirkan di Jawa, bapak ibu dan teman-temannya menggunakan bahasa Jawa maka anak itu—bila normal—pasti bisa berbahasa Jawa. Bila di sekolah mereka diajari tiap hari bahasa Indonesia, maka ia akan lancar berbahasa Indonesia. Begitu pula orang Inggris, Arab, Jerman, Cina dan lain-lain.  Sebuah masyarakat atau individu unggul bukan karena bahasa yang digunakan. Tapi karena ilmu, kecerdasan dan  kreativitas yang masyarakat miliki. Maka bangsa Jepang, Jerman dan Cina unggul dalam berbagai bidang kehidupan, tapi tetap mereka tidak kehilangan identitas bahasanya. Begitu juga dulu bangsa Arab, sekarang bangsa Inggris atau Amerika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di negara tetangga kita, bila kita mencermati kelahiran Universiti Malaya atau Universiti Kebangsaan Malaysia, banyak ahli pendidikannya mengkhawatirkan tergerusnya bahasa Melayu ke bahasa Inggris. Maka kini di universitas itu, tiap mahasiswa dari luar negeri (tidak terkecuali dari Indonesia), bila mencari ilmu di kedua universitas itu, apapun jurusannya, mereka harus mengambil bahasa Melayu. Untuk di Universiti Malaya, mahasiswa-mahasiswa Indonesia biasanya disuruh tes bahasa Melayu terlebih dulu. Bila lulus, maka mereka terlepas beban untuk mengambil SKS bahasa Melayu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski demikian banyak cendekiawan Melayu di Malaysia (dan Singapura) resah karena bahasa Melayu di kedua negara tetangga kita itu, mulai jarang dipakai anak-anak muda mereka. Bila anak-anak India, Cina dan Melayu berbincang bertiga di Malaysia, maka mereka menggunakan bahasa Inggris bukan bahasa Melayu. Bila kita berkunjung ke kedai-kedai buku Malaysia, maka jumlah buku berbahasa Inggris jauh lebih membludak dari bahasa Melayu.  Di Singapura, penggunaan bahasa Melayu lebih menyedihkan lagi. Ia hampir-hampir hanya digunakan orang-orang Muslim Melayu saja, yang jumlahnya kini hanya sekitar 15%. Bahasa Inggris menjadi bahasa pengantar wajib di sekolah-sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sejarah kita, Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928, sebenarnya mengajarkan kepada kita semangat agar bahasa Indonesia-Melayu ini menjadi ciri bangsa Indonesia. Agar bangsa Indonesia dikemudian hari menjadi bangsa besar dengan bahasa Indonesia. Bukan dengan bahasa Belanda yang saat itu banyak dipakai kaum terpelajar Indonesia, karena diwajibkan pemerintah Belanda digunakan di sekolah-sekolah tanah air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ulama kita juga merintis penggunaan bahasa Melayu ini dalam karya-karya mereka. Bahasa Arab Jawi atau Arab Melayu mereka tulis dalam karya-karya agung mereka mengenai bahasa, sejarah, biografi, politik, kisah-kisah dan lain-lain. Buku-buku karya ulama dan tokoh-tokoh Islam terkemuka seperti Nuruddin ar Raniri, Raja Ali Haji, Hamka, Mohammad Natsir, Syafruddin Prawiranegara, A Hassan Ahmad Dahlan, Hasyim Asyari ditulis dalam bahasa Melayu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini bahasa Inggris, seolah-olah menjadi tolok ukur kecerdasan. Bila orang tidak bisa bahasa Inggris dengan skor sekian, maka mereka sulit untuk masuk ke perguruan tinggi ternama. Seolah-olah derajat mereka yang bisa bahasa Inggris, lebih tinggi dari mereka yang faham bahasa Indonesia. Mereka lupa, bahwa kecerdasan bahasa hanyalah salah satu kecerdasan pada diri manusia. Ada delapan kecerdasan di diri manusia: kecerdasan bahasa, matematika, spasial, interpersonal, musik dan lain-lain. Orang Indonesia bisa ahli matematika, organisasi atau musik tanpa menguasai bahasa Inggris. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang paling gawat dampaknya, bila bahasa sendiri tidak dihormati, menurut pakar pendidikan Malaysia, Wan Mohd Nor Wan Daud : “Bangsa itu menjadi tidak menghormati karya-karya orang-orang yang cerdas dari bangsa sendiri.” Seolah-olah karya berbahasa lain mesti lebih bagus dari tokoh-tokoh bangsa sendiri. Padahal orang-orang hebat bangsa itu sendirilah yang hari ke hari mengamati kondisi bangsanya, yang akan sanggup mengatasi permasalahan di bangsa itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu, tidak dipungkiri bahasa asing perlu dikenal. Mahasiswa-mahasiswa di perguruan tinggi perlu belajar bahasa Inggris untuk lebih mendalami sains, teknologi, komputer dan lain-lain. Karena memang tidak dipungkiri sains dan teknologi sekarang ini, banyak ditulis dalam bahasa Inggris. Permasalahannya, bila bahasa Inggris diajarkan intensif di sekolah menengah, maka para murid akan setengah matang pemahamannya terhadap bahasa ibu sendiri. Akhirnya kemampuan bahasa Indonesia pun setengah jadi dan bahasa Inggrisnya pun tanggung. Jadilah penggunaan bahasa yang kacau di masyarakat, seperti kita lihat di mall-mall, perumahan-perumahan dan buku-buku sekarang ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga banyak mental para pebisnis dan penerbit buku di tanah air sekarang ini, bila hanya menggunakan bahasa Indonesia, seolah-olah kurang keren. Kurang diminati. Mereka pun ikut-ikutan membuat judul dengan bahasa Inggris, padahal isinya bahasa Indonesia. Dampak lebih jauh generasi muda di masa 10 tahun mendatang bisa-bisa lebih bangga berbahasa Inggris daripada berbahasa Melayu. Seperti yang terjadi di Malaysia dan Singapura sekarang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang tidak dipungkiri adanya pertarungan ide dalam memasukkan sebuah kata serapan dalam bahasa Indonesia. Bila dulu banyak lafadz-lafadz Arab masuk dalam kosa kata Indonesia, kini kebanyakan kata-kata Inggris yang masuk. Seiring digesernya peranan ahli sastra Melayu, seperti Raja Ali Haji dan Hamka dengan Gorrys Keraf dan A Teeuw.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nasib pendidikan di Indonesia juga kini secara umum memang belum menggembirakan. Meski anggaran pendidikan dinaikkan hampir 20 persen, tapi sistem pendidikan di Indonesia masih kalah di zaman Belanda atau sebelum Belanda masuk. Kini, aspek material lebih banyak didulukan para dosen atau guru daripada kepedulian terhadap pribadi arau akhlak murid. Setelah guru mengajar, mereka kebanyakan langsung pulang. Jarang yang menanyakan atau tahu bagaimana kondisi pergaulan murid, akhlak mereka sehari-hari di rumah /sekolah dan keseluruhan kepribadian murid itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya begitulah nasib pendidikan bangsa kita sekarang ini. ‘Rekayasa Pendidikan’ menjauhkan murid dari agamanya telah berlangsung lama di negeri ini. Kita bisa melihat mulai digantinya kata murid menjadi siswa. Kata murid, yang digulirkan secara cermat oleh ulama-ulama Islam diganti dengan kata siswa menginduk pada Taman Siswa Ki Hajar Dewantoro. Murid dari kata araada-yuriidu-muriidan. Maknanya orang mempunyai kehendak. Orang yang mempunyai kemauan. Orang yang mempunyai cita-cita. Sedangkan siswa? Wallahu aliimun hakiim.*&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4691295274548167167-5746077807698766681?l=nuimhidayat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nuimhidayat.blogspot.com/feeds/5746077807698766681/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4691295274548167167&amp;postID=5746077807698766681&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4691295274548167167/posts/default/5746077807698766681'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4691295274548167167/posts/default/5746077807698766681'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nuimhidayat.blogspot.com/2010/11/nasib-bahasa-indonesia.html' title='Nasib Bahasa Indonesia'/><author><name>Nuim Hidayat</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04748613359481249234</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='22' src='http://2.bp.blogspot.com/_5sXuNmRv_aA/SXrAMvDXeaI/AAAAAAAAAAM/KQ9cesHTMeQ/S220/FOTO+1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_5sXuNmRv_aA/TOuWElsw2jI/AAAAAAAAAII/t5VeJy0F_Eo/s72-c/square_kufi_14.png' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4691295274548167167.post-8488421268324481722</id><published>2010-11-23T02:01:00.000-08:00</published><updated>2010-11-23T02:21:51.469-08:00</updated><title type='text'>Terjebak Gelar</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_5sXuNmRv_aA/TOuTfycrzNI/AAAAAAAAAIA/hWaoPKd-TlE/s1600/kaligrafi-1.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_5sXuNmRv_aA/TOuTfycrzNI/AAAAAAAAAIA/hWaoPKd-TlE/s320/kaligrafi-1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5542685940736838866" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Terjebak Gelar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Nuim Hidayat &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Niat adalah tujuan seseorang dengan hatinya terhadap sesuatu yang dia kehendaki untuk dikerjakannya” (Sulaiman al Asyqar mengutip al Qurafi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menjayakan sebuah bangsa, maka para ahli sepakat bahwa lewat pendidikan lah jalan utamanya. Bukan lewat ekonomi, politik, budaya dan lain-lain. Karena bangsa terdiri dari masyarakat, sedangkan mayarakat terdiri dari individu-individu, maka perubahan bangsa dimulai dengan mengubah individu itu. Perubahan individu adalah dimulai dengan mengubah akal dan jiwanya. Perubahan akal dan jiwa, tidak lain tidak bukan mesti lewat pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin maju dan benar pendidikan sebuah bangsa, maka bangsa itu akan mengalami kejayaan. Semakin terpuruk dan salah dalam arah pendidikan bangsa, maka bangsa itu akan terus mengalami terpurukan.  Mengalami lingkaran setan masalah yang membelit, mulai dari kerakusan ekonomi, kerakusan jabatan, kerakusan politik dan berbagai kerakusan-kerakusan duniawi lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangsa kita, karena kini terjebak dalam demokrasi liberal –dalam pemilihan presiden gubernur, bupati dll—kita lihat kerakusan atau perebutan harta, politik dan jabatan menyatu seperti ‘permainan setan’.  Sebagian besar mereka yang memperebutkan jabatan itu, bukan bertujuan untuk memakmurkan rakyat, tapi hanya untuk sekedar rebutan untuk memakmurkan diri dan partainya. Rakyat menjadi sisa perhatian setelah kesejahteraan diri, keluarga dan partainya tercapai dalam tingkat yang maksimum. Rakyat hampir-hampir tidak mendapat keteladanan dalam ‘pendidikan politik’ saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bidang pendidikan, tidak kalah gawatnya. Para pejabat yang mengurusi pendidikan pun tidak menunjukkan teladannya. Bantuan-bantuan dari pemerintah, apakah lewat BOS, BOM atau bantuan Sertifikasi Guru/Dosen sampai dengan sekarang, masih menjadi lahan empuk bagi para pejabat untuk minta komisi. Baik dengan lafal terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi. Baik dengan paksaan maupun sekarela.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan guru atau dosen? Mayoritas setali dua uang. Jarang guru yang memperhatikan betul-betul tingkah laku murid-muridnya.  Dosen kebanyakan hanya mengajar mata kuliahnya, semata, setelah itu pulang.  Mahasiswa atau murid-muridnya bergaul seks bebas, malas dalam belajar, bodoh, tidak menjadi perhatian.  Mayoritas yang diukur adalah keberhasilan murid dalam menjawab soal belaka. Otak diisi –entah isinya benar atau tidak—tapi jiwanya dibiarkan merana.  Mahasiswa atau murid yang harus mencari sendiri pergaulan, mencari teman, berlatih organisasi dan lain-lain. Sangat jarang guru yang perhatian dalam hal ini. Padahal aktivitas-ativitas itulah nanti yang banyak menentukan masa depannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena pendidikan kita, masih didominasi dengan transfer pengetahuan semata, maka kebanyakan intansi pendidikan gagal mencetak murid atau mahasiswa sebagaimana yang diharapkan.  Mereka-mereka yang berhasil mayoritas didapat dari pendidikan keluarga atau di luar instansi pendidikan resmi. Mereka berhasil karena mendapatkan pendidikan-pendidikan non formal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ukuran transfer pengetahuan semata inilah yang menyebabkan gelar disematkan. Gelar sarjana, master, doktor atau profesor.  Dan ketika orang sudah bergelar doktor atau profesor, biasanya, dia merasa sudah ahli segalanya. Seolah-olah tidak ada yang lebih tinggi dari dia dalam ilmunya itu. Dia kemudian melihat bahwa orang yang bergelar lebih rendah dari dirinya atau yang tidak punya gelar, seolah-olah  derajatnya lebih rendah dari dirinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini pemerintah lewat Mendikas menargetkan dapat melahirkan 5.000 doktor per tahun sehingga pada 2014 diharapkan memiliki sedikitnya 50.000 doktor. Dirjen Pendidikan Tinggi, Kementrian Pendidikan Nasional, Prof Djoko Santoso, Jumat (27/8) di Bogor mengatakan, berdasarkan data yang dimiliki Kemdiknas, Indonesia baru mampu melahirkan sebanyak 3.500 doktor per tahun.  Rinciannya sebanyak 2.500 doktor merupakan lulusan kampus-kampus di Tanah Air, sedangkan 1.000 doktor lainnya lulusan berbagai perguruan tinggi di mancanegara. "Ke depan, kami menargetkan mampu melahirkan 5.000 doktor per tahun," ujar Prof Dr Djoko Santoso. (Lihat www.republika.co.id, 27 Agustus 2010)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seolah-olah bila negeri ini banyak doktor, maka masalah di negeri ini akan selesai. Kwik Kian Gie pernah menulis sebuah artikel, kenapa begitu banyak masalah ekonomi di negeri ini, padahal ribuan orang yang bergelar doktor di negeri ini? “Masalahnya adalah tidak adanya moral/akhlak,”kata Kwik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gelar Perlu atau Tidak?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila kita amati dengan serius siapa yang membuat perubahan besar di masyarakat Indonesia atau dunia, ternyata banyak juga yang tidak bergelar. Atau jumlahnya seimbang.  Tokoh-tokoh pendiri gerakan Islam seperti Abul Ala al Maududi,  Hasan al Banna, Taqiyuddin an Nabhani, Cokroaminoto, Natsir, A Hassan, Hamka, Wachid Hasyim, Ahmad Dahlan tidak bergelar formal.  Penemu Microsoft dan Google tidak bergelar formal dan lain-lain. Kita bisa mendata lebih lanjut para pengusaha-pengusaha yang besar, seperti Ciputra, Jakob Oetama tidak bergelar. Mubaligh-mubaligh yang terkenal di Indonesia, Arifin Ilham, AA Gym, Yusuf Mansur dll tidak bergelar formal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi sebenarnya kualitas manusia (guru) janganlah diukur dari gelar formal seperti saat ini yang menggejala dalam dunia pendidikan kita. Faktor gelar S1, S2 atau S3 yang saat ini menjadi ukuran pendidikan kita, menyebabkan banyak orang yang pandai, hanya karena tidak mempunyai gelar, ia tidak bisa mengajar di instansi-instansi formal kita. Ada beberapa perguruan tinggi yang membolehkan mereka mengajar, tapi itupun sifatnya suplemen belaka. Mereka meskipun mempunyai keahlian yang tinggi dalam manajemen, gara-gara tidak bergelar, maka ia tidak diperkenankan memegang manejemen pendidikan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan inilah salah satu ‘lingkaran setan’ itu, karena gelar formal menjadi ukuran segalanya. Misalnya –dan saat ini menggejala—adalah banyaknya para guru atau pegawai-pegawai pemerintah yang sekolah kembali hanya untuk meraih gelar. Karena dengan gelar yang lebih tinggi, gaji mereka naik lebih tinggi. Mereka-mereka yang mau pensiun pun berlomba untuk kuliah lagi agar uang pensiunnya naik.Yang penting gelar, ilmu soal kedua. Karena sistem pendidikan kita, telah meniru mentah-mentah sistem pendidikan Barat (meski Barat kini juga mencoba merevisinya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila kita kembali ke sistem pendidikan Islam, maka gelar bukan tujuan pendidikan.  Karena itu, Imam Ghazali mengingatkan dengan keras, siapa yang mencari ilmu dengan tujuan untuk ‘keduniaan’, maka ia dilaknat oleh Allah. Bila ilmu diletakkan dibawah dunia/harta, maka ilmu nilainya lebih rendah dari harta. Dan disinilah mulai kerusakan ilmu dan juga kerusakan dunia itu. Pesan penting Sayyidina Ali bahwa ilmu lebih tinggi dari harta mesti terus kita camkan dalam hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka dahulu ulama-ulama kita tidak memberi gelar pada murid atau santrinya bila mereka telah selesai tingkat pendidikannya. Tapi mereka diberikan ijazah bahwa mereka telah menguasai (dan mengamalkan) ilmu itu. Guru atau ulama tidak sembarangan memberikan ijazah kepada muridnya. Mereka-mereka yang akhlaknya rusak, atau tidak menguasai ilmu itu, tidak diberikan ijazah itu. Bahkan para ulama (cendekiawan Islam)&lt;br /&gt;dulu karena kerendahan hatinya, mereka sering menyebut dirinya ‘al faqir’. Letak kualitas manusia bukan pada gelar. Tapi pada diri keseluruhan pribadi orang itu, pada namanya bukan pada gelarnya.*&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4691295274548167167-8488421268324481722?l=nuimhidayat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nuimhidayat.blogspot.com/feeds/8488421268324481722/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4691295274548167167&amp;postID=8488421268324481722&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4691295274548167167/posts/default/8488421268324481722'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4691295274548167167/posts/default/8488421268324481722'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nuimhidayat.blogspot.com/2010/11/terjebak-gelar.html' title='Terjebak Gelar'/><author><name>Nuim Hidayat</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04748613359481249234</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='22' src='http://2.bp.blogspot.com/_5sXuNmRv_aA/SXrAMvDXeaI/AAAAAAAAAAM/KQ9cesHTMeQ/S220/FOTO+1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_5sXuNmRv_aA/TOuTfycrzNI/AAAAAAAAAIA/hWaoPKd-TlE/s72-c/kaligrafi-1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4691295274548167167.post-5665222232235821610</id><published>2010-10-25T16:17:00.001-07:00</published><updated>2010-10-25T16:20:19.042-07:00</updated><title type='text'>Tauhid, Hamka, dan Al Qur’an (Renungan untuk Syafii Maarif dan kita semua)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_5sXuNmRv_aA/TMYQmGW7SMI/AAAAAAAAAH0/6RNjZ-sFSEU/s1600/200002.JPG"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 214px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_5sXuNmRv_aA/TMYQmGW7SMI/AAAAAAAAAH0/6RNjZ-sFSEU/s320/200002.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5532127438999079106" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Tauhid, Hamka, dan Al Qur’an&lt;br /&gt;(Renungan untuk Syafii Maarif dan kita semua)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada sebuah hadis yang sahih, dirawikan dari Abd bin Humaid dari ar Rabi’ bin Anas...bahwa seketika (suatu ketika) orang bertanya kepada Rasulullah, tentang siapa yang dimaksud dengan orang-orang yang sesat.  Lalu Rasulullah menjawab:”Yang dimaksud dengan orang-orang yang dimurkai ialah Yahudi dan yang dimaksud orang-orang yang sesat ialah Nasrani.”  (Hamka, Tafsir Al Azhar, Juzu’1:93)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah Buya Hamka menafsirkan surat al Fatihah ayat 7, yang berbunyi: “Jalan orang-orang yang Engkau kurniai nikmat atas mereka, bukan (jalan) orang-orang yang telah dimurkai atas mereka dan bukan jalan orang-orang sesat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Jadi, kalau kita ingin melihat pendapat Hamka tentang Kristen, Yahudi dan agama-agama lain selain Islam, alangkah adilnya bila kita melihat pendapat Hamka kepada ayat-ayat yang lain.  Sebagaimana kalau kita ingin melihat tafsir Al Qur’an pada suatu kata, alangkah kelirunya bila kita main cuplik satu dua ayat, tapi tidak mau melihat ayat-ayat lainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah lama kalangan pluralis (Islam liberal) menjadikan surah Al Baqarah ayat 62 dan Al Maidah ayat 69 sebagai senjata mereka untuk membela bahwa agama-agama lain di luar Islam bukan jalan yang sesat.  “Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, Shabiin dan orang-orang Nasrani, siapa saja (diantara mereka) yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. Al Maidah : 69). Ayat hampir sama terdapat pula dalam surat Al Baqarah ayat 62.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka beralasan, bahwa disitu hanya disebut kalimat “beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh”, sebagai syarat untuk masuk surga.  Tidak disebut disitu kalimat “beriman kepada Nabi Muhammad” sebagai syarat untuk jalan keselamatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara penafsiran seperti ini sebenarnya sangat aneh, kalau tidak mau dikatakan ngawur.  Karena ada beberapa ayat yang hanya menyebut beriman kepada Allah dan hari kemudian, tapi ada kaitannya dengan iman kepada Rasul.  Dalam surat al Ahzab dinyatakan: “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. 33:21). “Sesungguhnya pada mereka itu (Ibrahim dan umatnya) ada teladan yang baik bagimu; (yaitu) bagi orang yang mengharap (pahala) Allah dan (keselamatan pada) Hari kemudian. Dan barangsiapa yang berpaling, maka sesungguhnya Allah, Dia-lah Yang Maha Kaya lagi Maha terpuji.” (QS. 60:6).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu banyak ucapan Rasulullah saw. yang terkenal hanya menyebutkan iman kepada Allah dan hari Akhir.  Misalnya: “Barangsiapa iman kepada Allah dan hari Akhir, maka hormatilah tamunya.” Ada pula: “Barangsiapa iman kepada  Allah dan hari Akhir,  maka hormatilah tetangganya.”  Bagaimana Anda menafsirkan hadits seperti ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu ayat-ayat Al Qur’an untuk menyebut masalah keimanan –termasuk iman kepada Nabi Muhammad saw—kadang-kadang hanya menyebut iman saja, kemudian iman kepada Allah saja, iman kepada hari kiamat, iman kepada Rasul dan kadang menyebut lengkap rukun iman (selain iman kepada takdir yang disebut dalam hadits Rasulullah saw.). “Rasul telah beriman kepada al-Qur'an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul -Nya. (Mereka mengatakan):"Kami tidak membeda-bedakan antara seserangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya", dan mereka mengatakan:"Kami dengar dan kami ta'at". (Mereka berdoa):"Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali". (QS. Al Baqarah 285)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus bagaimana kaum pluralis memahami ayat di bawah ini. Yaitu dalam surat al Maidah disini hanya menyebut  “Hai orang-orang yang beriman”, siapakah yang dimaksud di situ apakah orang Islam saja atau orang-orang non Islam juga? Firman Allah swt: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. (QS. 5:51). Juga firman-Nya: “Hai orang-orang yang beriman jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (QS. 2:153). Ratusan ayat al Qur’an yang menyebut iman –yang maknanya Islam ini—dengan lafadz “aamanu” saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agama Tauhid&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Al Qur’an dan Hadits telah dijelaskan secara gamblang, bahwa seluruh agama Nabi dan Rasul adalah Islam. Maknanya tidak satu nabi pun beragama Nasrani, Yahudi, Majusi atau lainnya.  Hadits Rasulullah saw : “Kami semua nabi-nabi, agama kami sama, aku orang yang paling dekat kepada putera Maryam, karena tidak ada satu pun nabi antara aku dan dia.” (HR Bukhari-Muslim). “Nabi-nabi adalah bersaudara, agama mereka satu, meskipun ibu-ibu mereka berlainan.” (Lebih lanjut lihat buku “Tren Pluralisme Agama” karya Dr. Anis Malik Thoha, GIP, 2005. Buku ini mendapat penghargaan sebagai karya ilmiah terbaik “Ismail al Faruqi Publications Award” dari IIUM, Kuala Lumpur).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Firman Allah swt: “Ketika Tuhan-nya berfirman kepadanya:"Tunduk patuhlah (Islam lah)!" Ibrahim menjawab:"Aku tunduk patuh (berislam) kepada Tuhan semesta alam.Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya'kub. (Ibrahim berkata):"Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam. Adakah kamu hadir ketika Ya'kub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya:"Apa yang kamu sembah sepeninggalku". Mereka menjawab:"Kami akan menyembah Tuhan-mu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Isma'il, dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya menjadi Muslim (tunduk kepada-Nya)". (QS. 2:131-133).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi jelas disitu, Islam adalah agama nabi Ibrahim. Juga Islam adalah agama nabi-nabi bani Israil lainnya. “Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat didalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerah diri kepada Allah (Muslim)...” (QS. Al Maidah  44).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maka tatkala Isa mengetahui keingkaran mereka (Bani Israil) berkatalah dia:"Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku untuk (menegakkan agama) Allah" Para hawariyyin (sahabat-sahabat setia) menjawab:"Kamilah penolong-penolong (agama) Allah. Kami beriman kepada Allah; dan saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berserah diri (Muslim)”. (QS. Ali Imran 52).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu Syekh Ibn Arabi menyatakan: “Syariat-syariat semuanya adalah cahaya, dan syariat Muhammad saw. diantara cahaya-cahaya ini ibarat seperti cahaya matahari di antara cahaya bintang-bintang. Ketika matahari muncul reduplah cahaya-cahaya bintang-bintang tersebut dan terserap kedalam cahaya matahari. Maka sirnanya cahaya-cahaya tersebut ibarat dinaskhnya syariat-syariat dengan syariat Muhammad saw. dengan tetap eksisnya hakikat syariat-syariat tersebut, sebagaimana tetap eksisnya cahaya bintang-bintang. Oleh karena itu kita diwajibkan mengimani semua rasul. Dan semua syariat mereka adalah benar, dan tidak dinaskh karena batal atau salah sebagaimana yang diduga orang-orang bodoh. Maka semua jalan (syariat) mengacu pada jalan (syariat)nya Nabi saw. Seandainya para rasul hidup pada zamannya (Nabi Muhammad saw.) niscaya mereka akan mengikutinya sebagaimana syariat mereka mengikuti syariatnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walhasil, karena Yahudi dan Nashrani tidak mengakui kenabian Nabi Muhammad saw, maka batallah keimanan mereka.  Tidak mungkin sama antara orang-orang yang mempercayai kenabian Nabi Muhammad dengan yang tidak mempercayai, bahkan melecehkannya.  Allah Maha Pengampun sekaligus Maha Keras Siksaan-Nya.  Lihatlah contoh di dunia ini, tidak semua orang tampan, tidak semua orang punya mata dan tidak semua orang kaya.  Keadilan Allah tidak bisa kita ukur dengan akal semata di dunia ini.  Keadilan Allah akan terbukti di akherat nanti.  Wallahu aziizun hakiim.* (Dipetik dari buku ane, Imperialisme Baru).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4691295274548167167-5665222232235821610?l=nuimhidayat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nuimhidayat.blogspot.com/feeds/5665222232235821610/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4691295274548167167&amp;postID=5665222232235821610&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4691295274548167167/posts/default/5665222232235821610'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4691295274548167167/posts/default/5665222232235821610'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nuimhidayat.blogspot.com/2010/10/tauhid-hamka-dan-al-quran-renungan.html' title='Tauhid, Hamka, dan Al Qur’an (Renungan untuk Syafii Maarif dan kita semua)'/><author><name>Nuim Hidayat</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04748613359481249234</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='22' src='http://2.bp.blogspot.com/_5sXuNmRv_aA/SXrAMvDXeaI/AAAAAAAAAAM/KQ9cesHTMeQ/S220/FOTO+1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_5sXuNmRv_aA/TMYQmGW7SMI/AAAAAAAAAH0/6RNjZ-sFSEU/s72-c/200002.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4691295274548167167.post-5673687256626460179</id><published>2010-10-25T04:28:00.000-07:00</published><updated>2010-10-25T04:48:21.654-07:00</updated><title type='text'>Karya Klasik yang Perlu Dikaji Seksama</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_5sXuNmRv_aA/TMVsy5talkI/AAAAAAAAAHs/5Semy7v0BAY/s1600/Islam-Sekuler-edit-finish-23-Juni-Siang-2-302.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 222px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_5sXuNmRv_aA/TMVsy5talkI/AAAAAAAAAHs/5Semy7v0BAY/s320/Islam-Sekuler-edit-finish-23-Juni-Siang-2-302.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5531947339035088450" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Judul : Islam dan Sekularisme&lt;br /&gt;Penulis : Syed Muhammad Naquib Al-Attas&lt;br /&gt;Penerbit : PIMPIN Bandung dan ATMA-UKM Bangi&lt;br /&gt;Tahun: 2010 (Cetakan Pertama 1978)&lt;br /&gt;Hal : 242 + xxx&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karya Klasik yang Perlu Dikaji Seksama&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu ketika di tahun 70-an di sebuah kampus Malaysia, terjadi dialog kecil antara dua orang profesor ahli sastra Melayu. Prof Syed Muhammad Naquib al Attas dan Prof Sutan Takdir Alisjahbana. Sutan Takdir, seorang pengagum Barat, menantang Alatas untuk membuktikan keberadaan Tuhan. “Saya beri waktu 20 detik, kalau Tuhan itu ada, cabut nyawaku,”kata Takdir. Alatas berdiam sejenak, kemudian menjawab: “Kalau Tuhan tunduk kepada kehedakmu, maka ia bukan Tuhan, ia budakmu. Tuhan berkehendak sendiri kapan Dia mau mencabut nyawamu dan kamu tidak akan bisa menolaknya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai disitu, kisah dialog yang diceritakan kembali oleh Prof Wan Mohd Nor Wan Daud kepada hadirin saat peluncuran buku “Islam dan Sekularisme” karya Prof Naquib al Attas (penerjemah Dr Khalif Muammar), pada 7 Agustus 2010 lalu, di Aula Masjid Ukhuwah Islamiyah,Universitas Indonesia. Selain dikaji secara serius di UI Depok dengan beberapa intelekual Muslim, buku klasik itu juga didiskusikan di Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku Islam and Secularism karya sang jenius ini –julukan yang diberikan Fazlur Rahman kepada Naquib Alatas—telah diterjemahkan para cendekiawan Muslim ke dalam bahasa mereka, seperti bahasa Indonesia, Persia, Turki, Bosnis, Urdu, Tamil, Kosovo dan Arab. Karya agung ini,  menurut Guru Besar Institut Alam dan Tamadun Melayu-Universiti Kebangsaan Malaysia, Prof Wan Daud: “adalah sebuah karya agung kulli, sejagat atau universal, karena seluruh isi kandungannya membincangkan dan menganalisa perkara-perkara paling asas dalam kebudayaan Barat dan agama Islam. Pendekatannya sekaligus ilmiah dengan hujjah yang kukuh dan dalil yang mengagumkan.  Pendekatannya juga bersifat amaliah bila merencanakan perubahan kurikulum dan penubuhan institusi pengajian tinggi sebagai wahana paling strategis untuk mengembalikan kekuatan dan kemajuan umat Islam sedunia. Malah, bagian lampiran yang meringkaskan tahap-tahap dan daya pengislaman Alam Melayu mempunyai kaidah pengkajian dan penilikan yang dapat digunakan untuk memahami hakikat yang sama di daerah-daerah lain. Ciri-ciri yang terdapat pada karya ini secara langsung dapat difahami golongan Islam berpendidikan di seluruh dunia.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemikiran dalam bab kelima buku ini, yaitu tentang “Dewesternisasi Ilmu”,  menurut Alatas telah banyak membantu terlaksananya Konferensi/Persidangan Dunia Pertama tentang Pendidikan Islam yang diselenggarakan di kota Makkah pada tahun 1977. “Substansi Bab V buku ini diterbitkan dalam bahasa Inggris dan bahasa Arab dan dibacakan sebagai seuah ucapan dasar (Keynote Adress) dalam sesi umum. Pada tahun 1980, penjelasan terhadap beberapa paragraf dari bab tersebut yang berkaitan dengan konsep Pendidikan dalam Islam dibentangkan dan dibacakan dalam Persidangan Dunia Kedua tentang Pendidikan Islam yang diselenggarakan di kota Islamabad pada awal tahun yang sama,”jelas Prof Alatas dalam pengantarnya (hal. xxiv).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pembahasan tentang ‘penafibaratan’ ilmu ini ahli pemikiran Islam dan Barat ini, memulainya engan perkataan : “Telah banyak tantangan yang muncul di tengah-tengah kekeliruan manusia sepanjang sejarah, tetapi barangkali tidak ada yang lebih serius dan lebih merusak terhadap manusia daripada tantangan yang dibawa oleh peradaban Barat hari ini.  Saya berani mengatakan bahwa tantangan terbesar yang muncul secara diam-diam di zaman kita adalah tantangan ilmu, sesungguhnya bukan sebagai lawan kejahilan, tetapi ilmu yang difahami dan disebarkan ke seluruh dunia oleh peradaban Barat; hakikat ilmu telah menjadi bermasalah karena ia telah kehilangan tujuan hakikinya akibat dari pemahaman yang tidak adil. Ilmu yang seharusnya menciptakan keadilan dan perdamaian, justru membawa kekacauan dalam kehidupan manusia; ilmu yang terkesan nyata, namun justru menghasilkan kekeliruan dan skeptisisme, yang mengangkat keraguan dan dugaan ke derajat ‘ilmiah’ dalam hal metdologi serta menganggap keraguan (doubt) sebagai sarana epistemologis yang paling tepat untuk mencapai kebenaran.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, bila Samuel Huntington pada awal tahun 1990-an menggemparkan dunia dengan teori the Clash of Civilizations, maka Naquib al-Attas lebih awal lagi tahun 70-an, telah menguraikan gagasan yang lebih mendalam, lebih intelektual dan spiritual dengan menyebutnya sebagai : “the perpetual clash of worldviews between Islam and the West.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain mengungkap tentang pandangan alam Islam vs Barat, kesalahan-kesalahan mendasar tentang ilmu di Barat dan keunggulan ilmu dalam pandangan Islam, Prof Alatas juga mengupas secara tajam hal-hal penting yang perlu diketahui para kaum terpelajar dalam usaha membangkitkan umat ini. Dengan rujukan-rujukan klasik baik dari Barat dan Islam, ia mengupas jernih satu persatu topik tentang Latar Belakang Kristen Barat Masa Kini, Sekular-Sekularisasi-Sekularisme dan Islam Faham Agama dan Asas Akhlak.* (Nuim Hidayat, Lihat Islamia Republika, 21 Oktober 2010)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4691295274548167167-5673687256626460179?l=nuimhidayat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nuimhidayat.blogspot.com/feeds/5673687256626460179/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4691295274548167167&amp;postID=5673687256626460179&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4691295274548167167/posts/default/5673687256626460179'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4691295274548167167/posts/default/5673687256626460179'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nuimhidayat.blogspot.com/2010/10/karya-klasik-yang-perlu-dikaji-seksama.html' title='Karya Klasik yang Perlu Dikaji Seksama'/><author><name>Nuim Hidayat</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04748613359481249234</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='22' src='http://2.bp.blogspot.com/_5sXuNmRv_aA/SXrAMvDXeaI/AAAAAAAAAAM/KQ9cesHTMeQ/S220/FOTO+1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_5sXuNmRv_aA/TMVsy5talkI/AAAAAAAAAHs/5Semy7v0BAY/s72-c/Islam-Sekuler-edit-finish-23-Juni-Siang-2-302.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4691295274548167167.post-4581795411001669226</id><published>2010-09-23T03:10:00.001-07:00</published><updated>2010-09-23T03:10:21.053-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;img style="visibility:hidden;width:0px;height:0px;" border=0 width=0 height=0 src="http://counters.gigya.com/wildfire/IMP/CXNID=2000002.0NXC/bHQ9MTI4NTIzNjU*MTM3NSZwdD*xMjg1MjM2NjA5NTYyJnA9MTQ2NDgxJmQ9Jm49YmxvZ2dlciZnPTEmbz1mYWU5ODg5YTBkMmI*/MTNkOGFiYjFlMTVhYWY5YmI2MSZvZj*w.gif" /&gt;&lt;a href="http://s01.flagcounter.com/more/UMrn"&gt;&lt;img src="http://s01.flagcounter.com/count/UMrn/bg=FFFFFF/txt=000000/border=CCCCCC/columns=2/maxflags=12/viewers=0/labels=0/" alt="Free counters!" border="0"&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4691295274548167167-4581795411001669226?l=nuimhidayat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nuimhidayat.blogspot.com/feeds/4581795411001669226/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4691295274548167167&amp;postID=4581795411001669226&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4691295274548167167/posts/default/4581795411001669226'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4691295274548167167/posts/default/4581795411001669226'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nuimhidayat.blogspot.com/2010/09/free-counters.html' title=''/><author><name>Nuim Hidayat</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04748613359481249234</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='22' src='http://2.bp.blogspot.com/_5sXuNmRv_aA/SXrAMvDXeaI/AAAAAAAAAAM/KQ9cesHTMeQ/S220/FOTO+1.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4691295274548167167.post-4431013647953080065</id><published>2010-09-20T06:26:00.004-07:00</published><updated>2010-09-21T23:10:59.727-07:00</updated><title type='text'>Kepada Para Aktivis Mahasiswa Islam</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_5sXuNmRv_aA/TJmdtp6e_3I/AAAAAAAAAHk/eoqTfDV2SCw/s1600/antarctic_ice_melting.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 211px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_5sXuNmRv_aA/TJmdtp6e_3I/AAAAAAAAAHk/eoqTfDV2SCw/s320/antarctic_ice_melting.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5519616225990082418" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;http://koran.republika.co.id/koran/24&lt;br /&gt;Sabtu, 18 September 2010 pukul 15:54:00&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyoal Aktivis Islam &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Nuim Hidayat (Mantan Aktivis Hizbut Tahrir)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mereka yang mendengarkan perkataan, lalu mengikuti yang terbaik. Mereka itulah yang Allah beri petunjuk dan mereka itulah Ulil Albab." (QS Az-Zumar 18).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila kita cermati, saat ini para aktivis mahasiswa Islam terkotak-kotak dan mayoritas cenderung fanatik terhadap organisasi atau gerakannya. Aktivis HTI (Hizbut Tahrir Indonesia), misalnya, bangga berlebihan terhadap kelompoknya dan 'hanya' menjadikan Taqiyuddin an Nabhani sebagai rujukan utama pembinaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu juga, aktivis mahasiswa Ikhwanul Muslimin di Indonesia--yang sebagian besar menginduk pada Partai Keadilan Sejahtera. Mereka sudah merasa cukup bila sudah dibina dengan kitab-kitab dari Hasan al Banna atau tokoh Ikhwan lainnya.  Hal yang sama terjadi pada gerakan Salafi Wahabi atau Salafi Haraki. Gerakan-gerakan yang sangat ketat dalam berpedoman pada Alquran dan sunah dan cenderung 'mengesampingkan' ijtihad. Gerakan Salafi Wahabi lebih banyak berfokus pada hal-hal bid'ah dan sunah. Buku yang menjadi rujukan utamanya adalah karya Nashirudin al Albani. Sedangkan gerakan Salafi Haraki banyak berkutat pada solidaritas dunia Islam karena penjajahan fisik Amerika dan sekutunya. Buku yang menjadi pedoman utamanya adalah karya Sayid Qutb dan Abdullah Azzam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pergerakan mahasiswa di Muhammadiyah (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah) atau Nahdhatul Ulama (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) kurang lebih sama. Di PMII cenderung menjadikan Gus Dur sebagai rujukan utama dan sebagian condong ke 'Islam Liberal'. Gerakan KH Wachid Hasyim tidak menjadi inspirasi utama mahasiswa-mahasiswa PMII. Situasi yang sama mirip dengan mahasiswa IMM.Gerakan KH Ahmad Dahlan belum menjadi teladan sentral dalam gerakan IMM, meski kini dicoba dengan membuat film dan memperbanyak buku tentangnya. Mahasiswa-mahasiswa Muhammadiyah cenderung terpecah-pecah sumber gerakannya dan sebagian ada yang terjangkit 'liberal'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gerakan-gerakan mahasiswa tahun 80-90-an, menurut penulis, cenderung lebih terbuka dan intelektual daripada saat ini. Diperlakukannya NKK-BKK, ketika mahasiswa tidak boleh terlibat dalam politik praktis, menjadi berkah bagi mahasiswa untuk fokus pada kajian keislaman yang lebih serius. Saat itu buku-buku dari IIFSO, yang banyak terinspirasi Mohammad Nastir, menjadi rujukan banyak aktivis mahasiswa Islam. Buku-buku Sayyid Qutb, Yusuf Qaradhawi, Abul Ala Maududi, Ali Syariati menjadi kajian-kajian serius di kalangan mahasiswa dan menimbulkan semangat 'militansi' yang hebat untuk melawan imperialisme/pemikiran Barat. Begitu pula buku-buku karya Mohammad Natsir, Deliar Noer, Rasjidi menjadi kajian penting dalam membentuk perspektif perjuangan mahasiswa Islam di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semangat membentuk dan memperbaiki masyarakat Islam yang 'modern' menjadi dambaan dan tujuan mahasiswa. Hampir tidak ditemui saat itu aktivis mahasiswa yang gampang membid'ahkan masyarakat atau aktivis mahasiswa yang menutup telinga bila yang ceramah bukan dari harakahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini banyak ditemui aktivis mahasiswa Islam yang 'kaku' dalam pemikiran. Memang mereka tidak bisa disalahkan sepenuhnya, karena yang membuat mereka demikian adalah para guru/ustaz yang mengajarinya. Para ustaz mereka ada yang hanya membolehkan membaca buku-bukunya atau buku-buku yang seide dengan ustaz itu (guru-gurunya). Bila ada buku lain yang bertentangan atau mengkritik pemikiran ustaz itu, ustaz tersebut melarang muridnya untuk membacanya. Ada sebuah kejadian, seorang aktivis memarahi penjual buku yang memajang buku Syekh Yusuf Qaradhawi di lapaknya. Dikatakan bahwa Qaradhawi itu hanya menggunakan akalnya dalam bukunya. "Kurang nyunnah" istilahnya atau "Ia kan bukan ahli hadis", begitu biasanya aktivis Salafi Wahabi berucap. Penulis temui pula ada sebuah kelompok harakah yang melarang aktivis mahasiswanya mendengarkan ceramah beberapa ustaz (ahli dalam pemikiran Islam), hanya karena para ustaz itu tidak masuk dalam kelompok harakah mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehingga, kini banyak ditemui mahasiswa yang jumud terhadap pemikiran atau gerakan-gerakan Islam. Mereka hanya tahu pemikiran dan gerakannya. Tidak memahami dan mencoba mencari tahu apa yang terjadi pada gerakan Islam lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila ditelaah secara mendalam, kecenderungan gerakan saat ini yang 'ashabiyahnya sangat tinggi' ini adalah sangat mengkhawatirkan. Para ustaz dari Timur Tengah yang banyak tidak paham sejarah penyebaran Islam atau gerakan Islam di Indonesia banyak yang gegabah mengajari mahasiswa atau santrinya sejak awal bid'ah dan sunah. Bukan mengajari mereka bagaimana menjaga akidah Islam yang kokoh di tengah serbuan liberalisme saat ini, bagaimana perjuangan Islam yang tepat di Indonesia, bagaimana memperbaiki masyarakat Islam Indonesia, bagaimana membentuk peradaban Islam di Indonesia, dan lain-lain. Sehingga, yang terjadi sebenarnya adalah gerakan setback ke belakang, yang meributkan kembali hal-hal fikih yang furu'. Tidak sedikit sekarang aktivis Islam yang mengharamkan musik, maulid, organisasi politik, dan lain-lain. Padahal, masalah-masalah seperti ini telah dibahas (diperdebatkan) ulama sejak lama. Para ulama telah membahas kebolehan musik dan syarat-syarat musik atau syair yang dibolehkan dan sebagainya. Ketika kaum Muslimin di puncak peradaban Andalusia (abad ke-8 hingga abad ke-15) ada tradisi musik Islam di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saatnya kini para mahasiswa dan khususnya para ustaznya mau mempelajari dengan serius pemikiran dari tokoh-tokoh gerakan Islam lain.  Anak-anak mahasiswa IMM atau PMII mau membaca serius buku-buku karya Taqiyuddin an Nabhani (pendiri Hizbut Tahrir) dan Hasan al Banna (pendiri Ikhwanul Muslimin). Para aktivis Hizbut Tahrir atau Ikhwanul Muslimin mau mengkaji saksama buku-buku Ahmad Dachlan, Wachid Hasyim, Mohammad Natsir, atau Mohammad Roem. Begitu pula para aktivis Salafi mau mempelajari buku-buku Hamka, Raja Ali Haji, tokoh-tokoh Ikhwan, atau Hizbut Tahrir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila ini dilakukan, insya Allah gerakan mahasiswa Islam Indonesia akan menjadi 'leader' bagi arah Indonesia ke depan. Dan, bukan mustahil aktivis mahasiswa Islam Indonesia akan menjadi pemimpin bagi aktivis-aktivis mahasiswa Islam di seluruh dunia. Karena di belahan dunia lain pun terjadi kecenderungan gerakan mahasiswa yang kurang lebih sama dengan yang terjadi di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tokoh-tokoh gerakan Islam itu adalah mutiara-mutiara Islam. Sayang bila kita hanya mengambil satu mutiara. Sedangkan sebenarnya kita bisa mengambil banyak mutiara untuk kita manfaatkan secara optimal. Apalagi sekarang di era 'kebebasan informasi', era internet. Saat kita bisa membaca buku-buku karya tokoh-tokoh itu hanya sekali klik dalam internet.  Jadi, bagaimanapun para ustaz yang membatasi muridnya untuk mengkaji pemikiran gerakan-gerakan lain, ibaratnya sebenarnya seperti melarang seorang konsumen untuk memilih minuman yang terbaik baginya, ketika berkunjung ke supermarket. Tentu agar konsumen bisa memilih tepat minuman itu, ia harus dibekali dengan pengetahuan yang cukup tentang manfaat vitamin, kegunaan air bagi tubuh, dan&lt;br /&gt;lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita bisa mengambil pelajaran dari sejarah pemikiran atau kemajuan Barat. Mengapa mereka begitu melesat maju sekarang ini (terlepas kemajuan arahnya benar atau tidak)? Karena pemikir-pemikir Barat tidak fanatik buta terhadap pendapat pemikir-pemikir besar pendahulu mereka. Mereka meramu pemikiran Aristoteles, Plato, Aquinas, Hobbes, Adam Smith, Faucault, dan lain-lain. Mereka tidak mati-matian mempertahankan pendapat salah satu pemikir mereka, bila ditemui pemikir Barat lainnya yang lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, ulama besar Hamka dalam Tafsir Al Azharnya, memberikan nasihat: "Berapa banyak kita banggakan sejarah, sedikit-sedikit sejarah kebesaran Islam, sejarah ulama Islam, sejarah kemenangan Islam. Dan semuanya itu memang benar, tetapi semuanya adalah bekas usaha umat yang telah lalu. Kalau mereka beroleh pahala dari usaha itu, tidaklah kita yang datang di belakang ini yang akan menerimanya. Kita hanya menerima bekas dari usaha kita sendiri. Adalah amat membosankan membangga-banggakan zaman yang telah lampau, dari usaha orang lain sehingga masa hanya habis dalam cerita, tetapi tidak dapat menunjukkan bukti dan usaha sendiri. Inilah penyakit umat yang telah masuk ke dalam lumpur. Kata pepatah ahli syair: "Orang muda sejati ialah yang berkata: Inilah Aku. Bukanlah orang muda sejati yang berkata: Bapakku dahulu begini dan begitu."&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4691295274548167167-4431013647953080065?l=nuimhidayat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nuimhidayat.blogspot.com/feeds/4431013647953080065/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4691295274548167167&amp;postID=4431013647953080065&amp;isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4691295274548167167/posts/default/4431013647953080065'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4691295274548167167/posts/default/4431013647953080065'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nuimhidayat.blogspot.com/2010/09/kepada-para-aktivis-mahasiswa-islam.html' title='Kepada Para Aktivis Mahasiswa Islam'/><author><name>Nuim Hidayat</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04748613359481249234</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='22' src='http://2.bp.blogspot.com/_5sXuNmRv_aA/SXrAMvDXeaI/AAAAAAAAAAM/KQ9cesHTMeQ/S220/FOTO+1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_5sXuNmRv_aA/TJmdtp6e_3I/AAAAAAAAAHk/eoqTfDV2SCw/s72-c/antarctic_ice_melting.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4691295274548167167.post-4850196473600164961</id><published>2010-09-09T02:47:00.001-07:00</published><updated>2010-09-14T05:01:21.560-07:00</updated><title type='text'>Dari  Kompas untuk Nurcholish Madjid</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_5sXuNmRv_aA/TIiuHFJss-I/AAAAAAAAAG0/8tlfCfAKCo4/s1600/16.886.000.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 246px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_5sXuNmRv_aA/TIiuHFJss-I/AAAAAAAAAG0/8tlfCfAKCo4/s320/16.886.000.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5514849180380345314" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Dari Kompas untuk Nurcholish Madjid&lt;br /&gt;Oleh: Nuim Hidayat*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sore hari di Ramadhan ke-26 ini saya berkunjung ke toko Gramedia Depok.  Memang sudah menjadi kebiasaan saya, bila ada waktu kosong, saya sering ke toko Gramedia atau TM Book Store Depok. Untuk membeli buku atau sekedar mengamati perkembangan buku atau untuk menikmati bacaan-bacaan gratis di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Ramadhan terakhir ini saya kaget menemukan 5 buku yang nampaknya sengaja diterbitkan untuk menghidupkan kembali pemikiran Nurcholish Madjid dan menghantam fatwa MUI tentang Sepilis. Empat buku ditulis oleh pengikut setia Nurcholish, yaitu Budhy Munawar Rachman (penulis Ensiklopedi Nurcholosh Madjid), satu buku ditulis Ahmad Gaus AF. Buku Budhy berjudul : Argumen Islam untuk Pluralisme, Argumen Islam untuk Liberalisme, Argumen Islam untuk Sekulerisme dan Sekulerisme, Liberalisme dan Pluralisme. Sedangkan buku Ahmad Gaus AF berjudul Api Islam Nurcholish Madjid. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Empat buku Budhy diterbitkan Grasindo (kelompok penerbit Kompas) dan buku Ahmad Gaus diterbitkan penerbit Kompas. Buku Budhy diberi kata pengantar Dawam Raharjo, buku Ahmad Gaus oleh Yudi Latif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku Api Islam Nurcholish Madjid telah dibedah pada 2 September 2010 lalu di Universitas Paramadina, dengan nara sumber (tertera dalam undangan) : Prof. Dr. Komaruddin Hidayat (Rektor UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta), Prof. Didik J. Rachbini (Ketua Yayasan Paramadina), Dr. Budhy Munawar-Rachman (Penyunting “Ensiklopedi Nurcholish Madjid”) dan Dr. Abd. Moqsith Ghazali (Peneliti The Wahid Institute).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat buku-buku yang memuji-memuji Nurcholish yang saat ini nampaknya sengaja diproduksi besar-besaran terus terang saya tidak tertarik untuk membacanya. Karena lebih dari 17 tahun lalu saya sudah mengenal karya-karya Nurcholish. Ketika menjadi mahasiswa S1 di Institut Pertanian Bogor, saya sudah membaca beberapa buku Nurcholish. Sempat saya saat itu sedikit kagum terhadap tulisan Nurcholish bila bicara tentang ilmu, peradaban, sejarah, politik Indonesia dan lain-lain. Tapi bila ia bicara tentang hal-hal mendasar seperti masalah tauhid, Kristen, Yahudi dan lain-lain, Nurcholish kelihatan otaknya ‘tumpul’ terhadap keagungan aqidah Islam. Tidak banyak beda bila kita baca buku-buku Orientalis, kadang-kadang juga ada informasi-informasi yang menarik tentang ilmu pengetahuan, peradaban dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika saya masih mahasiswa IPB, saya beberapa kali mengikuti acara seminar besar di Universitas Indonesia.  Salah satunya adalah seminar yang dinamakan ‘PEDATI’ (Percakapan Cendekiawan Tentang Islam).  Saat itu kebetulan dalam sebuah sesi yang bicara adalah Nurcholish dan beberapa pembicara lain. Yang saya kaget, ketika selesai Nurcholish bicara, ia langsung ngeloyor pergi. Sehingga seorang wartawan senior berujar: “Tuh kan, dia pergi nggak mau dengar pembicara lain.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata, hal yang sama saya saksikan terjadi berulang kali. Salah satunya adalah sebuah seminar di Universitas Paramadina. Kejadiannya hampir mirip, ia bicara ungkapkan pikirannya kemudian pergi. Ia akan bersemangat bicara dalam sebuah forum, bila ia sendiri yang bicara. Seperti saya saksikan (saat menjadi wartawan lapangan) ketika Jacob Oetama memberikan forum di Hotel Santika, menghadirkan Nurcholish sebagai pembicara tunggal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari beberapa kali mengikuti langsung acara-acara Nurcholish, saya melihat nampaknya ada kesombongan dalam diri Nurcholish. Ia seperti tidak mau mendengar bila cendekiawan Islam Indonesia yang bicara. Mungkin ia anggap ilmunya masih kalah dengan para orientalis. Maka tak heran bila ia ceramah ia seringkali mengungkap pernyataan dan hipotesa-hipotesa orientalis. Meskipun dengan pintarnya seringkali hipotesa dari orientalis itu tidak kutip namanya. Hal itu terjadi misalnya bila ia bicara tentang fundamentalisme, fanatisme dan lain-lain (bila ia menulis kadang-kadang pendapat orientalis ia cantumkan namanya)..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehingga kemudian saya menjadi tidak tertarik sama sekali buku Nurcholish. Lebih baik saya banyak baca Syekh Yusuf Qaradhawi, Abul Ala al Maududi, Said Hawwa dan lain-lain yang banyak memberikan penguatan iman, ilmu dan semangat dakwah. Untuk masalah sejarah Indonesia, lebih baik membaca buku Mohammad Natsir, Hamka, Roem, Kasman, Saifuddin Zuhri, Endang Saefuddin Anshori dan tokoh-tokoh Islam yang sholeh lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intelektual-intelektual pengagum Nurcholish baik yang bergelar profesor, doktor, master, sarjana muda atau yang tidak bergelar sebenarnya telah melupakan hal yang mendasar dalam membaca pemikiran Nurcholish. Ibaratnya mereka memelihara dan membangga-banggakan pohon besar yang sudah tercerabut akarnya. Untuk membaguskan pohon besar itu maka batang dan daun-daunnya agar tidak layu dicat ulang dengan warna-warni yang menarik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang memahami ilmu tumbuhan tentu tahu, mana pohon, batang dan daun-daun yang benar dan mana pohon yang palsu. Itulah aqidah.  Para ulama mengatakan bahwa aqidah ibarat akar. Sesuatu yang tidak nampak tapi ia menentukan hidup matinya sebuah pohon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ulama ahlus sunnah wal jamaah, berdasarkan Al Quran dan Sunnah,  telah sepakat bahwa selain agama Islam, tidak dirihai Allah dan tidak dapat masuk surga di kehidupan setelah mati nanti.  Jadi kalau Nurcholish dan pengikutnya ngotak-ngatik akalnya mengatakan bahwa selain Islam diridhai Allah dan dapat masuk surga, jelas dalilnya tidak ada dalam Al Quran dan Sunnah. Dan tidak ada satupun ulama besar yang sholeh, dari dulu sampai dengan sekarang mendukung pendapat Nurcholish itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang mesti diingat bahwa selain Allah punya sifat Rahman dan Rahim, Allah juga tidak segan-segan mengazab makhluk dengan azab yang keras.Di dunia ini aja kita lihat manusia ada yang buta seumur hidup, ada yang meninggal kena tsunami, puluhan tahun kena penyakit kanker, penyakit ganti hati dan lain-lain. Apakah dengan fenomena seperti ini kita berani mengatakan Tuhan tidak adil dan tidak sayang kepada makhluk-Nya? Itu semua adalah rahasia Allah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, permasalahannya sekarang kita percaya Al Qur’an atau nggak. Bila percaya Al Qur’an yang dibawa Nabi Muhammad saw maka kita masuk golongan Islam. Bila tidak percaya, kita masuk golongan kafir. Dalam Al Qur’an, Allah sudah berjanji hanya menyayangi orang-orang yang benar mengabdi kepada-Nya, yaitu orang-orang Islam (sifat rahim Allah) di akherat nanti. Kita tahu, para Nabi semuanya Muslim. Tidak ada seorang pun Nabi yang membawa agama selain Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengikut-pengikut Nurcholish telah melupakan bahwa misi Rasulullah Muhammad saw adalah menyebarkan Islam di muka bumi ini. Untuk menyebarkan Islam itu kadang Rasulullah berdebat dengan orang kafir, para pendeta, berdakwah, berjihad terus menerus dan lain-lain. Dan Rasulullah saw telah menyatakan bahwa : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Demi Dzat yang menguasai jiwa Muhammad, tidak ada seorang pun baik Yahudi maupun Nashrani yang mendengar tentang diriku dari umat Islam ini, kemudian ia mati dan tidak beriman terhadap ajaran yang aku bawa, kecuali ia akan menjadi penghuni neraka.” (HR Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anehnya, para pemuja Nurcholish tidak mengambil pelajaran dari kisah pernikahan anak perempuan Nurcholish dengan laki-laki Yahudi di New York, bahkan terus mengembangkan ide pernikahan beda agama dan sepilis. Tapi wajarlah Budhy Munawar Rachman, penulis empat buku itu memang saat ini sebagai  Program Officer Islam and Develompment, Asia Foundation (AS). Dan anehnya Ahmad Gaus juga ikut-ikutan Budhy mempromosikan Nurcholish. Judul buku Gaus ‘Api Islam Nurcholish Madjid’ aja bisa dipersoalkan.  Orang bisa bertanya: Bagaimana mungkin ada apinya (semangat) sementara aqidah Islamnya Nurcholish sudah rusak? Walhasil dibalik itu semua, memang ada raksasa rupa-rupanya di balik penerbitan buku-buku liberal ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Dosen&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4691295274548167167-4850196473600164961?l=nuimhidayat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nuimhidayat.blogspot.com/feeds/4850196473600164961/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4691295274548167167&amp;postID=4850196473600164961&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4691295274548167167/posts/default/4850196473600164961'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4691295274548167167/posts/default/4850196473600164961'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nuimhidayat.blogspot.com/2010/09/dari-untuk-nurcholish-madjid.html' title='Dari  Kompas untuk Nurcholish Madjid'/><author><name>Nuim Hidayat</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04748613359481249234</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='22' src='http://2.bp.blogspot.com/_5sXuNmRv_aA/SXrAMvDXeaI/AAAAAAAAAAM/KQ9cesHTMeQ/S220/FOTO+1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_5sXuNmRv_aA/TIiuHFJss-I/AAAAAAAAAG0/8tlfCfAKCo4/s72-c/16.886.000.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4691295274548167167.post-3685595287269995711</id><published>2010-09-05T21:29:00.000-07:00</published><updated>2010-09-05T21:32:48.981-07:00</updated><title type='text'>Gerakan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_5sXuNmRv_aA/TIRu305O1aI/AAAAAAAAAGs/Uj3ENcBgBvQ/s1600/binary-wave.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_5sXuNmRv_aA/TIRu305O1aI/AAAAAAAAAGs/Uj3ENcBgBvQ/s320/binary-wave.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5513653749178881442" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gerakan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Busur panah tidak ada guna bila tidak bergerak ke sasarannya&lt;br /&gt;Kumpulan air akan rusak bila terus menggenang&lt;br /&gt;Itulah pesan agung Imam Syafii ke murid-muridnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Matahari&lt;br /&gt;Bumi&lt;br /&gt;Planet&lt;br /&gt;Manusia&lt;br /&gt;Hewan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tumbuhan bergerak dalam diamnya&lt;br /&gt;Tumbuh&lt;br /&gt;Sebagian berbunga dan berbuah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia setiap hari bergerak&lt;br /&gt;Bapak bergerak mencari nafkah&lt;br /&gt;Ibu bergerak mengatur rumah&lt;br /&gt;Orang tua bergerak bersama mendidik anak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guru bergerak mendidik murid&lt;br /&gt;Murid bergerak mencari ilmu&lt;br /&gt;Guru dan murid bergerak menjadi orang shaleh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gerakan guru dan murid membentuk organisasi&lt;br /&gt;Membentuk sekolah&lt;br /&gt;Membentuk kumpulan&lt;br /&gt;Membentuk gerakan (harakah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam gerakan, murid berguru kepada gurunya&lt;br /&gt;Gurunya berguru kepada gurunya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gurunya murid kini bermacam-macam&lt;br /&gt;Buku, internet, Koran, majalah, televisi&lt;br /&gt;Tapi ia mesti punya guru manusia&lt;br /&gt;Guru yang berilmu&lt;br /&gt;Guru yang berakhlak mulia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malanglah murid yang mendapat guru yang bodoh&lt;br /&gt;Yang mengondisikan murid menjadi bodoh&lt;br /&gt;Yang mengajarkan murid tidak boleh lebih pintar dari dirinya&lt;br /&gt;Yang mengatakan dialah satu-satunya guru yang hebat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal di luar sana banyak guru yang hebat-hebat pula&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahagialah murid yang peroleh guru yang pintar dan shaleh&lt;br /&gt;Ia memberikan ilmu&lt;br /&gt;Ia memberikan teladan&lt;br /&gt;Ia mengharap murid lebih hebat dari dirinya&lt;br /&gt;Ia menyatakan :&lt;br /&gt;Di luar sana banyak guru-guru yang hebat belajarlah pada mereka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila guru hebat&lt;br /&gt;Murid menjadi hebat&lt;br /&gt;Mereka bersama membuat gerakan hebat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gerakan yang tidak kenal lelah mencari ilmu&lt;br /&gt;Gerakan yang terus menerus menyebar ilmu&lt;br /&gt;Gerakan yang senantiasa meningkatkan kualitas ilmu dan amalnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memberi terang kepada sesama&lt;br /&gt;Memberi gairah kepada sahabatnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gerakan itu tidak akan mewujud&lt;br /&gt;Bila ia masih menyimpul :&lt;br /&gt;‘Yang penting organisasinya hebat&lt;br /&gt;Meski individu-individunya tak hebat lagi’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah saw memberi ajar:&lt;br /&gt;Membentuk orang-orang shaleh yang hebat&lt;br /&gt;Selama 23 tahun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu terbentuklah organisasi hebat&lt;br /&gt;Madinatul Munawwarah&lt;br /&gt;Kota yang Bercahaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lahir tokoh hebat Abu Bakar as Shiddqi, pemimpin yang lembut dan tegas &lt;br /&gt;Pebisnis, cendekiawan dan pemimpin perang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muncul pemimpin pemberani Umar bin Khattab&lt;br /&gt;Penguasa lebih dari ’10 negara’&lt;br /&gt;Dari Mekkah sampai Palestina&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terbit Utsman bin Affan, Pemimpin dan cendekiawan Islam&lt;br /&gt;Membukukan dan memperbanyak penyebaran Kitab Suci&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lahir Sayyidina Ali&lt;br /&gt;Pemimpin teladan sepanjang zaman&lt;br /&gt;Kata-katanya menggerakkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guru Jalaluddin as Suyuthi&lt;br /&gt;Telah membukukan orang-orang hebat ini&lt;br /&gt;Dalam bukunya ‘Tarikhul Khulafa’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita perlu belajar dari&lt;br /&gt;Guru Imam Bukhari&lt;br /&gt;Guru Imam Syafii&lt;br /&gt;Guru Ibnu Taimiyyah&lt;br /&gt;Guru Hasan al Banna, Sayyid Qutb&lt;br /&gt;Guru Taqiyuddin an Nabhani&lt;br /&gt;Guru Abul A’la al Maududi&lt;br /&gt;Guru Shalih Utsaimin&lt;br /&gt;Guru Abdullah Azzam&lt;br /&gt;Guru Tjokroaminoto, Wachid Hayim, Ahmad Dachlan&lt;br /&gt;Guru Agus Salim, Natsir, Rasjidi, Kasman, Syafruddin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan guru-guru yang berilmu dan shaleh saat ini&lt;br /&gt;Tanpa guru kita hampir-hampir tidak berilmu*&lt;br /&gt;(21 Ramadhan 1413H, Nuim)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4691295274548167167-3685595287269995711?l=nuimhidayat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nuimhidayat.blogspot.com/feeds/3685595287269995711/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4691295274548167167&amp;postID=3685595287269995711&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4691295274548167167/posts/default/3685595287269995711'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4691295274548167167/posts/default/3685595287269995711'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nuimhidayat.blogspot.com/2010/09/gerakan.html' title='Gerakan'/><author><name>Nuim Hidayat</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04748613359481249234</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='22' src='http://2.bp.blogspot.com/_5sXuNmRv_aA/SXrAMvDXeaI/AAAAAAAAAAM/KQ9cesHTMeQ/S220/FOTO+1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_5sXuNmRv_aA/TIRu305O1aI/AAAAAAAAAGs/Uj3ENcBgBvQ/s72-c/binary-wave.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4691295274548167167.post-7897247706977141284</id><published>2010-09-05T21:20:00.000-07:00</published><updated>2010-09-05T21:29:10.684-07:00</updated><title type='text'>Musik</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_5sXuNmRv_aA/TIRtzh46C1I/AAAAAAAAAGk/dfR2Yv8ad54/s1600/Sound_Wave.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_5sXuNmRv_aA/TIRtzh46C1I/AAAAAAAAAGk/dfR2Yv8ad54/s320/Sound_Wave.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5513652575846140754" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Musik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Haram&lt;br /&gt;Bid’ah&lt;br /&gt;Mubah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Termasuk dalam jenis ‘lagha’&lt;br /&gt;Mengganggu pembacaan al Qur’an&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesuai dengan fitrah manusia&lt;br /&gt;Hati manusia kadang senang bunyi-bunyian&lt;br /&gt;bunyi kodok &lt;br /&gt;bunyi burung&lt;br /&gt;bunyi tepuk tangan&lt;br /&gt;bunyi piring pecah&lt;br /&gt;bunyi tokek&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hati manusia mesti konsentrasi&lt;br /&gt;Mendengarkan makna lafaz-lafaz dari Sang Maha Pencipta&lt;br /&gt;Sang Maha Penyusun Lafaz Terindah&lt;br /&gt;Penyusun Teks Abadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang Maha Kreasi Warna&lt;br /&gt;Warna biru putih langit&lt;br /&gt;Warna hijau merah kuning daun&lt;br /&gt;Warna merah putih bunga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang Maha Pencipta bunyi&lt;br /&gt;Bunyi bayi menangis&lt;br /&gt;Bunyi hewan&lt;br /&gt;Bunyi jantung berdetak&lt;br /&gt;Bunyi manusia tidur mengorok&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andalusia: Sevilla,Granada, Cordova, Toledo&lt;br /&gt;Ketika peradaban Islam di puncaknya&lt;br /&gt;Ada tadisi musik di sana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raihan, Bimbo, Opick, Izzatul Islam&lt;br /&gt;Mengajarkan kata&lt;br /&gt;Mengajar bunyi adalah&lt;br /&gt;sabil, ayat, wasilah&lt;br /&gt;Menuju Sang Maha Pencipta sebenarnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka Rasulullah membolehkan Siti Aisyah untuk menonton bunyi-bunyian*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(21 Ramadhan 1431H, Nuim)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4691295274548167167-7897247706977141284?l=nuimhidayat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nuimhidayat.blogspot.com/feeds/7897247706977141284/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4691295274548167167&amp;postID=7897247706977141284&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4691295274548167167/posts/default/7897247706977141284'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4691295274548167167/posts/default/7897247706977141284'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nuimhidayat.blogspot.com/2010/09/musik.html' title='Musik'/><author><name>Nuim Hidayat</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04748613359481249234</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='22' src='http://2.bp.blogspot.com/_5sXuNmRv_aA/SXrAMvDXeaI/AAAAAAAAAAM/KQ9cesHTMeQ/S220/FOTO+1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_5sXuNmRv_aA/TIRtzh46C1I/AAAAAAAAAGk/dfR2Yv8ad54/s72-c/Sound_Wave.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4691295274548167167.post-699246736436305569</id><published>2010-09-05T00:11:00.000-07:00</published><updated>2010-09-05T00:18:58.228-07:00</updated><title type='text'>Bahasa</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_5sXuNmRv_aA/TINEV2hl-AI/AAAAAAAAAGU/MAs7sE5Xfv0/s1600/PICT0191.JPG"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_5sXuNmRv_aA/TINEV2hl-AI/AAAAAAAAAGU/MAs7sE5Xfv0/s320/PICT0191.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5513325511035975682" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahasa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayi berkata diajari ibunya&lt;br /&gt;Diajari kawan-kawan sepermainannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika dewasa ia menangkap makna&lt;br /&gt;Makna sebuah benda&lt;br /&gt;Makna sebuah peristiwa&lt;br /&gt;Semua didapat dari bahasa ibunya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beruntunglah ibu yang faham kitab sucinya&lt;br /&gt;Ia mengajari bayi bukan hanya bahasa&lt;br /&gt;Tapi juga penggunaannya&lt;br /&gt;Agar selaras dengan yang Membuat Karya bernyawa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini di negeri kita&lt;br /&gt;Bahasa ibu menjadi hina&lt;br /&gt;Karena membanggakan language di luar sana&lt;br /&gt;Sehingga bahasa tidak menangkap makna&lt;br /&gt;Tapi hanya untuk bergaya-gaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malanglah nasib sebuah bangsa&lt;br /&gt;Yang tidak hormat bahasa ibunya&lt;br /&gt;Dan tidak kenal kitab suci sebenarnya&lt;br /&gt;Orang-orangnya diperhina&lt;br /&gt;Oleh orang-orang di luar sana&lt;br /&gt;Tapi ia bangga dan merasa dirinya mulia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singapura&lt;br /&gt;Malaysia&lt;br /&gt;Resah para ilmuwan melayunya&lt;br /&gt;Bahasa ibu tidak lagi jadi &lt;br /&gt;Kebanggaan anak-anak mudanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jepang&lt;br /&gt;Jerman&lt;br /&gt;Cina&lt;br /&gt;Orang-orang yang bangga&lt;br /&gt;Dengan bahasa ibunya&lt;br /&gt;Tapi sayang &lt;br /&gt;Ia tak kenal bahasa jernih dan suci dari Tuhannya*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(22 Ramadhan 1431H, nuim).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4691295274548167167-699246736436305569?l=nuimhidayat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nuimhidayat.blogspot.com/feeds/699246736436305569/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4691295274548167167&amp;postID=699246736436305569&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4691295274548167167/posts/default/699246736436305569'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4691295274548167167/posts/default/699246736436305569'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nuimhidayat.blogspot.com/2010/09/bahasa.html' title='Bahasa'/><author><name>Nuim Hidayat</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04748613359481249234</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='22' src='http://2.bp.blogspot.com/_5sXuNmRv_aA/SXrAMvDXeaI/AAAAAAAAAAM/KQ9cesHTMeQ/S220/FOTO+1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_5sXuNmRv_aA/TINEV2hl-AI/AAAAAAAAAGU/MAs7sE5Xfv0/s72-c/PICT0191.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4691295274548167167.post-2362292436007428720</id><published>2010-09-05T00:08:00.000-07:00</published><updated>2010-09-05T00:11:07.868-07:00</updated><title type='text'>Kata</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_5sXuNmRv_aA/TINCezNlq2I/AAAAAAAAAGE/-leGqsVwBZs/s1600/Image192.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 240px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_5sXuNmRv_aA/TINCezNlq2I/AAAAAAAAAGE/-leGqsVwBZs/s320/Image192.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5513323465742330722" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lafaz&lt;br /&gt;Kalimat&lt;br /&gt;Istilah&lt;br /&gt;Bahasa&lt;br /&gt;Sastra&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah&lt;br /&gt;Cerita&lt;br /&gt;Puisi&lt;br /&gt;Berita&lt;br /&gt;Essai&lt;br /&gt;Artikel&lt;br /&gt;Kolom&lt;br /&gt;Buku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari mana asal kata &lt;br /&gt;Dari otak manusia&lt;br /&gt;Dari mana otak berfikirnya&lt;br /&gt;Karena ada indera&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena ada ilmu sebelumnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari mana ilmu, kalimat, kata&lt;br /&gt;Dari guru, buku, media&lt;br /&gt;dari orang-orang sebelumnya&lt;br /&gt;dari orang-orang sebelum-sebelumnya&lt;br /&gt;dari manusia pertama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dari mana nabi Adam peroleh ilmu pertamanya&lt;br /&gt;dari Allah yang menciptakannya&lt;br /&gt;‘Wallama aadamal asmaa’a kullaha’&lt;br /&gt;Dan Allah telah mengajarkan Adam nama-nama/kata-kata/ilmu semuanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak percaya nabi Adam manusia pertama&lt;br /&gt;Tak yakin Allah pencipta ilmu pertama dan seterusnya&lt;br /&gt;Tak yakin Allah pencipta otak manusia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebodohan berlipat ganda&lt;br /&gt;Bisa dikata bukan manusia&lt;br /&gt;Bila percaya adanya kata:&lt;br /&gt;orang itu mencipta sendiri otaknya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(21 Ramadhan 1431 H, nuim).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4691295274548167167-2362292436007428720?l=nuimhidayat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nuimhidayat.blogspot.com/feeds/2362292436007428720/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4691295274548167167&amp;postID=2362292436007428720&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4691295274548167167/posts/default/2362292436007428720'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4691295274548167167/posts/default/2362292436007428720'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nuimhidayat.blogspot.com/2010/09/kata.html' title='Kata'/><author><name>Nuim Hidayat</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04748613359481249234</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='22' src='http://2.bp.blogspot.com/_5sXuNmRv_aA/SXrAMvDXeaI/AAAAAAAAAAM/KQ9cesHTMeQ/S220/FOTO+1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_5sXuNmRv_aA/TINCezNlq2I/AAAAAAAAAGE/-leGqsVwBZs/s72-c/Image192.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4691295274548167167.post-3363257822928329842</id><published>2010-09-04T23:58:00.000-07:00</published><updated>2010-09-05T00:07:24.079-07:00</updated><title type='text'>Guru</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_5sXuNmRv_aA/TINA3QFnarI/AAAAAAAAAF8/a71m4jNbcOA/s1600/Image200.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 240px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_5sXuNmRv_aA/TINA3QFnarI/AAAAAAAAAF8/a71m4jNbcOA/s320/Image200.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5513321686787123890" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Guru&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Digugu dan ditiru&lt;br /&gt;Didengarkan kata-katanya dan ditiru tingkah lakunya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kini tidak lagi banyak guru lagi&lt;br /&gt;Yang ada adalah teacher&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengajar kemudian pergi&lt;br /&gt;Memberi pengetahuan kemudian meninggalkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Murid berakhlak buruk bukan salah teacher&lt;br /&gt;Murid tiap hari pacaran salah sendiri&lt;br /&gt;Murid 10 jam sehari main game dibiarkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teacher tidak mau tahu&lt;br /&gt;Karena tugasnya bukan itu&lt;br /&gt;Ia hanya mau siswa-siswanya bisa jawab soal&lt;br /&gt;Dapat nilai bagus dan setelah itu pulang&lt;br /&gt;Bila nilai siswa jelek salah sendiri&lt;br /&gt;Kenapa tidak ambil bimbingan belajar di luar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teacher tidak tahu orang tua siswa&lt;br /&gt;Siswa tidak tahu isi rumah teacher&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Otak anak diisi&lt;br /&gt;Jiwa anak dikosongi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Otak dan jiwa &lt;br /&gt;Ibarat bumi dan langit&lt;br /&gt;Langit butuh bumi &lt;br /&gt;Bumi butuh langit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila yang satu merana&lt;br /&gt;Yang kedua berduka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kini siswa berduka&lt;br /&gt;Karena teacher kehilangan jiwa *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(22 Ramadhan 1431H, nuim).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4691295274548167167-3363257822928329842?l=nuimhidayat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nuimhidayat.blogspot.com/feeds/3363257822928329842/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4691295274548167167&amp;postID=3363257822928329842&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4691295274548167167/posts/default/3363257822928329842'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4691295274548167167/posts/default/3363257822928329842'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nuimhidayat.blogspot.com/2010/09/guru.html' title='Guru'/><author><name>Nuim Hidayat</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04748613359481249234</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='22' src='http://2.bp.blogspot.com/_5sXuNmRv_aA/SXrAMvDXeaI/AAAAAAAAAAM/KQ9cesHTMeQ/S220/FOTO+1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_5sXuNmRv_aA/TINA3QFnarI/AAAAAAAAAF8/a71m4jNbcOA/s72-c/Image200.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4691295274548167167.post-6787295929669016576</id><published>2010-09-04T16:40:00.000-07:00</published><updated>2010-09-04T17:15:21.911-07:00</updated><title type='text'>Murid</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_5sXuNmRv_aA/TILgmsyvg4I/AAAAAAAAAF0/Glsv340VOVg/s1600/muslim-warisan.bmp"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 277px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_5sXuNmRv_aA/TILgmsyvg4I/AAAAAAAAAF0/Glsv340VOVg/s320/muslim-warisan.bmp" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5513215849318548354" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Murid&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang berkemauan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang bercita-cita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang yang berkehendak lebih baik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang bercita-cita tinggi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata itu dari ahli bahasa, ahli ilmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari ulama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Araada - Yuriidu - Muriidan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini nasib murid mengenaskan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia diganti siswa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena taman siswa Ki Hajar Dewantoro&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan karena taman murid&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan karena taman ilmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Achmad Dahlan, Wachid Hasyim, Buya Hamka, Mohammad Natsir, Tjokroaminoto&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nuruddin ar Raniri atau Raja Ali Haji&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka dibentuklah OSIS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Organisasi Siswa Intra Sekolah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengganti kumpulan murid&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelajar Islam Indonesia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena murid adalah lafaz Arab&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siswa kata Sanskerta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;OSIS adalah umum&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kumpulan murid Islam eksklusif&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bergurulah bahasa kepada Gorrys Keraf dan A Teeuw&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan menjadi murid Raja Ali Haji, Nuruddin ar Raniri atau Tjokroaminoto&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah pesan guru kepada siswa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak membekas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesan guru kepada murid&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila murid telah tiada *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(21 Ramadhan 1431H, Nuim)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4691295274548167167-6787295929669016576?l=nuimhidayat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nuimhidayat.blogspot.com/feeds/6787295929669016576/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4691295274548167167&amp;postID=6787295929669016576&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4691295274548167167/posts/default/6787295929669016576'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4691295274548167167/posts/default/6787295929669016576'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nuimhidayat.blogspot.com/2010/09/murid.html' title='Murid'/><author><name>Nuim Hidayat</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04748613359481249234</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='22' src='http://2.bp.blogspot.com/_5sXuNmRv_aA/SXrAMvDXeaI/AAAAAAAAAAM/KQ9cesHTMeQ/S220/FOTO+1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_5sXuNmRv_aA/TILgmsyvg4I/AAAAAAAAAF0/Glsv340VOVg/s72-c/muslim-warisan.bmp' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4691295274548167167.post-3556681216463734525</id><published>2010-08-29T17:50:00.000-07:00</published><updated>2010-08-30T23:16:43.406-07:00</updated><title type='text'>Perang atau Diplomasi? Tanggapan untuk David Miliband, Menlu Inggris</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_5sXuNmRv_aA/THyeO4RRHDI/AAAAAAAAAFk/eZoxePOWvFA/s1600/kaligrafi2.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 195px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_5sXuNmRv_aA/THyeO4RRHDI/AAAAAAAAAFk/eZoxePOWvFA/s320/kaligrafi2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5511454022454811698" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Perang atau Diplomasi?&lt;br /&gt;Tanggapan untuk David Miliband, Menlu Inggris&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Nuim Hidayat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Setelah melalui peninjauan yang mendalam, Presiden Obama telah memutuskan bahwa diperlukan penempatan 30.000 pasukan tambahan untuk mengatasi kebuntuan di Afghanistan. Walau dengan risiko yang harus dihadapi, dengan tegas ia mengatakan bahwa perang ini adalah sebuah perang yang diperlukan karena di daerah perbatasan yang bergunung-gunung antara Afghanistan dan Pakistan merupakan pusat pelatihan ekstrimis al Qaidah, tulis David Miliband di Republika 11 Desember 2009.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di artikel itu David mengakhiri dukungannya ke Obama dengan kalimat: “Tantangan-tantangan di Afghanistan adalah sesuatu yang kompleks dan memakan waktu untuk diselesaikan.  Namun, yang menjadi taruhan bukan hanya kredibilitas NATO atau stabilitas Asia Selatan, tapi juga keselamatan penduduk kita di sini, baik di Eropa, Amerika, maupun dimana saja.  Komitmen dan kebulatan tekad Amerika Serikat sudah jelas. Yang diperlukan sekarang adalah kewajiban kita semua untuk mempertimbangkan sumberdaya dan kekuatan kita sendiri.  Lalu, bertanya pada diri sendiri, apalagi yang bisa kita lakukan.  Meski demikian, tidak hanya lebih banyak tentara yang diperlukan, tapi juga para polisi, hakim-hakim, administrative, bantuan pembangunan, pendanaan integrasi, atau para ahli pertanian.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih kurang setelah tujuh tahun AS melakukan invasi ke Aghanistan, nampak AS kini kedodoran.  Menurut laporan beberapa media, mayoritas wilayah bukan dikuasai AS dan sekutunya, tapi malah lebih banyak dikuasai mujahidin Afghan.  Meski AS/NATO didukung persenjataan yang canggih dan lengkap, sampai saat ini tentara-tentara AS dan ‘pemerintahan boneka-nya’ di Afghan tidak bisa mengendalikan Afghan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perang Mujahidin Afghan dengan Rusia, dimana Rusia tidak bisa menaklukkan Afghan tidak diambil pelajaran oleh Obama. Begitu juga perang Vietnam yang membuat Amerika malu, mestinya menjadi pelajaran besar bagi seorang pemimpin Negara besar seperti Obama. Sudah merupakan sunnatullah atau hukum alam, bahwa semangat jiwa tidak akan bisa dikalahkan oleh materi. Yakni semangat perjuangan kaum Muslimin Afghanistan untuk membebaskan tanahnya dari invasi AS dan sekutunya tidak akan dikalahkan oleh pasukan NATO.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara psikologis, tentu semangat para pejuang Afghan, jauh lebih tinggi daripada semangat tentara-tentara yang dikirimkan oleh AS. Tentu jauh beda, semangat seorang yang membebaskan negara dari penjajah versus semangat tentara yang ingin menguasai Afghan.  Semangat pejuang Afghan (mujahidin Taliban cs) yang dilandasi keimanan untuk melawan kezaliman itu dimiliki oleh masing-masing individu pejuang. Sedangkan semangat tentara AS cs mungkin hanya dimiliki oleh segelintir pemimpin pasukan AS di sana. Sementara individu-individu pasukan itu semangatnya setengah-setengah, bahkan banyak tentara AS yang tidak  ingin dikirim ke Afghan atau Irak. Gerilyawan-gerilyawan Afghan sanggup tidak makan dua-tiga hari dan berjalan puluhan dan ratusan kilometer menembus salju. Tentara AS tentu tidak mampu. Jadi meski dikirim puluhan ribu lagi tentara AS ke sana, kemungkinan besar akan sia-sia. Hanya menambah korban saja, baik di pihak pejuang Afghan atau NATO.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perang Fisik atau Perang Pemikiran?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di abad informasi ini, sebenarnya perang fisik sudah bukan zamannya.  Tidak ada jalan buntu, bila para pemimpin lebih mendulukan otak daripada otot. Lebih mengutamakan akal dari pada ‘okol’. Memang peranan akal akan hilang, bila yang muncul adalah nafsu ketamakan. Ketamakan menguasai harta, jabatan, sumberdaya dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila masalah Afghan mau selesai, maka saatnyalah tentara-tentara NATO mengundurkan diri dari tanah para mujahidin itu. Relakanlah Afghanistan diatur oleh kaum Muslimin Afghan untuk menyelesaikan masalah mereka sendiri.  Para ulama internasional bisa dilibatkan untuk membantu pemulihan Afghan di masa depan (hal yang sama sebenarnya bisa dilakukan di Irak atau Israel). Hanya para ulama-ulama ienternasional lah yang bisa bermusyawarah untuk menyelesaikan afghan. Mereka yang mengerti pemikiran perasaan muslimin Afghan. Bukan tentara-tentara NATO yang pemikiran dan perasaanya jauh beda dengan muslimin di Afghan..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingat, manusia kini telah memasuki zaman baru.  Google telah membuat perpustakaan raksasa, ‘menscan’ hampir semua buku penerbit-penerbit terkenal di dunia. Dengan ragam bahasa, mulai bahasa Indonesia, Cina, Arab, Perancis, Inggris dan lain-lain. Kini seringkali untuk mengkaji sejarah pemikiran dan peradaban sebuah bangsa, kita cukup duduk manis di depan komputer, tidak perlu repor-repot pergi jauh ke Leiden, Oxford, Mekkah dan lain-lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah Google, yang dipelopori dua anak muda Amerika itu, harusnya menginspirasi pemimpin-pemimpin Amerika-Inggris. Untuk mencari pemikiran-pemikiran terbaik manusia, bukan dengan jalan perang fisik. Tapi jalannya musyawarah, adu pendapat atau adu pemikiran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Taliban: Ancaman atau Tantangan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Taliban, Al Qaida sebenarnya hampir sama dengan kelompok Muslim lainnya.  Serangan mereka ke WTC atau kejadian-kejadian lain, hanyalah letupan kecil atau balasan kepada kezaliman yang dilakukan AS sendiri di belahan negeri Muslim lainnya. Di Bosnia, Israel dan lain-lain. Jadi kalau tragediWTC dibalas dengan penjajahan di Afghan atau Irak, ibaratnya, pencurian kecil-kecilan dibalas dengan perampokan balas-balasan. Granat dibalas dengan bom atom. Amerika cs telah bertindak melewati batas membalas Al Qaida dengan memerangi, merampok dan merusak masa depan negeri Islam, Irak dan Afghan, maka AS dan sekutunya bertindak seperti Israel menjajah Palestina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, tidak heran bila para intelektual ternama Barat seperti John L Esposito atau Noam Chomsky menganjurkan AS agar ‘berkaca’.  Mengevaluasi kebijakan-kebijakan luar negeri mereka sendiri yang lebih banyak menyengsarakan dunia Islam daripada memakmurkan. Dan ingat berapa juta penduduk Barat sendiri yang berdemonstrasi agar Amerika, Inggris (NATO) menarik diri dari Afghan dan Irak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang Al Qaida atau Taliban mengancam Eropa, Amerika atau negara-negara lainnya. Sebenarnya hanyalah mitos belaka.  Bila Amerika cs berlaku sebagai polisi yang adil di dunia ini, maka tidak akan terjadi ancaman atau ‘balasan serangan’. Tergantung pada Amerika  sendiri mau menjadi penguasa yang ‘congkak’di dunia ini atau mau rendah hati, bersama-sama para ulama dunia Islam menuju perdamaian dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang tidak mudah menuju perdamaian dunia bila masih banyak kezaliman di sana. Ibaratnya sulit menghindari adanya pencurian, apabila orang-orang kaya di sebuah masyarakat tidak mau berbagi dengan yang lain. Begitu juga sukar menghindari adanya peperangan fisik bila sebagian masyarakat masih mengobarkan peperangan fisik dengan yang lain. Dan manusia yang tergoda syetan senantiasa akan menurutinya.  Syetan tidak suka kepada perdamaian sejati (Islam).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Sayid Qutb, perdamaian dunia dimulai dengan perdamaian individu. Yakni mereka yang menginginkan perdamaian di muka bumi ini, maka dari jiwa individulah dimulai. Terutama dari jiwa pemimpin-pemimpin dunia.  Bila sang pemimpin tidak ada kedamaian jiwanya, maka nafsu berperanglah yang akan menguasainya.  Individu yang resah jiwanya, cenderung akan menularkan keresahan itu kepada yang lain. Sebuah komunitas masyarakat yang individu-individunya banyak yang resah, tentu akan membesar, menjadi keresahan masyarakat dan akhirnya menjadi keresahan negara dan dunia. Begitu juga bila individu itu tenteram jiwanya, maka akan menular kepada keluarganya. Dari keluarga ke masyarakat dan seterusnya ke negara dan dunia.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walhasil, seharusnya Inggris tidak perlu terus membebek kepada kebijakan politik Amerika. Sejarah Inggris sebagai sebuah ‘imperium besar’ mestinya bisa mandiri tidak selalu mengikut pada kata Presiden AS. Obama meski telah dianugerahi Nobel, bukanlah seorang yang suci dan pemimpin sejati. Obama tidak pernah menderita dalam sejarah hidupnya. Padahal pemimpin sejati dalam sejarah manusia, ia ‘selalu menderita’ memikirkan rakyatnya. ‘Leiden is lijden’, pemimpin itu menderita, kata tokoh Masyumi Kasman Singodimedjo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walhasil, cuplikan puisi penyair besar Mohammad Iqbal ini patut kita renungkan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Malanglah umat yang terperangkap tipu muslihat golongan lain&lt;br /&gt;Yang menghancurkan diri sendiri dan membangun untuk kepentingan umat lain&lt;br /&gt;Mereka memperoleh kecakapan ilmiah dan ketrampilan seni&lt;br /&gt;Namun tak menyadari kepribadiannya sendiri&lt;br /&gt;Mereka menghapuskan ayat Tuhan dari cincinnya&lt;br /&gt;Cita-cita di hatinya bangkit cuma untuk tenggelam&lt;br /&gt;Mereka tak diberkati keturunan yang diresapi rasa hormat&lt;br /&gt;Jiwa dalam tubuh anak-anak mereka seperti bangkai dalam kuburan”* (artikel yang lebih ringkas telah dimuat di majalah Hidayatullah).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4691295274548167167-3556681216463734525?l=nuimhidayat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nuimhidayat.blogspot.com/feeds/3556681216463734525/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4691295274548167167&amp;postID=3556681216463734525&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4691295274548167167/posts/default/3556681216463734525'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4691295274548167167/posts/default/3556681216463734525'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nuimhidayat.blogspot.com/2010/08/perang-atau-diplomasi-tanggapan-untuk.html' title='Perang atau Diplomasi? Tanggapan untuk David Miliband, Menlu Inggris'/><author><name>Nuim Hidayat</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04748613359481249234</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='22' src='http://2.bp.blogspot.com/_5sXuNmRv_aA/SXrAMvDXeaI/AAAAAAAAAAM/KQ9cesHTMeQ/S220/FOTO+1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_5sXuNmRv_aA/THyeO4RRHDI/AAAAAAAAAFk/eZoxePOWvFA/s72-c/kaligrafi2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4691295274548167167.post-2516910549475560898</id><published>2010-08-27T17:48:00.000-07:00</published><updated>2010-08-27T18:00:44.906-07:00</updated><title type='text'>Prof Nik Anuar Nik Mahmud : “Melayu Islam tidak Boleh Dizalimi”</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_5sXuNmRv_aA/THheFTrgV3I/AAAAAAAAAFc/WNg5EkMeseE/s1600/DrNik.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 300px; height: 225px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_5sXuNmRv_aA/THheFTrgV3I/AAAAAAAAAFc/WNg5EkMeseE/s320/DrNik.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5510257589362906994" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prof  Nik adalah profesor yang pemberani. Bukan hanya dimana-mana ia lantang menyuarakan satu rumpun Melayu dan Melayu Raya, tapi juga menyuarakan Melayu Islam tidak boleh dizalimi.  Bukunya tentang Sejarah Islam di Pattani dilarang pemerintah Thailand.  Tapi ia tidak takut, ia terus menulis buku dan berbicara dimana-mana tentang sejarah Melayu sebenarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepakarannya dan keberaniannya dalam mengungkapkan sejarah Islam Melayu, sukar dicari tandingannya. Ia bila berbicara terbuka dan tidak mau berpura-pura.  Berikut petikan wawancaranya di kantornya, ATMA-UKM (Institut Alam dan Tamadun Melayu-Universiti Kebangsaan Malaysia), dengan Dosen STID M Natsir di Malaysia, Nuim Hidayat:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana Anda melihat hubungan Malaysia Indonesia ini dari perspektif sejarah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, saya akan melihat hubungan Indonesia Malaysia ini dari perspektif sejarah, dari perspektif Malaysia. Kalau kita baca buku-buku sejarah, khususnya buku-buku sejarah Melayu yang ditulis sebelum perang dunia ke-2, seperti sejarah Melayu yang ditulis oleh Abdul Hadi dan Munir Adil, maka wilayah Semenanjung dan Indonesia ini dianggap sebagai alam Melayu Raya. Mereka menamakan tanah Melayu ini, Sumatera, Jawa, Sulawesi, Kalimantan, Sumatra, Johor, Kelantan, Pattani dll ini alam Melayu atau di Indonesia dikenal Nusantara.  Yaitu wilayah Semenanjung tanah Melayu dan gugusan tanah Melayu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah ini apakah diajarkan kepada murid-murid di Malaysia?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, pelajaran sejarah ini diajarkan kepada pelajar-pelajar Melayu sebelum perang dunia ke-2. Orang Melayu semenanjung ini bagian dari pada alam Melayu yang merangkumi pulau-pulau tadi itu. Jadi walaupun ini satu alam Melayu, tapi alam Melayu ini telah dipecah dua oleh penjajah, yaitu pada tahun 1824 oleh British (Inggris)  dan Belanda. Mana-mana wilayah dibawah semenanjung di bawah naungan Belanda. Mana-mana wilayah di atas Sumatra atau Riau, di bawah naungan British.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum ini tidak ada perpecahan itu. Sampai hari ini pemecahan itu berlaku. Sebelum Perang Dunia ke-2, ada semangat mau bersatu semula.. Ibrahim Haji Yakub dari Melayu, mau melihat negeri-negeri Melayu yang telah pecah ini bersatu atas nama Melayu Raya,.di Indonesia juga ada gerakan seperti ini. Mereka mau melihat alam Melayu ini disatukan atas nama Indonesia raya. Ada hasrat untuk menjadi bersatu. Tapi rencana ini tidak berjaya karena dihalang oleh kuasa-kuasa besar. Mereka tidak mau melihat bangsa Melayu ini mempunyai satu Negara. Mereka mau melihat perpecahan. Kalau bangsa Melayu ini dibawah satu negara, maka akan jaya. Potensi baik dari segi jumlah penduduknya yang besar maupun hasil buminya, &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana kuasa-kuasa besar itu bermain?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi akibat halangan kuasa-kuasa besar itu, usaha mewujudkan Melayu Raya gagal, Malaysia dengan Malaysianya, Indonesia tetap dengan Indonesianya. Tapi bagaimanapun apabila tanah Melayu menggapai kemerdekaan tahun 1963, pemimpin-pemimpin Indonesia mengharapkan adanya kerjasama yang erat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1958 atau atau 1959 itu Tun Razak, PM Malaysia, melakukan lawatan ke Jakarta dan PM Juanda melawat ke Kuala Lumpur. Mereka melakukan perjanjian kerjasama, kebudayaan dan bahasa. Walaupun berbeda Negara, atas nama satu rumpun pemimpin Indonesia ingin kerjasama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum merdeka semasa rakyat Indonesia lepas dari Perang Dunia ke-2, semasa Indonesia membebaskan tanah airnya dari kekuasaan Belanda, ramai juga anak-anak muda Melayu yang jadi sukarelawan menyertai anak-anak Indonesia yang berjuang untuk menentang Belanda. Sehingga Belanda akhirnya mengiktiraf kemerdekaan Indonesia tahun 1949. Tahun 1945 Belanda belum mengiktiraf Indonesia. Juga ketika Indonesia membebaskan Irian Barat banyak anak-anak muda Semenanjung yang ikut serta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu menunjukkan semangat satu rumpun. Pada masa itu Malaysia belum merdeka masih dijajah Inggris. Mereka berhijrah ke Indonesia, berjuang bersama Indonesia memperjuangkan kemerdekaan dari Belanda. Sejarah ini perlu kita fahamkan. Walaupun Malaysia Indonesia dipisahkan oleh Belanda dan Inggris pada tahun 1824. Jadi semangat satu rumpun masih kuat. Kesatuan Muda Malaysia pimpinan Ibrahim Yakub bergabung dengan pemuda Indonesia dalam melawan Belanda, untuk mewujudkan Melayu Raya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana kemudian hubungan Indonesia Malaysia tahun 60-an itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tokoh-tokoh Indonesia Malaysia itu sebenarnya mau mengukuhkan hubungan perjanjian persahabatan. Tahun 1961, hubungan Malaysia Indonesia lebih dingin berkaitan dengan cadangan Tengku untuk membentuk Malaysia. Tengku mengumunkan bahwa beliau akan membebaskan Sabah, Serawak, Brunei, Singapura daripada penjajahan British dan menyatukan negeri ini dengan tanah Melayu.  Jadi pengistiharan (Pengumuman) Tengku ini disalahartikan oleh presiden Soekarno. Ia menganggap rencana Tengku ini bertujuan untuk melemahkan atau melumpuhkan Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia kata rencana tengku itu adalah konspirasi British dan Amerika untuk mengukuhkan dirinya. Gagasan itu kemudian ditentang. Ini sebenarnya tidak pas. Bila saya buat kajian, tiadak ada satu kalimatpun yang menyatakan bahwa tujuan Tengku itu untuk melemahkan Indonesia. Tidak ada. Tujuan Tengku adalah untuk memerdekakan sisa-sia penjajahan British di Asia Tengah. Bukan bertujuan untuk mengepung Indonesia. Bukan bermufakat dengan Barat untuk memecahkan wilayah Indonesia. Ini adalah salah paham.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa Presiden Soekarno bereaksi seperti itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tak boleh salahkan Presiden Soekarno juga. Karena semenjak beliau menjadi presiden, Amerika dan British berusaha untuk menjatuhkan beliau. Sebagai contoh Amerika pernah memberikan senjata pada beberapa pergolakan di Indonesia. Karena latar belakang tadi, jadi apabila Tengku merencanakan kemerdekaan Malaysia, maka ia dengan cepat mengatakan bahwa ini adalah usaha-usaha kuasa besar untuk melemahkan Indonesia. Padahal tidak ada usaha itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, waktu ada pergolakan PRRI di Sumatera, ada pemimpin-pemimpin PRRI itu yang berlari ke Melayu. Mereka memohon suaka politik. Tengku mengizinkan, tapi dengan syarat bahwa jangan jadikan tanah Melayu ini sebagai bekalan untuk menentang Indonesia. Jadi itu mengapa kemudian Tengku memberikan perlindungan kepada Des Alwi, Dr Sutino, dll. Presiden Soekarno menuntut agar dua orang itu dikembalikan ke Indonesia. Tengku kata bahwa dua orang tokoh itu bukan penjenayah (tahanan) biasa, tapi mereka tahanan politik. Mereka menuntut hak untuk suaka politik, ini membuat Indonesia mencurigai Melayu. Tahun 1963-1966 terjadi konfrontasi Indonesia Malaysia. Beberapa perundingan dijalankan tapi gagal. Tahun 1963, ketika Malaysia diiktiraf kemerdekaannya oleh dunia internasional, Indoensia tidak mengiktiraf Malaysia dan memutuskan hubungan diplomatik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pandangan Malaysia, ini karena desakan PKI (Partai Komunis Indonesia). Dengan konfrontasi ini, maka pihak tentara memberi tumpuan kepada pertahanan dan keamanan. Maka ini memberi peluang kepada PKI untuk melebarkan pengaruhnya di Indonesia, karena tentara beralih perhatiannya (tentara RI adalah anti PKI). Dan Soekarno saat itu sudah uzur, dipercayai lambat laun Soekarno akan melepaskan jabatan presiden apakah sakit, umur tua atau meninggal. Malaysia dianggap Soekarno sebagai neo kolonialisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi Soekarno saat itu uzur, kalau turun dari jabatan presiden saat itu, maka siapa yang akan mengisi? Dipercayai yang akan mengisi adalah Aidit, tokoh  PKI. Pihak pimpinan tentara RI tidak mau melihat Aidit menjadi presiden Indonesia, seperti Ahmad Yani, Soeharto dll. Jadi pihak tentara mencari jalan bagaimana memastikan bahwa Aidit tidak menjadi persiden. Maka kemudian berlaku gestapu. Jendral-jendral anti komunis ini kan menumbuhkan dewan jendral, penubuhan dewan jendral ini diketahui oleh kolonel Untung yang pro komunis. Maka Soekarno dan komunis mengarahkan untuk menangkap jendral-jenderal itu. Tapi jendral itu ternyata bukan dtangkap PKI, tapi dibunuh. Mengapa dibunuh itu jadi misteri. Kemudian Soeharto bangkit dan mengambil kuasa dari Soekarno.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana setelah Soeharto memimpin?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi apabila Soeharto mengambil alih tahun 1966, hubungan Malaysia Indonesia menjadi pulih. Setelah itu hubungan Indo-Malay zaman Tun Razak Soeharto cukup bagus, cukup erat. Kalau konfrontasi diteruskan maka yang mendapat manfaat adalah Partai Komunis Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu syarat yang membolehkan Indonesia untuk mengiktiraf Malaysia adalah dengan mengadakan semula pemungutan semula Sabah dan Serawak. Lewat Adam Malik, akhirnya Malaysia setujui syarat itu. Pemungutan suara itu diadakan lewat pilihan raya. Itu untuk memenuhi syarat Indonesia. Tahun 1967 diadakan pilihan raya dan partai yang pro Malaysia menang. Jadi Sabah Serawak secara sukarela memilih untuk bergabung dengan Malaysia. Pilihannya dua. Apakah kemasukan Sabah Serawak waktu itu dipaksa masuk ke Malaysia atau secara sukarela? Indonesia saat itu melihat bahwa Sabah Serawak dipaksa masuk ke Malaysia, untuk melumpuhkan Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tun Razak itu menganggap Indonesia itu sebagai abang. Tapi yang berlaku hari ini, adalah sejarah ini dilupakan, baik oleh generasi di Indonesia maupun di Malaysia. Lupa bahwa Malaysia Indonesia ini adalah alam Melayu, satu rumpun, Melayu johor, Melayu Jawa, Kalimanatan, satu rumpun. Sejarah ini tidak diajarkan kepada generasi baru baik di Malaysia maupun di Indonesia. Akibatnya generasi baru di Indonesia Malaysia menganggap bahwa kita ini berbeda. Generasi kami menganggap bahwa Indonesia adalah adik beradik saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi harus bagaimana menyikapi sejarah ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena kita tidak masukkan dalam pelajaran sejarah, baik di Indonesia maupun Malaysia bahwa kita ini satu rumpun. Tidak diajarkan di sekolah. Kita berpisah karena penjajahan. Di ATMA (Institut Alam dan Tamadun Melayu) kita mau bangkitkan semangat satu rumpun Melayu ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paman saya saja ikut pada tahun 1946 ke Jakarta dengan Ibrahaim Yakub berjuang menentang Belanda.  Kembali ke Malaysia tahun 80-an. Dia sudah kawin dengan orang Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, sekarang ini telah berlaku kekeliruan, karena generasi baru telah dipisah dengan sejarah lama. Dulu kita diajar kita satu rumpun. Kata itu kini sudah tidak ada. Tidak disebut dalam buku sejarah baik tingkat dasar maupun tingkat universitas, kecuali mungkin di ATMA. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita perlu didik anak-anak kita baik di Semenanjung atau di Indonesia bahwa asalnya kita ini adalah satu, tapi dipisah-pisah oleh penjajah. Mereka tidak mau Malaysia Indonesia bersatu. Semenanjung Melayu ini sebenarnya mewakili Indonesia Raya. Semua suku Indonesia ada di sini. Jawa, Bugis, Aceh, Minang. Aslinya penduduk semenanjung ini kan sebenarnya Kelantan, Trengganu dan Kedah. Kini banyak orang Jawa di Johor, Selangor juga Jawa, Aceh pun banyak disini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa berlaku perpecahan ini? Ini salah paham saja. Negeri sembilan sebagian penduduknya dari Minangkabau, sultan Selangor dari Bugis. Jadi sepatutnya kita dengan semangat stau rumpun bekerjasama untuk bangunkan alam melayu ini. Kita tak boleh lagi menjadi bangsa kelas dua, harus bangsa kelas satu yang bisa mempengaruhi dunia. Tapi kalau masing-masing kita berpecah, ashabiyah, kita terus akan menjadi mainan kuasa-kuasa besar yang tidak mau melihat bangsa Melayu tumbuh menjadi bangsa yang besar. Kita mesti tanamkan kembali sejarah. Dari segi agama, bahasa, melayu sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan isu-isu akhir ini. Isu tenaga kerja, budaya dan perbatasan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Isu-isu ini tak patut dibesar-besarkan. Kalau dibesar-besarkan pihak ketiga akan mengeksploitir isu-isu ini untuk melemahkan semangat persaudaraan antar bangsa serumpun ini.  Jadi msalah-masalah yang disebut tadi boleh diselesaikan dengan perundingan antar pimpinan negara. Tak perlu dibesarkan di media massa. Mereka akan terus esploitir kasus Ambalat, kebudayaan dll. Untuk melihat Indonesia Malaysia kembali konfrontasi. Kalau konfrontasi, semua pihak tidak akan untung, pihak ketiga akan untung. Kita tahu pihak ketiga itu siapa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam memoir buku Thomas Raffles, disebut: bahwa Barat mesti pastikan bahwa alam Melayu ini lemah. Jadi dia usulkan untuk melemahkan itu dua strategi: Pertama, bawa imigran-imigran asing masuk ke Melayu supaya kawasan ini tidak menjadi kawasan Melayu. Supaya menjadi majemuk (dibawa orang-orang Cina dan India).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, pastikan bahwa raja-raja Melayu ini apakah di Semenanjung, Sumatera, Jawa dan sebagainya, tidak mengambil para ulama Arab menjadi penasehat mereka. Jadi tujuannya untuk memisahkan Arab dengan Melayu. Jadi sebelum ini hubungan antara kerajaan Islam di Melayu dengan Daulah Utsmaniyah cukup rapat. Sebab penasehat raja-raja Melayu adalah ulama dari Timur Tengah.  Ganti dengan penasehat dari Belanda atau British, kata Raffles  (seperti Nuruddin ar Raniri, dll.yang menjadi penasehat raja) Maka mengapa kemudian pangeran Diponegroo ditangkap? Karena mereka membawa semangat Islam dan membina hubungan rapat dengan Utsmaniyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sejarah, kita lihat setelah Barat meruntuhkan Utsmainyah barulah muncul Saudi, Kuwait, dll. Yang angkat mereka Bitish, Perancis. Jadi nggak ada Turki Utsmaniyah Timur Tengah hancur, alam Melayu kemudian juga hancur. Umat tidak ada pemimpin. Kuasa Barat tidak mau khalifah atau Melayu Raya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi bagaimana sebaiknya sekarang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini pemimpin generasi baru tidak ada semangat satu rumpun.. Tun Razak semasa berunding dengan Adam Malik, ada perjanjian tidak tertulis bahwa akan ada kerjasama erat. Malaysia akan bantu Indonesia dari segi ekonomi, Indonesia bantu Malaysia dari segi penduduk. Malaysia impor penduduk Indonesia, untuk meramaikan orang Melayu. Malaysia bantu dengan memberi pekerjaan orang Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kerjasama ini dilupakan, dan mungkin ada pihak yang ingin melihat jangan sampai bersatu. Mau porak porandakan. Isu pekerja ini kan satu dua dan bisa diselesaikan. Yang menjadi masalah seringkali bukan orang Melayu yang buat. Tapi dibesar-besarkan. Pada umumnya mereka kerja senang disini. Tapi kenapa ribut masalah? Orang Kelantan buat batik dan Indonesia juga punya batik, karena batik ini tradisi Melayu. Jadi kadang-kadang ada orang Bugis Sulawesi ke sini dengan kebudayaanya, mereka memperkenalkan budaya disini apakah suatu kesalahan? Atau orang Jawa ke sini pakai bahasa Jawa apakah tak boleh? Kenapa harus bertengkar dalam masalah seperti ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi kita perlu kerjasama, baik di bidang ekonomi, pendidikan dan lain-lain. Sekarang banyak pelajar perguruan tinggi yang dikirim dari Malaysia ke Indonesia atau sebaliknya.* (artikel yang lebih ringkas pernah dimuat di Majalah Hidayatullah).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4691295274548167167-2516910549475560898?l=nuimhidayat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nuimhidayat.blogspot.com/feeds/2516910549475560898/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4691295274548167167&amp;postID=2516910549475560898&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4691295274548167167/posts/default/2516910549475560898'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4691295274548167167/posts/default/2516910549475560898'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nuimhidayat.blogspot.com/2010/08/prof-nik-anuar-nik-mahmud-melayu-islam.html' title='Prof Nik Anuar Nik Mahmud : “Melayu Islam tidak Boleh Dizalimi”'/><author><name>Nuim Hidayat</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04748613359481249234</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='22' src='http://2.bp.blogspot.com/_5sXuNmRv_aA/SXrAMvDXeaI/AAAAAAAAAAM/KQ9cesHTMeQ/S220/FOTO+1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_5sXuNmRv_aA/THheFTrgV3I/AAAAAAAAAFc/WNg5EkMeseE/s72-c/DrNik.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4691295274548167167.post-1705550996967367752</id><published>2010-08-10T06:58:00.000-07:00</published><updated>2010-08-10T07:09:09.819-07:00</updated><title type='text'>Syed Muhammad Naquib Al Attas:  Pendekar Sejarah Melayu-Indonesia</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_5sXuNmRv_aA/TGFddQWHEHI/AAAAAAAAAFU/W2EMVRapobE/s1600/Al-Attas+festchrift.JPG"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 240px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_5sXuNmRv_aA/TGFddQWHEHI/AAAAAAAAAFU/W2EMVRapobE/s320/Al-Attas+festchrift.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5503782976808751218" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Syed Muhammad Naquib Al Attas: &lt;br /&gt;Pendekar Sejarah Melayu-Indonesia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hati hampa yang tiada mengandung Sejarah Bangsa,&lt;br /&gt;Tiadakan dapat tahu menilai hidup yang mulia;&lt;br /&gt;Penyimpan khabar zaman yang lalu menambah lagi&lt;br /&gt;Pada umurnya umur berulang berkali-ganda&lt;br /&gt;(Prof Dr. Syed Muhammad Naquib al Attas)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah Prof Alatas memulai karyanya Islam dalam Sejarah dan Kebudayaan Melayu. Monografnya ini, meski tidak tebal, adalah salah satu karya yang serius dalam membongkar perjalanan sejarah Islam di Indonesia-Melayu. Alatas ‘membongkar-bongkar’ perpustakaan-perpustakaan antara lain perpustakaan di  Leiden, Oxford, Jakarta dan Kuala Lumpus sebelum menuliskannya.&lt;br /&gt;  Buku ini adalah karya tulis yang dipersembahkannya kepada para intelektual bertepatan dengan pelantikannya sebagai guru besar (Profesor) Sastra Melayu di Universiti Kebangsaan Malaysia pada 24 Januari 1973. Di sini Alatas menguliti dengan tajam dan ilmiah rekayasa orientalis –khususnya sejarawan-sejawaran Belanda seperti Van Leur dan Snouck Hugronje —dalam menjungkirbalikkan perjalanan sejarah Islam Indonesia-Melayu. &lt;br /&gt;Al-Attas yang kini berusia  79 tahun, menulis:   “Keputusan akhir Van Leur laksana hukuman yang telah dijatuhkan terhadap Islam ialah bahwa Islam itu tiada membawa apa-apa, perubahan asasi dan tiada pula membawa suatu tamaddun yang lebih luhur daripada apa yang sudah sedia ada.  Bawaan pemikiran sarjana-sarjana Belanda dari dahulu memang sudah mengisaratkan kecenderungan ke arah memperkecil-kecilkan Islam dan peranannya dalam sejarah Kepulauan ini dan sudahpun nyata, misalnya dalam tulisan-tulisan Snouck Hugronje pada akhir abad yang lalu”&lt;br /&gt; Apa yang dibawa Islam di tanah Melayu ini? Al Attas dengan cermat menguraikan: “… kedatangan Islam di Kepulauan Melayu Indonesia harus kita lihat sebagai mencirikan zaman baru dalam persejarahannya, sebagai semboyan tegas membawa rasionalisma dan pengetahuan akliah serta menegaskan suatu sistim masharakat yang berdasarkan orang perseorangan, keadilan dan kemuliaan kepribadian insan.”&lt;br /&gt; Jadi Islam membawa peradaban yang tinggi, intelektualisme dan ketinggian budi insan di tanah Melayu. Prof al-Attas juga menunjukkan bukti bahwa dari tangan ulama-ulama Islam lahirlah budaya sastra, tulisan, falsafah, budaya buku dan lain-lain, yang tidak dibawa peradaban sebelumnya. Islam memang tidak meninggalkan kebudayaan patung/candi sebagaimana kebudayaan pra Islam, tetapi Islam mengembangkan budaya ilmu.  &lt;br /&gt;Kembali mengutip al-Attas: “Salah satu kejadian baru yang terpenting mengenai kebudayaan, yang dengan secara langsung digerakkan oleh proses sejarah kebudayaan Islam adalah penyebaran bahasa Melayu sebagai bahasa pengantar, bukan sahaja dalam kesusasteraan epik dan roman, akan tetapi –lebih penting– dalam pembicaraan falsafah.  Penggunaan bahasa Melayu sebagai bahasa kesusasteraan falsafah Islam di kepulauan Melayu-Indonesia menambah serta meninggikan perbendaharaan katanya dan istilah-istilah khususnya dan merupakan salah satu faktor terutama yang menjunjungnya ke peringkat bahasa sastera yang bersifat rasional, yang akhirnya berdaya serta sanggup menggulingkan kedaulatan bahasa Jawa sebagai bahasa sastera Melayu-Indonesia.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;000&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syed Muhammad Naquib bin Ali bin Abdullah bin Muhsin al Attas, dilahirkan di Bogor, 5 September 1931. Sejak kecil memperoleh pendidikan Islam dari orangtuanya.  Ia memulai pendidikan formalnya sekolah dasar di Johor, Malaysia.  Karena adanya pendudukan Jepang di Semenanjung, ia kemudian pindah belajar ke Madrasah al Urwatul Wutsqa, Sukabumi Jawa Barat (1941-1945).  Tahun 1946, ia kembali belajar di Johor di Bukit Zahrah School dan English College (1946-1951).  &lt;br /&gt; Al Attas menempuh sarjana mudanya di Universiti Malaya.  Saat masih kuliah ia berhasil membuat buku Rangkaian Riba’iyat, yang dipublikasikan pertama kali oleh Dewan Bahasa dan Pustaka tahun 1959.  Karya klasiknya  yang kedua adalah Some Aspects of Sufism as Understood and Practical among the Malays.  Ia kemudian melanjutkan studinya di McGill University. Berbeda dengan sejumlah alumni McGill yang mengikuti jejak orientalis, al Attas berhasil memahami pemikiran orientalis dan kemudian mengkritisinya dengan tajam dan akurat. Ia menyelesaikan masternya tahun 1962 dengan tesis Raniri and the Wujudiyyah of 17th Century Acheh. &lt;br /&gt;Setahun kemudian al Attas melanjutkan program doktoralnya di School of Oriental and African Studies, University of London. Di sana ia berinteraksi dengan Profesor A.J. Arberry  dan Dr. Martin Lings. Ia menyelesaikan program doktoralnya (1965) dengan karyanya yang monumental dan klasik berjudul The Mysticism of Hamzah Fansuri.&lt;br /&gt;Prof al Attas telah menulis karya lebih dari 29 buku dan monograf dalam bahasa Inggris dan Melayu.  Banyak buku-bukunya yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa asing, yaitu: Arab, Turki, Urdu, Malaysia, Indonesia, Albania, Persia, Perancis, Jerman, Rusia, Bosnia, Jepang, Hindi, Korea dan Albania.&lt;br /&gt;Tahun 1991 Prof al Attas merancang berdirinya ISTAC (International Institute of Islamic Thought and Civilization), satu model universitas Islam ideal di dunia Islam. Al-Attas adalah salah satu ilmuwan Muslim yang diakui reputasinya di dunia internasional. Ia dikenal sangat kritis terhadap sekularisme. Bukunya, Islam and Secularism telah diterjemahkan ke dalam puluhan bahasa. &lt;br /&gt;Tahun 2002. The Cranlana Program Australia menerbitkan dua volume buku berjudul Powerful Ideas: Perspectives on the Good Society (2002). Buku ini menghimpun gagasan pemikir-pemikir besar dalam sejarah umat manusia. Dalam buku ini, al-Attas merupakan satu-satunya ilmuwan Muslim yang diakui memiliki gagasan genuine dalam kajian kritisnya terhadap Barat. Gagasan al-Attas yang diambil adalah pemikirannya yang tertuang dalam sebuah tulisan berjudul “The Dewesternization of Knowledge”. (nuim hidayat). Islamia-Republika, 15 Juli 2010.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4691295274548167167-1705550996967367752?l=nuimhidayat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nuimhidayat.blogspot.com/feeds/1705550996967367752/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4691295274548167167&amp;postID=1705550996967367752&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4691295274548167167/posts/default/1705550996967367752'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4691295274548167167/posts/default/1705550996967367752'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nuimhidayat.blogspot.com/2010/08/syed-muhammad-naquib-al-attas-pendekar.html' title='Syed Muhammad Naquib Al Attas:  Pendekar Sejarah Melayu-Indonesia'/><author><name>Nuim Hidayat</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04748613359481249234</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='22' src='http://2.bp.blogspot.com/_5sXuNmRv_aA/SXrAMvDXeaI/AAAAAAAAAAM/KQ9cesHTMeQ/S220/FOTO+1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_5sXuNmRv_aA/TGFddQWHEHI/AAAAAAAAAFU/W2EMVRapobE/s72-c/Al-Attas+festchrift.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4691295274548167167.post-2986485947133941456</id><published>2010-07-14T23:38:00.001-07:00</published><updated>2010-07-14T23:40:10.303-07:00</updated><title type='text'>Bermimpi Andalusia</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_5sXuNmRv_aA/TD6tKDtmC5I/AAAAAAAAAFM/uIDTzq721Zc/s1600/andalus-g1.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 213px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_5sXuNmRv_aA/TD6tKDtmC5I/AAAAAAAAAFM/uIDTzq721Zc/s320/andalus-g1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5494018983745424274" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Bermimpi Andalusia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Nuim Hidayat (Dosen Pascasarjana UIKA Bogor)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika mengunjungi kampus UKM tahun lalu (2009), saya menemukan buku berjudul Andalus di  UKM. Buku ini buah karya Dr Salmah Omar lulusan dari Universiti Malaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya baru membuka dan membaca serius buku ini minggu lalu. Ternyata buku ini sangat menarik dan merupakan karya disertasi Salmah. Banyak hal yang menarik diungkap dalam disertasi ini. Dr Salmah menceritakan bahwa Islam beperan penting membentuk peradaban Eropa, pada tahun 711M hingga 1492M. “Kehadiran Islam di Andalus bukan sahaja menghapuskan penindasan dan kekejaman pemerintah-pemerintah Kristen sebelumnya, tetapi juga berjaya membentuk sebuah tamadun Islam yang unggul serta masyarakat intelek yang menjadi model kepada seluruh masyarakat di Eropah,”tulis Salmah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada zaman kegemilangannya, ungkapnya, Andalus telah muncul sebagai pusat intelektual Islam yang terpenting. Ia dikatakan mempunyai banyak institusi pendidikan, perpustakaan, istana, masjid, tempat mandi umum dan taman serta kebun yang indah.  Menurut Al Maqdisi, pada abad ke-10M, kota Cordova yang menjadi pusat pemerintahan Islam telah muncul sebagai Bandar termaju di dunia serta pusat kebudayaan dan ilmu pengetahuan, karena mempunyai 37 buah perpustakaan, 150 buah rumah sakit, 300 sekolah umum, 900 tempat mandi umum dan 1600 sehingga 3837 buah masjid di sekitarnya.  Ia menjadi saingan kota kebudayaan lain seperti Qayrawan, Damsyik dan Baghdad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata Dr Salmah: “Andalus juga mencapai satu tahap yang tinggi dalam penggunaan bahasa Arab seperti yang dapat dilihat melalui hasil kesusastraan yang hebat seperti dalam puisi, nahu, leksikografi, persuratan, sejarah dan geografi, agama, falsafah dan sains tulen.  Tingkat kemahiran dan daya kreatif yang tinggi pula dapat diperhatikan melalui hasil seni dan seni binanya, dalam bidang muzik, pertanian, perdagangan dan industri.  Justeru, pada zaman kegemilangannya, Andalus begitu dikagumi oleh seluruh masyarakat dunia… Bandar Toledo di Andalus telah muncul sebagai pusat kegiatan penterjemahan.  Para sarjana Barat telah berusaha keras menterjemah hasil-hasil karya sarjana Islam.  Selain itu, tulisan-tulisan Aristotle, Euclid, Ptolemy, Galen, Hippocrates dan lain-lain yang telah diterjemah dan dikupas oleh sarjana Islam Andalus ke dalam bahasa Arab kini diterjemahkan pula ke bahasa Latin dan bahasa Eropah yang lain oleh sarjana Yahudi dan Kristen yang pernah menjadi murid kepada sarjana-sarjana Islam.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prof Wan Mohd Nor Wan Daud, Guru Besar ATMA-UKM Malaysia, membuat tulisan yang menarik dalam jurnal Islamia, dengan judul : Iklim Kehidupan Intelektual di Andalusia.  Prof Wan Daud menyatakan : “Kehadiran Islam di Andalusia telah melahirkan pencapaian ilmu pengetahuan, budaya dan peradaban yang amat tinggi, bukan saja dalam sejarah Islam tapi juga dalam sejarah manusia.  Kekayaan, harta benda dan uang serta kekuatan politik tidak bergantung kepada ketinggian ilmu pengetahuan seperti yang telah banyak dilihat dalam lembaran sejarah dan juga di sekeliling kita hari ini. Tetapi ketinggian kebudayaan –dalam arti keluhuran  hasil amal perbuatan serta tatasusila kemanusiaan yang penuh dengan kebijaksanaan, kesederhanaan dan keadilan, pelbagai bentuk dan ragam hasil kesenian yang memancarkan cirri-ciri kerohanian dan kemanusiaan – dan keunggulan peradaban semuanya bergantung kepada budaya ilmu dan iklim keilmuan sehat, dinamik dan berdaya cipta.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prof Wan mencatat bahwa khalifah Bani Umayyah, Umar bin Abdul Aziz (memerintah 717-720M) melantik Ismail bin Abdullah bin Abil Muhajir sebagai gubernur di Andalusia dan Afrika Utara. Umar yang mengambil insiatif menggalakkan pengumpulan hadits dan penyebaran ilmu pengetahuan agama telah menghantar beberapa surat kepada gubernurnya untuk mendidik masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mantan Guru Besar ISTC-IIUM ini melanjutkan : “Pandangan alam yang menyuburkan sikap mendalami ilmu pengetahuan juga terkandung dalam Muwatta’ Imam Malik, teks penting yang mempengaruhi umat Islam Afrika Utara dan Andalusia.  Imam Malik meriwayatkan, beliau mendengar bahwa Luqman al Hakim menasihati anaknya:”Wahai Anakku! Bergaullah dengan orang-orang alim dan duduklah dengan hormat bersama mereka karena Allah SWT menghidupkan jiwa dengan cahaya hikmah-Nya, seperti Dia menghidupkan tanah gersang dengan hujan dari langit…Cendekiawan Andalusia juga menulis karya-karya penting tentang ilmu pengetahuan. Ibnu Hazm (w. 1064M) mengarang kitab Maratib al Ulum yang mengajarkan kepentingan pelbagai ilmu pengetahuan, manakala Ibn Abdul Barr (w. 1070M) menulis kitab terkenal --Jami Bayan al Ilm wa Fadhlihi wa ma Yanbaghi fi Riwayati wa Hamlihi--  yang mengandung banyak hadits yang menyanjung ilmu pengetahuan dan usaha mencapai dan menyebarnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;000&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir Oktober 2009 lalu, dari Kajang-Bangi,  Malaysia saya berkesempatan mengunjungi Singapura. Saya naik kereta api dari stasiun Kajang ke Singapura pulang balik hanya 64 ringgit saja (sekitar Rp 190.000). Tujuan ke Singapura sebenarnya selain untuk silaturahmi dengan seorang kawan, juga yang lebih penting untuk memperpanjang visa saya di Malaysia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar 8 jam, saya sampai di stasiun Singapura. Ini sebenarnya perjalanan saya yang kedua ke Singapura dengan kereta api. Tahun 1995 dulu, saya pernah mencoba naik kereta dari ‘kota Singa’ itu ke Kuala Lumpur.  Berbeda dengan tahun 1995, saya menemukan kejadian aneh tahun lalu. Ketika menuju pintu keluar stasiun, petugas imigrasi menanyakan identitas saya. Ia melihat dulu visa saya berwarganegara Indonesia. Kemudian ia bertanya: “Anda muslim?”, “Ya”, jawab saya. Kemudian ia memencet sebuah tombol di sampingnya dan datanglah petugas lain mengajak saya agak menjauh dari gerbang pemeriksaan visa itu.  Di situ saya dicecar untuk apa ke Singapura? Siapa yang dituju? Berapa lama? dan lain-lain. Visa saya dibawanya ke sebuah ruangan dan nampak dari kaca ruangan itu ‘mesin fotokopi’.  Setelah ia menyerahkan visa, saya disuruh kembali ke petugas yang pertama untuk di stempel sebagai tanda pengesahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya cukup jengkel dengan perlakuan petugas imigrasi Singapura ini. Pertanyaan Anda Muslim, membuat saya benar-benar dongkol. Karena saya saksikan beberapa ‘turis lain’, kebanyakan wajah Cina, baik dari Singapura maupun Malaysia lancar saja dan tidak mengalami perlakuan seperti saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil berjalan saya berfikir mungkin mereka takut kepada Muslim Indonesia, karena banyak kejadian bom di Indonesia. Barangkali mereka merasa nyaman bila yang datang dari Indonesia non Muslim bukan Muslim. Seorang kawan dari Padang, juga menceritakan kejadian yang mirip dengan saya, di waktu yang lain. Tapi saya tidak tahu secara pasti, karena mereka tidak mengungkapkan alasan penerapan diskriminasi pemeriksaan visa itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di stasiun Singapura, saya dijemput seorang yang bernama Abdullah Ustman.  Penjemput ini belum saya kenal sebelumnya. Saya diperkenalkan sebelumnya oleh sahabat dan guru saya, Prof Wan Mohd Nor Wan Daud via email.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abdullah, kini sedang menempuh program doktor di Universiti Malaya, setelah menamatkan S2-nya di ISTAC Malaysia. Ketika menempuh program Master dulu, ia berkisah bahwa tiap minggu ia mesti pulang balik naik bis Singapura-Kuala Kumpur. Laki-laki tinggi ini sehari-harinya senang memakai kopiah. Pembawaannya ramah dan mudah akrab dengan orang lain, termasuk saya yang baru dikenalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia kini salah seorang pimpinan “Sekolah Islam Andalusia (dan Cordova)” di Singapura. Istrinya dari Indonesia dan mertuanya sudah lama menetap dan tinggal di Singapura.  Saya diinapkan di salah satu rumahnya, sebuah apartemen, ditemani mertua laki-lakinya.  Mertuanya ini tidak kalah baik dan ramahnya.  Bila pagi, ia menyediakan teh, gorengan dan nasi uduk. Ia juga senang bercerita panjang tentang perantauannya di negara kecil ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama di Singapura, tidak menyangka saya diperlakukan ‘tamu istimewa”.  Saya diajak berputar-putar di jalan-jalan Singapura, termasuk melihat pantai dan pinggiran laut yang diuruk menjadi daratan serta berbagai gedung telah berdiri di sana. Tidak lupa juga ‘dipaksa’ untuk menikmati berbagai makanan di sana. Yang paling berkesan ketika saya mengunjungi Museum Melayu di Singapura. Di museum itu, meskipun tidak begitu luas, saya sangat terkesan.  Sejarah Malaka, Singapura, Nusantara dan kepahlawanan orang-orang Muslim Melayu melawan Portugis, Belanda dll ditampilkan di sana.  Dengan tampilan musik, suara dan studio yang menawan, sejarah Melayu ditampilkan seolah-olah ‘hidup’ kembali. Saya tidak menemukan hal itu di tanah air. Entah mengapa. Di lantai atas, kebetulan pas ada pameran foto masjid-masjid di Jerman yang menawan. Saya pun menikmatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang tak kalah menariknya saya diajak keliling untuk melihat berbagai sekolah Islam Andalusia dan Cordova. Sekolah Islam ini jumlahnya lebih dari 20 sekolah dan muridnya ribuan. Beberapa sekolah letaknya di lantai bawah gedung apartemen. Sekolah-sekolah ini mulai dari TK sampai diploma. Ia dan kawan-kawannya hanya bisa mendirikan diploma (D3). Untuk universitas hampir mustahil ia mendirikan, karena universitas hanya boleh didirikan oleh negara sebagaimana kebijakan yang diambil pemerintah Singapura.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahasa Melayu (Indonesia), Arab dan Inggris digunakan sebagai bahasa pengantar di sana. Abdullah menyatakan kesedihannya melihat bahasa Melayu yang tergusur di Singapura. “Di sekolah-sekolah negeri menggunakan bahasa Inggris semua,”ungkapnya. Karena itu, ia bersama timnya mengajarkan anak didiknya tiga bahasa itu, mulai dari TK.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;000&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila saya berkunjung ke toko buku Gramedia, saya seringkali merasakan ketentraman di sana. Bukan karena gedungnya ber-ac, tapi yang lebih penting saya bisa menikmati buku apapun di situ dengan gratis. Buku-buku baru, buku best seller, buku-buku berbagai hal tinggal kita petik saja dari raknya, kita baca di tempat. Meski kurang nyaman, karena seringkali baca sambil berdiri, tapi paling tidak di situ kita dapat mengobati kehausan akal kita akan berbagai ilmu pengetahuan. Toko-toko buku semacam Gramedia seringkali menggantikan perpustakaan-perpustakaan kampus yang seringkali ketinggalan informasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengambil inspirasi dari Baghdad dan Andalusia, saya pernah mengusulkan kawan teman-teman anggota DPRD Depok dan Tangerang agar mengajukan usulan ke Walikota untuk membuat perpustakaan kota yang nyaman.  Perpustakaan dengan buku-buku yang ‘lengkap’, arsitek yang bagus dan ditambah dengan lapangan tempat rekreasi keluarga.  Juga dilengkapi dengan musholla atau masjid disitu.  Saya yakin bila hal itu diwujudkan, maka banyak keluarga dan anak-anaknya akan berkunjung ke perpustakaan daripada mall atau tempat-tempat rekreasi yang ‘tidak berpendidikan’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak sahabat-sahabat di Singapura, Malaysia, Indonesia dan negeri-negeri lain memimpikan terwujudnya kembali Andalusia, mungkinkah? Tentu bukan kemustahilan. Wallaahu samiiun aliim.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4691295274548167167-2986485947133941456?l=nuimhidayat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nuimhidayat.blogspot.com/feeds/2986485947133941456/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4691295274548167167&amp;postID=2986485947133941456&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4691295274548167167/posts/default/2986485947133941456'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4691295274548167167/posts/default/2986485947133941456'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nuimhidayat.blogspot.com/2010/07/bermimpi-andalusia.html' title='Bermimpi Andalusia'/><author><name>Nuim Hidayat</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04748613359481249234</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='22' src='http://2.bp.blogspot.com/_5sXuNmRv_aA/SXrAMvDXeaI/AAAAAAAAAAM/KQ9cesHTMeQ/S220/FOTO+1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_5sXuNmRv_aA/TD6tKDtmC5I/AAAAAAAAAFM/uIDTzq721Zc/s72-c/andalus-g1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4691295274548167167.post-3585408357406740265</id><published>2010-06-21T22:46:00.000-07:00</published><updated>2010-06-21T22:48:36.087-07:00</updated><title type='text'>Catatan Kecil untuk Munas PKS: Bersama-sama Kaum Muslim Kita Berjuang!</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_5sXuNmRv_aA/TCBOne9CSnI/AAAAAAAAAE8/P8n9kstZvE8/s1600/399383_kaligrafi3.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 317px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_5sXuNmRv_aA/TCBOne9CSnI/AAAAAAAAAE8/P8n9kstZvE8/s320/399383_kaligrafi3.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5485470786368195186" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Catatan Kecil untuk Munas PKS:&lt;br /&gt;Bersama-sama Kaum Muslim Kita Berjuang!&lt;br /&gt;Oleh: Nuim Hidayat*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengantar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini Munas PKS sedang berlangsung di Jakarta. Kemarin dan hari ini (17/6), tokoh-tokoh PKS menyatakan bahwa partainya terbuka untuk non Islam. Bahkan Anis Matta menyatakan bahwa anggota legislatif PKS non Islam sudah sekitar 20 orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari diskusi-dikusi dan pengajian –pengajian Islam di berbagai tempat banyak yang menyayangkan perubahan-perubahan mendasar di PKS. Baik menyangkut gaya hidup anggota DPR-DPRD atau pejabatnya maupun prinsip-prinsip dakwahnya. Anggota-anggota DPR-DPRD dari partai-partai Islam, kebanyakan mengikuti gaya hidup anggota-anggota DPR-DPRD partai sekuler. Gaya hidup hedonis/bermewah-mewah kini banyak menjangkiti para politikus dan pejabat di negeri kita. Contoh misalnya, melihat kemiskinan di negeri kita yang jumlahnya minimal 40 juta (menurut Bank Dunia sekitar 100 juta bila yang jadi patokan bahwa yang disebut miskin pendapatan per hari kurang dari 2 dolar US per hari), harusnya wakil-wakil rakyat itu saat ini minta penurunan gaji. Buka hanya diam saja menikmati gaji yang ada. Karena gaji para politikus dan pejabat itu diambil dari uang rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana mereka bisa merasa ’tidak berdosa’ menggunakan uang rakyat yang kondisinya kini puluhan juta berada dalam kemiskinan? Rasulullah, Khulafaur Rasyidin dan pemimpin-pemimpin Islam yang sholeh tidak pernah mencontohkan seperti itu. Di masa-masa mereka meskipun kekayaan negara kaya (baitul mal), tapi para pemimpin itu hidup sederhana. Karena mereka menyadari bahwa gaji mereka itu diambil dari uang rakyat. Sebagaimana petugas amil zakat atau infaq tidak boleh seenaknya mengambil uang yang dikumpulkan para donatur. Lain masalahnya bila uang itu dari usaha-bisnis sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan disitulah rahasia keberhasilan Islam, rahasia cepat tersebarnya dakwah Islam dulu adalah ketika pemimpin-pemimpinnya memberikan keteladanan dalam hidup. Mereka rela hidup sederhana di tengah-tengah baitul mal yang kaya. Apalagi bila baitul mal dalam kondisi miskin –seperti di Indonesia—mereka tidak akan memperkaya diri sendiri di tengah-tengah kemiskinan rakyat. Karena pemimpin (dalam setiap level) adalah contoh. Dan kata pepatah ’ikan busuk dari kepalanya’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu dari prinsip-prinsip ekonomi Islam. Dari segi aqidah Islam, sudah jelas bahwa Rasulullah mencontohkan dalam perjuangan dakwah Islam, Rasul tidak pernah memasukkan orang-orang non Islam dalam manajemen dakwah. Mereka mesti masuk Islam dulu –tentu dengan kesadaran sendiri—untuk bisa ikut dalam manajemen dakwah Rasulullah. Tidak ada sunnah Rasulullah bahwa dalam organisasi dakwah (partai islam,ormas islam dll), orang-orang kafir ikut bersama Rasul dalam dakwah menyebarkan Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan itulah inti hidup kita, yaitu melanjutkan risalah Rasulullah saw. Bila kita baca sirah Nabi, maka Rasul bila mengutus utusan ke daerah minoritas Islam, Rasulullah nmemerintahkan kepada mereka untuk mendakwahkan Islam, menyebarkan Islam. Seperti ketika Rasul mengutus Muadz bin Jabal, Khalid bin Walid dll ke daerah minoritas Islam. Rasul tidak pernah menyuruh yang penting mereka mendukung Rasulullah (mendulang suara), meski mereka tidak menjadi Islam. Dan saya khawatir memasukkan orang-orang non Islam dalam partai Islam atau organisasi Islam, adalah perbuatan bid’ah yang besar dan teladan buruk dalam sejarah Islam di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tahu bahwa yang saya tulis ini mungkin tidak berpengaruh banyak bagi Munas PKS sekarang ini. Saya menyadari bahwa dalam harakah –sebagaimana saya pernah ikuti--, yang berkuasa adalah amirnya. Dan amir biasanya hanya mendengar dari orang-orang kepercayaannya (inner circlenya), bukan dari orang lain meski kuat argumentasinya. Tapi itu tidak masalah. Karena saya berprinsip kebenaran mesti disampaikan, baik diterima maupun tidak. ’Busur panah bila telah dilepaskan ia akan mencapai sasarannya sendiri’. Kewajiban kita adalah menyampaikan, kepada Allah SWT kita semua bertawakkal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bawah ini saya angkat kembali catatan kecil saya untuk PKS, yang kebetulan dimuat di Majalah Hidayatullah, edisi Maret 2008. Mudah-mudahan manfaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;000&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersama-sama Kaum Muslim Kita Berjuang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada sahabat2&lt;br /&gt;Generasi Muda Islam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kususun buku ini untukmu&lt;br /&gt;Turutilah djedjak pemimpinmu&lt;br /&gt;kenangkan sedjarahnya&lt;br /&gt;teruskan perjuangannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah gegap gempitanya 'partai-partai Islam' saat ini berkonsolidasi untuk pemilu 2009, maka muncullah gagasan partai Islam agar terbuka dan inklusif. Partai Kebangkitan Bangsa telah lebih dulu memulai gagasan ini dengan memasukkan beberapa non Muslim menjadi pengurus atau anggota DPP Partai PKB. Partai Keadilan Sejahtera, juga menerima gagasan inklusif ini. Meski sebenarnya PKS juga telah memulai menerima anggota/pengurus non Muslim/anggota DPRD untuk daerah Irian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat gagasan inklusif partai-partai Islam (dalam AD/ART-nya) ini, membuat penasaran diri saya untuk bertanya: bolehkah dalam berpartai kita bersama-sama non Muslim? Kemudian saya membuka-buka kembali buku sejarah. Alhamdulillah di rumah saya ketemu buku "Alam Fikiran dan Djedjak Perjuangan Prawoto Mangkusasmito" yang yang disusun oleh SU Bajasut. Buku ini selain memaparkan pemikiran-pemikiran Ketua Umum Masyumi Prawoto juga melampirkan dokumentasi Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Masyumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Anggaran Dasar Partai Politik Islam Indonesia Masjumi ditegaskan: "Tujuan Partai ialah terlaksananya ajaran dan hukum Islam, di dalam kehidupan orang seorang , masyarakat dan negara Republik Indonesia, menuju keridhaan Ilahi." (Pasal III). Pada pasal IV-nya dinyatakan: "Usaha partai untuk mencapai tujuannya:&lt;br /&gt;Menginsyafkan dan memperluas pengetahuan serta kecakapan Umat Islam Indonesia dalam perjuangan politik&lt;br /&gt;Menyusun dan memperkokoh kesatuan dan tenaga umat Islam Indonesia dalam segala lapangan&lt;br /&gt;Melaksanakan kehidupan rakyat terhadap perikemanusiaan, kemasyarakatan, persaudaraan dan persamaan hak berdasarkan taqwa menurut ajaran Islam&lt;br /&gt;Bekerjasama dengan lain-lain golongan dalam lapangan bersamaan atas dasar harga menghargai&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, ini yang menarik, di pasal V tentang anggota dinyatakan, Anggota Partai terdiri dari:&lt;br /&gt;Anggota biasa, ialah warga negara Indonesia yang beragama Islam (laki-laki dan perempuan) dan tidak menjadi anggota partai politik lain&lt;br /&gt;Anggota teras, terpilih dari anggota-anggota biasa&lt;br /&gt;Anggota Istimewa, ialah Pengurus Besar/Pusat perhimpunan Islam yang bukan partai politik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keharusan anggota wajib beragama Islam ini lebih tegas lagi, dijelaskan dalam "Anggaran Rumah Tangga Partai Politik Islam Indonesia Masjumi". Dalam Bab II Pasal 3 dijelaskan: "Syarat-syarat untuk menjadi anggota partai: 1. Tiap warga negara Republik Indonesia yang beragama Islam, laki-laki maupun perempuan, berumur sekurang-kurangnya 18 tahun atau sudah kawin dan tidak menjadi anggota partai politik lain dapat diterima menjadi anggota biasa..." (ART Partai ini ditetapkan dalam Sidang Dewan Partai, 9-12 Oktober 1953. Artinya sebelum pemilu 1955 dimana Masjumi memperoleh suara ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi Masjumi tegas mengharamkan anggota partainya non Muslim. Apalagi jadi pengurus partai. Seperti sudah lazim kita ketahui untuk menjadi pengurus partai (atau anggota DPRD sebuah partai), seseorang diharuskan menjadi anggota terlebih dahulu. Jadi bila merujuk sejarah, maka suatu hal yang aneh partai Islam anggota/pengurus non Muslim (inklusif).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi partai yang ingin menegakkan syariah Islam di Indonesia, atau partai dakwah, tentu hal yang aneh bila dalam perjuangan partai itu ada anggota/pengurus non Muslim. Bagaimana mau berdakwah, mengajak orang lain ke jalan Islam, sementara dalam rumah tangga partai dakwah sendiri ada yang non Muslim? Logika berpikir yang benar, tentu untuk menjadi partai dakwah, maka anggota/pengurus yang di dalam harus bersiap untuk dakwah. Dan untuk siap berdakwah, maka seseorang harus menjadi Muslim terlebih dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, kini sejarah Masjumi yang didirikan oleh alim ulama dan cendekiawan Islam yang penuh keteladanan itu kini jarang lagi ditengok oleh politikus-politikus partai. Para politikus saat ini mencoba gagah-gagahan untuk melepas diri sejarah perjuangan Islam Indonesia masa lalu. Padahal Masjumi Masjumi didirikan dari hasil Muktamar Islam Indonesia di Yogyakarta 7-8 November 1945, oleh hampir semua tokoh berbagai organisasi Islam dari masa sebelum perang serta masa pendudukan Jepang. Organisasi-organisasi Islam yang masuk Masjumi antara lain: Muhammadiyah, Nahdatul Ulama, Perikatan Umat Islam, Persatuan Umat Islam, Persis, Al Irsyad, Al Jamiyatul Washliyah, Al Ittihadiyah dan lain-lain (Lihat buku Deliar Noer, Partai Islam di Pentas Nasional, hal. 47-50).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal Al-Qur'an berulangkali dalam ayatnya mengingatkan kita agar menengok dan meneladani sejarah. Baik sejarah individu, masyarakat atau sebuah bangsa. Politik hari ini, adalah sejarah sejarah esok hari. Allah SWT mengingatkan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan semua kisah dari rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman. (QS. 11:120).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir. (QS. 7:176)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. (QS. 12:111).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka buku pemikiran Prawoto Mangkusasmito di atas, bukanlah sekedar kalimat-kalimat pemuas akal belaka. Di halaman persembahannya ditulis:&lt;br /&gt;"Kususun buku ini untukmu&lt;br /&gt;Turutilah djedjak pemimpinmu&lt;br /&gt;kenangkan sedjarahnya&lt;br /&gt;teruskan perjuangannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, kini kondisi partai politik lebih parah. Disadari atau tidak, ideologi sekuler Barat –lewat lobi-lobi para orientalis/indonesianis-- telah masuk dalam cara berpikir banyak orang partai. Sehingga dalam dan antar partai Islam yang terjadi rebutan jabatan, rebutan angggota DPR/DPRD dan rebutan sumber-sumber uang. Tanpa melihat lagi aqidah, kapabilitas dan keamanahan seorang calon. Partai bukan dilihat lagi sebagai alat perjuangan dakwah dan alat perjuangan untuk menegakkan syariat Islam di Indonesia. Padahal Al-Qur'an jelas menegaskan fungsi organisasi Islam atau partai Islam adalah menegakkan amar makruf nahi mungkar. Bukan untuk mencari suara belaka. Untuk apa kekuasaan dipegang, bila tidak ditegakkan amar makruf nahi mungkar? Al Qur'an mengingatkan: "Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; mereka adalah orang-orang yang beruntung." (QS. 3:104)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara berpikir Barat yang menyesatkan lainnya –yang banyak diadopsi oleh partai-partai sekuler— adalah partai diibaratkan negara kecil. Dari sinilah ide pluralisme, inklusivisme partai masuk. Padahal partai bukanlah tipikal negara. Partai bukan negara. Dalam negara tidak dilarang orang-orang non Islam hidup bersama kaum Muslim. Partai bisa diibaratkan rumah keluarga besar kita. Dalam keluarga, kita berkewajiban menjaga aqidah istri, anak-anak dan sistem dalam keluarga itu agar tidak keluar dari nilai-nilai Islam. Keluarga kita harus Islami, tapi kita menghormati tetangga kita yang non Muslim. Bahkan kita bisa saling membantu dalam hal kebaikan dengan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walhasil, memang benar ungkapan Rasulullah saw, bahwa dalam kehidupan ini –berumah tangga, bekerja, berorganisasi dan berpartai—ditentukan oleh niat. Kalau dalam organisasi Islam bisa dilihat dalam anggaran dasar dan anggaran rumah tangganya. Sabda Rasulullah saw: "Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya dan sesungguhnya tiap-tiap orang tidak lain (akan memperoleh balasan dari) apa yang diniatkannya. Barangsiapa hijrahnya menuju (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu ke arah (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa hijrahnya karena (harta atau kemegahan) dunia yang dia harapkan, atau karena seorang wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya itu ke arah yang ditujunya." (HR Bukhari Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberhasilan Masjumi dengan asas Islam dan agenda penegakan syariah Islam di Indonesia (Islamisasi), dalam Pemilu tahun 1955, dan kegagalan Amien Rais dengan Partai Amanat Nasionalnya saat ini, sudah merupakan pelajaran berharga bagi kita untuk melangkah ke depan. Fa'tabiru ya Ulil Albab.*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(*Penulis adalah Dosen dan Penulis Buku "Sayid Qutb, Biografi dan Kejernihan Pemikirannya.")&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4691295274548167167-3585408357406740265?l=nuimhidayat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nuimhidayat.blogspot.com/feeds/3585408357406740265/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4691295274548167167&amp;postID=3585408357406740265&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4691295274548167167/posts/default/3585408357406740265'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4691295274548167167/posts/default/3585408357406740265'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nuimhidayat.blogspot.com/2010/06/catatan-kecil-untuk-munas-pks-bersama.html' title='Catatan Kecil untuk Munas PKS: Bersama-sama Kaum Muslim Kita Berjuang!'/><author><name>Nuim Hidayat</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04748613359481249234</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='22' src='http://2.bp.blogspot.com/_5sXuNmRv_aA/SXrAMvDXeaI/AAAAAAAAAAM/KQ9cesHTMeQ/S220/FOTO+1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_5sXuNmRv_aA/TCBOne9CSnI/AAAAAAAAAE8/P8n9kstZvE8/s72-c/399383_kaligrafi3.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4691295274548167167.post-6204218067379755987</id><published>2010-06-07T18:15:00.001-07:00</published><updated>2010-06-07T18:15:56.447-07:00</updated><title type='text'>Peradaban Islam: Peradaban Ilmu dan Tulisan</title><content type='html'>Peradaban Islam: Peradaban Ilmu dan Tulisan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Syafii mengingatkan, “Ilmu itu bagaikan binatang liar, menulis (mencatat) adalah pengikatnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Nuim Hidayat*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BANGSA Arab hingga pada masa jahiliah, telah mengapresiasi kegiatan tulis-menulis dan urgensinya. Ketika itu, mereka memasukkan kemampuan menulis sebagai salah satu dari tiga syarat utama seseorang disebut minal kamilin (di antara orang-orang yang sempurna). Ibnu Sa’ad menuturkan, “Orang yang sempurna (al-Kamil) menurut mereka pada masa Jahiliah dan permulaan Islam adalah orang yang dikenal mampu menulis Arab, piawai dalam berenang, dan ahli dalam memanah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah saw telah mendidik sahabat tentang pentingnya ilmu, dunia tulis menulis, dokumentasi dan lain-lain. Prof. Mustafa Azami misalnya, menyebut Rasulullah mempunyai 65 sekretaris (dalam bukunya Kuttabun Nabi, diterjemahkan GIP dengan judul 65 Sekretaris Nabi). Jumlah tersebut merupakan hasil penelitian sumber kitab-kitab yang ternama, dan manuskrip-manuskrip yang belum ditemukan oleh ulama sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Azami menyatakan bahwa saat meneliti dan menulis kitab itu, ia memperoleh naskah fotokopi dari kitab yang sangat bernilai, yaitu kitab al-Intishar lil Qur’an karya al-Baqilani (w. 403 H). Al-Baqilani mengulas para sekretaris Nabi saw. Ia menyebutkan nama-nama sekretaris Nabi yang sebagian besar telah dikenal oleh para penulis yang lain. Tetapi, sebagian lainnya tidak terdapat di kitab-kitab yang lain. Bahkan, ada beberapa nama dalam kitab tersebut yang tidak kami temukan di kitab-kitab yang beredar dan dikenal mengulas biografi sahabat, seperti kitab Thabaqat Ibni Sa’ad, Usudul Ghabah, al-Ishabah, dan kitab-kitab besar lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Baqilani berkata, “Nabi saw. mempunyai banyak jamaah yang hebat dan cerdas. Semuanya dikenal sebagai sekretaris beliau, dan berasal dari kalangan Muhajirin dan Anshar.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Azami menyebutkan, di antara sekretaris Rasulullah saw antara lain: Zaid bin Tsabit yang ditugaskan untuk menulis surat kepada raja-raja, Ali bin Abi Thalib yang bertugas menulis akad-akad perjanjian, al-Mughirah bin Syu’bah yang menulis kebutuhan-kebutuhan Nabi yang bersifat mendadak, Abdullah ibnul Arqam yang betugas mencatat utang-piutang dan akad lainnya di tengah masyarakat, dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guru Besar Universitas Ibnu Saud ini menyatakan, salinan naskah dari surat-surat Nabi saw. yang dikirimkan ke berbagai pihak di seantero penjuru itu juga dipelihara keberadaannya oleh beberapa sahabat. Misalnya Ibnu Abbas, Abu Bakar bin Hazm, Abu Bakar ash-Shiddiq, dan Umar ibnul Khaththab. Abu Bakar memiliki naskah surat Nabi saw. tentang masalah sedekah. Sementara Umar menyimpan semua naskah tentang akad-akad perjanjian dan kesepakatan yang diambil dari para tokoh terkemuka. Salinan atau copy-an dari surat-surat tersebut sangat berguna mengingat wilayah kekuasaan Islam yang luas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peradaban Tulisan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sirah Nabi, dapat dibaca bahwa belum genap satu tahun Rasulullah saw. tinggal di Madinah, beliau langsung menulis piagam yang dikenal dengan “Undang-Undang Negara Modern,” meminjam istilah beberapa peneliti. Piagam tersebut mengatur hubungan antara kaum Muhajirin (Mekah) bersama kaum Anshar (Madinah) di satu pihak, dan kaum Muslimin bersama kaum Yahudi di pihak lain. Menurut Azami, Madinah menjadi sebuah negara bagi kaum Muslimin. Sebuah negara menuntut adanya tata tertib, fasilitas, dan administrasi yang jelas. Sehingga tumbuh diwan-diwan atau kesekretariatan pada masa Nabi saw.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang tradisi tulis menulis ini, akhirnya Prof. Azami menyimpulkan: ”Ketika Islam datang, jumlah para penulis masih dibilang minim (di kalangan kaum Quraisy hanya terdapat 17 orang -pen). Tetapi, berkat strategi pengajaran yang diterapkan Nabi saw., ilmu pun tersebar luas dalam waktu yang sangat singkat. Sehingga, jumlah para sahabat yang menulis untuk Nabi ketika itu mencapai enam puluh orang. Dengan merujuk sumber-sumber yang cukup memadai di tengah-tengah kita sekarang ini, kita dapat menggambar grafik yang luas bagi aktivitas tulis-menulis atau administrasi pada masa Nabi saw.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengutip kembali al-Baqilani, Azami menyatakan, “Nabi saw. mempunyai banyak jamaah yang hebat dan cerdas. Semuanya dikenal sebagai sekretaris beliau, dan berasal dari kalangan Muhajirin dan Anshar.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Azami mengkategorikan sekretaris Rasulullah sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Kelompok yang dikenal sebagai sekretaris yang sering menulis, seperti Ali bin Abi Thalib, Utsman bin Affan, Zaid bin Tsabit, Ubay bin Ka’ab, Mu’awiyah bin Abu Sufyan ridhwanullah ‘alaihim ajma’in.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Kelompok sahabat yang ditetapkan sebagai sekretaris, tetapi frekuensi menulisnya tidak sama seperti kelompok pertama. Mereka misalnya Abu Bakar ash-Shiddiq, Umar ibnul Khaththab, Abu Ayyub al-Anshari, dan lain sebagainya, ridhwanullah ‘alaihim ajma’in.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Kelompok sahabat yang nama-namanya tercantum dalam kitab al-Watsa`iqus Siyasiyyah dan kitab-kitab lainnya, tetapi kami tidak menemukan penyebutan nama mereka sebagai sekretaris Nabi saw.. Mereka misalnya Ja’far, al-Abbas, Abdullah bin Abu Bakar ridhwanullah ‘alaihim ajma’in.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara Sekretaris Nabi dari kalangan Muhajirin, disebutkan: Abu Bakar ash-Shiddiq, Umar ibnul Khaththab, Utsman bin ‘Affan, Ali bin Abi Thalib, Zaid bin Arqam, Khalid bin Sa’id, dan lain-lain. Para ahli sejarah menuturkan bahwa Nabi sangat memercayai Khalid, sehingga beliau menyuruhnya untuk mengumpulkan dokumen yang ditulisnya dan surat-surat yang distempelnya. Ia juga sebagai sekretaris Abu Bakar. Sedangkan Umar menugaskannya sebagai pengurus Baitul Maal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada masa permulaan Islam, tempat “berkantor” para sekretaris dinamakan Diwan. Diwan juga dapat diartikan kumpulan lembaran-lembaran dan daftar tulisan yang berisi nama-nama tentara dan para pemberi sedekah. Dari hasil penelitiannya, Azami menyimpulkan ada tiga macam diwan pada masa permulaan Islam, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Diwanul Insya` (kantor pembuatan surat-surat kenegaraan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Diwanul Jaisy (pusat data personel militer)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Diwanul Kharaj/ al-Jibayah (pusat pengelolaan keuangan negara) untuk menginventarisasi pajak yang dikembalikan pada Baitul Maal dan pemberian yang diwajibkan atas setiap muslim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai Diwanul Insya`, al-Qalaqsyandi berkata, “Diwan ini (al-Insya`) merupakan diwan yang pertama ada dalam Islam. Diwan ini telah digunakan pada masa Nabi saw.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pusat administrasi—dalam formatnya yang sederhana—telah dipergunakan pada masa Nabi saw. Tatkala roda pemerintahan dipegang oleh Sayyidina Umar r.a. dan Daulah Islam telah meluas, maka pengembangan sistem administrasi adalah suatu hal yang sangat penting. Umar r.a. telah menginstruksikan untuk membuat pusat administrasi (diwan) dengan format yang lebih menyeluruh dari format diwan sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai bukti, Diwanul Insya`(kantor pembuatan surat-surat kenegaraan)—sebagaimana dinyatakan al-Qalaqsyandi—adalah diwan yang pertama kali dibuat dalam Islam. Penggunaannya telah dimulai pada masa Nabi saw.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkaitan dengan Diwanul Jaisy (pusat data personel militer), sebuah keterangan dalam Shahih al-Bukhari dijelaskan, “…dari Hudzaifah r.a., ia berkata, ‘Nabi saw. bersabda, ‘Tulislah bagiku orang yang mengucapkan (ikrar) Islam.’ Maka kami pun menuliskannya sebanyak 1500 orang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara indikator yang menunjukkan salah satu kebiasan mereka dalam mencatat orang-orang yang ditentukan keikutsertaannya dalam peperangan, adalah riwayat Imam Bukhari dalam kitabnya, Shahih al-Bukhari. “…dari Ibnu Abbas, ia mendengar Nabi saw. bersabda, ‘Seorang laki-laki sungguh tidak boleh menyendiri bersama seorang perempuan. Dan seorang perempuan sungguh tidak boleh melakukan perjalanan kecuali ada mahram yang ikut bersamanya.’ Maka seorang pria berdiri dan berkata, ‘Wahai Rasulullah! Apakah aku dicatat untuk ikut dalam peperangan ini dan itu, sementara istriku keluar demi suatu keperluan...’”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasululullah saw juga terbiasa menyuruh para sahabat agar segera menjawab surat-surat yang masuk kepada pemerintahan-Nya. Ibnul Qasim meriwayatkan dari Malik, ia berkata, “Telah sampai kepadaku sebuah riwayat, bahwa ada sepucuk surat yang sampai kepada Rasulullah saw., ‘Siapa yang mau menjawab surat ini atas namaku?’ Tanya beliau. Abdullah ibnul Arqam menjawab, ‘Saya.’ Ia pun lekas menulis surat jawaban atas nama Nabi. Kemudian ia membawa surat itu ke hadapan beliau (dan membacakannya). Beliau pun kagum dengan isi surat tersebut lalu meluluskannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang pentingnya menulis ini, Imam Syafii mengingatkan: “Ilmu itu bagaikan binatang liar, menulis (mencatat) adalah pengikatnya. Ikatlah hewan buruanmu dengan tali yang kuat. Adalah bodoh bila Anda memburu seekor kijang, kemudian Anda lepas begitu saja tanpa tali pengikat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehebatan dalam dunia tulis menulis ini terus berkembang, sehingga generasi sahabat, tabiin, tabiiut tabiin, dan seterusnya berprestasi dalam menjaga keotentikan Al-Qur’an dengan membukukannya, menuliskan Sunnah Rasulullah saw, melahirkan ilmu aj jarh wat ta’dil, ilmu bahasa Arab (sharaf, nahwu dll), ilmu matematika, ilmu fisika, dan lain-lain. Sejarah Islam kemudian mencatat ilmu terus berkembang dan perkembangan buku dalam Islam --apalagi setelah ditemukannya teknologi kertas-- melimpah luar biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dr Ahmad Amin dalam bukunya yang terkenal “Dhuha Islam“ menyatakan: “Banyak sekali jenis kertas yang terdapat dalam masa pemerintahan kerajaan Abbasiyah, antaranya ialah kertas firaun (mengambil nama orang-orang Firaun di Mesir), kertas sulaimani (mengambil nama Sulaiman bin Rashid, Gubernur Harun al Rashid di Khurasan), kertas jaafari (mengambil nama Jaafar al Barmaky), kertas al talhi (mengambil nama Thalhah bin Hasan). Pada masa tersebut juga terdapat banyak sekali tempat perusahaan kertas, di antaranya ialah di Samarqand, Baghdad, Tihamah, Yaman, Mesir, Damsyik, Tarablus, Humah, Khimath, Mambaj, Maroko, dan juga Andalus. Dalam abad yang kedua Hijrah terdapat perusahaan kertas yang dibuat dari perca-perca kain, kertas jenis ini telah digunakan secara meluas dan dapat menandingi kertas-kertas yang lain.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil dari wujudnya bahan-bahan kertas serta penulisan ilmu pengetahuan pada masa itu, maka terciptalah buku-buku dan tempat menyimpan buku (perpustakaan). Karena itu, perpustakaan merupakan sumber utama bagi kebudayaan di zaman Abbasiyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahmad Amin melanjutkan: “Satu perkara yang kita sebutkan di sini bahwa dengan sebab banyaknya kertas yang digunakan sebagai bahan penulisan dan banyaknya buku yang muncul pada masa itu, maka lahirlah pula satu perusahaan yang bernama Wiraqah yaitu perusahaan yang bertugas untuk menyalin, mentashih, serta menjilid buku-buku, dan lain-lain perkara yang berhubung dengan buku. Dengan sebab itu banyak sekali toko Wiraqah dan ia merupakan sumber yang penting bagi perkembangan ilmu pengetahuan pada masa itu, karena pemilik toko-toko ini menyalin buku-buku ilmu pengetahuan, kemudian mereka mentashihnya, setelah itu dijilid lalu dijual kepada pembeli. Dengan demikian buku-buku tersebut tersebar luas di seluruh daerah. Mereka yang ingin mempelajari sesuatu ilmu pengetahuan pula akan mengunjungi toko-toko ini untuk membaca dan mengkaji buku-buku yang terdapat disini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ziauddin Sardar dan MW Davies dalam bukunya berjudul Distorted Imagination menggambarkan penerbitan buku di dunia Islam 10 abad silam, hampir setara dengan pencapaian peradaban Barat saat ini, baik secara kualitas maupun kuantitas. “Hampir 1000 tahun sebelum buku hadir di peradaban Barat, industri penerbitan buku telah berkembang pesat di dunia Islam,”paparnya. (lihat Republika, 9 September 2008).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sardar menyatakan bahwa di dunia Islam kali pertama perpustakaan umum berdiri. Peradaban Islam pula yang menjadikan perpustakaan sebagai tempat untuk meminjam buku. Tak cuma sebatas itu, darul al ilm (perpustakaan) pun menjadi tempat pertemuan dan diskusi. Perpustakaan di era kejayaan Islam juga menjadi sarana pertukaran ilmu antara guru dan murid. Di Baghdad saja saat itu, terdapat sekitar 36 perpustakaan umum, sebelum kota metropolis intelektual itu dihancurkan oleh tentara Mongol.*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://hidayatullah.com/opini/pemikiran/12000-peradaban-islam-peradaban-ilmu-dan-tulisan&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4691295274548167167-6204218067379755987?l=nuimhidayat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nuimhidayat.blogspot.com/feeds/6204218067379755987/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4691295274548167167&amp;postID=6204218067379755987&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4691295274548167167/posts/default/6204218067379755987'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4691295274548167167/posts/default/6204218067379755987'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nuimhidayat.blogspot.com/2010/06/peradaban-islam-peradaban-ilmu-dan.html' title='Peradaban Islam: Peradaban Ilmu dan Tulisan'/><author><name>Nuim Hidayat</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04748613359481249234</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='22' src='http://2.bp.blogspot.com/_5sXuNmRv_aA/SXrAMvDXeaI/AAAAAAAAAAM/KQ9cesHTMeQ/S220/FOTO+1.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4691295274548167167.post-621738854618872263</id><published>2010-05-05T03:33:00.000-07:00</published><updated>2010-05-25T21:29:36.132-07:00</updated><title type='text'>Peran Penting Islam di Tanah Melayu</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_5sXuNmRv_aA/S_yjNsF5PJI/AAAAAAAAAE0/TkP2l0f_wCQ/s1600/home_photo_books.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 275px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_5sXuNmRv_aA/S_yjNsF5PJI/AAAAAAAAAE0/TkP2l0f_wCQ/s320/home_photo_books.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5475430702545190034" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Peran Penting Islam di Tanah Melayu&lt;br /&gt;Oleh : Nuim Hidayat (Penulis Buku Imperialisme Baru)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hati hampa yang tiada mengandung Sejarah Bangsa,&lt;br /&gt;Tiadakan dapat tahu menilai hidup yang mulia;&lt;br /&gt;Penyimpan Khabar zaman yang Lalu menambah lagi&lt;br /&gt;Pada umurnya umur berulang berkali-ganda&lt;br /&gt;(Prof Naquib al Attas)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah masuknya Islam di tanah Melayu (khususnya di Indonesia), selama ini masih banyak yang mengikuti alur teori Snouck Hugronje. Pelajaran sejarah kita di SD, SMP, SMA atau universitas, menyatakan bahwa Islam masuk ke Indonesia abad ke-13 dan dibawa oleh para pedagang Gujarat. Karena telah berlangsung puluhan tahun pengajaran sejarah seperti itu, maka seolah-olah teori sejarah itu menjadi kebenaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teori masuknya Islam ke Indonesia abad ke-13 dan dibawa oleh para pedagang Gujarat, telah dibantah kelas oleh para cendekiawan Muslim yang konsen terhadap sejarah. Mereka sepakat menyatakan bahwa Islam masuk ke tanah Melayu-Indonesia pertama kali abad ke-7 dan dibawa langsung oleh para ulama (dan wirausahawan) dari jazirah Arab. Termasuk dalam deretan cendekiawan ini diantaranya adalah : Prof Dr Buya Hamka, Prof Dr Naquib al Attas, KH Abdullah bin Nuh dan Prof Ahmad Mansur Suryanegara. Sedangkan ‘teori sejarah orientalis’ itu diantaranya dipelopori oleh: Snouck Hugronje, WF Sttutterheim, Bernard HM Vlekke, Clifford Geertz, Harry J Benda dan John Bastin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buya Hamka membantah bahwa Islam masuk ke Indonesia abad ke-13 dengan ditandai berdirinya kerajaan Samudera Pasai (1275). Menurut Hamka, apakah mungkin tiba-tiba berdiri sebuah kerajaan tanpa Islam menyebar terlebih dahulu di daerah itu di masa-masa sebelumnya? Karena itu, Hamka berkeyakinan dan menunjukkan bukti bahwa Islam telah berkembang ke pulau Sumatera di abad ke-7. Yaitu dengan ditemukannya komunitas Islam di Palembang pada abad itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prof Ahmad Mansur dalam bukunya Api Sejarah dan Menemukan Sejarah, menyatakan bahwa pada masa Khalifah Muawiyah (661-750M), Islam menyebar di tanah Melayu. Muawiyah memang dalam sejarah dikenal dengan armada maritimnya. Di masanya, ia diperkirakan telah mempunyai sekitar 600 kapal laut. Prof Mansur menyatakan : “Besar kemungkinannya bahwa Islam dibawa oleh para wirausahawan Arab ke Asia Tenggara pada abad pertama dari tarikh Hijriyah atau abad ke-7M. Hal ini menjadi lebih kuat, menurut TW Arnold dalam The Preaching of Islam – Sejarah Da’wah Islam pada abad ke-2H perdagangan dengan Sailan atau Srilangka sudah seluruhnya di tangan bangsa Arab. Pendapat yang sama juga dikemukakan oleh Prof Dr BH Burger dan Prof Dr Mr Prajudi dalam Sedjarah Ekonomis Sosiologis Indonesia.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prof Mansur menambahkan : “JC Van Leur dalam bukunya Indonesian: Trade and Society, menyatakan bahwa pada 674 (M) di pantai Barat Sumatra telah terdapat perkampungan (koloni) Arab Islam. Dengan pertimbangan bangsa Arab telah mendirikan perkampungan perdagangannya di Kanton pada abad ke-4. Perkampungan perdagangan ini mulai dibicarakan lagi pada 618 dan 626. Tahun-tahun berikutnya perkembangan perdagangan ini mulai mempraktikkan ajaran agama Islam. Hal ini mempengaruhi pula perkampungan Arab yang terdapat di sepanjang jalan perdagangan di Asia Tenggara.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prof Mansur juga mengkritik keras adanya upaya sebagian sejarawan yang menyatakan bahwa Islam baru masuk ke Indonesia setelah runtuhnya kerajaan Hindu Majapahit (1478) dan ditandai berdirinya kerajaan Demak. Kata pakar sejarah ini: “Pada umumnya keruntuhan Kerajaan Hindoe Madjapahit sering didongengkan akibat serangan dari Kerajaan Islam Demak. Padahal realitas sejarahnya yang benar Keradjaan Hindhoe Madjapahit runtuh akibat serangan radja Girindrawardhana dari Kerajaan Hindoe Kediri pada tahun 1478M.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para cendekiawan Muslim juga menyatakan bahwa pembawa ajaran Islam ke tanah Nusantara (Melayu) adalah para ulama Islam dan wirausahawan Islam dari jazirah Arab. Menurut Buya Hamka, hal itu ditandai dengan berkembangnya mazhab Imam Syafii yang berkembang di tanah air. Sedangkan Gujarat, menurut Prof Mansur, banyak bermazhab Syiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prof Al-Attas menyorot tajam ulah kebanyakan para Sarjana Barat terhadap sejarah Islam di tanah Melayu: “Sarjana2 Barat dan ahli sejarahnya melangsungkan penilitian ilmiah terhadap sejarah dan kebudayaan Kepulauan Melayu-Indonesia telah lama menyebarkan fahaman bahwa masharakat Kepulauan ini seolah2 merupakan masharakat penyaring dan penapis serta penyatu unsur2 murni dan agung agama2 yang tiba dengan pengaruhnya masing2 di daerah ini seperti agama2 Hindu, Buddha, dan Islam. Akan tetapi fahaman yang mensifatkan daya sinkretis terhadap masharakat Melayu-Indonesia ini sebenarnya kosong belaka, tiada berdasarkan hujah2 tulen.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski Van Leur sepakat para cendekiawan Islam tentang awal masuk Islam ke Nusantara abad ke-7, tapi menurut al Attas, Van Leur telah mengelirukan peranan penting Islam di tanah Melayu. Kata cendekiawan besar ini: “Keputusan akhir Van Leur laksana hukuman yang telah dijatuhkan terhadap Islam ialah bahwa Islam itu tiada membawa apa2 perubahan asasi dan tiada pula membawa suatu tamaddun yang lebih luhur daripada apa yang sudah sedia ada. Bawaan pemikiran sarjana2 Belanda dari dahulu memang sudah mengisharatkan kecenderungan ke arah memperkechil-kechilkan Islam dan peranannya dalam sejarah Kepulauan ini dan sudahpun nyata, misalnya dalam tulisan2 Snouck Hugronje pada akhir abad yang lalu”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang dibawa Islam di tanah Melayu ini? Al Attas menguraikan : “Para penyebar agama Islam mendakyahkan kepercayaan ketuhanan yang kudratNya terhukum pada hikmatNya; yang iradatNya berjalan selaras dengan Akal. Insan dichitakan sebagai hasil tertinggi chiptaan raya –bahwa pada gelang kehidupan semesta, insanlah umpama khatim permata jauharnya. Sifat asasi insan itu ialah akalnya, dan unsur akliah inilah yang menjadi perhubungan antara dia dan Hakikat semesta….sebagaimana kegelapan yang menyelubungi Eropa sebelum menyingsingnya Abad Pertengahan lenyap dipanchari sinaran surya baru galakan Islam, menerangi alam baru di layar lakonan sejarah –demikian juga kedatangan Islam di Kepulauan Melayu Indonesia harus kita lihat sebagai menchirikan zaman baru dalam persejarahannya,sebagai semboyan tegas membawa rasionalisma dan pengetahuan akliah serta menegaskan suatu sistim masharakat yang berdasarkan orang perseorangan, keadilan dan kemuliaan kepribadian insan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi Islam membawa peradaban yang tinggi, intelektualisme dan ketinggian budi insan di tanah Melayu. Prof al-Attas juga menunjukkan bukti bahwa dari tangan ulama-ulama Islam lahirlah budaya sastra, tulisan, falsafah, budaya buku dan lain-lain, yang tidak dibawa peradaban sebelumnya. Islam memang tidak meninggalkan kebudayaan patung/candi sebagaimana kebudayaan pra Islam. Kembali mengutip al-Attas: “Salah satu kejadian baru yang terpenting mengenai kebudayaan, yang dengan sechara langsung digerakkan oleh proses sejarah kebudayaan Islam adalah penyebaran bahasa Melayu sebagai bahasa pengantar, bukan sahaja dalam kesusasteraan epik dan roman, akan tetapi –lebih penting– dalam pembicharaan falsafah. Penggunaan bahasa Melayu sebagai bahasa kesusasteraan falsafah Islam di kepulauan Melayu-Indonesia menambah serta meninggikan perbendaharaan katanya dan istilah2 khususnya dan merupakan salah satu faktor terutama yang menjunjungnya ke peringkat bahasa sastera yang bersifat rasional, yang akhirnya berdaya serta sanggup menggulingkan kedaulatan bahasa Jawa sebagai bahasa sastera Melayu-Indonesia.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prof Naquib al Attas, lebih jauh menyorot tentang adanya upaya-upaya ahli sejarah yang selalu mengkait-kaitkan perkembangan Islam di tanah Melayu dengan budaya India (Hindu). Memang diakui al-Attas bahwa budaya India mempengaruhi budaya Jawa, diantaranya adalah bukti adanya tulisan Jawa Kuno yang ‘modelnya’ mirip dengan tulisan India. Karena itu, menurutnya merupakan keputusan yang mendalam ketika para Ulama mengembangkan bahasa Melayu sebagai bahasa pengantar-pemersatu tanah Melayu (juga pemersatu di Indonesia).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahasa Jawa, menurut al Attas telah banyak tercampur dengan alam berfikir Hindu. Meski kemudian para Ulama Melayu tetap menghormati Jawa, dengan dikembangkannya tulisan Melayu atau Jawa dengan huruf Arab, dengan sebutan Arab Jawi (sayangnya tulisan Arab Jawi/Arab Pegon ini sekarang dihilangkan/hampir hilang dalam tradisi pendidikan kita). Hal ini menurut al-Attas mirip dengan perkembangan bahasa Arab, yang dipilih sebagai bahasa al Qur’an (dipilih Allah SWT). Bukan bahasa Yunani (Latin) yang telah jauh terpengaruh oleh kebudayaan Yunani/Romawi atau bukan bahasa Persia yang telah terhegemoni budaya Persia. (lihat Naquib al Attas dalam bukunya Islam dalam Sejarah dan Kebudayaan Melayu).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walhasil, lihatlah ketinggian falsafah puisi yang ditulis ulama, penasehat Raja dan ahli bahasa Raja Ali Haji, dalam Gurindam Dua Belas-nya (1846/1847):&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika hendak mengenal orang berbangsa&lt;br /&gt;Lihat kepada budi dan bahasa&lt;br /&gt;Jika hendak mengenal orang yang berbahagia&lt;br /&gt;Sangat memeliharakan (diri dari) yang sia-sia&lt;br /&gt;Jika hendak mengenal orang mulia&lt;br /&gt;Lihatlah kepada kelakuan dia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika hendak mengenal orang yang berilmu&lt;br /&gt;Bertanya dan belajar tiada jemu&lt;br /&gt;Jika hendak mengenal orang yang berakal&lt;br /&gt;Di dalam dunia mengambil bekal&lt;br /&gt;Jika hendak mengenal orang yang baik perangai&lt;br /&gt;Lihat pada ketika bercampur dengan orang ramai.*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(artikel ini telah dimuat di Majalah Hidayatullah edisi Mei 2010).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4691295274548167167-621738854618872263?l=nuimhidayat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nuimhidayat.blogspot.com/feeds/621738854618872263/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4691295274548167167&amp;postID=621738854618872263&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4691295274548167167/posts/default/621738854618872263'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4691295274548167167/posts/default/621738854618872263'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nuimhidayat.blogspot.com/2010/05/peran-penting-islam-di-tanah-melayu.html' title='Peran Penting Islam di Tanah Melayu'/><author><name>Nuim Hidayat</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04748613359481249234</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='22' src='http://2.bp.blogspot.com/_5sXuNmRv_aA/SXrAMvDXeaI/AAAAAAAAAAM/KQ9cesHTMeQ/S220/FOTO+1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_5sXuNmRv_aA/S_yjNsF5PJI/AAAAAAAAAE0/TkP2l0f_wCQ/s72-c/home_photo_books.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4691295274548167167.post-8980903933667651391</id><published>2010-04-23T00:16:00.000-07:00</published><updated>2010-04-23T00:23:57.936-07:00</updated><title type='text'>Dr Anis Malik Thoha, Ahli Pluralisme dari Demak</title><content type='html'>Dr Anis Malik Thoha, Ahli Pluralisme dari Demak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bicaranya tenang, berlogika tinggi dan terkesan hati-hati. Ia excellent bila berbicara dalam bahasa Inggris dan Arab sekaligus. Kemahirannya yang tinggi dalam bahasa ini, menyebabkan ia diangkat International Islamic University Malaysia, menjadi Direktur IIUM Press. Selain mengajar berbagai bidang pemikiran Islam, kini ia bertanggungjawab terhadap seluruh pe ner bitan di IIUM. Mulai dari newsletter, buku, jurnal, makalah dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi banyak cendekiawan Muslim di Indonesia yang peduli dengan khazanah pemikiran Islam, namanya sudah cukup akrab. Dr Anis Malik Thoha, lahir di Demak, 31 Desember 1964. Masa kecilnya banyak dilalui di pesantren. Orang tuanya mendidik agama dengan ‘ketat’. “Saya tidak boleh mendengarkan musik saat itu dan kalau keluar rumah tidak boleh gundulan, harus pakai kopiah,”ujarnya kepada Islamia-Republika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayahnya hanyalah seorang Muslim yang taat dan bekerja sebagai petani biasa. Di pesantren ia sering ‘kurang sangu’. Tapi kondisi itu justru menyebabkan dirinya terpacu untuk belajar lebih tekun. Di masa remajanya, ia telah menamatkan hafalan seribu bait kaidah bahasa Arab, Alfiyyah Ibnu Malik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak duduk di Perguruan Islam Mathali’ul Falah, Pati Jawa Tengah, ia sudah mempunyai cita-cita untuk melanjutkan di Universitas Madinah. Ia melihat beberapa gurunya telah pergi ke sana dan kebetulan sekolahnya juga sudah mendapat akreditasi (mu’adalah) Universitas Islam Madinah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Niatnyapun kesampaian. Di Madinah, ia ingin memperdalam lebih jauh bahasa Arab. Ia memilih Fakultas Bahasa Arab. Tapi ketika tes, ia tak lolos. “Saya dianggap ‘cacat aqidah’ oleh komite muqabalah syakhshiyyah (yang terdiri dari empat dosen senior) yang menguji saya selama kurang-lebih tiga jam. Saya lulus semua pertanyaan, tapi mentok pada pertanyaan tentang masalah aqidah,”kenangnya. Komite Dosen itu akhirnya merekomendasikan dirinya agar masuk ke Fakultas Da’wah dan Ushuluddin. Anis merasa syok dengan keputusan itu. Fakultas itu bukan cita-citanya. “Setahun lebih saya down tidak semangat belajar,”tuturnya. Tapi dari situlah justru titik baliknya. Minat keilmuannya tumbuh dan dia kini menyadari Allah SWT Yang Maha Tahu mempunyai rencana lain kepada dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Madinah inilah, Anis memahami makna dari perang pemikiran. “Terus terang, apa yang kemudian dikenal dengan war of ideas inilah yang sejatinya telah menyentak kesadaranku untuk melanjutkan belajar ke jenjang yang lebih tinggi lagi guna mempersiapkan dan membekali diri dengan ‘senjata dan amunisi’ yang diperlukan dalam ‘perang’ ini. Seumur-umur, baru mulai waktu itulah aku baru tahu agamaku, aku baru ngerti apa artinya keberpihaanku pada Islam dan apa yang harus saya lakukan untuk Islam,” ungkapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lulus dari Madinah (1988), Anis melanjutkan Masternya di Universitas Punjab dan Universitas Islam Internasional Islamabad, Pakistan. Ia mengambil bidang yang selama ini menjadi minatnya. Yaitu Islamic Studies (Punjab) dan Comparative Religion (Islamabad). Tesis Masternya berjudul: Al-Islam wa Tayyar al-Taghrib fi Indonesia, 1971-1991 (Islam dan Arus Pembaratan di Indonesia, 1971-1991),&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 2001 ia menyelesaikan doktornya di International Islamic University Islamabad dengan disertasi berjudul: “Al-Taaddudiyyah al-Diniyyah: Ru’yah Islamiyyah (Pluralisme Agama, Pandangan Islam). Disertasi ini mendapat tiga penghargaan sekaligus: Gold Medal dari International Islamic University Islamabad (2005), Isma’il Al-Faruqi Publications Award dari International Islamic University Malaysia (2006) dan Best Non-Fiction Book Award dari Islamic Book Fair 2007, Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karya disertasinya ini memang diselesaikan dengan penuh perjuangan. Selain ia kerjakan jauh dari anak-istri, ia juga hampir putus asa ketika menyelesaikan tulisan ini. Kisahnya, ketika ia sudah hampir menyelesaikan draf terakhirnya, laptop tuanya basah kuyup kehujanan. Ia panik luar biasa. “Sambil menangis, saya berdoa kepada Allah SWT apa yang terbaik bagi saya. Waktu itu, saya sudah menyiapkan diri untuk menerima keadaan yang terburuk sekalipun, yakni gagal dan angkat koper (pulang). Habis, kalau harus mulai dari awal lagi, rasanya sudah tidak mungkin, karena sudah terlalu lama (2 tahunan) jauh dari anak-istri,” kenangnya dengan mata berkaca-kaca. Allah pun mengabulkan doanya. Setelah sekitar sehari semalam ia mengeringkan laptopnya dengan kipas, akhirnya komputer jinjingnya itu bisa dihidupkan. Itu pun dengan tampilan layar yang tidak jelas. Ia harus memati-hidupkan beberapa kali, sehingga akhirnya file drafnya dapat dibuka dengan sempurna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain sehari-hari mengajar dan pernah mengepalai di Department of Ushuluddin and Comparative Religion IIUM, Anis juga sering diundang menjadi pembicara di berbagai seminar internasional, antara lain di Turki, Kanada, Jepang dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika ditanyakan kepadanya siapakah guru yang paling berpengaruh kepada dirinya? Laki-laki lima anak ini menyatakan bahwa semua guru-gurunya berpengaruh membentuk kepribadiannya. Ia merasa tanpa bimbingan dan didikan mereka, ia bukanlah apa-apa. "Tapi kalau harus menyebut siapa guru yang paling ber pe ngaruh, maka guru itu adalah kedua orangtuaku. Merekalah yang pertama kali mengajar dan mendidikku tentang agamaku. Allahumma irhamhuma kama rabbayani shaghira." nuim hidayat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://koran.republika.co.id/koran/155/108703/DR_ANIS_MALIK_THOHA_Ahli_Pluralisme_dari_Demak&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4691295274548167167-8980903933667651391?l=nuimhidayat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nuimhidayat.blogspot.com/feeds/8980903933667651391/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4691295274548167167&amp;postID=8980903933667651391&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4691295274548167167/posts/default/8980903933667651391'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4691295274548167167/posts/default/8980903933667651391'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nuimhidayat.blogspot.com/2010/04/dr-anis-malik-thoha-ahli-pluralisme.html' title='Dr Anis Malik Thoha, Ahli Pluralisme dari Demak'/><author><name>Nuim Hidayat</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04748613359481249234</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='22' src='http://2.bp.blogspot.com/_5sXuNmRv_aA/SXrAMvDXeaI/AAAAAAAAAAM/KQ9cesHTMeQ/S220/FOTO+1.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4691295274548167167.post-1603306574383386839</id><published>2010-04-12T19:53:00.000-07:00</published><updated>2010-04-12T19:57:24.038-07:00</updated><title type='text'>JANGAN HINA NABI!</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_5sXuNmRv_aA/S8PdKGwTZwI/AAAAAAAAAEs/MWwoc5u3X0I/s1600/gambar-buku2-japan.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_5sXuNmRv_aA/S8PdKGwTZwI/AAAAAAAAAEs/MWwoc5u3X0I/s320/gambar-buku2-japan.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5459450338984814338" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kamis, 11 Maret 2010 pukul 15:36:00&lt;br /&gt;JANGAN HINA NABI!&lt;br /&gt;Oleh:&lt;br /&gt;Nuim Hidayat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://koran.republika.co.id/koran/155/105997/JANGAN_HINA_NABI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 9 dan 11 Januari 1918, media cetak berbahasa Jawa, Djawi Hisworo, yang terbit di Surakarta, mengeluarkan tulisan yang menghina Nabi Muhammad SAW. Artikel yang ditulis Martodharsono dan Djokodikoro itu, isinya menyatakan bahwa Nabi Muhammad SAW adalah pemabuk dan pemadat. Penerbitan ini mendapat reaksi hebat dari umat Islam. Di Surabaya, pada Februari 1918, digelar satu rapat umum yang isinya menuntut agar pemerintah Hindia Belanda menindak kedua penulis dan pemimpin redaksi media tersebut. Centraal Sjarikat Islam juga membentuk panitia, Tentara Nabi Muhammad SAW, dengan tujuan: (1) Membangun kesatuan dan persatuan lahir dan batin antar-Muslimin. (2) Menjaga dan melindungi kehormatan agama Islam, kehormatan Rasulullah Muhammad saw dan kehormatan kaum Muslimin. Tokoh-tokoh Sjarikat Islam, antara lain adalah Oemar Said Djokroaminoto, H Agoes Salim, Abdoel Moeis, Soerjopranoto dan Wignjadisastra. (Ahmad Mansur Suryanegara, Api Sejarah, 2009: 392).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1931, kaum Muslim Indonesia juga memberikan respon keras terhadap kasus Ten Berge (Ten Berge Affair). Peristiwa ini terjadi ketika seorang pastor Jesuit bernama J.J. Ten Berge menerbitkan dua artikel berjudul De Koran en Evanglie en Koran; Studien, Tijdscift voor Godsdient, Wetenschap en Litteren (1931).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam artikelnya itu, Ten Berge memberikan komentar terhadap QS Surat Al Maidah ayat 75: Almasih putra Maryam itu hanyalah seorang Rasul yang sesungguhnya telah berlalu sebelumnya beberapa rasul, dan ibunya benar-benar seorang perempuan. Keduanya memerlukan makanan. Komentarnya, Siapa saja dapat menyaksikan bahwa, menurut Muhammad, orang-orang Kristen memahami sang Bapak, ibu dan putra dalam pengertian seksual. Bagaimana mungkin dia (Muhammad) seorang antropomorfis, seorang Arab yang bodoh, dan sensualis yang tiada tandingnya, yang terbiasa tidur dengan banyak perempuan, memahami konsep kebapakan yang berbeda dan pada ke nyataannya lebih canggih?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Insiden itu memicu kemarahan kaum Muslim Indonesia. Berbagai aksi massa dilakukan di sejumlah kota di Indonesia dilakukan oleh organisasi-organisasi Islam. Pemerintah kolonial mencoba menenangkan umat Islam dengan menyita seluruh sisa penerbitan. Peristiwa itu sendiri terus menyedot perhatian rakyat Indonesia, karena umat Katolik di bawah pimpinan Mgr. Wilekens, mengecam tindakan peme rintah kolonial dan menganggapnya tidak sah. Kaum Muslim memang dikenal sangat tinggi sensitivitasnya soal penghinaan Nabi Muhammad SAW. Kasus Roman Langit Makin Mendung karya Ki Panji Kusmin yang digugat oleh Hamka. Hampir seratus tahun kemudian penghinaan kepada Nabi terjadi lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paus Benedict XVI, pada September 2006 menyatakan: Show me just what Muhammad brought that was new, and there you will find things only evil and inhuman, such as his command to spread by the sword the faith he preached. Paus menyebut Nabi Muhammad sebagai evil dan inhuman. Ketika itulah, terjadi reaksi yang hebat dari umat Islam di seluruh dunia. Tapi bukan berarti Paus tidak ada yang membelanya. Apa yang dikatakan intelektual AS, Daniel Pipes di artikelnya New York Sun, 19 September 2006? Pipes menyatakan: The West Should Be Free To Criticize Islam (Barat seharusnya bebas untuk mengritik Islam).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya tahun 1997 seorang perempuan Israel mengedarkan secara luas sebuah poster Muhammad as a pig. Tahun 1988, Salman Rushdi menerbitkan novel yang menghina Nabi. Tahun 2002, pendeta Jerry Falwell dari AS menyebut Nabi Muhammad sebagai teroris. Ulah Falweell ini memicu pembakaran gereja di India dan terjadi kerusuhan, sehingga sedikitnya 10 orang terbunuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Koran Denmark Jyllands-Posten, Februari 2006 memuat 12 gambar yang menghina Nabi Muhammad SAW, reaksi dari negerinegeri Islam sangat keras ke Denmark.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa tokoh Islam menyerukan pemboikotan terhadap produk Denmark dan di Nigeria terjadi kerusuhan yang menyebabkan beberapa orang meninggal.Tapi Daniel Pipes di New York Sun, 7 Februari 2006, membuat judul yang menghina Islam: gCartoons and Islamic Imperialism.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disitu Pipes menyatakan : The key issue at stake in the battle over the twelve Danish cartoons of the Muslim prophet Muhammad is this: Will the West stand up for its customs and mores, including freedom of speech, or will Muslims impose their way of life on the West? Ultimately, there is no compromise: Westerners will either retain their civilization, including the right to insult and blaspheme, or not.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pipes jelas tidak benar. Kaum Muslim tidak pernah memaksa pandangan hidupnya ke Barat. Dalam Islam, tidak dibenarkan pemaksaan seseorang atau sebuah komunitas untuk memeluk Islam. Menghadapi reaksi keras negeri-negeri Islam terhadap 12 kartun Denmark saat itu, negara Barat terbelah. Beberapa negara seperti Inggris, AS, New Zealand dan Polandia mengecamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi beberapa negara lain membelanya. Mereka beralasan, bahwa negara mereka memberikan jaminan terhadap kebebasan berekspresi (freedom of expression).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila negeri Barat terbelah menyikapi 12 kartun Denmark yang menghina Islam itu, maka tidak ada satupun negeri Islam yang mendukung kartun Denmark itu. Umat Islam tidak bebas berbuat apa saja untuk menghina agamanya. Apalagi menghina Nabi Muhammad SAW; manusia yang paling mulia. Karena itulah, umat Islam bersikap tegas terhadap setiap bentuk penyimpangan terhadap Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemunculan setiap nabi palsu dipandang oleh umat Islam sebagai sebuah bentuk penyimpangan dan penodaan agama. Mirza Ghulam Ahmad ditolak pengakuannya sebagai Nabi. Di Indonesia, Lia Eden yang mengaku juga sebagai Malaikat Jibril juga menerima hukuman atas kasus penodaan agama. Karena itu, tidak mungkin seorang yang mengaku Muslim, sampai menyatakan, bahwa Kesalahan Lia Aminuddin persis sama dengan kesalahan Kanjeng Nabi Muhammad, meyakini suatu ajaran dan berusaha menyebarluaskannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana mungkin orang yang mengaku Islam bisa berkata seperti itu? Kini, atas nama Kebebasan Beragama, sekelompok orang menuntut agar di Indonesia tidak ada lagi per aturan yang menghakimi satu aliran sesat atau tidak. Menurut mereka, pemahaman sesat atau tidak adalah relatif. Setiap penafsiran terhadap agama selalu bersifat relatif, sehingga seorang tidak boleh menghakimi yang lain sebagai sesat atau tidak. Bahkan, Lia Eden disetarakan dengan Nabi Muhammad SAW. Padahal, Nabi Muhammad SAW adalah Nabi sejati. Sedangkan Lia Eden adalah mengaku-aku sebagai jelmaan Malaikat Jibril.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika mengaku-aku sebagai utusan Presiden suatu negara saja bisa dijatuhi suatu hukuman; bukankah merupakan suatu kejahatan besar jika seorang mengaku sebagai utusan Allah?!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4691295274548167167-1603306574383386839?l=nuimhidayat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nuimhidayat.blogspot.com/feeds/1603306574383386839/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4691295274548167167&amp;postID=1603306574383386839&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4691295274548167167/posts/default/1603306574383386839'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4691295274548167167/posts/default/1603306574383386839'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nuimhidayat.blogspot.com/2010/04/jangan-hina-nabi.html' title='JANGAN HINA NABI!'/><author><name>Nuim Hidayat</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04748613359481249234</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='22' src='http://2.bp.blogspot.com/_5sXuNmRv_aA/SXrAMvDXeaI/AAAAAAAAAAM/KQ9cesHTMeQ/S220/FOTO+1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_5sXuNmRv_aA/S8PdKGwTZwI/AAAAAAAAAEs/MWwoc5u3X0I/s72-c/gambar-buku2-japan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4691295274548167167.post-6045293961132276340</id><published>2010-02-02T05:08:00.000-08:00</published><updated>2010-02-02T05:11:54.489-08:00</updated><title type='text'>Teladan Gubernur Said bin Amir: Bahkan Sayyidina Umar pun Terpana Olehnya</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_5sXuNmRv_aA/S2gkjSeH6DI/AAAAAAAAAEk/CmP5gJSYuUY/s1600-h/Image160.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_5sXuNmRv_aA/S2gkjSeH6DI/AAAAAAAAAEk/CmP5gJSYuUY/s320/Image160.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5433633139094710322" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Teladan Gubernur Said bin Amir:&lt;br /&gt;Bahkan Sayyidina Umar pun Terpana Olehnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Nuim Hidayat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasus Bank Century sekali lagi membuka mata kita bahwa negeri ini telah kacau pengaturan ekonominya. Kerakusan harta seolah-olah menjadi biasa bila yang bertindak adalah para pejabat tinggi di negeri ini. Para wakil rakyat yang mengusutnya pun sebenarnya bukan orang-orang yang bersih. Dibanding dengan kinerjanya yang ‘berjamaah’, gaji 60 juta per bulan untuk para anggota DPR sebenarnya mengusik nurani kita. Apakah tidak sebaiknya gaji wakil rakyat itu 30 juta saja per bulan, dengan melihat rakyat negeri kita yang miskin masih lebih dari 40 juta?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sulit rasanya negeri ini akan makmur bila para pemimpinnya mulai dari yang teratas hingga ke bawah masih tamak terhadap harta negara. Tidak mudah mengubah perilaku tradisi buruk para pemimpin negeri ini yang telah sistemik. Tapi marilah kita baca sejenak kisah teladan hebat dari seorang gubernur sahabat Rasulullah saw yang bernama Said bin Amir al Jumahi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarawan Islam Dr. Abdurrahman Ra’fat Basya menempatkan tokoh sepanjang zaman ini dalam urutan pertama dalam kitabnya Shuwarum min Hayatis Shahabat. Bahkan Sayyidina Umar pun terpana melihat budi kepemimpinannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;000&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Said bin Umar al Jumahi, termasuk seorang pemuda di antara ribuan orang yang pergi ke Tan’im, di luar kota Makkah. Mereka berbondong-bondong ke sana, dikerahkan para pemimpin Quraisy untuk menyaksikan pelaksanaan hukuman mati terhadap Khubaib bin Adi, yaitu seorang sahabat Nabi yang mereka hukum tanpa alas an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan semangat muda yang menyala-nyala, Said maju menerobos orang banyak yang berdesak-desakan. Akhirnya dia sampai ke depan, sejajar dengan tempat duduk orang-orang penting, seperti Abu Sufyan bin Harb, Shafwan bin Umayah dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaum kafir Quraisy sengaja mempertontonkan tawanan mereka dibelenggu. Sementara para wanita, anak-anak dan pemuda, menggiring Khubaib ke lapangan maut. Mereka ingin membalas dendam terhadap Nabi Muhammad saw, serta melampiaskan sakit hati atas kekalahan mereka dalam perang Badar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika tawanan yang mereka giring sampai ke tiang salib yang telah disediakan, Said mendongakkan kepala melihat kepada Khubaib bin Adi. Said mendengar suara Khubaib berkata dengan mantap,”Jika kalian bolehkan, saya ingin shalat dua rakaat sebelum saya kalian bunuh…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Said melihat Khubaib menghadap ke kiblat (Ka’bah). Dia shalat dua rakaat. Alangkah bagus dan sempurnanya shalatnya itu. Sesudah shalat, Khubaib menghadap kepada para pemimpin Quraisy seraya berkata,”Demi Allah! Seandainya kalian tidak akan menuduhku melama-lamakan shalat untuk mengulur-ngulur waktu karena takut mati, niscaya saya akan shalat lagi.” Mendengar ucapan Khubaib tersebut, Said melihat para pemimpin Quraisy naik darah, bagaikan hendak mencincang-cincang tubuh Khubaib hidup-hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata mereka,”Sukakah engkau si Muhammad menggantikan engkau, kemudian engkau kami bebeskan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya tidak ingin bersenang-senang dengan istri dan anak-anak saya, sementara Muhammad tertusuk duri,”jawab Khubaib mantap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bunuh dia! Bunuh dia!” teriak orang banyak. Said melihat Khubaib telah dipakukan ke tiang salib. Dia mengarahkan pandangannya ke langit sambil berdoa,”Ya Allah! Hitunglah jumlah mereka! Hancurkan mereka semua. Jangan disisakan seorang jua pun!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak lama kemudian Khubaib menghembuskan nafasnya yang terakhir di tiang salib. Sekujur tubuhnya penuh dengan luka-luka karena tebasan pedang dan tikaman tombak yang tak terbilang jumlahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaum Kafir Quraisy kembali ke Makkah biasa-biasa saja. Seolah-olah mereka telah melupakan peristiwa maut yang merenggut jiwa Khubaib dengan sadis. Tetapi Said bin Amir al Jumahi yang baru meningkat remaja tidak dapat melupakan Khubaib walau ‘sedetikpun’. Sehingga dia bermimpi melihat Khubaib menjelma dihadapannya. Dia seakan-akan melihat Khubaib menjelma di hadapannya. Dia seakan-akan melihat Khubaib shalat dua rakaat dengan khusyu’ dan tenang di bawah tiang salib. Seperti terdengar olehnya rintihan suara Khubaib mendoakan kaum kafir Quraisy. Karena itu Said ketakutan kalau-kalau Allah SWT segera mengabulkan doa Khubaib, sehingga petir dan halilintar menyambar kaum Quraisy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberanian dan ketabahan Khubaib menghadapi maut mengajarkan Said beberapa hal yang belum pernah diketahuinya selama ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, hidup yang sesungguhnya adalah hidup beraqidah, beriman, kemudian berjuang mempertahankan aqidah itu sampai mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, iman yang telah terhunjam di hati seseorang dapat menimbulkan hal-hal yang ajaib dan luar biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, orang yang paling dicintai Khubaib ialah sahabatnya, yaitu seorang Nabi yang dikukuhkan dari langit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak itu Allah SWT membukakan hati Said bin Amir untuk menganut agama Islam. Kemudian dia berpidato di hadapan khalayak ramai, menyatakan: ‘alangkah bodohnya orang Quraisy menyembah berhala’. Karena itu dia tidak mau terlibat dalam kebodohan itu. Lalu dibuangnya berhala-berhala yang dipujanya selama ini. Kemudian diumumkannya, mulai saat itu dia masuk Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak lama sesudah itu, Said menyusul kaum Muslimin hijrah ke Madinah. Di sana dia senantiasa mendampingi Nabi saw. Dia ikut berperang bersama beliau, mula-mula dalam peperangan Khaibar. Kemudian dia selalu turut berperang dalam setiap peperangan berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah Nabi saw berpulang ke rahmatullah, Said tetap menjadi pembela setia Khalifah Abu Bakar dan Umar. Dia menjadi teladan satu-satunya bagi orang-orang mukmin yang membeli kehidupan akhirat dengan kehidupan dunia. Dia lebih mengutamakan keridhaan Allah dan pahala daripada-Nya di atas segala keinginan hawa nafsu dan kehendak jasad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua khalifah Rasulullah, Abu Bakar dan Umar bin Khattab, mengerti bahwa ucapan-ucapan Said sangat berbobot dan taqwanya sangat tinggi. Karena itu keduanya tidak keberatan mendengar dan melaksanakan nasihat-nasihat Said.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu hari di awal pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab, Said datang kepadanya memberi nasihat. Kata Said,”Ya Umar! Takutlah kepada Allah dalam memerintah manusia. Jangan takut kepada manusia dalam menjalankan agama Allah! Jangan berkata berbeda dengan perbuatan. Karena sebaik-baik perkataan ialah yang dibuktikan dengan perbuatan. Hai Umar! Tujukanlah seluruh perhatian Anda kepada urusan kaum Muslimin, baik yang jauh maupun yang dekat. Berikan kepada mereka apa yang Anda dan keluarga sukai. Jauhkan dari mereka apa-apa yang Anda dan keluarga tidak sukai. Arahkan semua karunia Allah kepada yang baik. Jangan hiraukan cacian orang-orang yang suka mencaci.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapakah yang sanggup melaksanakan semua itu, hai Said?” Tanya Khalifah Umar. “Tentu orang seperti Anda! Bukankah Anda telah dipercayai Allah memerintah umat Muhammad ini? Bukankah antara Anda dengan Allah tidak ada lagi suatu penghalang?”jawab Said meyakinkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu ketika Khalifah Umar memanggil Said untuk diserahi suatu jabatan dalam pemerintahan. “Hai Said! Engkau kami angkat menjadi Gubernur di Himsh!” kata Khalifah Umar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wahai Umar! Saya mohon kepada Allah semoga Anda tidak mendorong saya condong kepada dunia,”kata Said.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Celaka engkau!” Balas Umar marah. “Engkau pikulkan beban pemerintahan ini di pundakku, tetapi kemudian engkau menghindar dan membiarkanku repot sendiri.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Demi Allah! Saya tidak akan membiarkan Anda,”jawab Said.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Khalifah Umar melantik Said menjadi gubernur di Himsh. Sesudah pelantikan khalifah Umar bertanya kepada Said,”Berapa gaji yang Engkau inginkan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa yang harus saya perbuat dengan gaji itu, ya Amirul Mukminin?”jawab Said balik bertanya. “Bukankah penghasilan saya dari Baitul Mal sudah cukup?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak berapa lama setelah Said memerintah di Himsh, sebuah delegasi dating menghadap khalifah Umar di Madinah. Delegasi itu terdiri dari penduduk Himsh yang ditugasi Khalifah mengamat-amati jalannya pemerintahan di Himsh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pertemuan dengan delegasi tersebut, Khalifah Umar meminta daftar fakir miskin Himsh untuk diberikan santunan. Delegasi mengajukan daftar yang diminta khalifah. Di dalam daftar tersebut terdapat nama-nama di Fulan, dan nama Said bin Amir al Jumahi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Khalifah meneliti daftar tersebut, beliau menemukan nama Said bin Amir al Jumahi. Lalu beliau bertanya,”Siapa Said bin Amir yang kalian cantumkan ini?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gubernur kami!” jawab mereka. “Betulkan gubernur kalian miskin?” jawab Khalifah heran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sungguh, ya Amirul Mukminin! Demi Allah! Seringkali di rumahnya tidak kelihatan tanda-tanda api menyala (tidak memasak),” jawab mereka meyakinkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar perkataan itu, Khalifah Umar menangis, sehingga air mata beliau meleleh membasahi jenggotnya. Kemudian beliau mengambil sebuah pundit-pundi berisi uang seribu dinar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kembalilah kalian ke Himsh. Sampaikan salamku kepada Gubernur Said bin Amir, dan uang ini saya kirimkan untuk beliau, guna meringankan kesulitan-kesulitan rumah tangganya,”ucap Umar sedih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setibanya di Himsh, delegasi itu segera menghadap Gubernur Said, menyampaikan salam dan uang kiriman Khalifah untuk beliau. Setelah Gubernur Said melihat pundi-pundi berisi uang dinar, pundi-pundi itu dijauhkannya dari sisinya seraya berucap, inna lillahi wa inna ilaihi raji’un (kita milik Allah dan pasti kembali kepada Allah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar ucapannya itu, seolah-olah suatu mara bahaya sedang menimpanya. Karena itu istrinya segera menghampiri seraya bertanya,”Apa yang terjadi, hai Said? Meninggalkah Amirul Mukminin?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bahkan lebih besar dari itu!” jawab Said sedih. “Apakah tentara kaum Muslimin kalah berperang?” tanya istrinya lagi. “Jauh lebih besar dari itu!” jawab Said tetap sedih. “Apa pulalah gerangan yang lebih dari itu?” tanya istrinya tak sabar. “Dunia telah datang untuk merusak akhiratku. Bencana telah menyusup ke rumah tangga kita,” jawab Said mantap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bebaskan dirimu daripadanya!”kata istri Said memberi semangat, tanpa mengetahui perihal adanya pundi-pundi uang yang dikirimkan Khalifah Umar untuk pribadi suaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maukah engkau menolongku berbuat demikian?” Tanya Said.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tentu!” jawab istrinya bersemangat. Maka Said mengambil pundi-pundi uang itu, lalu disuruhnya istrinya membagi-bagikan kepada fakir miskin…*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Kisah ini adalah cuplikan dari kitab Shuwarum min Hayatis Shahabat. Tahun 1984, tokoh Islam Mohammad Natsir mempercayakan terjemahan buku ini kepada H. Ma’mur Daud. Akhirnya diterbitkan dengan judul “Kepahlawanan Generasi Sahabat Rasulullah saw”, penerbit Media Da’wah)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4691295274548167167-6045293961132276340?l=nuimhidayat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nuimhidayat.blogspot.com/feeds/6045293961132276340/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4691295274548167167&amp;postID=6045293961132276340&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4691295274548167167/posts/default/6045293961132276340'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4691295274548167167/posts/default/6045293961132276340'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nuimhidayat.blogspot.com/2010/02/teladan-gubernur-said-bin-amir-bahkan.html' title='Teladan Gubernur Said bin Amir: Bahkan Sayyidina Umar pun Terpana Olehnya'/><author><name>Nuim Hidayat</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04748613359481249234</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='22' src='http://2.bp.blogspot.com/_5sXuNmRv_aA/SXrAMvDXeaI/AAAAAAAAAAM/KQ9cesHTMeQ/S220/FOTO+1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_5sXuNmRv_aA/S2gkjSeH6DI/AAAAAAAAAEk/CmP5gJSYuUY/s72-c/Image160.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4691295274548167167.post-8258769616895817297</id><published>2009-12-13T21:16:00.000-08:00</published><updated>2009-12-14T03:59:23.197-08:00</updated><title type='text'>Prof. Dr. HM Rasjidi: Melihat Apa yang Tidak Dilihat Orang Lain</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_5sXuNmRv_aA/SyYodHnk9_I/AAAAAAAAAEA/7NQAzyTROPg/s1600-h/Prof.+Dr.+H.+Rasjidi.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 240px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_5sXuNmRv_aA/SyYodHnk9_I/AAAAAAAAAEA/7NQAzyTROPg/s320/Prof.+Dr.+H.+Rasjidi.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5415060082685966322" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Prof. Dr. HM Rasjidi:&lt;br /&gt;Melihat Apa yang Tidak Dilihat Orang Lain&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh:&lt;br /&gt;Nuim Hidayat&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebenarnya banyak orang yang kecewa, seperti yang saya dengar sendiri langsung dari kalangan IAIN, mengapa ia, dengan latar belakang pendidikan seperti itu, hanya puas dengan menerjemahkan buku, padahal pekerjaan itu dapat dilakukan oleh orang lain dengan mutu yang sama profesionalnya? Betapapun dinilai banyak kelemahannya, Harun Nasution telah mengarang paling tidak enam buku yang berharga untuk dibaca, yang memberikan interpretasinya sendiri tentang filsafat, agama dan Islam. Demikian pula Nurcholish Madjid telah menyeleksi bahan-bahan dari Khasanah Intelektual Islam dengan uraian penilaian yang kritis dan baru, baik dalam cara maupun isinya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian kritik Prof. Dawam Rahardjo pada Rasjidi pada buku 70 Tahun Prof Dr HM Rasjidi.  Meski Dawam kemudian meneruskan tulisannya bahwa Chairil Anwar pun juga menerjemahkan karya-karya puisi asing, di samping mencipta puisi sendiri, tapi di kalimat  itu jelas terlihat bahwa Dawam berniyat meninggikan Harun Nasution dan Nurcholish Madjid serta ‘merendahkan’ Rasjidi. Karya Nurcholish memang kaya referensi, tapi mempunyai ia mempunyai kesalahan fundamental dalam bidang aqidah. Karyanya ibarat gedung yang mengagumkan banyak orang karena interiornya yang bagus, tapi pondasinya retak dan rapuh, sehingga sewaktu-waktu bangunan itu runtuh. Dan hanya para ahli bangunan yang berpengalamanlah yang dapat melihat kerapuhan gedung itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin di sinilah peranan Prof Rasjidi sebagai ‘ahli bangunan’ yang telah berpengalaman internasional dalam mendidik mahasiswa dan manusia-manusia Islam.  Pengalaman intelektual Rasjidi di Al Azhar Mesir, McGill Kanada, Sorbonne Perancis, Yogyakarta, Jakarta dan lain-lain menjadikan dirinya saat itu melawan dan menulis kritikan keras kepada pemikiran-pemikiran Harun Nasution dan Nurcholish Madjid. Rasjidi tahu bahaya pemikiran keduanya. Dan memang seorang ‘alim’ (ulama/intelektual Islam) seringkali mengetahui, melihat apa yang tidak dilihat oleh orang ‘jahil’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasjidi menulis buku Koreksi terhadap Drs. Nurcholish Madjid tentang Sekulerisme dan buku Koreksi terhadap Dr. Harun Nasution tentang Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya.  Tentang buku Harun Nasution, Rasjidi menyatakan: “Saya menjelaskan kritik saya fasal demi fasal dan menunjukkan bahwa gambaran Dr. Harun tentang Islam itu sangat berbahaya, dan saya mengharapkan agar Kementrian Agama mengambil tindakan terhadap buku tersebut, yang oleh Kementrian Agama dan Direktorat Perguruan Tinggi dijadikan buku wajib di seluruh IAIN di Indonesia.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini timbul pertanyaan siapa Rasjidi? Rasjidi, yang nama kecilnya Saridi, lahir di Kotagede Yogyakarta pada Kamis 20 Mei 1915 atau 4 Rajab 1333 H.  Ia anak kedua dari Bapak Atmosugido. Ia menempuh sekolah dasar di Muhammadiyah Yogyakarta.  Rasjidi kemudian melanjutkan sekolah menengahnya di perguruan Al Irsyad al Islamiyah, Malang, dibawah pimpinan Syekh Ahmad Surkati.  Semangat mencari ilmunya makin tinggi, karena yang mengajar di situ bukan hanya guru-guru dari Indonesia, tapi juga dari Mesir, Sudan dan Mekkah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syekh Ahmad Surkati pendiri al Irsyad al Islamiyah, mendidik langsung Rasjidi dengan seksama.  Menurut Surkati, Rasjidi adalah anak yang tekun dan cerdas, sehingga dicintai guru-gurunya. Kepandaian Rasjidi dalam bahasa Arab –mampu menghafal Alfiyah Ibnu Malik dalam usia 15 tahun —menjadikannya diangkat sebagai asisten pelajaran gramatika bahasa Arab. Dalam usia remaja itu, Rasjidi juga hafal buku Logika Aristoteles yang berjudul “Matan as Sullam.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkenalannya dengan banyak guru-guru Timur Tengah itu, menjadikan Rasjidi bersemangat untuk melanjutkan studinya di Mesir. Ketika di Mesir, selain mempelajari ilmu-ilmu agama, di Sekolah Persiapan Darul Ulum (setingkat Sekolah Menengah) juga ia diajar aljabar, ilmu bumi, sejarah dan lain-lain. Sehingga kemudian Rasjidi menguasai bahasa Perancis, Inggris, Arab dan Belanda tentunya. Ia pun menjadi seorang hafizh, hafal al Qur’an 30 juz. Penulis Soebagijo IN menceritakan : “Dengan diantar oleh Syekh Thantawy Djauhary pengarang Tafsir al Jawahir  yang masyhur serta sahabat karib Sjekh Ahmad Surkati, dia mendaftarkan ke Sekolah Persiapan untuk memasuki Sekolah Guru Tinggi bahasa Arab yang bernama Darul Ulum (kelas III)...Rasjidi diuji untuk masuk kelas V.  Di kelas itu dia belajar 8 bulan lamanya, dan akhirnya berhasil  meraih diploma Sekolah Menengah Umum dengan agama dan hafal al Qur’an secara lengkap, yakni 30 juz Al Qur’an, di samping mendapatkan sertifikat untuk mata pelajaran bahasa Inggeris dan Prancis. Karena di sana berlaku sistem Prancis, maka di Mesir diploma Sekolah Menengah Lanjutan disebut surat ijazah Baccalaureat. Dengan ijazah Baccalaureat  itu, Rasjidi berhak meneruskan ke perguruan tinggi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia kemudian melanjutkan ke  Universitas al Azhar, Kairo.  Di sana ia mengambil jurusan Filsafat dan Agama.  Setelah empat tahun belajar di situ, ia mendapat gelar Licence.  Di kelas itu mahasiswanya hanya tujuh orang. Ia menempati rangking satu mengalahkan mahasiswa dari Mesir, Albania dan Sudan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah kembali ke tanah air beberapa tahun, Rasjidi melanjutkan kuliahnya di Fakultas Sastra, Universitas Sorbonne, Paris. Pada hari Jumat, 23 Maret 1956, Rasjidi akhirnya meraih gelar doktor di universitas terkemuka itu dengan disertasi berjudul l'Evolution de l'Islam en Indonesie ou Consideration Critique du Livre Centini (Evolusi Islam di Indonesia atau Tinjauan Kritik terhadap Kitab Centini).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasjidi adalah Menteri Agama RI pertama. Di pemerintahan, ia juga pernah menjabat sebagai Duta Besar RI di Mesir, Arab Saudi dan lain-lain. Sebelumnya di bidang organisasi, ia pernah  terlibat diantaranya dalam organisasi PII dan Masyumi. Ia juga pernah aktif sebagai Dosen di Sekolah Tinggi Islam (UII) Yogyakarta, Guru Besar Fakultas Hukum UI, Guru Besar Filsafat Barat di IAIN Syarif Hidayatullah dan menjadi Dosen tamu di McGill University.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasjidi menulis buku dan menerjemahkan buku-buku yang bermutu yang ia temui ketika belajar atau bertugas di luar negeri. Karya-karya asli Rasjidi antara lain : Islam Menentang Komunisme, Islam dan Indonesia di Zaman Modern, Islam dan Kebatinan, Islam dan Sosialisme, Mengapa Aku Tetap Memeluk Agama Islam, Agama dan Etik, Empat Kuliah Agama Islam pada Perguruan Tinggi, Strategi Kebudayaan dan Pembaharuan Pendidikan Nasional, Hendak Dibawa Kemana Umat Ini?  Sedangkan karya terjemahnya antara lain: Filsafat Agama, Bibel Qurán dan Sains Modern, Humanisme dalam Islam, Janji-janji Islam dan Persoalan-persoalan Filsafat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasjidi, yang murid-muridnya kini banyak tersebar di Indonesia, telah meninggalkan warisan perjalanan hidup dan karya tulis yang berharga bagi kita. Adakah kita mengambil pelajaran dari liku-liku kehidupannya?*&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4691295274548167167-8258769616895817297?l=nuimhidayat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nuimhidayat.blogspot.com/feeds/8258769616895817297/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4691295274548167167&amp;postID=8258769616895817297&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4691295274548167167/posts/default/8258769616895817297'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4691295274548167167/posts/default/8258769616895817297'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nuimhidayat.blogspot.com/2009/12/prof-dr-hm-rasjidi-melihat-apa-yang.html' title='Prof. Dr. HM Rasjidi: Melihat Apa yang Tidak Dilihat Orang Lain'/><author><name>Nuim Hidayat</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04748613359481249234</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='22' src='http://2.bp.blogspot.com/_5sXuNmRv_aA/SXrAMvDXeaI/AAAAAAAAAAM/KQ9cesHTMeQ/S220/FOTO+1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_5sXuNmRv_aA/SyYodHnk9_I/AAAAAAAAAEA/7NQAzyTROPg/s72-c/Prof.+Dr.+H.+Rasjidi.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4691295274548167167.post-5106054968460910022</id><published>2009-11-04T01:48:00.000-08:00</published><updated>2009-11-04T01:54:40.046-08:00</updated><title type='text'>Politik dan Pendidikan Islam</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_5sXuNmRv_aA/SvFPOoy8x4I/AAAAAAAAAD0/8_-J5Wre7Xk/s1600-h/images.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 141px; height: 94px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_5sXuNmRv_aA/SvFPOoy8x4I/AAAAAAAAAD0/8_-J5Wre7Xk/s320/images.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5400184541081814914" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Politik dan Pendidikan Islam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Nuim Hidayat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Wahai anak-anakku pelajarilah ilmu, maka apabila kamu sekalian berada di tengah-tengah ilmu kamu bisa memimpin, dan apabila kamu bisa menyediakan ilmu kamu bisa hidup.” (Khalifah Abdul Malik bin Marwan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 60-an ada perbincangan yang menarik antara Prof Deliar Noer dengan Kiyai Zarkasyi. ”Cuma ada pesan saya...kan pak Natsir tidak boleh berpolitik,”kata Kiyai Zarkasyi kepada Deliar Noer.”Sekurang-kurangnya walau tak resmi, namun langkahnya dalam berpolitik terlambat. Saya ada pesan,”lanjutnya, dan minta agar disampaikannya ke Pak Natsir. ”Saya ingat Ki Hajar Dewantoro,”kata Kiyai Zarkasyi. ”Setelah ia kembali dari Belanda dan tidak boleh bergerak aktif dalam bidang politik, ia membatasi dirinya bergerak dalam bidang sosial, khususnya dalam pendidikan. Ia mendirikan Taman Siswa, dan ia berhasil dengan usahanya ini. Saya berpikir apakah setidaknya Pak Natsir tidak berbuat hal yang seperti ini,”kata Kiyai Zarkasyi. ”Ia seorang pemimpin: bisa di bidang politik dan sosial. Tetapi asalnya juga dari bidang pendidikan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, Kiyai Zarkasyi menyebut-nyebut kegiatan Natsir di jaman Belanda dengan sekolah-sekolah Pendis-nya (Pendidikan Islam) di Bandung, terdiri dari TK, HIS, MULO dan HIK. Menurut Kiyai Zarkasyi, Pendis ini sedikit banyak berhasil. ”Kalau tidak Jepang masuk,”tambahnya,”tentu sekolahan tersebut akan berkembang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Dan kini dalam bidang politik, Pak Natsir mendapat hambatan,”sambung pendiri Gontor ini,”Alihkan perhatian penuh ke bidang yang agaknya lebih perlu dikelola,”katanya tegas. ”Dan saya harap,”sambungnya,”Saudara menyampaikan ini kepada beliau.” Ia menambahkan bahwa orang seperti Pak Natsir, dana pun akan tiba. Dan dengan pendidikan usahanya akan lebih nyata, kebebasan juga akan lebih terpelihara...begitu saya kembali dari Gontor, permulaan tahun 1970-an itu, pesan Kiyai Zarkasyi sempat saya sampaikan kepada Pak Natsir. (Prof. Dr. Deliar Noer dalam KH Imam Zarkasyi di Mata Umat, Gontor Press, 1996, 643-644)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Politik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehidupan politik Indonesia saat ini cenderung materialistis. Uang dan jabatan menjadi motivasi dan tujuan akhir. Dalam pemilihan ketua partai (kecuali sebagian kecil), bupati, gubernur, bahkan presiden uang menjadi faktor utama penentu keberhasilan. Bukan ilmu, kapabilitas calon dan adab atau akhlak yang baik yang dimiliki sang calon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal ilmu dan adab pemimpin politik itu menjadi syarat utama dalam memimpin masyarakat. Ulama Melayu terkemuka, Syekh Ahmad al Fathani mencirikan sifat-sifat yang mesti dimiliki pemimpin politik. Diantaranya: sempurna anggota (indera), baik budi pekerti, baik kefahaman, cerdik/bijaksana, faham terhadap sekalian ilmu terutama ilmu berhitung dan ilmu tarikh, benar dalam perkataan dan menjauhkan kebohongan, elok perlakuan muamalat, berkelakuan yang lembut, dalam perjumpaan selalu memberikan kelapangan, tidak tamak pada makanan, minuman dan perkawinan, menjauhi bermain-main dalam segala urusan, mempunyai ketinggian himmah (cita-cita), bersungguh-sungguh pada membangun kerajaan, mencintai keadilan, benci kezaliman, mempunyai hati yang tabah dan berani dan mengetahui sekalian muslihat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pentingnya ilmu politik ini, dikemukakannya pada kitab Hadiqatul Azhar : ”Muhimmah, pada bicara ilmu siasat (politik). Yaitu ilmu memperbaiki rakyat dengan menunjukkan mereka itu kepada jalan yang melepaskan mereka itu daripada tiap-tiap kekeruhan pada dunia dan akherat..maka hukumnya ilmu itu wajib kifayah.” (Wan Mohd Saghir: 1992, 103).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalahnya, dalam ilmu politik sekuler saat ini, masalah akherat tidak dimasukkan sebagai urusan negara. Akherat tidak dijadikan pertimbangan dalam pengambilan keputusan politik dan inilah awal malapetaka politik di Indonesia dan negeri-negeri Islam lainnya. Sehingga suap, ingkar janji, kebohongan, hasad, tamak, riya’ menjadi tontotan politik sehari-hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal dahulu bila para ulama memberikan nasehat kepada raja atau sultan selalu diawali dengan nasehat agar para pemimpin itu mula-mula bertakwa kepada Allah, taat kepada Rasul-Nya dan seterusnya. Dulu, dalam sejarah Islam, Jendral Abdullah bin Husain, ketika menasihati anaknya, maka dia menulis agar agar ingat kepada Allah SWT, ingat hari pembalasan, orang miskin dan sebagainya. Apakah ada jenderal sekarang ini yang menasihati anaknya demikian? Juga ketika khalifah Ali bin Abi Thalib menasihati kepada gubernurnya. Ia menasihatkan tentang pentingnya ketakwaan kepada Allah SWT, perhatian kepada orang miskin, jangan terpengaruh godaan dunia dan lain-lain. Apakah ada sekarang ulama atau pejabat yang menasihatkan seperti itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Politik dan Pendidikan Islam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam era kehidupan politik yang sekuler saat ini, juga ditandai dengan munculnya pemimpin-pemimpin palsu dalam segala bidang. Pemimpin-pemimpin ini hanya mampu mengulang-ulangi praktek pendidikan yang yang datang atau dipengaruhi sepenuhnya oleh Barat. Intelektual terkemuka Melayu, Syed Muhammad Naquib al Attas mengemukakan dalam bukunya Risalah untuk Kaum Muslimin : ”Saluran yang melancarkan penyelundupan faham-faham asasi yang asing itu adalah sistem pembelajaran dan pendidikan yang dikuatkuasakan oleh kuasa-kuasa politik serta gejala-gejala pentadbirannya, dan seterusnya dibantu oleh golongan para guru dan pensharah dan golongan penulis yang menyamarkan faham-faham itu sebagai hasil sastera. Dan betapakah lagi kacaunya andaikata orang-orang yang mewakili kuasa-kuasa tersebut, dan guru dan pensharah dan penulis itu tiada pula memahami serta mengenali dan mengetahui benar-benar sifat serta hakikat kandungan faham-faham yang dikuatkuasakan dan dianjurkannya itu! Kaum Muslimin harus insaf bahawa sebahagian besar mereka yang memainkan peranan dalam menyebarkan kekeliruan dan kepalsuan ini –baikpun secara disedari mauhupun tiada disedari—merupakan orang-orang yang bukan sahaja tiada memahami serta mengenali dan mengetahui benar ilmu kebudayaan Barat, bahkan jua yang tiada mempunyai ilmu keislaman, dan yang pengetahuan serta amalan Islamnya sangat-sangatlah menyedihkan sebab sekadar yang bertaraf kebudak-budakan belaka. Padahal golongan-golongan ini dibiarkan –malah diberi amanah—oleh kaum Muslimin untuk memimpinnya dalam pelbagai lapangan kehidupan!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih lanjut Prof al Attas menasehatkan: ”Janganlah hendaknya kau fikir –wahai saudaraku Muslimin—bahwa sekarang ini kononnya dengan tersingkirnya ciri-ciri zahiriah kolonialisme kebudayaan Barat, pemimpin-pemimpin kita yang Islam yang telah kita amanahkan untuk menjalankan tugas membimbing masyarakat kita itu, memang benar-benar menunaikan tugas mereka dengan secara yang tiada berlawanan dengan Islam. Kau harus insaf bahwa kebanyakan mereka itu mewarisi ilmu serta cara berfikir kolonial yang jahil terhadap Islam. Mereka belum lagi berhasil menunaikan syarat-syarat serta pencapaian ilmu yang fardhu ain di sisi Islam, dan boleh dikatakan langsung sunyi daripada ilmu pengetahuan Islam yang harus dianggap sebagai fardhu kifayah yang terutama bagi mereka, maka betapakah dapat mereka itu menghindarkan diri dan masyarakatnya terpesong (terperosok) ke jalan yang sesat!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bidang ilmu pengetahuan yang merujuk kepada pendidikan dan pelajaran, kata al Attas, pemimpin-pemimpin kita yang bertanggungjawab mengenainya tiada sadar bahwa banyak yang diajarkan di sekolah-sekolah dan pusat-pusat pengajian tinggi itu bukanlah ilmu pengetahuan, akan tetapi ilmu yang batil yang berselaputkan dugaan yang mensia-siakan masa dan mengelirukan fikiran dan diri penuntutnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prof Wan Mohd Nor Wan Daud, Guru Besar ATMA UKM Malaysia, menjelaskan lebih jauh, bahwa perubahan yang terpenting dalam pendidikan adalah perubahan pendidikan di tingkat tertinggi. S3, S2 dan S1. “Ini bukan bersifat elitis yang negatif, tapi elitis yang stratejik. Pendidikan mengubah orang dewasa dahulu. Yakni kalau orang dewasa telah berubah, maka anak-anak akan berubah. Semua anbiya’ diturunkan untuk mengajar kepada orang-orang dewasa. Dan mereka menyadarkan pemimpin-pemimpn politik tertinggi saat itu. Karena itu kita mendirikan ISTAC dulu, juga Prof Al-Attas ketika tahun 70-an Seminar di Mekkah tentang Pendidikan, mengingatkan tentang pentingnya Universitas. Bila universitas telah dibereskan, maka sekolah-sekolah menengah juga akan beres. Sebab guru-guru sekolah menengah dari universitas juga, pegawai-pegawai kantor juga universitas, paling kurang S1. Kalau fokus di level bawah, maka perubahan itu tidak akan berlaku dengan sebaik-baiknya. Orang-orang Barat faham akan hal itu. Mereka tidak menggarap SD, atau sekolah menengah, tapi menggarap di tingkat universitas.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah Islam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam zaman Umawiyah tampak sekali bahwa tujuan pendidikan selain untuk kepentingan agama juga untuk kepentingan sosial. Umpamanya Abdul Malik bin Marwan berkata kepada anak-anaknya,”Wahai anak-anakku pelajarilah ilmu, maka apabila kamu sekalian berada di tengah-tengah ilmu kamu bisa memimpin, dan apabila kamu bisa menyediakan ilmu kamu bisa hidup.” Orang mengetahui bahwa pada waktu itu banyak ulama mengajar anak-anak khalifah dan orang-orang dari kelompok atas, syair, sejarah, juga sejarah orang-orang Arab, nenek moyang mereka dan tindakan-tindakan mereka yang hebat-hebat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun dalam zaman Abasiyah, maka kedudukan ulama adalah tinggi sekali. Para khalifah menghormati para ulama dan ditempatkan pada tempat yang tinggi sesuai dengan ilmunya. Inilah sebabnya mengapa orang-orang giat belajar supaya mereka memperoleh kedudukan yang baik. Perlu diketahui bahwa para ulama itu pada umumnya dari kalangan orang-orang miskin dan rakyat biasa. Lalu mereka meningkat karena ilmunya kepada tingkatan yang tinggi. Ahli syair Abul Itahiyah asalnya adalah tukang batu, Abu Tamam asalnya adalah penjual air di masjid Amr. Ayah Bashar adalah orang yang membikin alat dari tanah, al Jahiz penjual roti dan ikan, az Zajjaz tukang menulis di kaca, dan bapak al Ghazali penenun bulu. (KH Imam Zarkasyi di Mata Umat, hal. 928).*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mudah-mudahan manfaat, bisa dilihat di : http://hidayatullah.com/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=9723:politik-dan-pendidikan-islam&amp;catid=68:opini&amp;Itemid=68&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4691295274548167167-5106054968460910022?l=nuimhidayat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nuimhidayat.blogspot.com/feeds/5106054968460910022/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4691295274548167167&amp;postID=5106054968460910022&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4691295274548167167/posts/default/5106054968460910022'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4691295274548167167/posts/default/5106054968460910022'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nuimhidayat.blogspot.com/2009/11/politik-dan-pendidikan-islam.html' title='Politik dan Pendidikan Islam'/><author><name>Nuim Hidayat</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04748613359481249234</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='22' src='http://2.bp.blogspot.com/_5sXuNmRv_aA/SXrAMvDXeaI/AAAAAAAAAAM/KQ9cesHTMeQ/S220/FOTO+1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_5sXuNmRv_aA/SvFPOoy8x4I/AAAAAAAAAD0/8_-J5Wre7Xk/s72-c/images.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4691295274548167167.post-1059035502499936100</id><published>2009-10-07T21:54:00.000-07:00</published><updated>2009-10-09T00:44:45.679-07:00</updated><title type='text'>“Walaupun Puyuh Mencuri Sayap Elang, Dia tak Bisa Terbang”</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_5sXuNmRv_aA/Ss7p2-9Aq0I/AAAAAAAAADs/oS1Jbf9AfaY/s1600-h/Buckeye%2520Hawk-right%2520side1-840.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 202px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_5sXuNmRv_aA/Ss7p2-9Aq0I/AAAAAAAAADs/oS1Jbf9AfaY/s320/Buckeye%2520Hawk-right%2520side1-840.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5390502934830164802" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Prof. Dr. Wan Mohd Nor bin Wan Daud &lt;br /&gt;(Peneliti Utama, Institut Alam dan Tamadun Melayu, Universiti Kebangsaan Malaysia, ATMA-UKM ): &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Walaupun Puyuh Mencuri Sayap Elang, Dia tak Bisa Terbang” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak banyak profesor yang mudah ditemui dan senang diajak berbincang dengan para mahasiswa. Prof Wan Daud adalah salah satu pengecualian. Di kamar kerjanya sekarang, ATMA-UKM –setelah lebih lima tahun terpaksa meninggalkan ISTAC— hampir tiap hari ia menerima tamu. Mulai dari yang memberi pertanyaan, mengadukan masalah atau yang ingin silaturrahim untuk berdiskusi. Tamu yang datang pun bervariasi, mulai dari profesor, doktor, mahasiswa biasa atau tokoh-tokoh ketua perhimpunan mahasiswa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbincang dengan Prof Wan, seperti berbincang dengan sahabat dekat. Ia akan melayani, menjawab pertanyaan-pertanyaan dan berdiskusi dengan kita dengan riang gembira. Mungkin karena kepribadiannya yang menarik itulah, maka Prof Naquib al Attas jatuh hati padanya mengajak bersama untuk membangun ISTAC (International Institute of Islamic Thought and Civilization), 1988. Prof Wan Daud pun menyambut ajakan ini dengan tangan terbuka. Karena ini adalah proyek besar yang berniyat untuk menjayakan pemikiran dan peradaban Islam semula. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi takdir berkehendak lain. Setelah membangun dan mengelola ISTAC selama lebih kurang 15 tahun, Prof Naquib dan Prof Wan Daud dipaksa hengkang dari ISTAC. .Kini Prof Naquib banyak di rumah membuat karya dan memberikan kursus-kursus tentang Islam dan Prof Wan pindah ke ATMA-UKM, melanjutkan kepeduliannya membina para mahasiswa, khususnya tingkat master dan doktoral. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain banyak berdiskusi dan membimbing para mahasiswa, Prof Wan juga kini sibuk menulis. Ia kini sedang mempersiapkan tiga buku, yang diharapkan dapat terbit tahun ini atau tahun depan. Yaitu buku tentang tanggapan/tulisan para tokoh atau murid-murid tentang Prof Naquib Al Attas, buku tentang aliran-aliran filsafat yang menghancurkan ilmu pengetahuan dan buku tentang syarah ar Raniri, Aqaid an Nasafi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prof Wan Daud lahir di Kelantan pada 23 Desember 1955. Ia menyelesaikan sarjana mudanya jurusan Ilmu Biologi dan masternyajurusan pendidikan di Notthern Illinois University, AS. Gelar PhD-nya diraih di The University of Chicago. Selama studi di Amerika, ia aktif dalam kegiatan-kegiatan mahasiswa Islam. Ia pernah menjadi “President of the National Malaysian Islamic Study Group” dan “President of Muslim Student Association of USA and Canada”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki beristri satu dan mempunyai anak empat ini, telah menulis lebih dari 12 buku dan monograph. Ia juga telah menulis lebih dari 30 makalah-makalah akademik yang serius yang dimuat dalam jurnal nasional dan internasional. Di antara buku-bukunya yang telah diterbitkan adalah: The Concept of Knowledge in Islam: Its Implications for Education in Developing Country, The Beacon on the Crest of Hill, Penjelasan Budaya Ilmu, Pembangunan Malaysia: Ke Arah Satu Pemahaman Baru yang Lebih Sempurna, The Educational Philosophy and Practice of Syed Muhammad Naquib al Attas: An Exposition of the Original Concept of Islamization, Mutiara Taman Adabi: Sebuah Puisi Mengenai Agama, Filsafat dan Masyarakat dan lain-lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini, selain banyak menjadi nara sumber atau penceramah tentang Islamisasi, filsafat Islam, pendidikan Islam dan tamadun Islam, Melayu dan Barat di berbagai Negara, seperti Amerika, Inggris, Rusia, Pakistan, Rusia, Turki, Afrika Selatan, Singapura dan Indonesia, Prof Wan juga sering diminta untuk menjadi pembicara tentang kepemimpinan. Bulan Juni 2009 lalu, ia diminta IDB (Islamic Development Bank) dan universitas-universitas di Timteng, untuk memberikan pelatihan bagi para pemimpin perbankan/profesional, dosen-dosen, mahasiswa-mahasiswa di Jedah dan Bahrain. Ia juga banyak memberikan pelatihan kepemimpinan di negerinya sendiri, Malaysia. Bukunya terbaru yang ditulis bersama dengan Prof. Naquib Alatas: The ICLIF Leadership Competency Model (LCM): an Islamic Alternative, menjadi buku panduan untuk pelatihan itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut adalah petikan wawancara dari koresponden Hidayatullah di Malaysia, Nuim Hidayat, yang mewawancarai Prof Wan Daud di kantornya ATMA-UKM, Bangi-Selangor, Malaysia: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menggulirkan Islamisasi, mengapa Anda dan Prof Al Attas secara bersamaan mengeluarkan buku tentang Leadership ini? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama sekali kita katakan, bahwa islamisasi dalam bentuknya yang paling intensif berlaku pada pribadi. Apabila pribadi itu mau diislamkan, maka aspek pertama yang diislamkanya adalah akal pikirannya. Apabila alam pikriannya tidak dikuasai dengan pandangan alam Islami, maka tindak-tanduknya, akhlaknya baik di tingkat pribadi maupun sosial atau di tingkat negara atau global tidak akan dapat dibentuk mengikut kehendak Islam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan akal pikiran seseorang itu dibentuk melalui ilmu pengetahuan. Dalam Al Qur’an penekanan terhadap ilmu pengetahuan ini adalah cukup fundamental. Menurut Prof Hamidullah dan banyak pengkaji lainnya, bahwa setelah nama-nama Allah yang paling banyak disebut Al Qur’an, maka setelah itu banyak disebut kata yang berkait dengan ilmu pengetahuan, makna-maknanya dan contoh-contohnya. Seperti ungkapan, ya’lamun, ya’qilun, yatafakkarun, dan sebagainya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat-ayat ini banyak ayat Makiyyah. Maknanya ini adalah pembinaan pada generasi pertama. Yakni untuk mempersiapkan kepemimpinan umat masa itu dan juga kepemimpinan umat mendatang. Mereka yang akan menjadi pemimpin dan pengikut yang bijak. Sehingga kemudian ketika di Madinah, ilmu menjadi budaya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Perang Badar saja, ada satu kaidah perang yang penting, yang digunakan oleh Rasulullah saw. Bahwa Rasulullah memberikan syarat pembebasan tawanan pada siapa-siapa yang bisa mendidik sepuluh umat Islam. Maka di sini pendidikan itu adalah ‘resiko politik’, di mana Rasulullah membebaskan tawanan yang paling pandai. Biasanya di zaman sekarang, tawanan yang paling pandai itu dipenjarakan dalam waktu yang lama. Tetapi bagi Rasulullah, bila seorang paling pandai bisa mendidik sepuluh orang, maka keuntungan bagi umat Islam sepuluh kali lipat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada buku Prof Naquib al Attas, yang cukup terkenal dan monumental, yaitu Islam and Secularism. Ia menyebut bahwa masalah umat Islam yang paling fundamental bukanlah ekonomi, ketentaraan/militer, politik, sains --walaupun itu adalah masalah yang penting-- tapi masalah fundamental yang menimbulkan berbagai masalah ini, adalah kekeliruan dan kekacauan ilmu pengetahuan yang berakhir pada kehilangan adab umat Islam. Kehilangan adab dan kekeliruan ilmu pengetahuan ini melahirkan kepemimpinan yang salah dalam semua bidang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka sebenarnya permulaannya kita diminta oleh Direktur Eksekutif ICLIF (The International Centre for Leadership in Finance, Kuala Lumpur), Datuk Rafiah binti Salim yang kemudian dia diangkat pemerintah Malaysia mejadi rektor wanita pertama di Universiti Malaya. Dia meminta kita menulis buku tentang leadership itu. Selepas 3-4 bulan minta penulisan itu, dia dilantik menjadi rektor di Universiti Malaya. Jadi dia tidak sempat ‘melihat’ buku ini, walaupun tentu dia tentu dapat buku ini kemudian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini sebenarnya merupakan satu proses natural dalam proses Islamisasi yang kita gulirkan bersama. Sesungguhnya kita tidak mengira akan melahirkan buku leadership itu secepat ini, kalau tidak diminta oleh Datuk Rafiah itu. Bisa jadi tidak tidak tahun 2007 terbit, mungkin tahun depan. Jadi dia datang lebih awal sedikit dari semula yang kita rencanakan. Karena dalam kehidupan ini sering tidak mengikut jadwal yang kita rencanakan. Hidup mati kita juga begitu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi dari segi proses Islamisasi, penerbitan buku ini adalah natural. Karena masalah kita sekarang adalah belum cukupnya para pemimpin yang benar di segala bidang. Banyak kepemimpinan bidang ekonomi, sosial, pendidikan, agama dan politik yang tidak menepati kehendak alam Islam dan akhlak yang mulia. Ini karena Confusion of Knowledge (kekacauan ilmu pengetahuan). Confusion of Knowledge ini disebabkan karena hilangnya adab. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi tidak ada upaya untuk meletakkan sesuatu di tempat yang betul. Sebab umat Islam ini bukan tidak ada resources (sumber daya). Bukan tidak ada minyak, tidak ada kekayaaan, fasilitas, ilmu dan sebagainya, tapi masalahnya itu semua tidak digunakan secara betul. Misalnya kini, tokoh non Muslimdigunakan sebagai rujukan utama dalam kajian Islam atau dalam bidang politik seorang penyanyi atau pelawak diminta untuk menjadi pemimpin politik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana sifat kepemimpinan itu? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu diingat, bahwa dalam Islam, kepemimpinanan bukanlah.bersifat satu dimensi. Pertama sekali kepemimpinan itu adalah satu kualitas insaniyah. Seseorang itu harus bisa memimpin dirinya. Bermakna, bagaimana dia memimpin jiwa aqlinya, memimpin jiwa badaninya, nafsunya, syahwatnya atau marahnya. Karena itu ini ada kaitannya dengan ilmu dan adab/akhlak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau dia ada ilmu tentang dirinya, tentang ilmu aqidah, halal haram, maka dia bisa mengontrol secara rasional kehendak hewaninya dalam dirinya itu. Kehendak hewani bukan harus dimatikan, tapi perlu dikontrol. Sebab kita perlu ada rasa syahwat, kalau tidak kita tidak punya anak. Perlu ada marah, sehingga bisa berjuang, berjihad di jalan yang benar. Juga berani menyatakan yang benar. Karena menyatakan yang benar ini adalah manifestasi dari rasa marah itu. Cuma jangan marah selalu. Juga jangan syahwat selalu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepemimpinan bersifat multidimensi (lintas sektoral) ini contohnya, pemimpin dalam bidang politik maka dia juga pemimpin keluarganya. Banyak keputusan politik, ditentukan oleh keluarganya yang tidak dipilih oleh rakyat. Jadi dia tidak bisa memimpin rakyat, kalau dia tidak bisa memimpin keluarganya itu. Banyak kita tahu bahwa pemimpin dalam bidang, perbankan, politik, universitas contohnya, memutuskan pelantikan atau pengangkatan seseorang, kadang-kadang ditentukan di rumahnya. Oleh suaminya, oleh anaknya atau istrinya. Begitu juga ketika seseorang memimpin universitas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka kepemimpinan dalam ekonomi ada hubungannya dengan politik. Politik ada hubungannya dengan keluarga. Semuanya interrelated. Walaupun kita targetkan misalnya mendidik golongan-golongan pemimpin perbankan, profesional, maka prinsip-prinsip, contoh-contoh tidak hanya dari perbankan. Malah kita rujuk kepada Al Qur’an, Hadits, sejarah Rasulullah, sahabat dan para ulama-ulama yang kemudian. Para pemimpin di masa Utsmani, Mughol, Safawi, Andalusia, Melayu dan lain-lain. Jadi pendidikan kepemimpinan itu bukan khusus untuk para peniaga, meskipun mereka terlibat dalam pernigaaan, keuangan dan sebagainya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malah bila saya hadiri kursus-kursus di antara para pemimpin-pemimpin bank ini, mereka juga tidak menggunakan contoh-contoh dalam budang ekonomi saja. Mereka menggunakan contoh dalam bidang tentara, militer. Seperti Sun Tzu dalam The Art of War atau menggunakan Strategy of Jengis Khan dan sebagainya. Di mana tokoh-tokoh ini bukan seorang ekonom, tapi seorang tentara. Mereka juga menggunakan contoh sang Budha. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi dalam training-traing tertinggi golongan direktur/manajer industri keuangan itu, mereka merujuk bukan hanya tentang ekonomi, tapi juga tentang hal-hal yang personal atau global. The Art of War misalnya, walaupun ditulis lebih dari 2000 tahun yang lalu, dimana isinya banyak tentang peperangan, tapi digunakan untuk ‘analogi’ pengurusan ekonomi, sosial dan lain-lain. Karena leadership memang begitu. Ia interrelated. Buku Niccollo Machiavelli, The Prince juga digunakan. Karena banyak asas kepemimpinan, peniagaan, dll. sekarang ini adalah Machiavellian. Padahal Machiavelli berbicara dalam konteks politik, yang banyak dibaca orang politik juga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa saja karakter-karakter dasar yang mesti dimiliki seorang pemimpin? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemimpin itu dalam konteks Islam harus memahami dan menghayati worldview Islam. Worlview Islam adalah pandangan Islam yang sebenarnya harus terwujud dalam diri manusia (Muslim). Tentang tuhan, ruh, alam, manusia dan seterusnya. Tentang hakekat manusia, bahwa dia dijadikan, tidak kekal. Ada alam akhirat setelah alam dunia ini. Juga tentang arti kekuasaan, ilmu pengetahuan dan kebahagiaan. Ini akan membentuk worlview Islam pada diri seseorang (pemimpin). Sehingga tidak dikelirukan oleh worldview lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kita tahu beberapa tahun belakangan ini, pandangan alam Islam itu telah dikelirukan. Dengan unsur-unsur sekuler yang sekarang ini marak, dengan kejahilan umat Islam sendiri, dengan kaidah-kaidah yang salah dalam memahami teks-teks Al Qur’an dan Hadits dan sejenisnya. Bila hal-hal seperti ini berlaku maka worlview berubah. Bila worldview berubah, tujuan berubah. Motivasinya, kaidahnya juga berubah. Dia menjadi bukan lagi Islami. Meskipun tak sepenuhnya anti Islami. Tapi Islami dari segi komperehensif, tidak mewujud dalam dirinya. Maknanya bila pemahaman Islamnya komperehensif dan clear, walaupun dia buat silap (kesalahan), dia tahu itu suatu kesalahan, maka dia akan bertobat. Dia tahu jalan untuk memperbaikinya. Karena worlview itu telah jelas dalam dirinya. Tapi kalau worldview itu kelitu, maka dia tidak tahu kalau yang dia buat itu salah. Karena dia tidak tahu benarnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contohnya dalam ekonomi dan perbankan Islam. Riba itu haram. Jelas riba itu haram. Tapi persoalan dalam Islam, bukan hanya riba, tapi juga pengentasan kemiskinan. Bank Islam harus dapat mengentaskan kemiskinan. Ini hanya satu contoh kecil saja. Bagaimana telah berlaku kekeliruan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga dalam kepemimpinan politik Muslim.Bukan hanya pemimpin menjaga bidang ekonomi, perniagaan atau kesejahteraan. Tapi penjagaan terhadap jiwa dan akhlak rakyat, terhadap keselamatan yaumil akhirah haruslah dibuat dengan baik. Para pemimpin di bidang itu kini tak berbuat sewajarnya. Dianggap bahwa pembangunan ekonomi itu yang paling tinggi. Dalam Islam, ekonomi tentu tak dikecilkan. Kita harus menjada harta kita, menjaga keluarga, menjaga negara kita, tapi semua adalah alat untuk kemajuan rohani dan ukhrawi. Tapi sekarang justru yang rohani dan ukhrawi ini ditepikan. Bukan dibuat sebagai kebijakan utama. Ekonomi yang dinomorsatukan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks sekarang, misalnya krisis ekonomi yang berlangsung sekarang. Bila perusahaan itu bangkrut, apakah manajer/direktur mau dikurangi pendapatannya? Perusahaan mengalami kerugian, ramai pekerja-pekerja yang dipecat, tapi ia (manajer) itu tidak mau rugi. Mereka tidak mau mengeluarkan uangnya atau dipotong gajinya. Sebab ia hanya melihat dari segi kontrak saja. Kontrak dengan pekerjanya bisa dibatalkan setiap waktu, sedang kan kontrak dia nggak mau diapa-apakan. Maka disini bukan kontrak itu yang terpenting, tapi segi maslahat ia lupakan. Hilang sifat ihsan, sifat kasih sayang kepada manusia lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam buku ini juga kita paparkan bagaimana contohnya orang yang paling praktikal macam para sahabat yang menjadi khalifah sebagai teladan. Misalnya.Jendral Abdullah bin Husain. Dia seorang jendral dalam sejarah Islam. Dulu jenderal itu orang yang mengerti hal-hal yang praktis (paktikal). Tapi dia menulis surat kepada anaknya, agar ingat kepada Allah SWT, ingat hari pembalasan, orang miskin dan sebagainya. Apabila kita bicara dengan jenderal sekarang, bagaimana? Jenderal sekarang ini, bukan praktikal. Kalau dulu mereka maju perang, kalau kalah ditebas kepala mereka. Contoh-contoh yang disebutkan dalam buku itu adalah bagaimana hal-hal ukhrawi, imani, akhlaki itu mejadi pendorong utama bagi hal-hal duniawi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh Sayyidina Ali. Dia orang yang sangat praktikal. Tapi dalam surat ke gubernurnya, ia sangat menekankan hal-hal yang bersifat ukhrawi, imani, dan lain-lainl. Ibnu Sina, juga seorang yang praktikal (ahli kedokteran), dia menekankan pada ilmu, pada shalat nawafil dll. Dalam kaidah Islam ada satu kesatuan yang saling menyokong (ukhrawi duniawi). Sekarang ini telah banyak dikelirukan. Maka contohnya bila kita bercakap tentang keilmuan, pemikiran, itu praktikal dan logical. Orang dulu sebenarnya lebih pratikal dari orang sekarang. Mereka political juga. Aqidah, pandangan alam Islam ini teoritikal. Tapi teoritikal yang terkait langsung dengan paktik. Sekarang telah berlaku dualisme, tentang hal-hal yang berkaitan dengan aqidah, terpisah dengan hal-hal keuangan, politik, dsbnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana adab yang dimiliki seorang pemimpin? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adab yang dimaksudkan di sini adalah disiplin aqli, rohani dan fisik. Di mana seseorang itu menempatkan sesuatu di tempatnya yang betul, mengikut sistem Islam. Sehingga dia menempatkan Allah sebagai Tuhan di tempat yang sebenarnya. Tujuan adab sebenarnya adalah menjadikan seseorang itu menjadi ibadurrahman, menjadi muslim yang terbaik. Allah diletakkan pada tujuan pertama, bukan tujuan kedua atau ketiga. Sekarang ini kalau pemilihan umum, orang berjanji ke masyarakat, setelah pemilu lupa kepada tujuan awalnya itu. Jadi Allah dia gunakan untuk mendapatkan dunia. Kekuatan kepemimpinan akan berlaku, selama adabnya betul. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contohnya bila seorang Muslim menjadikan Nabi sebagai contoh yang paling utama, dan juga para sahabatnya, maka keteladanan itu harus dioperasionalkan. Tapi karena sekarang ini adab berlalu, Nabi dan para sahabatnya dianggap sebagai out of date. Mereka lebih suka menggunakan Sun Tzu, Jengis Khan, yang tokoh-tokoh ini --memang boleh digunakan contoh (hikmah)-- tapi jangan dikatakan bahwa Nabi dan sahabat-sahabatnya itu out of date. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau kita lebih baik meneladani tokoh-tokoh ulama lain, seperti ulama-ulama Melayu. Syekh Yusuf Makarsari, Syekh Ar Raniri, Raja Ali Haji dsb nya. Sebab dalam politik Islam, tempat-tempat mereka ini bukan dibatasi oleh sejarah. Kita berprinsip bahwa siapa-siapa yang baik, mereka akan tetap baik (diteladani). Walaupun ada unsur-unsur pada dirinya atau pemikirannya yang mungkin saat ini boleh berubah. Seperti apa yang mereka pakai, dia makan dsbnya. Tapi akhlaknya itu tetap bisa diteladani. Juga bisa diteladani tentang keadilannya, kesabaran, keberanian, tawadhunya dll. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehilangan adab juga menyebabkan jatuhnya kepemimpinan. Dia mungkin baik-baik, tapi karena kelemahan kecil, ia dijatuhkan oleh kawannya yang tidak ada adab. Dia adianggap sebagai orang yang konservatif, out of date, tidak progresif. Padahal ulama-ulama itulah yang mau agar Melayu maju dari dulu sampai dengan sekarang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengki juga mengakitbatkan kehilanga adab. Bagaimana dia berdengki kepada seorang pemimpin yang telah berjaya. Pemimpin itu misalnya mau menyatukan umat, menjayakan umat, ada di antara mereka yang dengki. Mestinya pemimpin seperti itu ditempatkan di tempat yang betul. Dia mestinya didukung. Tapi kadang-kadang adayang membuat fitnah-fitnah untuk menjatuhkan dia. Kita boleh menasihati dia kalau tidak setuju, bukan buat fitnah. Seorang pemimpin kalau zalim sekalipun, tentu kita tidak membenarkan kezalimannya, kita harus ikut dia. Tapi dia harus terus dinasihati. Atau kalau diganti harus dengan cara-cara yang bijak. Kalau kita jatuhkan dia, bukan tidak mungkin yang naik nanti akan buat kezaliman yang lain. Ini akan menimbulkan khawarij. Khawarijme ini akan menimbulkan ketidakstabilan dalam bidang politik. Karena tidak ada pemimpin yang tidak buat kesalahan. Dan bila berlaku instability maka akan berlaku kezaliman yang lebih merusak lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu bagi Prof Naqib, untuk mengembabalikan budaya ilmu, budaya Islam harus berpegang pada adab. Kita harus me-refer kepada Rasulullah. Kepada ulama seperti Imam al Ghazali misalnya. Kalau al Ghazali dikecam juga, kita nanti akan merujuk pada orang-orang yang salah yang tidak berbuat apa-apa kepada Islam. Walaupun mungkin al Ghazali buat kesalahan, kesalahan yang ia buat kecil, sedangkan orang-orang yang jadi rujukan para pengecam al Ghazali itu, justru membuat kesalahan-kesalahan yang lebih besar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adab itu adalah satu syarat untuk mengembalikan kepada kepemimpinan dan intelektual masyarakat Islam. Jadi kita harus merujuk pada pemimpin yang sesuai, pemimpin ini tidak ramai. Kalau banyak orang nggak betul, maka seorang pemimpin pun cukup. Misalnya adalam bola, ada Maradona. Maka tidak banyak orang seperti Maradona. Dan Maradona harus ditempatkan sebagai pemain utama, kalau dia dibuat sebagai pemain sampingan maka tak berfungsi Maradona itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang seperti itu tak ramai, tapi harus diberikan peranannya yang utama. Kalau orang yang hebat itu ramai, maka dia bukan orang hebat. Sifat ketokohan tertinggi itu tidak ramai. Imam Syafii seorang saja. Juga Imam Malik. Tapi pembangunan tamadun di Andalusia itu, meskipun pemain-pemainnya ramai, tapi mereka semuanya bermazhab Maliki, walaupun mereka tidak bersetuju dengan semua yang Imam Malik katakan, tapi mereka menghormati Imam Malik itu. Begitu juga ketika masa Utsmani.. Di Anatolia Turki, mereka bermazhab pada Imam Hanafi, dari segi teologi mereka bermazhab Imam Maturidi. Kita boleh berbeda, boleh ada perubahan, tapi mesti ada respek. Seperti orang Melayu ini, orang Jawa, Batak, Malaka, tapi hampir semuanya bermazhab Syafii. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syekh ar Raniri misalnya membuat syarah an Nasafi. An Nasafi itu madzhabnya Maturdii. Raniri memuji Nasafi dan Taftazani (yang membuat syarah an Nasafi), tapi dia juga mengatakan bahwa dalam beberapa hal, Imam Syafii lebih hampir kepada kebenaran. Maka kalau ada orang menyatakan bahwa mazhab ini memecah belah umat Islam itu salah. Dalam bidang aqidah, ulama besar-besar merujuk pada ulama-ulama besar dari mazhab lain juga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana memulai lagi, menumbuhkan pemimpin-pemimpin baru? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama sekali umat Islam harus bangkit dengan pandangan alam Islami yang tadi. Kita tentu tak bisa mengharapkan kesempurnaan. Karena kesempurnaan itu hanya pada Nabi saja. Dan para pemimpin kita harus menerima nasihat-nasihat, karena mereka juga tidak sempurna. Kita harus mengenal pasti siapa di antara umat Islam itu yang memancarkan pandangan alam Islam ini. Dan juga akhlaknya dan juga kewibawaannya untuk memimpin, sehingga orang lain memahami. Kalau orang nggak memahami dia sebagai pemimpin, maka ia tidak boleh memimpin. Jadi harus ada kecakapan memimpin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya kepahaman dia (tentang Islam) tidak begitu mendalam, tapi dia mempunyai kecakapan memimpin dan akhlak yang baik, maka dia harus memimpin. Untuk meningkatkan pemahaman ini, maka dia harus konsultasi atau meminta nasihat yang lebih ahli. Inilah juga yang diharapkan Imam al Ghazali, Taftazani dan ar Raniri. Tak semestinya bahwa setiap pemimpin itu adalah orang yang paling baik dalam pemahaman dan dalam akhlak sekalipun. Tapi dia harus orang yang paling cakap mempimpin. Dia harus mengenali dirinya itu dan berkonsutasi dengan tokoh-tokoh yang lebih berwibawa. Dia harus mendengar nasihat-nasihat itu. Kalau tidak dia akan membenarkan kejahatan, membenarkan kezaliman. Kalau pemimpin itu membenarkan kejahatan, kezaliman dia boleh diberi sanksi dan dia boleh bertobat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Taubat adalah kesadaran aqliyah dan rohaniyah tentang apa-apa yang telah dilakukannya. Taubat adalah karena dia tahu perbuatannya salah.Tapi kalau dia justifikasi bahwa dia tidak bersalah, maka dia merasa tobat tak perlu lagi. Dia merasa benar, malah yang benar dia anggap salah. Dalam teks aqidah ar Raniri dia katakan: Raja yang zalim, dia boleh memegang kepemimpinan. Tapi bila raja itu berbuat yang menjatuhkan imannya, menyatakan bahwa babi itu halal, arak itu halal, itu kufur, maka dia boleh dijatuhkan. Kalau dalam demokrasi dia boleh dijatuhkan dalam pemilu atau impeachment. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam umat Islam sekarang ini, ketidakstabilan berlaku, karena terlalu banyak pertukaran pemimpin. Padahal dia membuat kesalahan-kesalahan yang tidak fundamental. Duit yang diguakan dalam demokrasi ini begitu besar. Lebih mahal dari pembinaan manusia yang berkualitas, lebih mahal dari pembinaan rumah-rumah rakyat kecil yang diperlukan. Duit dibuang untuk pemilu. Inti demokrasi untuk membangun rakyat, kesejahteraannya, sekarang berubah, intinya adalah proses. Hanya pada proses, tak mengira pada perubahan yang terjadi. Ini bukan suatu tindakan yang bijak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, pandangan alam Islami ini harus dipahami lebih mendalam, baik di masyarakat level paling atas maupun tingkat paling bawah. Peningkatan pemahaman worldview ini harus dimulai dari level atas. Sebab rakyat awam mengikut golongan yang paling atas. Kalau dia benar sekalipun, kalau golongan atas tak melakukan, maka kebenaran itu biasanya akan dinafikan. Karena itu, kata Prof Naquib, perubahan yang paling strategis adalah prubahan di level atas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu perubahan yang terpenting adalah perubahan pendidikan di tingkat tertinggi. S3, S2, S1. Ini bukan bersifat elitis yang negaitif, tapi elitis yang strategik. Pendidikan juga mengubah orang dewasa dahulu. Yakni kalau orang dewasa telah berubah, maka anak-anak akan berubah. Tapi alau anak-anak berubah, orang-orang tua atau dewasa tidak berubah, perubahan akan kecil maknanya. Anak-anak shalat, bapaknya tidak shalat. Lama-lama anaknya tidak shalat. Itu kaidah Ilahi juga, Semua anbiya’ diturunkan untuk orang-orang dewasa. Dan mereka menyadarkan pemimpin-pemimpn politik tertinggi saat itu. Karena itu kita mendirikan ISTAC dulu, juga Prof Naquib ketika tahun 70-an Seminar di Mekkah tentang Pendidikan, mengingatkan tentang pentingnya Universitas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila universitas telah dibereskan, maka sekolah-sekolah menengah juga akan beres. Sebab guru-guru sekolah menengah dari universitas juga, pegawai-pegawai keuangan juga universitas, paling kurang S1. Kalau fokus di level bawah, maka perubahan itu tidak akan berlaku dengan sebaik-baiknya. Orang-orang Barat faham akan hal itu. Mereka tidak menggarap SD, atau sekolah menengah, tapi menggarap di tingkat universitas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nampaknya dunia Islam tidak serius dalam menggarap pendidikan tinggi ini? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan tidak serius, pendidikan tinggi ini paling sulit. Untuk mendidik orang-orang yang pintar ini paling sukar. Karena itulah kita memerlukan leadership, intelektual yang pintar itu. Diberikan pinjaman untuk mahasiswa, juga dididik keberaniannya dan lain-lain. Tapi tentu harus dipikirkan semuanya. Pendidikan di tingkat bawah atau menengah juga Ok digarap. Tapi jangan pikir itu sudah selesai. Sebab semuanya menjurus ke atas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah umat ini bukan karena SDM yang tidak bagus, tapi karena kepemimpinan yang tidak bagus. Mereka mungkin pergi shalat, umrah, pakai jilbab, tapi worldviewnya bagaimana. Juga akhlaknya. Dia pikir selesai pergi ke masjid dapat pahala. Jangan diperentengkan pahala itu. Jadi ada ibadah-ibadah fardi/ individu yag mungkin bisa dilaksanakan, tapi yang ijtimai/kemsyarakatan ini mesti harus dilaksanakan secara serius. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa Barat ramai atau serius memperhatikan masalah universitas ini? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka ramai (serius) karena mereka telah mengenal pasti masalah itu. Mereka tahu petanya dimana. Dalam kehidupan kita kalau banyak tokoh alhamdulillah. Tapi persoalannya tokoh itu sedikit, dan dari sedikit ini apa yang telah kita lakukan. Jadi kalau yang sedikit tokoh ini diabaikan, tak diberi kesempatan, maka tak akan jadi ramai. Sebab siapa yang akan belajar kepada dia? Sebab dia ditutup, dibungkus. Jadi pertama cari dulu tokoh yang ada, kemudian kasih posisi. Sehigga dia ada peluang untuk mendidik dan mengajar. Sehingga nanti akan jadi ramai murid-muridnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka persoalan yang paling awal, siapakah dalam bidang-bidang itu yang paling berwibawa? Yang mempunyai integritas. Tapi masalahnya jumlah yang sedikit ini tidak diberdayakan. Orang lebih yang rendah ilmu dan kepribadiannya, dipernobatkan diangkat-angkat. Dan mereka ini bila berada di posisi itu, maka ia akan mengecil-ngecilkan yang besar. Kemudian menuduh seorang tokoh ini tak bisa kerjasama dengan orang, angkuh, jahat, anti kerajaan, sufi, pro syiah dan lain-lain, dia menfitnah. Maka dalam buku saya, saya katakan: “Walaupun puyuh mencuri sayap elang, dia tak bisa terbang. Dia tak bisa mengawal kuatnya angin di awan, hatinya sebesar kuman.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi walaupun orang itu diletakkan tinggi-tinggi, menjadi perdana menteri, pengarah/direktur, dia tidak bisa memegang amanah itu. Sebab amanah memerlukan ilmu, keberanian, akhlak dan keadilan. Jadi masalahnya bukan tak ada menteri, profesor, presiden, tapi masalah kecakapan. Macam puyuh tadi. Sehingga akhirnya mereka-mereka ini malah menjadi rayap, hewan yang meruntuhkan bangunan dari dalam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu dalam hadits yang terkenal dikatakan bahwa “Bila Allah murka dalam satu umat, dia akan tarik ilmu dengan mematikan orang-orang yang berilmu dan digantikan dengan orang-orang yang tidak berilmu. Dan orang ini bila diminta pandangan, maka dia menyampaikan pada orang-orang ramai dan pandangannya sesat menyesatkan.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mematikan ilmuwan (ulama) itu bukan hanya maknanya mencabut nyawa ilmuwan itu saja. Ilmuwan yang mati, tapi ilmunya dimanfaatkan, diguna banyak orang, dia masih belum mati. Mati bila ilmu tak digunakan lagi. Seperti Imam Malik dan Imam Ghazali mereka tidak mati, karena ilmunya terus dipergunakan orang sampai sekarang. Tapi bila orang-orang yang tak berilmu memimpin, maka menjadi rusaklah dirinya dan umat juga. Orang yang tak berilmu akan mengatakan yang haram itu halal atau sebaliknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam buku saya yang baru akan terbit nanti, saya mengutip al Ghazali bahwa ada empat kategori orang. Pertama, orang yang tahu bahwa dirinya tahu, ia harus diikuti. Ia harus diperhelangkan (dijadikan semacam burung elang). Yang kedua, orang yang tahu, dia tidak tahu. Ia harus diajari. Semacam kita-kita ini. Yang ketiga, tidak tahu bahwa ia tahu. Ia harus dikejutkan, harus diberi kesadaran. Keempat, ia tidak tahu bahwa dirinya tidak tahu, ia harus ditepikan. Problemnya justru orang yang seperti ini kadang dipernobatkan, padahal ia akan buat banyak masalah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karegori ini penting, agar kita tahu menempatkan orang dimana. Orang yang tahu bahwa dirinya tahu, perlu dipernobatkan. Ar Raniri dan Raja Ali Haji perlu diteladani misalnya, agar rakyat menjadi terbimbing. Tapi kalau ia tidak tahu, hanya menuruti nafsunya, hanya karena keluarganya dari yang berkuasa, bapaknya orang berkuasa, atau ia menjadi menantunya kemudian berkuasa, maka rusaklah rakyat itu. Maka Abdullah Munsyi menyebut, bagaimana personifikasi orang di zamannya, setelah kerajaan Malaka hancur: Belalang disangka elang, cacing disangka ular naga, kutu disangka kura-kura. Jadi terjadi confussion and error. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang menyebut bahwa kepemimpinan yang benar itu adalah kepemimpinan berfikir, bukan kepemimpinan politik, ekonomi, militer, dan lain-lain. Bagaimana pendapat Anda? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengikut Imam Ghazali, ada tiga tipe kepemimpinan. Pertama, kepemimpinan para anbiya’, yang memimpin jiwa dan tubuh manusia. Kedua, kepemimpinan para umara’ yang memimpin tubuh saja. Ketiga kepemimpinan para ulama, yang memimpin jiwa. Bagi al Ghazali dan berlaku umat Islam juga, kepemimpinan yang paling afdhal, selepas Nabi, adalah kepemimpinan ulama. Sebab ulama dalah pewaris anbiya. Walaupun tubuh itu penting, tapi yang terbesar dalam manusia ini adalah jiwanya. Jiwanya bukan untuk hidup duniawi, tapi juga ukhrawi. Kalau boleh kedua-keduanya tentu lebih afdhal. Sebab ada di kalangan umara yang berupaya memimpin jiwanya masyarakat, ilmunya ada. Dan juga ada ulama yang bisa memimpin masyarakat, karena dia pewaris anbiya’ itu. Seperti contohnya para sahabat. Jadi ini bukan tiga kategori yang terpisah. Tapi tak banyaklah orang seperti ini.* &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Petikan wawancara bisa dinikmati di Majalah Hidayatullah, edisi Oktober 2009).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4691295274548167167-1059035502499936100?l=nuimhidayat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nuimhidayat.blogspot.com/feeds/1059035502499936100/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4691295274548167167&amp;postID=1059035502499936100&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4691295274548167167/posts/default/1059035502499936100'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4691295274548167167/posts/default/1059035502499936100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nuimhidayat.blogspot.com/2009/10/walaupun-puyuh-mencuri-sayap-elang-dia.html' title='“Walaupun Puyuh Mencuri Sayap Elang, Dia tak Bisa Terbang”'/><author><name>Nuim Hidayat</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04748613359481249234</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='22' src='http://2.bp.blogspot.com/_5sXuNmRv_aA/SXrAMvDXeaI/AAAAAAAAAAM/KQ9cesHTMeQ/S220/FOTO+1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_5sXuNmRv_aA/Ss7p2-9Aq0I/AAAAAAAAADs/oS1Jbf9AfaY/s72-c/Buckeye%2520Hawk-right%2520side1-840.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4691295274548167167.post-6650871033725630059</id><published>2009-09-01T21:18:00.000-07:00</published><updated>2009-09-01T21:24:36.962-07:00</updated><title type='text'>Ilmu, Adab dan Kejayaan Bangsa</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_5sXuNmRv_aA/Sp3zabP_VpI/AAAAAAAAADk/im6chu9_cwA/s1600-h/Sunset.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_5sXuNmRv_aA/Sp3zabP_VpI/AAAAAAAAADk/im6chu9_cwA/s200/Sunset.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5376721165467211410" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;“Berjuanglah untuk memperoleh pelbagai ilmu dan peliharakan. Wahai pemuda jika kamu dapat menyebarkan ilmu niscaya kamu yang sempurna keperwiraannya. Himpunlah pelbagai kitab yang diciptakan. Allah berfirman kepada Nabi Yahya, peganglah kitab yang diwahyukan serta dengan kesungguhan.” (Syekh Ahmad al Fattani)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1850 Masehi, di Melayu muncullah kitab yang monumental yang ditulis Raja Ali Haji yang ditulis dalam bahasa Arab Melayu yang berjudul Bustan al Katibin. Menurut Prof. Hashim bin Musa dari Universiti Malaya, kitab ini merupakan tulisan paling awal tentang bahasa Melayu yang disusun oleh orang Melayu. Delapan tahun kemudian (1858 M), Raja Ali Haji juga menulis tentang bahasa Melayu, yaitu Pengetahuan Bahasa: Kamus Loghat Melayu Johor, Pahang, Riau dan Lingga. “Sesungguhnya karya-karya tentang bahasa Melayu oleh Raja Ali Haji ini merupakan warisan yang amat berharga yang menjadi penyambung kepada tradisi pengajian bahasa dalam Islam yang bermula sejak zaman awal Islam lagi,”terang Prof Hashim yang memberi pengantar dan memperkenalkan kitab ini. (Bustan al Katibin, Raja Ali Haji, 2005:xiii).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Islam, memang ada keterkaitan yang dalam antara pemahaman bahasa atau ilmu dengan pentauhidan kepada Allah. “Dalam Islam, pengajian bahasa khususnya bahasa Arab dan bahasa penganut Islam yang lain, merupakan ilmu alat untuk mencapai makrifat yaitu mengenali Allah dan seluruh kewujudan, memperteguh keimanan dan ketakwaan, dan menyemai adab kesopanan yang mulia, yang mengandungi antara lain ilmu-imu nahwu (sintaksis), sharaf (morfologi), qawaid (bahasa), mantiq (logika), balaghah (retorik), istidlal (pendalilan), kalam (penghujahan) dan sebagainya,”ungkap Prof. Hashim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kitabnya Bustanul Katibin ini, Raja Ali Haji memulai dengan Muqaddimah dengan judul Fi Fadhilati al ilmu wal aqlu (Kelebihan Ilmu dan Akal). Pertamanya. ia mengutip hadits Rasulullah yang terkenal: “Barangsiapa dikehendaki Allah kebaikan, maka ia diberi pemahaman kepada ilmu agama (ad diin).” Kemudian Ali Haji menyatakan: “Adapun kelebihan akal itu seperti kata hukama husnu haliah, artinya akal itu sebaik-baik perhiasan. Dan lagi kata hukama al fadhlu bil aqli wal adabu la bil ahli wan nasabi, artinya kelebihan itu (pada) akal dan adab dan tiada (bukan) sebab bangsa dan asal.” Maka, terangnya, “Jikalau beberapa pun bangsa jika tiada ilmu dan akal dan adab, ke bawah juga jatuhnya, yakni kehinaan juga diperolehnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini, Ali Haji mengaitkan hubungan yang erat antara ilmu, akal dan adab. Artinya agar akal dan adab seseorang, masyarakat atau bangsa menjadi baik (menjadi unggul), maka mesti diberi ilmu yang benar. Lebih tegas lagi, Ali Haji menyatakan : “Man sa’a adabahu dha’an nasbahu, artinya barangsiapa jahat adabnya sia-sialah bangsanya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, ulama, penasihat raja dan sastrawan dari Riau ini juga menjelaskan tentang tanda-tanda orang berakal. Ia mengungkapkan : ”Dan lagi kata Hukama, bermula itu akal basra’atul fahm, artinya, tanda berakal segera faham dan tahratul aqlu husnul ikhtiar wa dalil li tahu sahbatul ikhtiara, artinya buah akal itu membaikkan ikhtiar, dan tandanya bersahabat dengan orang yang pilihan daripada orang yang baik-baik.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, Ali Haji menunjukkan hubungan ilmu dengan kalam (kalimat/bahasa). ”Adapun kelebihan ilmu wal kalam amat besar sehingganya mengata setengah hukama, segala pekerjaan pedang boleh diperbuat dengan qalam. Adapun pekerjaan-pekerjaan qalam tiada boleh diperbuat dengan pedang, maka ini ibarat yang terlebih sangat nyatanya. Dan beberapa ribu dan laksa pedang yang sudah terhunus, dengan seguris qalam jadi tersarung, terkadang jadi tertangkap dan terikat dengan pedang sekali.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ali Haji menerangkan, apabila seseorang sudah mengetahui kelebihan ilmu, maka ia harus memelihara adab dan syaratnya. ”Adapun syaratnya itu, yaitu antara nafsumu dengan dirimu sendiri. Adapun adabnya itu antaramu dan gurumu.” Lebih lanjut ia menjelaskan lima syarat keberhasilan menuntut ilmu: ”Pertama, al himmat, artinya bersungguh-sungguh hal yang kuat pada hati pada berkehendak mendapat akan ilmu itu. Kedua, al mudarasah, artinya kuat mendaras (mengulang), meskipun sudah dapat akan mafhumnya, hendaklah didaras juga mana-mana ilmu yang sudah dibaca itu. Ketiga, muzakarah, artinya menyebut-nyebut ilmu itu pada yang bersama-sama menuntut mengaji sertanya, barangkali taulan kita itu lupa atau kita sendiri pun lupa juga. Maka tatkala dibawa beringat-ingatan itu menjadi menjadi bertambah-tambah ingatnya. Kelima, mutala’ah, artinya menilik pada ilmu yang sudah kita kaji itu serta memikirkan maknanya dan memikirkan mafhumnya, maka jika dapat maka yaitu yang dituntut. Dan lagi tersangkut pada fikiran kita itu sama ada pada maknanya atau mafhumnya ingatkanlah baik-baik pada tentang yang kita tersangkut itu. Apabila berjumpa dengan taulan kita yang sama pengajian dengan kita itu, maka kita tanyalah kepadanya. Maka jika taulan kita tiada juga boleh menguraikan barang yang kita tersangkut, maka kembalilah pada guru kita bertanyakan yang kita musykilkan itu, insya Allah Taala hasillah maksud kita adanya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Prof. Syed Mohammad Naquib al Attas yang juga diamati oleh Prof. Braginsky (1989,1993), pekerjaan kalam –istilah yang merujuk pada kegiatan penulisan—adalah tonggak kebudayaan Melayu, yang mengakar umbi selepas kedatangan Islam ke rantau ini. Menurut beliau, di bawah pengaruh Islam, orang Melayu mula sadar tentang kewujudan sastera sebagai satu entiti yang utuh, yang menjadi sebahagian integral hidup mereka (lihat Prof. Ungku Maemunah Mohd Tohir, Kritikan Sastera Melayu, Antara Cerita dan Ilmu, 2007).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ulama terkemuka Melayu lainnya, Syekh Ahmad al Fathani (1856-1908 dari Pattani) juga pernah mengirim surat kepada Sultan Zainal Abidin, Sultan Trengganu, agar sultan-sultan berperan aktif dalam menyebarkan ilmu di masyarakat. Ia menulis: ”Aku berharap semoga bangsa Melayu dapat maju dengan pimpinannya dan dapat mencapai kemuncak peradaban kesejahteraan. Aku berharap semoga baginda berkenan menyebarkan ilmu, makrifat dan petunjuk. Lalu baginda menjadi kegembiraan dan rakyat mendapat kejayaan. Agar mereka dapat membukukan bahasa Melayu. Karena aku bimbang ia akan hilang atau dirusak oleh perubahan yang berlaku dari masa ke masa. Begitu pula hendaklah mereka mengarang sejarah Melayu yang meliputi segala perihal orang Melayu. Kalau tidak, mereka nanti akan hilang dalam lipatan sejarah. Wahai para cerdik pandai. Hidupkanlah sejarah bangsamu. Dengan itu kamu akan disebut dalam sejarah dan namamu akan harum sepanjang masa. (lihat plakat Khazanah Fathaniyah oleh Wan Mohd. Shaghir Abdullah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bukunya Hadiqatul Azhar war Rayan, Asas Teori Takmilah Sastera Melayu Islam (terjemah Wan Mohd Shaghir Abdullah, 1998:80) Syekh Ahmad al Fathani menguraikan bab khusus tentang keutamaan ilmu, ahlinya, mengajar dan belajar. Dalam pendahuluan, ia mengutip al Qur’an surat Ali Imran ayat 18 : ”Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan dia (yang berhak disembah), yang menegakkan keadilan. para malaikat dan orang-orang yang berilmu[(juga menyatakan yang demikian itu). Tidak ada Tuhan melainkan dia (yang berhak disembah), yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syekh al Fathani mengomentari ayat ini : ”Maka tilik olehmu, betapa memulai Allah SWT dengan dirinya, dan menduakan dengan Malaikat dan ’menigakan’ dengan ahli ilmu. Maka memadailah akan dikau dengan demikian itu, kelebihan, dan kemuliaan ilmu dan ahlinya.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia juga mengutip pendapat Imam Syafii: ”Bermula menuntut ilmu itu terlebih utama daripada sembahyang sunat. Dan daripadanya juga Imam Syafii berpendapat: ”Barangsiapa tiada kasih (cinta) akan ilmu, tiada kebajikan padanya. Maka janganlah ada antara engkau dan antaranya berkenal-kenalan dan bertolan (bersahabat). Maka bahawasanya, yakni ilmu itu, kehidupan bagi segala hati, dan pelita bagi bashiran, yakni mata hati.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia juga menyatakan : ”Ketahuilah olehmu bahawasanya ahli negeri yang besar-besar yang lain daripada bangsa kita sangat mengamat-amati (berusaha dengan sungguh-sungguh), mereka itu dengan syaan ilmu. Dan bersungguh-sungguh mereka itu mengajarkan dia akan anak-anak mereka itu hingga yang perempuan mereka itu sekalipun. Dan usaha mereka itu sehabis-habis usaha pada memudahkan menuntuti ilmu bagi segala orang yang gemar padanya dengan sekalian jalan...dan membina mereka itu akan beberapa banyak madrasah, iaitu rumah tempat mengajar, dan mengaji segala ilmu dan berbagai-bagai hikmah dan kepandaian yang bergantung dengan dunia dan akhirat mereka itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sultan Ahmad al Fathani juga menulis dalam bukunya itu harapan kepada kepada raja-raja Melayu yang besar diantaranya, Sutan Pattani, Sultan Kelantan, Sultan Trengganu, Sultan Kedah, Sultan Johor dan Sultan Deli, agar : ”Membesarkan segala himmah mereka itu, dan menghadapkan segala inayah mereka itu dan menyungguh-nyungguhkan usaha mereka itu pada bahawa dijadikan segala negeri mereka itu: bendaharaan ilmu, dan perladungan kepandaian, dan membukakan segala mata anak jenis mereka itu: kepada memandang cemerlang kebijakan dan handalan. Supaya ada kemegahan bangsa Melayu antara segala alam dan tertinggi nama mereka itu antara Bani Adam dan bertambah-tambah kelebihan ulama mereka itu atas segala ulama dan bertambah nyata agama mereka itu atas segala agama.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walhasil kita tutup kajian ringkas tentang ulama Melayu ini dengan Gurindam Dua Belas, Raja Ali Haji :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika hendak mengenal orang berbangsa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihat kepada budi dan bahasa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika hendak mengenal orang yang berbahagia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sangat memeliharakan (diri dari) yang sia-sia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika hendak mengenal orang mulia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihatlah kepada kelakuan dia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika hendak mengenal orang yang berilmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bertanya dan belajar tiada jemu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika hendak mengenal orang yang berakal &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam dunia mengambil bekal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika hendak mengenal orang yang baik perangai&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihat pada ketika bercampur dengan orang ramai* (nh)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4691295274548167167-6650871033725630059?l=nuimhidayat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nuimhidayat.blogspot.com/feeds/6650871033725630059/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4691295274548167167&amp;postID=6650871033725630059&amp;isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4691295274548167167/posts/default/6650871033725630059'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4691295274548167167/posts/default/6650871033725630059'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nuimhidayat.blogspot.com/2009/09/ilmu-adab-dan-kejayaan-bangsa.html' title='Ilmu, Adab dan Kejayaan Bangsa'/><author><name>Nuim Hidayat</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04748613359481249234</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='22' src='http://2.bp.blogspot.com/_5sXuNmRv_aA/SXrAMvDXeaI/AAAAAAAAAAM/KQ9cesHTMeQ/S220/FOTO+1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_5sXuNmRv_aA/Sp3zabP_VpI/AAAAAAAAADk/im6chu9_cwA/s72-c/Sunset.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4691295274548167167.post-5455913803927803790</id><published>2009-07-13T22:35:00.000-07:00</published><updated>2009-07-13T22:38:33.563-07:00</updated><title type='text'>Belajarlah, Agar Beradab!</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_5sXuNmRv_aA/SlwZsXp9u_I/AAAAAAAAADc/1ekh27SAfMM/s1600-h/Blue+hills.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_5sXuNmRv_aA/SlwZsXp9u_I/AAAAAAAAADc/1ekh27SAfMM/s200/Blue+hills.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5358185906719013874" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Belajarlah, Agar Beradab!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dr Adian Husaini&lt;br /&gt;Peneliti INSISTS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nuim Hidayat MSi&lt;br /&gt;Peneliti INSISTS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendiri Nahdlatul Ula ma (NU), KH M Hasyim Asy’ari, menulis sebuah buku penting bagi dunia pendidikan. Judulnya, Aadabul ‘Aalim wal Muta’allim Terjemahan har fiahnya: Adab Guru dan Murid. Buku ini membahas tentang konsep adab. Kyai Hasyim Asy’ari membuka kitabnya dengan mengutip ha dits Rasulullah saw: “ Haqqul waladi ‘alaa waalidihi an-yuhsina ismahu, wa yuhsina murdhi’ahu, wa yuhsina adabahu.” (Hak se orang anak atas orang tuanya adalah men da patkan nama yang baik, pengasuhan yang baik, dan adab yang baik).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, mendidik anak agar menjadi orang beradab, seja tinya adalah tugas orang tua. Sebagai institusi pendidikan, sekolah mengambil alih sebagian tugas itu, menggantikan amanah yang dibebankan ke pada orang tua. Tujuannya te tap sama: jadikanlah anak beradab! Adab memang sangatlah penting kedudukannya dalam ajaran Islam. Imam Syafii, imam mazhab yang banyak menjadi panutan kaum Muslim di Indonesia, pernah ditanya, bagaimana upayanya dalam me raih adab? Sang Imam menjawab, bahwa ia selalu mengejar adab laksana seorang ibu yang mencari anak satu-satunya yang hilang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah sebagian penjelasan KH Hasyim Asy’ari tentang makna adab. Menyimak paparannya, maka tidak bisa tidak, kata adab memang merupakan istilah yang khas maknanya dalam Islam. Bahkan, menurutnya, salah satu indikator amal ibadah seseorang diterima atau tidak di sisi Allah SWT adalah tergantung pada sejauh mana aspek adab disertakan dalam setiap amal perbuatan yang dilakukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, apa sebenarnya kon sep adab? Uraian yang lebih rinci tentang konsep adab dalam Islam disampaikan oleh Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas, pakar filsafat dan sejarah Melayu. Menurut Prof. Naquib al-Attas, adab adalah “pengenalan serta pengakuan akan hak keadaan sesuatu dan kedudukan seseorang, dalam rencana susunan berperingkat martabat dan darjat, yang merupakan suatu hakikat yang berlaku dalam tabiat semesta.” Pengenalan adalah ilmu; pengakuan adalah amal. Maka, pengenalan tanpa pengakuan seperti ilmu tanpa amal; dan pengakuan tanpa pengenalan seperti amal tanpa ilmu. “Keduanya sia-sia kerana yang satu mensifatkan keingkaran dan keangkuhan, dan yang satu lagi mensifatkan ketiada sedaran dan kejahilan,” demikian Prof. Naquib al-Attas. (SM Naquib al-Attas, Risalah untuk Kaum Mus limin, (ISTAC, 2001).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pentingnya masalah adab ini, maka bisa dikatakan, jatuh-bangunnya umat Islam, tergantung sejauh mana me reka dapat memahami dan menerapkan konsep adab ini dalam kehidupan mereka. Ma nusia yang beradab terhadap orang lain akan paham bagai mana mengenali dan mengakui seseorang sesuai harkat dan martabatnya. Martabat ulama yang shalih beda dengan mar tabat orang fasik yang durha ka kepada Allah. Jika dikata kan menyebutkan, manusia yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling taqwa, ma ka seorang yang beradab tidak akan lebih menghormat kepa da penguasa yang zalim ketimbang guru ngaji di kampung yang shalih. Itu adab kepada manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adab terkait dengan iman dan ibadah dalam Islam. Adab bukan sekedar “sopan santun”. Jika dimaknai sopan santun, bisa-bisa ada orang yang menuduh Nabi Ibrahim a.s. sebagai orang yang tidak beradab, karena berani menyatakan kepada ayahnya, “Se sungguhnya aku melihatmu dan kaummu berada dalam kesesatan yang nyata.” (QS 6:74). Bisa jadi, jika hanya ber dasarkan sopan santun, tindakan mencegah kemunkaran (nahyu ‘anil munkar) akan dikatakan sebagai tindakan tidak beradab. Padahal, dalam Is lam, adab terkait dengan iman dan ibadah kepada Allah. Ukuran seorang beradab atau tidak ditentukan ber dasarkan ukuran sopansan tun menurut manusia. Seorang yang berjilbab di kolam renang bisa dikatakan ber perilaku tidak sopan, karena semua perenangnya berbikini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adab di Tamadun Melayu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ulama besar dan sastrawan dari Riau, Raja Ali Haji pun telah menyinggung tentang pentingnya akal dan adab. Ia menyatakan kelebihan seorang manusia adalah pada akal dan adab dan bukan pada janis bangsa dan asal. Maka, dalam kitabnya, Bustan al Katibin, yang ditulisnya tahun 1850, ia menyatakan: “Jikalau beberapa pun bangsa jika tiada ilmu dan akal dan adab, ke bawah juga jatuhnya, yakni kehinaan juga diperolehnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka agar seseorang, masyarakat atau bangsa itu menjadi mulia, Ali Haji menasehatkan agar individu-individu itu memahami agama. Sebagaimana hadits Rasulullah saw yang terkenal: “Barang siapa dikehendaki Allah kebaikan, maka ia diberi pemahaman kepada ilmu agama (ad diin).”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembinaan individu yang ber-adab ini juga menjadi perhatian yang serius ulama-ulama Melayu abad 18. Seperti Syekh Abdus Shamad al Palimbani dan Syekh Daud Abdullah Fathani. Syekh Palimbani misalnya menulis Hidayah as Salikin. Kitab ini disusun diantaranya merujuk pada karya-karya Imam al Ghazali Minhajul Abidin, Ihya’ Ulumud Din dan dan al-Ar bain fi Ushul ad Din. Sedangkan karya Syeikh Daud bin Abdul lah al Fathani di antara nya adalah menerjemahkan kitab al Ghazali Bidayah al Hidayah. (Dikutip dari maka lah pakar sejarah Melayu, Wan Mohd Shaghir Abdullah, “Se ja rah Tasawuf dan Perkembangannya di Nusantara”, 2006).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syekh Wan Ahmad al Fathani dari Pattani (1856-1908), dalam kitabnya Hadiqatul Azhar war Rayahin (Terj. Oleh Wan Shaghir), berpesan agar seseorang mempunyai adab, maka ia harus selalu dekat dengan majelis ilmu. Ia menyatakan : “Jadi kan olehmu akan yang sekedudukan engkau itu (majelis) perhimpunan ilmu yang engkau muthalaah akan dia. Su pa ya mengambil guna eng kau daripada segala adab dan hikmah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjabarkan konsep adab Prof. SM Naquib al-Attas, Prof. Wan Mohd. Nor Wan Daud, guru besar Institut Alam dan Tamadun Melayu-Universiti Kebangsaan Malaysia, mencatat, bahwa sedikitnya terdapat 18 entri mengenai ta’dib, addaba dan adab yang bisa dijumpai dalam lebih dari satu buku koleksi hadits. Lihat AJ Wensinck dan JP Mensing, Boncordance Indices de la Tradition Musulmane, 7 jil. (Leiden :EJ Brill, 1943), I :26 ; Nasrat Abdel Rahman, The Semantic of Adab in Arabic, al Syajarah jil.2, No. 2, 1997, hh. 189-207. Dalam artikel ini Prof. Abdel Rahman mengana lisis pelbagai arti perkataan adab dan perkataan yang dide rivasi darinya, khususnya per kataan ta’dib, dari 50 penga rang (penulis) buku berbahasa Arab dan analisis tersebut secara umum menguatkan pemahaman al Attas.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkataan adab, menurut al Attas, memiliki arti yang sangat luas dan mendalam, sebab pada awalnya perkataan adab berarti undangan ke sebuah jamuan makan,yang di dalamnya sudah terkandung ide mengenai hubungan social yang baik dan mulia. Namun adab kemudian digunakan dalam konteks yang terbatas, seperti untuk sesuatu yang merujuk pada kajian kesusastraan dan etika profesional dan kemasyarakatan. Menurut Wan Daud, filosof terkenal, Al Farabi juga mendefinisikan ta’dib sebagai aktivitas yang memproduksi suatu karakter yang bersumber dari sikap moral. Maka, sebenarnya, makna kedua istilah, ta’lim dan tarbiyah telah tercakup di dalam istilah ta’dib. Ibnul Mubarak menyatakan: “Kita lebih memerlukan adab daripada ilmu yang banyak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika adab hilang pada diri seseorang, maka akan mengakibatkan kezaliman, kebodohan dan menuruti hawa nafsu yang merusak. Karena itu, adab mesti ditanamkan pada selu ruh manusia dalam berbagai lapisan, pada murid, guru, pe mimpin rumah tangga, pemimpin bisnis, pemimpin masya rakat dan lainnya. Bagi orang-orang yang memegang institusi, bila tidak terdapat adab, maka akan terjadi kerusakan yang lebih parah. Kata Prof Wan Mohd. Nor: “Gejala penyalahgunaan kuasa, penipu an, pelbagai jenis rasuah, politik uang, pemu baziran, kehilangan keberanian dan keadilan, sikap malas dan ‘sam bil lewa’, kegagalan pemimpin rumah tangga dan sebagainya mencerminkan masalah pokok ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sikap boros dalam menggunakan kekayaan negara adalah sifat yang buruk bagi pemimpin dan dapat berakibat pada pencopotan dari jabatannya. Da lam teks Hikayat Aceh menurut Prof. Wan Mohd Nor (2007), terdapat dua kasus, dimana Sultan Seri Alam yang sangat boros dan Sultan Zainal Abidin yang zalim dimakzulkan dari kursi pemerintahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adab terhadap ilmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, menurut Prof. Wan Mohd. Nor, jika adab hilang pada diri seseorang, maka akan mengakibatkan kezalim an, kebodohan dan menuruti hawa nafsu yang merusak. Ma nusia dikatakan zalim, jika - misalnya - meletakkan sesuatu tidak pada tempatnya. Maka, dengan pemahaman seperti itu, seorang Muslim yang ber adab pasti lebih mencintai dan meng idolakan Nabi Muham mad saw ketimbang manusia manapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia Muslim yang beradab juga akan menghormati sahabat-sahabat nabi dan keluarganya. Begitu juga seorang muslim yang beradab akan lebih menghormati ulama pewaris nabi, ketimbang penguasa yang zalim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu adab penting yang harus dimiliki se orang Muslim adalah adab terhadap ilmu. Saeorang yang ber adab, menurut SM Naquib al-Attas, seorang ber adab haruslah mengenal dera jat ilmu, mana ilmu yang wajib ‘ain (wa jib dimiliki oleh setiap muslim) dan mana yang wajib kifayah (wa jib dimiliki sebagian Muslim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam memandang kedudukan ilmu sangatlah penting, sebagai jalan mengenal Allah dan beribadah ke pada-Nya. Ilmu juga satu-satunya jalan meraih adab. Orang yang berilmu (ulama) adalah pewaris nabi. Karena itu, dalam Bidayatul Hidayah, Imam Al-Ghazali mengingat kan, orang yang mecari ilmu dengan niat yang salah, untuk mencari keuntungan duniawi dan pujian manusia, sama saja dengan menghancurkan agama. Dalam kitabnya, Adabul ‘Alim wal-Muta’allim, KH Hasyim Asy’ari juga mengutip hadits Rasulullah saw: “Barangsiapa mencari ilmu bukan karena Allah atau ia mengharapkan selain keridhaan Allah Ta’ala, maka bersiaplah dia mendapatkan tempat di neraka.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnul Qayyim al-Jauziyah, murid terkemuka Syaikhul Islam Ibn Taimiyah, juga menulis sebuah buku berjudul Al-Ilmu. Beliau mengutip ungkapan Abu Darda’ ra yang menyatakan: “Barang siapa berpendapat bahwa pergi menuntut ilmu bukan merupakan jihad, sesungguhnya ia kurang akalnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Hatim bin Hibban juga meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah ra, yang pernah mendengar Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa masuk ke masjid ku ini untuk belajar kebaikan atau untuk mengajarkannya, maka ia laksana orang yang berjihad di jalan Allah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena begitu mulianya kedudukan ilmu dalam Islam, maka seorang yang beradab tidak akan menyia-nyiakan umurnya untuk menjauhi ilmu, atau mengejar ilmu yang tidak bermanfaat, atau salah niat dalam meraih ilmu. Sebab, akibatnya sangat fatal. Ia tidak akan pernah mengenal Allah, tidak akan pernah meraih kebahagiaan sejati. Sebab, dengan mengenal dan berzikir kepada Allah, maka hati akan menjadi tenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, belajarlah ilmu yang benar! Belajarlah dengan niat yang benar! Jadilah manusia yang adil dan beradab! Ingatlah, nasihat Luqmanul Hakim kepada anaknya: ”Wa hai anak ku, janganlah kamu menserikatkan Allah, sesungguhnya syirik adalah kezaliman yang besar.” (QS 31:13).(-)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamis, 09 Juli 2009 pukul 01:57:00, http://republika.co.id/koran/155/61060/Belajarlah_Agar_Berasab&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4691295274548167167-5455913803927803790?l=nuimhidayat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nuimhidayat.blogspot.com/feeds/5455913803927803790/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4691295274548167167&amp;postID=5455913803927803790&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4691295274548167167/posts/default/5455913803927803790'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4691295274548167167/posts/default/5455913803927803790'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nuimhidayat.blogspot.com/2009/07/belajarlah-agar-beradab.html' title='Belajarlah, Agar Beradab!'/><author><name>Nuim Hidayat</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04748613359481249234</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='22' src='http://2.bp.blogspot.com/_5sXuNmRv_aA/SXrAMvDXeaI/AAAAAAAAAAM/KQ9cesHTMeQ/S220/FOTO+1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_5sXuNmRv_aA/SlwZsXp9u_I/AAAAAAAAADc/1ekh27SAfMM/s72-c/Blue+hills.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4691295274548167167.post-305880188773340370</id><published>2009-07-03T21:38:00.000-07:00</published><updated>2009-07-03T21:52:46.230-07:00</updated><title type='text'>Nasehat Natsir, Al Fatih dan Sayyidina Ali</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_5sXuNmRv_aA/Sk7en3q-t4I/AAAAAAAAADU/R3Byaf7JRZY/s1600-h/Image056.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 150px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_5sXuNmRv_aA/Sk7en3q-t4I/AAAAAAAAADU/R3Byaf7JRZY/s200/Image056.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5354461783530583938" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Nasehat Natsir, Al Fatih dan Sayyidina Ali&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Nuim Hidayat&lt;br /&gt;Peneliti INSISTS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mohammad Natsir lahir di Minangkabau, Sumatera Barat, 17 Juli 1908. Wafat di Jakarta 6 Februari 1993. Ia dididik Islam sejak kecil oleh orang tua dan lingkungannya. Pendidikan formal di HIS Solok, MULO (1923-1927) dan AMS di Bandung (1930). Ia antara lain berguru kepada KH A Hassan, KH Agus Salim dan Syekh Ahmad Syurkati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Natsir beberapa periode pernah menjadi Menteri Penerangan dan Perdana Menteri. Natsir memegang sebagai Ketua Pimpinan Pusat Masyumi pada 1949, 1951, 1952, 1954 dan 1956. Setelah Masyumi dibubarkan, Buya Natsir dengan kawankawannya -tokoh-tokoh Islam Masyumimendirikan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia pada 1967.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika berkiprah di Dewan Dakwah, Natsir melakukan pendidikan dai secara nasional dan sistematis, mendirikan perguruan tinggiperguruan tinggi Islam di luar IAIN, memelopori pendirian pesantren-pesantren di sekitar kampus-kampus umum, mengirimkan dai-dai sekolah ke Timur Tengah dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketokohan Natsir bukan hanya pada tulisan-tulisannya yang bernas dan mence rahkan, tapi juga sejarah hidup dan perjuangan dakwahnya yang mencengangkan. Mulai remaja, dewasa sampai dengan tuanya, kehidupan Natsir penuh dengan keteladanan. Sehingga Mr. Mohammad Roem menyatakan bahwa kalaulah Natsir itu bukan orang yang paling pandai, ia adalah seorang yang terpandai di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam dialognya dengan Amien Rais, Kuntowijoyo dkk pada 1986-1987, Natsir mengkhawatirkan adanya penyakit bangsa Indonesia, termasuk umat Islamnya, yaitu cinta berlebihan kepada dunia. Kata Natsir: “Umat Islam dihinggapi penyakit wahn, yakni dunia yang berlebihan dan takut mengambil risiko. Keadaan semacam ini pernah terjadi dalam sejarah, pada waktu itu para prajurit yang ikut berperang karena tergiur pada harta rampasan perang, lalu karena kelengahan dan kepongahan ini mereka dengan mudah dikalahkan musuh. Hal ini terjadi pada saat Islam mengembangkan sayapnya di daratan Eropa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di negara kita penyakit cinta dunia yang berlebihan itu merupakan gejala yang “baru”, tidak kita jumpai pada masa revolusi, dan bahkan pada masa Orde Lama (kecuali pada sebagian elite masyarakat). Tetapi gejala yang “baru” ini, akhir-akhir ini terasa pesat “perkembangannya”, sehingga seperti sudah menjadi wabah dalam masyarakat. Jika gejala ini dibiarkan berkembang terus, maka bukan saja umat Islam akan dapat mengalami kejadian yang menimpa Islam di Spanyol, tetapi bagi bangsa kita umumnya akan menghadapi persoalan sosial yang cukup serius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyakit cinta dunia ini, dengan demikian, memang bukan semata-mata permasalahan dakwah, yang harus dihadapi para mubaligh dan dai, tetapi sudah merupakan permasalahan nasional. Dalam konteks yang terakhir ini masalahnya menjadi lebih sulit ( complicated) karena bukan saja merupakan masalah ekonomi, tetapi masalah sosial, budaya, dan bahkan politik. Untuk ini terpulanglah kepada para pengambil keputusan untuk mengatasinya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nasehat Natsir ini selaras dengan nasehat Mohammad al Fatih, pemimpin besar Islam yang menaklukkan Konstantinopel menjelang wafatnya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tak lama lagi aku akan menghadap Allah SWT. Namun aku sama sekali tidak merasa menyesal, sebab aku meninggalkan pengganti seperti kamu. Maka jadilah engkau seorang yang adil, saleh dan pengasih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rentangkan perlindunganmu terhadap seluruh rakyatmu tanpa perbedaan. Bekerjalah kamu untuk menyebarkan agama Islam sebab ini merupakan kewajiban raja-raja di bumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedepankan kepentingan agama atas kepentingan lain apapun. Janganlah kamu lemah dan lengah dalam menegakkan agama. Janganlah kamu sekali-kali memakai orang-orang yang tidak peduli agama menjadi pembantumu. Jangan pula kamu mengangkat orang-orang yang tidak menjauhi dosa-dosa besar dan larut dalam kekejian...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh sebab ulama itu laksana kekuatan yang harus ada di dalam raga negeri, maka hormatilah mereka. Jika kamu mendengar ada seorang ulama di negeri lain, ajaklah dia agar datang ke negeri ini dan berilah dia harta kekayaan. Hati-hatilah jangan sampai kamu tertipu dengan harta benda dan jangan pula dengan banyaknya tentara. Jangan sekali-kali kamu mengusir ulama dari pintupintu istanamu. Janganlah kamu sekali-kali melakukan satu hal yang bertentangan dengan hukum Islam. Sebab agama merupakan tujuan kita, hidayah Allah adalah manhaj (pedoman) hidup kita dan dengan agama kita menang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ambillah pelajaran ini dariku. Aku datang ke negeri ini laksana semut kecil, lalu Allah karuniakan kepadaku nikmat yang demikian besar ini. Maka berjalanlah seperti apa yang aku lakukan. Bekerjalah kamu untuk meninggikan agama Allah dan hormatilah ahlinya. Janganlah kamu menghambur-hamburkan harta negara dalam foya-foya dan senang-senang atau kamu pergunakan lebih dari yang sewajarnya. Sebab itu semua merupakan penyebab utama kehancuran.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Patut juga para pemimpin negeri ini mengambil ibrah dari surat-surat Sayyidina Ali r.a. yang sangat berharga. Nasehat khalifah keempat ini adalah surat-surat yang dikirimkannya kepada gubernur Mesir Malik bin Harits al Asytar, pada tahun 655M. Nasihat ini berisi prinsip-prinsip dasar tentang pengelolaan atau manajemen sebuah pemerintahan, organisasi dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Profesor A Korkut Özal dari Turki, pada perkembangan selanjutnya ternyata surat ini memberi banyak inspirasi bahkan menjadi bahan acuan bagi banyak pemimpin, melintasi ruang dan waktu. Tercatat ia mampu melintasi Eropa di masa Renaissance bahkan Edward Powcock (1604-1691), profesor di Universitas Oxford, menerjemahkan surat ini ke dalam bahasa Inggris untuk pertama kalinya dan pada 1639 disebarkan melalui serial kuliahnya yang disebut Rhetoric. Diantara nasehatnya adalah: “Ketahuilah wahai Malik bahwa aku telah mengangkatmu menjadi seorang Gubernur dari sebuah negeri yang dalam sejarahnya berpengalaman dengan pemerintahan-pemerintahan yang benar maupun tidak benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya orang-orang akan melihat segala urusanmu, sebagaimana engkau dahulu melihat urusan para pemimpin sebelummu. Rakyat akan mengawasimu dengan matanya yang tajam, sebagaimana kamu menyoroti pemerintahan sebelumnya juga dengan pandangan yang tajam. Mereka akan bicara tentangmu, sebagaimana kau bicara tentang mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya rakyat akan berkata yang baik-baik tentang mereka yang berbuat baik pada mereka. Mereka akan (dapat) ‘menggelapkan’ semua bukti dari tindakan baikmu. Karenanya, harta karun terbesar akan kau peroleh jika kau dapat menghimpun harta karun dari perbuatan-perbuatan baikmu. Jagalah keinginan agar selalu di bawah kendali dan jauhkan dirimu dari halhal yang terlarang. Mereka adalah makhlukmakhluk yang lemah, bahkan sering melakukan kesalahan. Bagaimanapun berikanlah ampun dan maafmu sebagaimana engkau menginginkan ampunan dan maaf dari-Nya. Sesungguhnya engkau berada di atas mereka dan urusan mereka ada di pundakmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan Allah berada di atas orang yang mengangkatmu. Allah telah menyerahkan urusan mereka kepadamu dan menguji dirimu dengan urusan mereka. Jangan katakan:”Aku ini telah diangkat menjadi pemimpin, maka aku bisa memerintahkan dan harus ditaati”, karena hal itu akan merusak hatimu sendiri, melemahkan keyakinanmu pada agama dan menciptakan kekacauan dalam negerimu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila kau merasa bahagia dengan kekuasaan atau malah merasakan semacam gejala rasa bangga dan ketakaburan, maka pandanglah kekuasaan dan keagungan pemerintahan Allah atas semesta, yang kamu sama sekali tak mampu kuasai. Hal itu akan meredakan ambisimu, mengekang kesewenang-wenangan dan mengembalikan pemikiranmu yang terlalu jauh.* &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamis, 11 Juni 2009 pukul 01:06:00&lt;br /&gt;http://republika.co.id/koran/155/55731/Nasehat_Natsir_Al_Fatih_dan_Sayyidina_Ali&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4691295274548167167-305880188773340370?l=nuimhidayat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nuimhidayat.blogspot.com/feeds/305880188773340370/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4691295274548167167&amp;postID=305880188773340370&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4691295274548167167/posts/default/305880188773340370'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4691295274548167167/posts/default/305880188773340370'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nuimhidayat.blogspot.com/2009/07/nasehat-natsir-al-fatih-dan-sayyidina.html' title='Nasehat Natsir, Al Fatih dan Sayyidina Ali'/><author><name>Nuim Hidayat</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04748613359481249234</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='22' src='http://2.bp.blogspot.com/_5sXuNmRv_aA/SXrAMvDXeaI/AAAAAAAAAAM/KQ9cesHTMeQ/S220/FOTO+1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_5sXuNmRv_aA/Sk7en3q-t4I/AAAAAAAAADU/R3Byaf7JRZY/s72-c/Image056.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4691295274548167167.post-836191319604495296</id><published>2009-06-08T23:34:00.000-07:00</published><updated>2009-06-08T23:37:34.366-07:00</updated><title type='text'>Ketika Adab Berpolitik Hilang</title><content type='html'>Ketika Adab Berpolitik Hilang &lt;br /&gt;Oleh : Nuim Hidayat* &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jikalau beberapapun bangsa (keturunan) jika tiada ilmu, akal dan adab, ke bawah juga jatuhnya, yakni kehinaan juga diperolehnya” (Raja Ali Haji dalam Bustan al Katibin)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyaksikan atraksi elit-elit partai politik menjelang koalisi memilih pasangan presiden beberapa waktu lalu, banyak orang mengelus dada. Beberapa elit partai ngomongnya plintat plintut, omongan hari kemarin bisa berbeda dengan esok hari. Seolah-olah dalam berpolitik boleh tidak konsisten, tanpa adab, seolah-olah kehidupan politik boleh bohong, dan boleh tidak berakhlak. Politik dan aktor-aktornya seolah-olah berada di ruang vakum yang berbeda dengan ruang kehidupan masyarakat lainnya, ruang pendidikan, ruang akhlak, ruang sosial dan terutama ruang agama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka lupa adanya kata berhikmah “politik hari ini adalah sejarah esok hari”.  Masyarakat, terutama kaum terpelajarnya, akan mencatat dengan teliti perkataan para politikus yang kurang beradab. Akan dicatat pula oleh sejarah adanya pemimpin yang suka meninggalkan musyawarah. Pemimpin yang mengikuti hawa nafsunya mengikuti kehendaknya sendiri, meski beberapa sahabat koalisinya mengusulkan sesuatu yang lain yang lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah kalau politik meninggalkan adab. Politik meninggalkan kaidah-kaidah agama. Boleh jadi yang meninggalkan adab dalam berpolitik ini adalah partai-partai Islam sendiri. Sehingga kenapa perolehan suara partai-partai Islam menurun atau stagnan dalam pemilu kali ini, seharusnya elit-elit partai politik Islam mengevaluasi dirinya sendiri. Apakah elit politik partai Islam saat ini hidupnya bermewah-mewah seperti partai sekuler lain? Apakah elit politik partai Islam saat ini mau mengorbankan gajinya karena penduduk Indonesia yang miskin minimal masih 40 juta? Apakah elit politik masih berprinsip yang penting berkuasa meski proses yang ditempuh tidak Islami? Apakah elit politik Islam masih tergoda ketamakan terhadap tahta, wanita, harta? Apakah elit politik Islam masih memikirkan dakwah dan keteladanan dalam sikap politiknya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu diantara pertanyaan-pertanyaan yang mengemuka sekarang. Sulit rasanya kalau aktor-aktor politik Islam meninggalkan adab dalam berpolitik, meninggalkan kaidah-kaidah agama dalam politik, mereka akan mendapat simpati dari mayoritas umat Islam. Terutama simpati tokoh-tokoh umat yang alim dan terpelajar. Banyaknya umat Islam yang golput dan apatis terhadap partai politik, adalah karena ulah elit politik Islam sendiri.  Perlu dicatat, bahwa semakin hari, semakin tahun, umat Islam Indonesia –sebagaimana juga tren manusia di dunia-- makin terpelajar, makin kritis dan makin tidak mudah lupa terhadap terhadap sejarah aktor-aktor politik di negeri ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai insan politik, yang sejatinya manusia juga, maka elit politik tidak lepas dari nafsu-nafsu yang menggoda manusia.  Apakah nafsu rakus harta, nafsu rakus jabatan, nafsu rakus pemujaan dan juga nafsu rakus seks kepada lain jenis.  Para ulama telah bersepakat, bahwa yang dapat mengerem atau mengendalikan nafsu hanyalah agama atau keimanan kepada Allah SWT. Bila iman hilang, maka nafsu itulah yang mengemuka. Imam Ghazali mengibaratkan bahwa dengan akal yang disinari wahyu, maka seorang kusir bisa mengendalikan kudanya (nafsu). Bila tidak maka kudanya akan menjadi liar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tercatat dalam sejarah, bagaimana presiden Soekarno tidak bisa mengerem nafsunya kepada wanita. Presiden Soeharto terjajah nafsunya oleh harta. Presiden-presiden berikutnya kita bisa menilai sendiri, nafsu apakah yang mengendalikan mereka. Mungkin nafsu rakus jabatan, nafsu rakus pemujaan atau nafsu-nafsu yang merusak lainnya. Bila nafsu yang lebih berkuasa daripada akal (yang disinari iman), maka menjadilah orang lupa kepada diri sejatinya. Lupa kepada dirinya sebagai manusia biasa yang akan diminta pertanggungan jawab, bukan hanya oleh rakyat tapi yang terutama oleh Yang Maha Pencipta, setelah kematiannya nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat ke negeri tetangga, kondisi elit politik di Malaysia ternyata juga tak jauh beda dengan negeri kita. Ini dicatat oleh Guru Besar UKM, Prof. Mohd  Nor Wan Daud : ”Gejala penyalahgunaan kuasa, penipuan, pelbagai jenis rasuah, politik uang, pemubaziran, kehilangan keberanian dan keadilan, sikap malas dan ’sambil lewa’, kegagalan pemimpin rumah tangga dan sebagainya mencerminkan masalah pokok ini.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sikap boros dalam menggunakan kekayaan negara adalah sifat yang buruk bagi pemimpin. Dalam teks hikayat Aceh menurut Wan Daud (2007), terdapat dua kasus dimana Sultan Seri Alam yang sangat boros dan Sultan Zainal Abidin yang zalim dimakzulkan dari kursi pemerintahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sifat hasad dengki juga adalah nafsu yang mesti dihindari. Contoh dalam sejarah Melayu yang terkenal adalah rasa iri hati semua para pembesar Malaka –kecuali Bendahara dan Temenggong—di zaman Sultan Mansur Shah terhadap Laksamana Hang Tuah sehingga sanggup menyebarkan fitnah dengan mencipta ”fakta yang palsu” terhadap Hang Tuah. Tindakan sultan yang terburu-buru akibat dan sifat amarah yang tak terkawal telah membuahkan banyak tindakan yang banyak merugikan bangsa (Kassim Ahmad dalam Wan Daud 2007).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sifat hasad dengki ini juga masyhur dalam kisah pemuda bijak ikhlas dalam sebuah cerita Singapura ’dilanggar’ Todak.  Dalam cerita ini tertayang Sultan adalah seorang yang pendek akal dan dikelilingi oleh para pembesar yang kurang berwibawa sehingga sanggup membiarkan banyak orang mati membentengi serangan Todak. Potensi masa depan pemuda yang didengki para pembesar itu dikuatiri oleh Sultan: ”Tuanku, budak (pemuda) itu jikalau sudahabesar, besarlah akalnya. Baiklah ia kita bunuh.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu banyak pemikir Islam, yang menulis nasihat-nasihat untuk para pemimpin. Imam Ghazali menulis ’Nasihat al Muluk’ (Nasihat untuk Raja). Imam as Suyuthi menuliskan keteladanan pemimpin-pemimpin Islam dalam ”Tarikhul Khulafa” (Sejarah Para Khalifah). Juga dokumentasi surat-surat nasehat khalifah keempat Ali bin Abi Thalib kepada Gubernur Mesir Malik bin Harits Al Asytar. Menurut Profesor A Korkut Özal dari Turki, pada perkembangan selanjutnya ternyata surat ini memberi banyak inspirasi bahkan menjadi bahan acuan bagi banyak pemimpin, melintasi ruang dan waktu. Tercatat ia mampu melintasi Eropa di masa Renaissance bahkan Edward Powcock (1604-1691), profesor di Universitas Oxford, menerjemahkan surat ini ke dalam bahasa Inggris untuk pertama kalinya dan pada 1639 disebarkan melalui serial kuliahnya yang disebut Rhetoric.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sifat berani menegakkan yang benar, adalah sifat yang mulia. Imam as Suyuthi mengutip al Bazaar dalam Musnadnya berkisah tentang keberanian Abu Bakar yang diceritakan oleh Ali bin Abi Thalib. Kata Ali : ”Sesungguhnya tatkala peristiwa Badar, kami membuat bangsal berteduh untuk Rasulullah.  Kami kemudian berkata:  Siapakah yang akan tinggal bersama Rasulullah agar tidak ada seorang pun yang mendekatinya? Maka demi Allah, saat itu tidak ada seorang pun yang mendekat dari kami kecuali Abu Bakar...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Urwah bin Zubair berkata: ”Saya bertanya Abdullah bin Amr bin Ash tentang kejahatan terbesar yang dilakukan kaum Musyrikin kepada Rasulullah. Abdullah menyatakan: Saya melihat Uqbah bin Muith mendatangi Rasulullah saat shalat.  Ia mengikatkan selendangnya di leher Rasulullah dan mencekiknya dengan cekikan yang sangat keras. Kemudian datang Abu Bakar melepaskan selendang itu dari leher Rasulullah. Abu Bakar berkata: Apakah kalian akan membunuh seorang laki-laki yang mengatakan Tuhanku Allah, sedangkan dia datang dengan tanda-tanda kebesaran Tuhannya kepada kalian?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diantara nasehat khalifah Ali kepada gubernur Malik adalah agar elit politik senantiasa waspada bahwa rakyat selalu mengawasinya. Kata Ali: "Sesungguhnya orang-orang akan melihat segala urusanmu, sebagaimana engkau dahulu melihat urusan para pemimpin sebelummu.  Rakyat akan mengawasimu dengan matanya yang tajam, sebagaimana kamu menyoroti pemerintahan sebelumnya juga dengan pandangan yang tajam." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu juga dibaca oleh para pemimpin Islam, buku yang ditulis oleh Dr. Ali Muhammad as Shalabi tentang Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Utsmaniyah. As Shalabi diantaranya menulis di buku itu tentang sifat-sifat mulia Sultan Muhammad al Fatih sehingga menjadi pemimpin besar dalam sejarah Islam.  Al Fatih menurut para ulama dan sejarawan adalah tokoh yang disebut Rasulullah sebagai penakluk Konstatinopel.  "Konstatinopel akan bisa ditaklukkan di tangan seorang laki-laki . Maka orang yang memerintah di sana adalah sebaik-baik penguasa dan tentaranya adalah sebaik-baik tentara." (HR Ahmad)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sifat-sifat itu adalah:  perhatian yang tinggi terhadap universitas dan sekolah, kepeduliannya yang besar terhadap para ulama,  perhatiannya terhadap penyair dan sastrawan, kepeduliannya terhadap penerjemahan buku-buku, perhatiannya terhadap pembangunan dan rumah sakit, kepeduliannya  terhadap perdagangan dan industri, perhatiannya terhadap masalah administrasi, kepeduliannya terhadap tentara dan armada laut dan komitmennya pada keadilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diantara nasehat Sultan Muhammad al Fatih kepada anaknya, juga kepada para pemimpin negara adalah: "Tak lama lagi aku akan menghadap Allah SWT. Namun aku sama sekali tidak merasa menyesal, sebab aku meninggalkan pengganti seperti kamu.  Maka jadilah engkau seorang yang adil, saleh dan pengasih.  Rentangkan perlindunganmu terhadap seluruh rakyatmu tanpa perbedaan.  Bekerjalah kamu untuk menyebarkan agama Islam sebab ini merupakan kewajiban raja-raja di bumi.  Kedepankan kepentingan agama atas kepentingan lain apapun.  Janganlah kamu lemah dan lengah dalam menegakkan agama.  Janganlah kamu sekali-kali memakai orang-orang yang tidak peduli agama menjadi pembantumu.  Jangan pula kamu mengangkat orang-orang yang tidak menjauhi dosa-dosa besar dan larut dalam kekejian.” *&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4691295274548167167-836191319604495296?l=nuimhidayat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nuimhidayat.blogspot.com/feeds/836191319604495296/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4691295274548167167&amp;postID=836191319604495296&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4691295274548167167/posts/default/836191319604495296'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4691295274548167167/posts/default/836191319604495296'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nuimhidayat.blogspot.com/2009/06/ketika-adab-berpolitik-hilang.html' title='Ketika Adab Berpolitik Hilang'/><author><name>Nuim Hidayat</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04748613359481249234</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='22' src='http://2.bp.blogspot.com/_5sXuNmRv_aA/SXrAMvDXeaI/AAAAAAAAAAM/KQ9cesHTMeQ/S220/FOTO+1.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4691295274548167167.post-9088477488296290074</id><published>2009-04-10T00:47:00.000-07:00</published><updated>2009-04-10T00:48:25.390-07:00</updated><title type='text'>Demokrasi vs Teodemokrasi</title><content type='html'>Demokrasi vs Teodemokrasi&lt;br /&gt;Catatan untuk Syafii Maarif dan Azyumardi Azra&lt;br /&gt;Oleh: Nuim Hidayat (Dosen STID M Natsir)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Azyumardi Azra dalam Resonansinya di Republika 25 September 2008, meski mengritik demokrasi, Azra nampak tetap mengagungkan demokrasi.  Hal itu terlihat dari rasa gembiranya ikut serta dalam Hari Demokrasi Internasional.  Ia menyatakan: “Saya beruntung ikut terlibat dalam sebuah 'percakapan meja bundar' menyambut Hari Demokrasi Internasional itu di New York pada 12 September 2008. Percakapan ini diselenggarakan International IDEA (Institute for Democracy and Electoral Assistance), UNDP, dan UN DPA dengan menghadirkan sejumlah pembicara dan pembahas yang merupakan pemikir dan aktivis demokrasi terkemuka di berbagai penjuru dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Percakapan meja bundar' ini bertitik tolak dari kepedulian tentang kaitan antara demokrasi dan pembangunan, sebaliknya antara pembangunan dan demokrasi. Memang, dalam beberapa kasus, pertumbuhan demokrasi tidak selalu berjalan seiring dengan pembangunan ekonomi dan sosial. Bahkan, terlihat demokrasi yang memunculkan berbagai konsekuensi yang tidak terduga (unintended consequences) dan ekses-ekses telah menghambat pembangunan. Kasus ini terlihat jelas, misalnya, dalam pengalaman Indonesia di masa sepuluh tahun penerapan demokrasi multipartai yang mengakibatkan terjadinya 'pelambatan'' dalam pembangunan ekonomi dan sosial.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang sama juga nampak pula dalam diri Syafii Maarif. Dalam artikel Resonansi Republika 12 Agustus 2008, Syafii Maarif nampak pula memuji habis demokrasi.  Menurutnya belum ada satupun sistem di dunia ini dalam era sekarang, yang menandingi demokrasi.  Ia menyatakan: “Kesulitan kita dengan era modern adalah kenyataan peradaban umat manusia sampai detik ini belum menemukan sistem yang lebih baik dan lebih unggul dari demokrasi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu Maarif juga menguraikan tentang cacat demokrasi di negara kita.   Khususnya perilaku elite politik yang jor-joran meraup kekayaan negara dan sistem pemilihan langsung yang nilainya mengerikan, yaitu sampai 400 trilyun. Kemudian dia bertanya sendiri, apakah mungkin sistem demokrasi ini diganti? Jawab Maarif: “Demokrasi harus bertahan karena itu pilihan kita sejak awal. Yang harus digugat secara keras adalah pelaku demokrasi yang semakin teler, menjadi penikmat demokrasi, sebuah pengkhianatan politik yang harus segera demokrasi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita tentu saja setuju dengan gagasan Azra dan Maarif untuk menghilangkan borok-borok demokrasi negara kita.  Tapi pertanyaannya apakah sistem demokrasi kita saat ini bisa menghilangkan perilaku korup, biaya hura-hura pemilu dan biaya iklan pemilu saat ini? (Seorang calon presiden saja saat ini menyewa konsultan dan mengontrak iklan di TV untuk mem-push dirinya ditulis media massa kontraknya sampai 300 milyar!) Terus terang saya sangat meragukan.  Karena demokrasi punya cacat bawaan sejak lahir.  Dalam perjalanan sejarah demokrasi hanya menguntungkan segelintir elit tertentu atau paling jauh negara-negara tertentu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sistem politik yang ideal adalah sistem teodemokrasi bukan sistem demokrasi. Teodemokrasi adalah gagasan yang diluncurkan oleh tokoh-tokoh Islam, antara lain Abul A’la al Maududi, Mohammad Natsir dan Yusuf Qaradhawi. Ketiga tokoh ini setuju konsep teodemokrasi dan menolak konsep Teokrasi, sebuah konsep bentuk negara yang lahir dari sejarah kekuasaan gereja.  Maududi, Natsir dan Qaradhawi mengajukan konsep Teodemokrasi (Natsir menyebutnya demokrasi Islam), karena melihat ada keliaran dan cacat bawaan sistem demokrasi, seperti yang kita rasakan sekarang.  Meski seolah-olah mirip antara demokrasi dan teodemokrasi, tapi ibaratnya bagai ibarat api dan air.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsep demokrasi dan teodemokrasi ini, mirip perbedaannya dengan konsep jual beli dan riba.  Zina dan nikah.  Jual beli ada keridhaan antara penjual dan pembeli, sedangkan riba ada kezaliman yang terjadi antara ‘periba’ dan yang ‘diribai’.  Riba menjadikan masyarakat dipenuhi kezaliman, sedangkan perdagangan menjadikan masyarakat kreatif dan berkeadilan.  Begitupula zina, meski keduanya ada kesamaan hubungan biologis di sana, tapi ada perbedaan mendasar.  Zina tidak ada syarat-syarat lafadz ijab kabul, saksi dan wali, sedangkan nikah mesti ada syarat-syarat itu.  Zina hanya berkeinginan nikmat sesaat belaka. Sedangkan nikah selain ada kenikmatan juga ada tujuan melahirkan dan mendidik anak-anak saleh. Zina mengakibatkan masyarakat hedonis dan hura-hura dan meruntuhkan keluarga, sedangkan pernikahan membawa dampak ketenangan keluarga dan masyarakat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, demokrasi bukanlah sistem final bagi umat manusia.  Para ulama telah mengajukan konsep teodemokrasi.  Dimana seolah-olah konsep ini mirip demokrasi, tapi sebenarnya jauh panggang dari api.  Di dalam teodemokrasi, kebenaran dari wahyu adalah utama.  Sedangkan dalam demokrasi, kebenaran bersumber dari akal semata.  Dalam demokrasi rakyat yang berdaulat, dalam teodemokrasi Tuhan yang berdaulat. Dalam teodemokrasi rakyat berkuasa, tapi kedaulatan di ‘tangan Tuhan’.  Sebab secara kenyataannya rakyat atau manusia tidak punya kedaulatan meski terhadap dirinya sendiri.  Manusia tidak bisa menciptakan mata, otak, syaraf telinga, jantung, dan lain-lain.  Bagaimana dikatakan dia berdaulat, sementara kepada dirinya sendiri ia tidak berdaulat?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam teodemokrasi musyawarah diutamakan sebagaimana demokrasi di negara kita.  Tapi tentu saja dalam teodemokrasi musyawarah tidak boleh terhadap hal-hal yang melawan wahyu Allah.  Seperti bermusyawarahnya para wakil rakyat (seperti di sebagian di negara Barat), membolehkan minum minuman keras asal di rumah, tidak di tempat-tempat publik atau di jalanan, karena dikhawatirkan menganggu masyarakat.  Peraturan seperti ini kan aneh, dibiarkan orang merusak dirinya sendiri. Yang tidak boleh hanya merusak orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam teodemokrasi maka sistem politik dibangun secara jujur untuk kemuliaan manusia. Tidak ada kemunafikan disana. Misalnya minuman yang telah terbukti membahayakan, maka kepada individu maupun masyarakat dilarang untuk mengkonsumsinya.  Begitu pula perzinahan.  Dimana telah nyata-nyata menghancurkan akhlak individu dan meruntuhkan moral masyarakat, maka jelas harus dilarang negara.  Begitu pula untuk hal-hal lainnya. Begitupula masalah pencurian uang rakyat, penghambur-hamburan uang rakyat, tidak mungkin disahkan dalam sistem teodemokrasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi bila dalam demokrasi, akal bisa mengalahkan wahyu, maka dalam teodemokrasi akal mesti tunduk kepada wahyu.  Karena logikanya, pembuat wahyu adalah pembuat akal manusia.  Jadi wahyu bila diterapkan maka akan menerangi akal, tidak mungkin menggelapkan akal.  Dalam demokrasi, karena sangat mengagungkan akal, maka yang terjadi akhirnya akal-akalan.  Korupsi diakali bagaimana agar tidak ketahuan, tidak ada bukti dan tidak melanggar hukum. Penimbunan suara rakyat diakali dengan pemberian bantuan tunai, kredit partai dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam demokrasi, yang terjadi adalah ‘one man one vote’.  Kasarnya meskipun makhluk itu setengah manusia, tapi bila dipilih mayoritas maka ia pun terpilih.  Karena itu, modal kapital, siasat yang seringkali licik, iklan yang kerap menipu dan ‘pemolesan lipstik’ kandidat menjadi senjata utama.  Seorang calon meskipun ia hebat, akhlaknya bagus, manajerialnya hebat dan pemikirannya cemerlang, ia tidak akan jadi pemimpin formal bila ia tidak bermodal atau ada partai yang memodali.  Maka jangan heran, bila di Amerika Presiden George W Bush yang jelas-jelas bobrok pribadi dan timnya terpilih dua kali di sana. Di Indonesia, demokrasi, terutama pemilihan Kepala Daerah, menjadikan masyarakat kelas bawah dan bahkan para kiyai berantem. Di Jakarta, pemilihan Gubernur beberapa waktu lalu menjadikan beberapa kiyai dan mubalig saling menfitnah kepada kelompok pendukung atau kandidat yang bukan pilihannya.&lt;br /&gt;Dalam Teodemokrasi, meski tidak menafikan pemilu, tapi musyawarah antar tokoh masyarakat atau ulama menjadi utama.  Bila ada pemilihan kandidat bupati, gubernur atau presiden, mestinya tokoh-tokoh itu berembug siapa yang paling cakap untuk memimpin masyarakat.  Kepentingan individu dalam hal ini mesti dikesampingkan.  Karena para pemimpin negara itu diangkat untuk mengurus masyarakat bukan mengurus orang per orang atau partai per partai.  Rasulullah saw menyatakan : Imam Al-Hakim meriwayatkan hadits dari Ibnu Abbas r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda,”Barangsiapa memilih seorang pemimpin untuk suatu kelompok, yang di kelompok itu ada orang yang lebih diridlo’i Allah dari pada orang tersebut, maka ia telah berkhianat kepada Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman.”&lt;br /&gt;Rasulullah saw., bersabda,”Tiga golongan yang pada hari kiamat kelak tidak akan diajak bicara oleh Allah, tidak akan disucikan (dihapus dosa-dosanya), dan bagi mereka siksaan yang pedih. Golongan pertama adalah  seseorang yang memiliki kelebihan air di jalanan (berumah di pinggir jalan), tapi menolak memberikannya kepada ibnu sabil (musafir yang sedang lewat). Golongan kedua adalah seseorang yang memilih pemimpin karena si calon memiliki harta. Jika si calon memberi apa yang ia inginkan, ia akan memilihnya; jika si calon tidak memberinya sesuatu yang berupa  materi, si calon tidak dipilihnya. Adapun golongan ketiga adalah,  seseorang yang menawarkan barang dagangan kepada orang lain di waktu sore hari, ia bersumpah atas nama Allah bahwa barangnya telah ditawar sekian, sehingga calon pembeli membelinya dengan harga tersebut, padahal tidak pernah ada sebelumnya orang yang menawar seperti itu.” (HR Bukhari)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang selain ada cacat bawaan, tidak bisa dipungkiri demokrasi juga membuat masyarakat Barat lebih maju.  Keterbukaan informasi, transparansi, semangat bersaing, dan semangat pengembangan teknologi menjadi berkembang pesat. Dalam Teodemokrasi hal-hal yang merupakan fitrah manusia ini, tentu tidak akan dinafikan. Bahkan semangat untuk pengembangan ilmu, transparansi dan persaingan itu diberikan nilai, sehingga memberikan manfaat kepada manusia sebear-besarnya.  Maka jangan heran di kala peradaban Islam mempengaruhi dunia (abad ke-7 sampai abad ke-19), ilmu pengetahuan berkembang pesat. Tidak heran, bila budaya tulis, budaya kertas, budaya sastra dan budaya ilmu, dicatat oleh sejarah bahwa peradaban Islam lah yang merintisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemunafikan demokrasi Barat, juga terlihat, bagaimana dunia Barat memperlakukan demokrasi sesuai dengan keuntungan dirinya.  Untuk negara-negara Timur Tengah, dimana Barat telah menaklukkan penguasanya, maka demokrasi tidak diekspor.  Karena bila ia ekspor, maka akan memukul dirinya.  Barat membiarkan hal-hal yang tidak demokratis berlangsung disana. Maka kita ingat bagaimana Barat mendukung kelompok militer di Aljazair untuk menghancurkan Partai Islam FIS yang jelas-jelas menang pemilu secara demokratis tahun 1991.  Juga bagaimana Barat menjegal dan memblokade Hamas yang menang Pemilu di Palestina secara demokratis tahun 2006. Barat juga sedikit kepeduliannya terhadap nasib-nasib negara miskin. Padahal negaranya ekonominya berkelihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walhasil, di dunia Islam, yang cocok adalah teodemokrasi bukan demokrasi. Dan bukan mustahil sistem ini akan terwujud di negeri-negeri Islam. Banyak hal-hal yang tak terduga di masa depan. Wallahu aliimun hakiim.*&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4691295274548167167-9088477488296290074?l=nuimhidayat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nuimhidayat.blogspot.com/feeds/9088477488296290074/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4691295274548167167&amp;postID=9088477488296290074&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4691295274548167167/posts/default/9088477488296290074'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4691295274548167167/posts/default/9088477488296290074'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nuimhidayat.blogspot.com/2009/04/demokrasi-vs-teodemokrasi.html' title='Demokrasi vs Teodemokrasi'/><author><name>Nuim Hidayat</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04748613359481249234</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='22' src='http://2.bp.blogspot.com/_5sXuNmRv_aA/SXrAMvDXeaI/AAAAAAAAAAM/KQ9cesHTMeQ/S220/FOTO+1.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4691295274548167167.post-2672639127500889981</id><published>2009-04-07T00:40:00.000-07:00</published><updated>2009-04-07T00:57:32.988-07:00</updated><title type='text'>Pemilu 2009: Memilih atau Tidak Memilih</title><content type='html'>Pemilu 2009: Memilih atau Tidak Memilih&lt;br /&gt;Oleh : Nuim Hidayat*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Leiden is lijden “ (Kasman Singodimedjo)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemilu 2009 ini mungkin dilema bagi orang-orang muslim yang terpelajar, kritis dan bukan caleg. Memillih atau tidak memilih. Diskusi ramai baik di kantor-kantor, masjid atau internet tentang pemilu ini.  Suara mengajak golput pun mengemuka baik oleh beberapa aktivis gerakan Islam, seperti HTI, Anshorut Tauhid maupun beberapa kelompok sekuler yang frustasi terhadap sistem demokrasi di Indonesia .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemilu yang ketiga paska tumbangnya Orde Baru ini, memang menjadikan banyak orang semakin kritis. Rakyat melihat bagaimana sehari-hari polah tingkah wakil yang dipilihnya selama lima tahun atau sepuluh tahun itu.  Bagaimana kepedulian wakil rakyat partai-partai Islam itu kepada orang-orang miskin, kepada kader-kader dakwah yang melarat, gagasan-gagasan pembangunan yang Islami dan keseriusan perjuangan mereka dalam menegakkan nilai-nilai Islam di daerah dan nasional dalam Undang-undang dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita memahami adanya sekelompok orang yang menginginkan golput dalam pemilu ini.  ”Pemilu ini seperti judi,”kata Ridwan Saidi.  Maksudnya banyaknya caleg yang mengeluarkan uang milyaran dan berharap uang akan balik modal ketika ia menjabat, memang sekilas seperti judi.  Tapi, mungkin orang lain bisa berpendapat seperti investasi dalam dagang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meutya Hafidz caleg dari Partai Golkar, dalam sebuah dialog di Metro TV sekitar sebulan lalu, menyatakan bahwa ia telah mengeluarkan uang 300 juta dalam kampanyenya di Sumatra Utara.  ”Mungkin nanti akan menghabiskan sampai 500 jutaan” tuturnya.  Mantan wartawan yang pernah disandera mujahidin Irak ini menyatakan bahwa itu adalah biaya untuk spanduk, pamflet, jamuan makan untuk konstituen, tim yang membantunya dalam kampanye dan lain-lain. Ia menyatakan biaya yang ia keluarkan seharusnya sampai 1 milyar sampai kampanye selesai nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang biaya pemilu nasional tahun ini luar biasa. Yaitu menurut KPU sebesar Rp. 47.941.202.175.793, hampir 48 trilyun. Dengan jumlah pemilih (DPT) sekitar 174 juta orang. Bila dijumlahkan antara pengeluaran yang dibelanjakan oleh para caleg dan anggaran dari KPU mungkin jumlahnya lebih dari 60 trilyun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sistem Pemilu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang kalau kita amati, sistem pemilu ini luar biasa borosnya.  Bagi orang-orang yang telah mengikuti beberapa pemilu, kemungkinan besar akan jengkel dengan banyaknya spanduk, pamflet, billboard, bendera yang dipajang hampir di tiap gang, atau jalan-jalan di kota. Bila kita melihat ’model demokrasi’ yang diterapkan di Malaysia atau di negara-negara maju, nampaknya tidak norak seperti yang terjadi di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemborosan ini, makin bertambah bila model pemilihan bupati/walikota atau gubernur tidak diubah.  Kabarnya di pemerintahan atau DPR sendiri kini sedang diupayakan untuk penghapusan pemilihan langsung kepala daerah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terhadap pemborosan negara ini, kita teringat nasehat Sultan Muhammad al Fatih, pembebas Konstantinopel Turki kepada anaknya (dan juga kepada para pemimpin-pemimpin negara) : ” Janganlah kamu menghambur-hamburkan harta negara dalam foya-foya dan senang-senang atau kamu pergunakan lebih dari yang sewajarnya.  Sebab itu semua merupakan penyebab utama kehancuran.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang bila para calon anggota DPR mengeluarkan ratusan juta atau milyaran dalam kampanye, mungkin kita akan sulit mengharapkan anggota DPR itu tidak memboroskan uang negara. Perhitungan modal atau investasi 1 milyar misalnya, maka anggota DPR mungkin akan berhitung bila gaji mereka di senayan 50 juta sebulan ditambah uang sidang dan lain-lain 60 juta misalnya (bulan-bulan tertentu bisa 75-100 juta), maka dalam waktu tidak lebih dari 17 bulan uang akan balik modal. Maka 43 bulan berikutnya adalah tinggal memanen untung. (Tentu ada pengecualian bagi calon wakil-wakil rakyat yang melarat atau yang mengeluarkan dana hanya puluhan juta).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, harusnya partai-partai Islam, PKS, PBB, PPP dan lain-lain bila ingin mengadakan perubahan secara fundamental di negeri ini, maka caleg-caleg itu harusnya minta penurunan gaji, bukan kenaikan gaji.  Gaji 25 juta dengan ritme kerja DPR Pusat yang kerjanya rombongan itu (lain dengan menteri yang pekerjaannya individual), tentu sudah cukup memadai.  Seorang wakil rakyat, apalagi dari partai Islam, harusnya memberikan teladan tidak memboroskan uang negara. Tapi sulit kita mengharap mereka akan minta dan berjuang untuk penurunan gaji, karena perhitungan modal kampanye yang telah mereka keluarkan.  Apalagi bila caleg itu tidak bisa mengekang nafsu memmiliki harta itu yang memang tidak ada habisnya.  Orang yang kaya biasanya ingin terus bertambah-tambah kekayaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa gaji DPR perlu diturunkan? Karena DPR adalah wakil rakyat yakni yang mewakili suara rakyat. Ketika gaji DPR besar, maka Gaji Menteri, Presiden atau Pejabat Negara lain ingin lebih besar pula. Karena yang membuat UU untuk penggajian adalah DPR, maka merekalah yang harusnya memberi teladan terlebih dahulu. Mereka seharusnya mikir bahwa di tengah-tengah mereka rakyat miskin masih berjumlah hampir 40 juta orang dengan penghasilan di bawah 200 ribu per bulan. Maka kadangkala timbul pertanyaan di benak gaji wakil rakyat 50 juta sebulan itu halal, haram atau syubhat? (Ingat harta itu adalah harta rakyat. Ibaratnya DPR atau pegawai pemerintah itu seperti amil yang harus mengalokasikan gaji untuk harta yang dkumpulkan amil itu sekedarnya.  Bukan menjadi amil kemudian menumpuk-numpuk kekayaan dari harta rakyat itu. Barangkali perkecualian bagi anggota-anggota DPR yang bersedekah separo gajinya atau lebih).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak Memilih?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat gaji, kinerja dan gaya hidup sebagian besar anggota DPR, kita mungkin muak.  Mengaku wakil rakyat, tapi seringkali ia hanya mewakili dirinya sendiri atau partainya dan dalam kerja sehari-harinya tidak serius memikirkan rakyat. Bila dalam masa kampanye menyerukan agar berbondong-bondong masyarakat miskin atau kader-kader hadir atau mendukungnya, seringkali setelah terpilih, dan rakyat miskin itu butuh bantuan, kebanyakan penyakit ”pelit bin medit” menghinggapi (cerita banyaknya kader-kader yang miskin butuh bantuan tidak dipedulikan anggota DPR itu sangat banyak). Lupa otaknya terhadap kader-kader yang naik motor berpanas-panasan, bensin beli sendiri, bahkan kadang-kadang harus merelakan cuti kantor atau tidak mendapatkan uang hari itu karena mendukung caleg atau partai itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya dengan model gaya hidup anggota DPR itu, banyak orang berfikir nggak ada gunanya untuk milih.  Kelakuan partai sekuler dan partai Islam ternyata sama saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita memahami cara berfikir orang-orang golput ini. Tapi pertanyaannya ’dengan tidak memilih itu’ apakah pemilu gagal? Apakah keadaan akan berubah lebih baik? Pertanyaan itu yang harus kita jawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila kita berpikir cermat, maka memilih ternyata lebih baik. Meski kebanyakan wakil rakyat adalah ’brengsek’, tapi masih ada beberapa orang yang baik.  Mereka yang muslimnya bagusnya, hidupnya sederhana, peduli kepada masyarakat miskin, suka bekerja keras dan lain-lain. ”Bila kita tidak memilih maka suara kita yang mestinya masuk ke orang-orang yang mungkin baik itu (caleg-caleg partai Islam), jadi hilang,”kata politisi Islam, Hartono Mardjono dan Hussein Umar almarhum. Suara partai sekuler/kristen jadi tambah, karena mereka tidak menganjurkan golput. Bila kita memilih ada kemungkinan orang yang baik terpilih. Bila tidak, maka kemungkinan orang baik terpilih itu jadi hilang. Apalagi ketika gereja-gereja menyuruh warganya memilih. Arti memilih itu lebih penting lagi, ketika masyarakat Islam menjadi minoritas atau seimbang komposisinya di sebuah daerah pemilihan dengan orang non Muslim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka penulis ingat ketika Pak Natsir dan tokoh-tokoh Masyumi tidak menganjurkan golput di tahun 70, 80 atau 90 an, meski saat itu yang naik ke panggung politik adalah para politisi Islam kelas dua.  Pak Natsir, Pak Roem, Pak Syafruddin politisi Islam kelas satu, dilarang berpolitik saat itu dan akhirnya membentuk Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia. Para tokoh itu melihat perubahan masyarakat, bukanlah berpangkal dari politik, perubahan masyarakat dari pendidikan dan dakwah. Politik hanyalah membantu perubahan itu dan ia bukan titik sebab atau sentral perubahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah, keadaan ini kita jalani. Karena kita memang ditakdirkan hidup di Indonesia yang lagi euforia terhadap kebebasan. Kita tidak hidup di Arab Saudi yang tidak ada pemilu.  Kita ingin memperbaiki negeri Indonesia ini agar lebih baik dan lebih Islami.  Dan dalam sunnatullah perubahan sosial, perubahan masyarakat itu terjadi bertahap.  Tidak ada perubahan di dunia ini, perubahan sosial yang tiba-tiba meskipun dengan revolusi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi dan alhamdulillah kita di Indonesia ini, para tokoh-tokoh Islam pendahulu kita telah memperjuangkan Piagam Jakarta menjadi landasan negara. Meski kemudian yang disahkan adalah UUD 45 setelah proklamasi 1945, tapi dalam Dekrit 5 Juli 1959 dinyatakan bahwa Piagam Jakarta menjiwai UUD 45. Menurut tokoh Masyumi Mohammad Roem, Piagam Jakarta itu lebih tinggi dari UUD 45. Karena jiwa lebih tinggi dari fisik. Artinya perjuangan penegakan syariat Islam di negeri ini, mempunyai landasan yang kuat di negeri ini. Tergantung saat ini bagaimana para ahli hukum Islam dan kita semua masyarakat Islam, baik yang berjuang dalam sistem maupun luar sistem bersama-sama mengaplikasikan syariat Islam ini menjadi Undang-undang yang ’applicable’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sunnatullah perjuangan adalah dimulai dari pemimpin. Baik pemimpin formal (anggota DPR, menteri, bupati/gubernur dll)  maupun pemimpin informal (pemegang media massa, kiyai, ustadz, dosen, guru, aktivis gerakan dan lain-lain). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila pemimpin tidak memberikan teladan, maka rusaklah pengikut-pengikutnya.  Biasanya kerusakan sebuah gerakan, partai atau organisasi, bahkan negara dimulai dari kerusakan pemimpin-pemimpinnya.  Pepatah yang terkenal ”Ikan busuk dari kepalanya”. Dan kesederhanaan, tidak bermewah-mewah adalah ciri utama dari seorang pemimpin Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka suatu hari di tahun 1925, Mohammad Roem diajak ngaji oleh Kasman Singodimedjo dan Soeparno ke rumah Haji Agus Salim.  Jalan ke rumah Agus Salim itu becek bila kena hujan dan saat Kasman datang, Agus Salim Salim berkomentar: ”Hari ini anda datang secara biasa. Kemarin peranan manusia dan sepeda terbalik.” Kasman menjelaskan ke Roem bahwa kemarin ia ditunggangi sepeda bukan ia menunggangi sepeda. Maka Kasman menjawab ke Agus Salim : ”Een leidersweg  is een lijdensweg, Leiden is lijden.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maknanya : ”Jalan pemimpin bukan jalan yang mudah, Memimpin adalah menderita.” *** &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Sekjen Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia Kota Depok&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4691295274548167167-2672639127500889981?l=nuimhidayat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nuimhidayat.blogspot.com/feeds/2672639127500889981/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4691295274548167167&amp;postID=2672639127500889981&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4691295274548167167/posts/default/2672639127500889981'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4691295274548167167/posts/default/2672639127500889981'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nuimhidayat.blogspot.com/2009/04/pemilu-2009-memilih-atau-tidak-memilih.html' title='Pemilu 2009: Memilih atau Tidak Memilih'/><author><name>Nuim Hidayat</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04748613359481249234</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='22' src='http://2.bp.blogspot.com/_5sXuNmRv_aA/SXrAMvDXeaI/AAAAAAAAAAM/KQ9cesHTMeQ/S220/FOTO+1.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4691295274548167167.post-576350411913489459</id><published>2009-03-12T18:43:00.000-07:00</published><updated>2009-03-12T19:04:04.750-07:00</updated><title type='text'>Islamisasi Ilmu Dari Salman Kemudian Terabaikan</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_5sXuNmRv_aA/Sbm_A9YtQuI/AAAAAAAAAB4/bMTFOGAPAdU/s1600-h/buku.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 240px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_5sXuNmRv_aA/Sbm_A9YtQuI/AAAAAAAAAB4/bMTFOGAPAdU/s320/buku.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5312487258659308258" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kamis, 12 Maret 2009 pukul 11:22:00&lt;br /&gt;Islamisasi Ilmu Dari Salman Kemudian Terabaikan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gagasan Islamisasi Ilmu memang mendesak untuk dilakukan. Sebab, ilmu yang rusak, adalah sumber dari segala kerusakan. Dari ilmu yang rusak, lahir pula cendekiawan yang rusak bahkan ulama yang rusak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 16 Desember 2008 lalu, dalam sebuah diskusi di Masjid Salman ITB-Bandung, Pendidikan Islam, Prof. Wan Mohd. Nor Wan Daud meng ingatkan tentang kembali sebuah gagasan lama yang sempat semarak, tapi kemudian terabaikan: “Islamisasi ilmu.” Pada Desember itu, Prof. Wan Mohd Nor, alumnus Chicago University yang kemudian berguru kepada begawan Islmisasi ilmu, Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas, melakukan serangkaian diskusi di sejumlah kampus di Jawa (Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Universitas Gajah Mada Yogyakarta, Uni versitas Pajajaran Bandung, dan Uni ver sitas Indonesia). Tema sentral diskusi itu adalah perlunya gerakan “Islamisasi il mu” dihidupkan lagi di dunia Islam, khu susnya di Indonesia, sebagai negara Mus lim terbesar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga hari sebelumnya, saat membuka seminar di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Prof. Dr. Yunahar Ilyas, wakil ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, menekankan pentingnya integrasi antara keilmuan dan akhlak. Karena itu, menurutnya, diperlukan sebuah pengkajian yang serius terhadap ilmu pengetahuan serta mengintegrasikannya dengan nilainilai luhur Islam atau yang dikenal sebagai “Islamisasi”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada kesempatan itu, Prof. Wan Mohd Nor mempresentasikan makalah bertajuk “Dewesternization and Islamization: Their Epistemic Framework and Final Purpose”. Tantangan terbesar yang dihadapi kaum Muslimin saat ini, kata Prof. Wan begitu dia biasa disapa — adalah problem ilmu. Teori ilmu yang telah berkembang di Barat termanifestasikan dalam berbagai aliran seperti rasionalisme, empirisisme, skeptisisme, agnostisisme, positivisme, objektifisme, subjektifisme dan relativisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aliran-aliran semacam ini setidaknya berimplikasi sangat serius dalam sejumlah hal. Pertama, menegasikan dan memutuskan relasi manusia dengan alam metafisika, mengosongkan manusia dan kehidupannya dari unsur-unsur dan nilai transenden serta mempertuhankan manusia. Kedua, melahirkan dualisme. Manusia dibuat terjebak pada dua hal yang dikotomis dan tak dapat dipersatukan, seperti dikotomi dunia-akhirat, agama-sains, tekstual-kontekstual, akalwahyu, objektif-subjektif, induktifdeduktif dan seterusnya. Ini mengakibatkan manusia sebagai makhluk yang terbelah jiwanya (split personality).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai solusi alternatif atas bencana implikasi peradaban materialis-sekuler yang anti Tuhan ini diperlukan de westernisasi dan Islamisasi Ilmu-ilmu kontemporer. kontemporer. Karena telah begitu dominannya paradigma keilmuan Barat saat ini, maka salah satu aspek penting dalam Islamisasi Ilmu adalah melakukan “Dewesternisasi”. Proses ini bukanlah dipahami sebagai gerakan anti Barat dan peradabannya. Dewesternisasi ialah membersihkan berbagai pernik peradaban masa kini dari unsur-unsur worldview (pandangan hidup) Barat yang bertentangan dengan worldview Islam yang ‘tauhidi’ dan melahirkan implikasi yang sangat serius dan destruktif atas kemanusiaan sejagad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Masjid Salman&lt;br /&gt;Bagi para akademisi Muslim di ITB, ide Islamisasi Ilmu bukanlah hal yang baru. Tahun 1981, penerbit Pustaka-Salman ITB, telah menerbitkan buku Islam dan Sekularisme, karya Prof. Naquib al-Attas. Tahun 1984, juga diterbitkan buku Islamisasi Pengetahuan karya Prof. Ismail Ra ji al-Faruqi. Tahun 1983, juga diterbitkan buku penting karya Muhammad Asad, yang berjudul Islam Disimpang Jalan (terjemah dari Islam at The Crossroads, yang terbit pertama tahun 1934).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muhammad Asad mengatakan seorang Yahudi yang sebelum masuk Islam bernama Leo pold Weiss – problem terberat yang diha dapi umat manusia adalah dominasi per adaban Barat yang materialistik dan anti-agama. Sebab, katanya, saripati per adaban Barat modern adalah ‘irreligious’. Semangat Barat modern untuk membuang semua unsur agama dalam berbagai aspek kehidupan – termasuk bidang keilmuan itulah – itulah yang kemudian dijadikan sebagai standar pengembangan keilmuan dan pendidikan di dunia internasional. Agama dijauhkan dari ilmu pengetahuan. Sarjana biologi, kedokteran, fisika, matematika meskipun Muslim dijauhkan dari ilmuilmu keislaman, seperti al-Quran, hadits, ushul fiqih, bahasa Arab, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, bidang ilmu-ilmu keislaman pun tak luput dari westernisasi. Meskipun men dirikan berbagai pusat studi agama, tetapi agama tetap diletakkan sebagai “produk budaya”. Agama, juga Tuhan, ha rus tunduk dalam kerangka pikir manusia. Manusialah yang jadi Tuhan dan ber hak mengatur Tuhan. Bukan Tuhan lagi yang mengatur manusia. Dalam istilah Prof. al-Attas: “Man is deified and Deity humanised.” (Lihat, Jennifer M. Webb (ed.), Powerful Ideas: Perspectives on the Good Society, vol 2, hal. 231-240).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Masjid Salman, Prof. Wan juga sempat mengklarifikasi gagasan Islamisasi Ilmu dan kesalahpahaman yang selama ini terjadi di berbagai negara, termasuk di Indonesia, sehingga gagasan yang sempat berkembang pada tahun 1980-an itu kemudian tenggelam. Ide Islamisasi, menurutnya, terburu-buru menjadi po -pu ler tanpa disertai penjelasan dan konsep yang mendasar. Padahal, konsep itu sebenarnya telah dipikirkan dan dijabarkan bahkan diaplikasikan dengan matang oleh Prof. Naquib al-Attas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada bab berjudul “Dewesternisasi Pengetahuan” dari buku terbitan Pustaka-Salman ITB tahun 1981, dikutip katakata Prof. Naquib al-Attas tentang karakter keilmuan Barat:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya memberanikan diri untuk menyatakan bahwa tantangan terbesar yang secara diam-diam telah timbul dalam zaman kita adalah tantangan pengeta huan, memang, tidak sebagai tantangan terhadap kebodohan, tetapi pengetahuan yang difahamkan dan disebarkan ke seluruh dunia oleh peradaban Barat. Pengetahuan Barat itu sifatnya telah menjadi penuh permasalahan karena ia telah kehilangan maksud yang sebenarnya sebagai akibat dari pemahaman yang tidak adil. Ia juga telah menyebabkan kekacauan dalam kehidupan manusia, dan bukannya perdamaian dan keadilan. Pengetahuan Barat tersebut berdalih betul, namun hanya memberi hasil kebingungan dan skeptisisme. Barat telah mengangkat peraguan dan pendugaan ke derajat ‘ilmiah’ dalam hal metodologi. Peradaban Barat juga memandang keragu-raguan sebagai suatu sarana epistemologis yang cukup baik dan istimewa untuk mengejar kebenaran.” (hal. 195-196).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya. Ilmu adalah sumber dari segala problem kemanusiaan. Jika ilmu yang dipelajari oleh umat manusia adalah ilmu yang rusak, maka rusaklah pikirannya. Lalu, menyusul, rusak pula perilakunya. Ilmu yang salah akan menyebabkan tindakan yang salah pula. Seorang sekular akan berpandangan bahwa menggelar konser amal sambil bertelanjang dan ‘teler’ adalah sebuah amal kebajikan dan kemanusiaan. Bagi seorang humanis sekular, kemanusiaan adalah di atas nilai agama. Seorang pezina tetap bisa dihargai sebagai manusia terhormat, jika dia suka menolong orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan ilmu&lt;br /&gt;Dalam bukunya, What Islam Did For Us: Understanding Islam’s Contribution to Western Civilization, Tim Wallace-Murphy mengingatkan, agar orang-orang Barat tidak melupakan hutang budi mereka terhadap Islam. Buku ini sarat dengan datadata sejarah transfer ilmu pengetahuan dari dunia Islam ke dunia Barat di zaman Pertengahan dan abad modern. Tetapi, karena semangat pemberontakan terhadap agama yang sangat tinggi di Eropa, ilmu pengetahuan itu kemudian dipisahkan dari unsur-unsur ketuhanan. Unsur rasio menjadi satu-satunya penentu kebenaran. Unsur wahyu dan ketuhanan dibuang jauh-jauh dari dunia ilmiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang terjadi ketika ilmu menjadi tersekularkan? Ilmu kemudian kehilangan tujuan hakiki dan hanya berfungsi memenuhi hawa nafsu dan kebutuhan jangka pendek. Meskipun ilmu pengetahuan dan tek nologi yang mereka ciptakan mampu melahirkan peradaban yang “maju”, namun “kemajuan” tidak membawa pada ke te nangan, kedamaian dan keadilan. Padahal, dalam Islam, menurut Prof. Wan Mohd Nor, tujuan tertinggi dari ilmu adalah mencetak manusia-manusia yang beradab. Manusia yang beradab pada Allah, pada Rasul, pada ulama pewaris nabi, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pandangan Islam, ilmu harus mengantarkan manusia tidak menjadi syirik, sebab syirik adalah “kezaliman besar”, tindakan yang tidak beradab kepada Allah (QS 31:13). Ilmu yang benar, ha rus mengantarkan manusia kepada keyakinan dan kebahagiaan yang hakiki. Se bab, hanya dengan keyakinan, manusia akan mampu meraih kebahagiaan yang ha kiki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itulah, gagasan Islamisasi Ilmu memang mendesak untuk dilakukan. Sebab, ilmu yang rusak, adalah sumber dari segala kerusakan. Dari ilmu yang rusak, lahir pula cendekiawan yang rusak; bahkan ulama yang rusak. Padahal, kata Imam al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin, rakyat rusak gara-gara penguasanya rusak; dan penguasa rusak, gara-gara ulama yang rusak; dan ulama rusak karena terjangkit penyakit “hubbuddunya” (gila dunia). Wallahu A’lam. Adian H. Jurnal Islamia Republika. http://republika.co.id/koran/155/36835/Islamisasi_Ilmu_Dari_Salman_Kemudian_Terabaikan&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4691295274548167167-576350411913489459?l=nuimhidayat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nuimhidayat.blogspot.com/feeds/576350411913489459/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4691295274548167167&amp;postID=576350411913489459&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4691295274548167167/posts/default/576350411913489459'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4691295274548167167/posts/default/576350411913489459'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nuimhidayat.blogspot.com/2009/03/islamisasi-ilmu-dari-salman-kemudian.html' title='Islamisasi Ilmu Dari Salman Kemudian Terabaikan'/><author><name>Nuim Hidayat</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04748613359481249234</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='22' src='http://2.bp.blogspot.com/_5sXuNmRv_aA/SXrAMvDXeaI/AAAAAAAAAAM/KQ9cesHTMeQ/S220/FOTO+1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_5sXuNmRv_aA/Sbm_A9YtQuI/AAAAAAAAAB4/bMTFOGAPAdU/s72-c/buku.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4691295274548167167.post-6673101107835371818</id><published>2009-02-15T20:48:00.000-08:00</published><updated>2009-02-15T20:50:54.566-08:00</updated><title type='text'>Untuk Para Pemimpin Politik</title><content type='html'>"Sesungguhnya orang-orang akan melihat segala urusanmu, sebagaimana engkau dahulu melihat urusan para pemimpin sebelummu. Rakyat akan mengawasimu dengan matanya yang tajam, sebagaimana kamu menyoroti pemerintahan sebelumnya juga dengan pandangan yang tajam." (Surat Khalifah Ali r.a. kepada Gubernur Mesir)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jabatan politik saat ini menjadi tren dan rebutan jutaan orang dan partai politik. Kampanye lewat spanduk, brosur, kartu nama, facebook, email bertebaran di dunia nyata maupun dunia maya. Salah satu sisi, hal itu menambah ketidaksedapan keindahan tata kota, tapi di sisi lain hal itu tidak bisa dihindari, karena peraturan negara lewat KPU sendiri dibuat untuk memubahkan hal-hal seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu ketika mencalonkan menjadi caleg, capub, cagub atau capres, mereka mempunyai mimpi-mimpi indah untuk diri mereka. Kita tidak tahu apakah mereka mempunyai mimpi indah juga untuk konstituen atau masyarakatnya. Misalnya bila dihadapkan pada kondisi krisis, siapa yang dikorbankan dirinya atau rakyatnya, kita tidak tahu apa yang ada dalam benak mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ulama dan pemimpin-pemimpin Islam dalam sejarah, telah memberikan nasehat yang berharga tentang masalah ini. Diantaranya adalah nasihat khalifah keempat yang mulia Ali bin Abi Thalib kepada gubernur Mesir Malik bin Harits al Asytar, pada tahun 655M. Nasihat ini berisi prinsip-prinsip dasar tentang pengelolaan atau manajemen sebuah pemerintahan, organisasi dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Profesor A Korkut Özal dari Turki, pada perkembangan selanjutnya ternyata surat ini memberi banyak inspirasi bahkan menjadi bahan acuan bagi banyak pemimpin, melintasi ruang dan waktu. Tercatat ia mampu melintasi Eropa di masa Renaissance bahkan Edward Powcock (1604-1691), profesor di Universitas Oxford, menerjemahkan surat ini ke dalam bahasa Inggris untuk pertama kalinya dan pada 1639 disebarkan melalui serial kuliahnya yang disebut Rhetoric.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut cuplikan nasehat-nasehat Sayyidina Ali r.a. yang sangat berharga itu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ketahuilah wahai Malik bahwa aku telah mengangkatmu menjadi seorang Gubernur dari sebuah negeri yang dalam sejarahnya berpengalaman dengan pemerintahan-pemerintahan yang benar maupun tidak benar. Sesungguhnya orang-orang akan melihat segala urusanmu, sebagaimana engkau dahulu melihat urusan para pemimpin sebelummu. Rakyat akan mengawasimu dengan matanya yang tajam, sebagaimana kamu menyoroti pemerintahan sebelumnya juga dengan pandangan yang tajam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka akan bicara tentangmu, sebagaimana kau bicara tentang mereka. Sesungguhnya rakyat akan berkata yang baik-baik tentang mereka yang berbuat baik pada mereka. Mereka akan 'menggelapkan' semua bukti dari tindakan baikmu. Karenanya, harta karun terbesar akan kau peroleh jika kau dapat menghimpun harta karun dari perbuatan-perbuatan baikmu. Jagalah keinginan-keinginanmu agar selalu di bawah kendali dan jauhkan dirimu dari hal-hal yang terlarang. Dengan sikap yang waspada itu, kau akan mampu membuat keputusan di antara sesuatu yang baik atau yang tidak baik untuk rakyatmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembangkanlah sifat kasih dan cintailah rakyatmu dengan lemah lembut. Jadikanlah itu sebagai sumber kebijakan dan berkah bagi mereka. Jangan bersikap kasar dan jangan memiliki sesuatu yang menjadi milik dan hak mereka. Sesungguhnya manusia itu ada dua jenis, yakni orang-orang yang merupakan saudara seagama denganmu dan orang-orang sepertimu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka adalah makhluk-makhluk yang lemah, bahkan sering melakukan kesalahan. Bagaimanapun berikanlah ampun dan maafmu sebagaimana engkau menginginkan ampunan dan maaf dari-Nya. Sesungguhnya engkau berada di atas mereka dan urusan mereka ada di pundakmu. Sedangkan Allah berada di atas orang yang mengangkatmu. Allah telah menyerahkan urusan mereka kepadamu dan menguji dirimu dengan urusan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Janganlah engkau persiapkan dirimu untuk memerangi Allah, karena engkau tidak mungkin mampu menolak azab-Nya dan tidak mungkin dirimu akan meninggalkan ampunan dan rahmat-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Janganlah pernah menyesal atas ampunan yang kau berikan. Begitupun janganlah bergembira dengan sebuah hukuman. Jangan pula tergsa-gesa memutuskan atau melakukan semata karena emosi, sementara engkau sebenarnya dapat memperoleh jalan keluar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan katakan:"Aku ini telah diangkat menjadi pemimpin, maka aku bisa memerintahkan dan harus ditaati", karena hal itu akan merusak hatimu sendiri, melemahkan keyakinanmu pada agama dan menciptakan kekacauan dalam negerimu. Bila kau merasa bahagia dengan kekuasaan atau malah merasakan semacam gejala rasa bangga dan ketakaburan, maka pandanglah kekuasaan dan keagungan pemerintahan Allah atas semesta, yang kamu sama sekali tak mampu kuasai. Hal itu akan meredakan ambisimu, mengekang kesewenang-wenangan dan mengembalikan pemikiranmu yang terlalu jauh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan sampai engkau melawan Allah dalam keagungan-Nya dan menyerupai-Nya dalam keperkasaan-Nya. Sesungguhnya Allah akan merendahkan setiap orang yang angkuh dan menghinakan setiap orang yang sombong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senantiasa belajarlah segala sesuatu hal pada mereka yang memiliki pengalaman yang matang dan penuh kebijakan. Seringlah bertanya pada mereka tentang hal-hal kenegaraan sehingga engkau dapat mempertahankan kebaikan dan perdamaian yang oleh para pendahulumu sudah pernah ditegakkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tajamkanlah matamu pada orang-orang yang sejak dulu atau sekonyong dekat denganmu, akan cenderung menggunakan posisinya untuk mengambil atau mengorupsi milik dan hak orang lain dan siap berlaku tidak adil. Tekanlah sedalamnya kecenderungan seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buatlah peraturan-peraturan di bawah kendalimu yang tidak memberi kesempatan sekecil pada kerabatmu. Hal itu akan mencegah mereka melakukan kekerasan pada hak orang lain dan menghindarkanmu dari kehinaan di depan Allah dan manusia umumnya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menarik juga membaca surat wasiat Sultan Muhammad al Fatih (831 H) kepada anaknya. Al Fatih oleh para ulama dan sejarawan Islam disebut sebagai penakluk Konstatinopel. Ia adalah laki-laki yang disebut Rasulullah saw sebagai : "Konstatinopel akan bisa ditaklukkan di tangan seorang laki-laki . Maka orang yang memerintah di sana adalah sebaik-baik penguasa dan tentaranya adalah sebaik-baik tentara." (HR Ahmad)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dr. Ali Muhammad as Shalabi mengemukakan sifat-sifat mulia Muhammad al Fatih ini sehingga menjadi pemimpin besar dalam sejarah Islam. Sifat-sifat itu adalah: perhatian yang tinggi terhadap universitas dan sekolah, kepeduliannya yang besar terhadap para ulama, perhatiannya terhadap penyair dan sastrawan, kepeduliannya terhadap penerjemahan buku-buku, perhatiannya terhadap pembangunan dan rumah sakit, kepeduliannya terhadap perdagangan dan industri, perhatiannya terhadap masalah administrasi, kepeduliannya terhadap tentara dan armada laut dan komitmennya pada keadilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut cuplikan nasehat sang penakluk Konstatinopel (Turki) itu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tak lama lagi aku akan menghadap Allah SWT. Namun aku sama sekali tidak merasa menyesal, sebab aku meninggalkan pengganti seperti kamu. Maka jadilah engkau seorang yang adil, saleh dan pengasih. Rentangkan perlindunganmu terhadap seluruh rakyatmu tanpa perbedaan. Bekerjalah kamu untuk menyebarkan agama Islam sebab ini merupakan kewajiban raja-raja di bumi. Kedepankan kepentingan agama atas kepentingan lain apapun. Janganlah kamu lemah dan lengah dalam menegakkan agama. Janganlah kamu sekali-kali memakai orang-orang yang tidak peduli agama menjadi pembantumu. Jangan pula kamu mengangkat orang-orang yang tidak menjauhi dosa-dosa besar dan larut dalam kekejian. Hindari bid'ah-bid'ah yang merusak. Jauhi orang-orang yang menyuruhmu melakukan itu. Lakukan perluasan negeri ini melalui jihad. Jagalah harta baitul mal jangan sampai dihambur-hamburkan. Jangan sekali-kali engkau mengulurkan tanganmu pada harta rakyatmu kecuali itu sesuai dengan aturan Islam. Himpunlah kekuatan orang-orang yang lemah dan fakir, dan berikan penghormatanmu kepada orang-orang yang berhak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh sebab ulama itu laksana kekuatan yang harus ada di dalam raga negeri, maka hormatilah mereka. Jika kamu mendengar ada seorang ulama di negeri lain, ajaklah dia agar datang ke negeri ini dan berilah dia harta kekayaan. Hati-hatilah jangan sampai kamu tertipu dengan harta benda dan jangan pula dengan banyaknya tentara. Jangan sekali-kali kamu mengusir ulama dari pintu-pintu istanamu. Janganlah kamu sekali-kali melakukan satu hal yang bertentangan dengan hukum Islam. Sebab agama merupakan tujuan kita, hidayah Allah adalah manhaj (pedoman) hidup kita dan dengan agama kita menang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ambillah pelajaran ini dariku. Aku datang ke negeri ini laksana semut kecil, lalu Allah karuniakan kepadaku nikmat yang demikian besar ini. Maka berjalanlah seperti apa yang aku lakukan. Bekerjalah kamu untuk meninggikan agama Allah dan hormatilah ahlinya. Janganlah kamu menghambur-hamburkan harta negara dalam foya-foya dan senang-senang atau kamu pergunakan lebih dari yang sewajarnya. Sebab itu semua merupakan penyebab utama kehancuran." Wallahu aziizun hakiim.*&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4691295274548167167-6673101107835371818?l=nuimhidayat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nuimhidayat.blogspot.com/feeds/6673101107835371818/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4691295274548167167&amp;postID=6673101107835371818&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4691295274548167167/posts/default/6673101107835371818'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4691295274548167167/posts/default/6673101107835371818'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nuimhidayat.blogspot.com/2009/02/untuk-para-pemimpin-politik.html' title='Untuk Para Pemimpin Politik'/><author><name>Nuim Hidayat</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04748613359481249234</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='22' src='http://2.bp.blogspot.com/_5sXuNmRv_aA/SXrAMvDXeaI/AAAAAAAAAAM/KQ9cesHTMeQ/S220/FOTO+1.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4691295274548167167.post-6264226298436624951</id><published>2009-02-09T18:40:00.000-08:00</published><updated>2009-02-09T18:43:29.141-08:00</updated><title type='text'>Bersama Pak Natsir di Hutan</title><content type='html'>Oleh: H.M.S Dt. Tan Kabasaran* &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Surek Ketek Berdampak Besar”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agak “istimewa” dari yang lain. Pertama kali bertemu, bukan saya yang mendatangi, tapi pak  Natsir yang datang  ke Bukittinggi di awal Januari 1950. Beliau mengundang saya bertatap-muka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya baru berusia 22 tahun tapi sudah bekeluarga, ketika mengayuh sepeda menginggalkan  rumah di Birugo menuju jalan Luruih untuk memenuhi undangan  bertemu pak Natsir di Markas Masyumi Sumatera Tengah. Saat itu beliau baru jadi Ketua Partai Masyumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang,  sejak usia mantah (muda) saya sudah berkecimpung di markas GPII (Gerakan Pemuda Islam Indonesia). Di sini saya mulai dari tukang sapu,  hingga jadi Pengurus Wilayah GPII Sumatera Tengah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usia saya saat Ananda (reporter) datang ini, sudah 83 tahun. Peristiwa pertamakali bertemu dengan pak Natsir sudah sangat-sangat lama berlalu. Sehingga saya  tak begitu ingat lagi  bagaimana  kesan  pertama  bertemu dengan  beliau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara  generasi pertama GPII dan Masyumi, saya  mungkin satu-satunya yang amat jarang menemui beliau ke Jakarta. Beliaulah  yang datang menemui saya.&lt;br /&gt;“Angku Malin, kata pak Natsir (saat itu  saya belum bergelar Datuk), jangan jauh-jauh  dari ranah Minang. Saya minta Angku Malin  tetap saja  di kampung (Bukittinggi). Angku Malin  harus menjadi  tampatan (tujuan pertama) setiap pengurus Masyumi Pusat dan GPII Pusat  yang datang ke  ranah Minang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amanah  itu, sampai  di usia laruik sanjo ini,  tetap saya pegang. Saya tak penah beranjak dari ranah Minang, kendati yang memberi amanah sudah lama berpulang ke pangkuan Allah Azza Wajalla.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau sangat jarang  keluar daerah, saya sangat mendalami garis dasar  perjuangan Masyumi  yaitu  mewujudkan  Islam sebagai Dasar Negara Indonesia. Mungkin sudah beratus  kali saya baca ulang  naskah pidato beliau  di muka sidang Konstituante  yang bertajuk  “Islam Sebagai Negara ”. Inilah yang pertama menarik saya  terjun ke GPII dan kemudian Masyumi.   Maka,  sebagai anggota Masyumi dan bagian  dari umat  Islam,  saya harus  tutut berjuang bagi terwujudnya  cita-cita  menjadikan Islam sebagai Dasar Negara dan berjuang mempersiapkan masyarakat  dengan berbagai kegiatan. Sebab, andai kata  Islam  berhasil dijadikan sebagai Dasar  Negara,  maka masyarakat telah siap  melaksanakan Syariat Islam  karena memang telah kita siapkan sejak awal. Dengan demikian masyarakat Indonesia tidak akan canggung lagi melaksanakan  hukum Islam. Karena tugas  menyiapkan mental masyarakat itulah, saya menjadi  punya  cukup banyak pengalaman dan kenangan bersama pak  Natsir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu  persiapan mental umat melaksanakan Islam sebagai dasar negara  yang saya lakukan di Bukittinggi adalah  menyiapkan dan melaksanakan Kongres Alim Ulama se-Sumatera  selama sepekan di awal tahun 1967. Inilah  alek gadang  pertama yang berhasil mempertemukan para alim ulama di pulau  Sumatera dimana saya diamanahkan menjadi Kepala Sekretariat  persiapan dan pelaksananya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah, kongres Alim Ulama  se-Sumatera  selama lima hari itu  berakhir dengan  sukses. Lebih seratus tokoh Alim Ulama  di pulau Sumatera hadir. Kendati  tidak seluruh Alim Ulama  anggota Masyumi, namun Kongres itu berhasil melahirkan rekomendasi  yang intinya adalah juga tuntutan Masyumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antaranya  Kongres Alim Ulama  se Sumatera menuntut dibersihkannya pemerintahan dari unsur PKI. Bentuk Pengadilan Agama  mulai  dari Pusat hingga ke Kabupten/Kota di Indonesia. Tapi yang pokok bana sebagaimana tuntutan  Masyumi dan  kemudian  PRRI, adalah dimana Kongres Alim Ulama  dalam rekomendasi yang  ditandatangani  Buchari Tamam  selaku ketua dan Sofyan Hamzah Sekretaris  adalah, Pengurus Alim Ulama se Sumatera mempercayakan kepada Presiden membentuk  Kabinet yang dipimpin Mohammad  Hatta tanpa Dewan Nasional (DN) yang dipenuhi anasir  komunis/PKI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tauladan di Tengah Hutan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski inti dari perjuangan pak Natsir adalah agar Negara yang baru merdeka tidak jatuh ke tangan komunis dan tidak terpecah belah menjadi beberapa Negara boneka bagi Negara Asing,  dan meskipun dukungan terhadap perjuangan pak Natsir  itu amat besar  seperti  rekomendasi Alim Ulama se-Sumatera itu,  tetapi tidak juga digubris rezim penguasa. Justru, jawaban yang diberikan pada pak Natsir adalah penyerbuan. Beliau  akhirnya  harus masuk hutan-keluar hutan, bahkan dipenjarakan. Tapi itulah  pak Natsir yang saya kenal. Beliau  seorang pemimpin  yang ikhlas dan istiqamah  dimana dan kapan pun,  bahkan  ditengah hutan sekalipun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya adalah  kader  dengan status sebagai “pembawa tas” pak Natsir saat harus masuk hutan, keluar hutan. Tapi  sampai ke tengah hutan sekalipun saya mendapati  beliau yo bana pemimpin. Suatu ketika  di dalam hutan, saya menyaksikan beliau didatangi  orang kampung  yang mengantarkan pucuk ubi, nangka dan segala macam  sayuran. Memang orang kampung yang datang itu sudah terseleksi oleh kami.  Saya lupa namanya, dia datang  dengan pakaian kotor, berkeringat dan rambutnya kusut-masai. Tampaknya,  dari ladang dia langsung saja membawa sayuran dengan mengendap-ngendap terus ke  tempat persembunyian pak Natsir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh pak Natsir orang kampung yang datang dengan pakaiannya masih baluluak itu,  belum dibolehkan  pulang  sebelum makan sama-sama dengan beliau. Bahkan sampai ke tempat duduk pun beliau ‘istimewakan’.  Orang kampung itu  disuruh duduk di sebelah kanan  beliau,  di sebelah kiri beliau duduk ummi dan anak-anak beliau. Sedangkan saya oleh pak Natsir  di suruh duduk  di sebelah kiri orang kampung itu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Berapa kali tampak  pak Natsir membasoi orang kampung itu. "Buekan samba, tambuahlah," begitu sapa  pak Natsir. Beliau juga tidak buru-buru membasuh tangan begitu nasi di piringnya licin (habis). Beliau menanti  orang kampung itu sampai  selesai makan, dan barulah sama-sama mencuci tangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebesaran pak Natsir juga tampak ketika beliau berbincang-bincang  dengan orang kampung itu. Memang Rasulullah pernah mengatakan, "Berbicaralah dengan orang,  sepanjang  pengetahuannya”. Itu dipraktekkan  pak Natsir dalam pembicaraan dengan orang kampung itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau  memang bicarakan juga spirit perjuangan, tapi tidak dengan bahasa 'tinggi'. Jadi, siapapun  yang mau datang  tidak dibebani rasa takut. Lain dengan pak Syaf (Syafruddin Prawiranegara) atau   pak Bur  (Burhanuddin Harahap), banyak  kawan-kawan takut bila disuruh berbicara empat mata  dengan beliau, ‘setelannya’ tinggi. &lt;br /&gt;Pak Natsir kalau berbicara,  selalu menyesuaikan dengan audiensnya. Saat berbicara dengan pak Wali Nagari Sungai Batang, dia bicara tidak  secadiak Camat. Setiap orang yang pertama bertemu dengan beliau, cepat terpaut hatinya dan  merasa seperti sudah kenal lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari pengalaman selama  hampir dua tahun berada dalam rimba bersama pak Natsir, saya sangat merasakan betapa beliau adalah pemimpin sejati yang tidak ada duanya  di republik ini. Di masa susah itu, beliau benar  sama-sama susah dengan yang dipimpin. Ketika  mendaki bukit atau menuruni lembah,  beliau  sama-sama berjalan kaki  dengan kami. Minta dipapah saja  beliau tidak pernah, apalagi minta ditandu. &lt;br /&gt;Teladan dari seorang pemimpin yang ikhlas itulah yang menumbuhsuburkan benih kesetiaan  di hati  para  kader hingga  tinggal  di pelosok kampung dan di pinggir hutan sekali pun. Kesetiaan  para kader pak Natsir itu saya saksikan langsung  ketika kami baru masuk hutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rimbo (hutan) pertama yang kami huni adalah rimbo Sitalang. Ini merupakan kawasan terujung dari wilayah  Lubukbasung Utara berbatasan dengan Palembayan.&lt;br /&gt;Dari kampung  Sitalang ke  rimbo Sitalang cuma berjarak  satu jam  berjalan kaki  saja. Amat dekat sebenar, bagi kaki  tentara terlatih. Pada sebuah dangau  di tengah rimba Sitalang itulah pak Natsir diungsikan dari kejaran tentara Soekarno yang sudah sampai di kampung Sitalang.  Lebih delapan bulan pak Natsir di  sini. Tapi tidak pernah tercium oleh  tentara Soekarno yang terpisahkan oleh jarak cuma  satu jam  jalan kaki saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemimpim Masyumi Sitalang  bersama masyarakat benar-benar berjuang menyelamatkan pak Natsir,  sehingga tidak ada orang yang tahu lokasinya. Bila pun ada yang tahu, tapi masyarakat benar-benar bisa menutup mulut. Begitulah kharisma pak Natsir di hati ummat. Andai beliau  bukan pemimpin paling dicintai ummat, maka pada hari kedua masuk hutan saja,  pak Natsir  sudah ditangkap. Ya, berapa jauhlah jarak kami dengan balatentara Sekarno. Hanya sekitar satu jam  perjalanan saja, dan bagi tentara terlatih tentu itu sangatlah dekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya karena kegelisahan seorang  tua yang  menjadi penunjuk jalan,  akhirnya pak Natsir setuju melanjutkan  perjalan  dari rimbo Sitalang  menembus hutan  Palembayan,  kemudian turun ke  Kayu Pasak, lalu  berbelok ke desa Maur. Setelah  berdiam beberapa malam,  Ketua Masyumi Palembayan memandu kami  ke dalam hutan yang jarang  dilalui orang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mengawal pak Natsir  menuju tepi  Batang Masang. Menjelang malam dari sini pak Natsir  diberangkatkan  ke seberang  Batang Masang  dengan menaiki rakit. Di sebarang Batang Masang itulah  selama 11 bulan, pak Natsir diselamatkan. Padahal jaraknya  tidaklah jauh  dari  tentara musuh.  Dari  persembunyian itu masih jelas terdengar deru oto prah  (truk)  yang hilir-mudik  mengangkut  tentara Soekarno.&lt;br /&gt;Pak Natsir  berada  di sana lebih 11 bulan dengan aman. Dan, barulah keluar dari hutan  melalui Aia Kijang setelah Ketua Dewan Perjuangan PRRI,  Ahmad Husein, mengumumkan dihentikannya perlawanan,  pada awal Juni 1961.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi pengumunan penghentian perlawanan oleh  PRRI,  bukan akhir perjuangan. Sebenarnya,  perjuangan dengan cara dan nama lain,  sudah  diproklamirkan jauh sebelum pengumuman itu. Tepatnya,  di awal Januari tahun 1961. Dalam suatu upacara di Bonjol Pasaman, diproklamirkanlah Republik Persatuan Indonesia (RPI) yang diikuti pak Natsir sebagai Menteri PDK dan Agama,  sedangkan Presiden RPI adalah pak Syafruddin Prawiranegara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah memproklamirkan RPI di Bonjol ,  rombongan kemudian dibagi  dua. Rombongan pak Syaf dan Burhanuddin  berjalan ke arah Timur, sedangkan rombongan pak Natsir,  Dahlan Djambek dan saya berjalan  ke arah ke Barat.&lt;br /&gt;Adapun  sebab RPI diproklamirkan karena perjuangan PRRI akan  segera berakhir dan dibubarkan oleh pemerintahan Soekarno. Sedangkan cita-cita perjuangan  PRRI belum tercapai, terutama tentang Pembubaran Dewan Nasional dan pembersihan Kabinet dari unsur PKI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena tidak ada lagi jalan kompromi dengan rezim Soekarno,  maka 'dilatuihkan bana' Republik  Persatuan Indonesia .  Jalannya upacara ya,  seperti  upacara militer&lt;br /&gt;dilengkapi  dengan pasukan militer, di antaranya pasukan  Batalyon Kemal Amin.&lt;br /&gt;RPI merupakan gerakan lanjutan PRRI yang dilengkapi  dengan naskah Proklamasi dan UUD. Mukaddimah UUD RPI merupakan kutipan langsung dari Pidato Mohammad Natsir dalam suatu pertemuan lengkap  Dewan Perjuangan PRRI.  Masyarakat akan dapat membaca selengkapnya Mukaddimah UUD RPI  di buku Kapita Selecta III yang akan terbit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, yang diproklamirkan tetap saja bernama Republik Persatuan Indonesia (RPI).Ya, sebenarnya pak Natsir, pak Syaf, pak Bur dan sejumlah tokoh sipil itu sangat cinta Republik Indonesia. Tadinya, sebelum  dibentuknya PRRI para tokoh sipil ini sudah membuktikan kecintaannya pada Republik Indonesia. Jadi sebelum meraka datang dan bergabung,  para Panglima  yang membentuk Dewan-Dewan Daerah sudah sampai  pada  rencana pemisahan diri dari NKRI. Bahkan rapat di Sungai Dareh arahnya memang sudah ke sana, berjuang  melepaskan diri dari Republik Indonesia. Tapi dengan  keberadaan pak Natsir, pak Syaf, pak Bur dan Mr. Asaat, cita-cita itu dapat dipadamkan. Orang berempat ini bertahan dengan seruan,  "Jangan!” dan makanya yang dibentuk bernama PRRI  bukan Republik Sumatera atau bukan seperti yang sudah lebih dulu diproklamirkan yaitu RMS (Republik Maluku Selatan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, pak Natsir cs ini bukan pemberontak.Karena yang akhirnya dibentuk hanya Pemerintahan Revolusioner  Republik Indonesia. Bukan pemerintahan  Negara Sumatera misalnya atau seperti RMS itu. Tetapi  setelah lebih  2,5 tahun berjalan,  tak ada juga titik temu antara PRRI dan pemerintahan Jakarta. Bahkan jaraknya makin lama makin jauh, sementara di Maluku, Sulawesi dan Kalimantan kian tumbuh gerakan separatis yang mengancam keutuhkan Republik Indonesia. Maka, diproklamirkanlah Republik Persatuan  Indonesia  itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sidang Tengah Malam &lt;br /&gt;Melawan Baptis &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ada kenangan  yang  membuat saya  tak pernah tidur terkait dengan  pak Natsir. Saat itu rencana orang Kristen untuk mendirikan Rumah Sakit Baptis hampir saja terwujud. Mereka  telah berjuang sejak tahun 1962 dan hampir  mendapatkan tanah  setahun kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya, mereka mencari tanah dekat Ateh Tambuo Bukittinggi, mereka telah melakukan pendekatan dan hampir dapat membeli tanah itu. Tapi Allah SWT berkehendak lain, rencana jangka panjang mereka dengan RS Baptis itu  "bocor" keluar. Saya berhasil mendapatkan anggaran dasar mereka  melalui seorang kader yang menyamar dan melamar sebagai tukang kayu pada mereka. Kader ini berhasil mendapatkan anggaran dasar mereka. Betapa terkejutnya saya membaca AD RS Baptis itu. Ada satu pasal yang tegas berbunyi “bahwa usaha Rumah Sakit Baptis dan sosial lainnya, adalah dalam rangka Pengabaran Injil ke daerah-daerah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bocoran itu  lalu kami sebarkan ke masyarakat sehingga setiap upaya Baptis membeli tanah, berhasil kami gagalkan.  Untuk menggalakkan penjualan tanah di  Ateh Tambuo itu,  kami datangi Ninik Mamak dan penghulu kaum di situ, kami paparkan tujuan RS Baptis itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gagal  di Atah Tambuo,  pengurus Baptis  berpindah ke  Panganak di belakang RS Mukhtar sekarang. Mereka melobi lagi pemuka kaum di sana, tapi  malamnya  saya datang pula menemui penghulu kaumnya, memaparkan tujuan  RS Baptis  dengan bukit  anggaran dasar mereka. Maka, rencana Baptis mendapatkan tanah, gagal  lagi.&lt;br /&gt;Tak kehilangan akal, pengurus Baptis lari lagi ke dekat Simpang Mandiangin, ada tanah seluas  dua hektar yang diincernya.  Kami rangkaki pula ke situ, maka gagal lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, Baptis berhasil mendapatkan sebidang tanah di Luak Anyia, tapi  bukan tanah  ulayat kaum. Hanya sebidang tanah milik pribadi seorang wanita asal Bayur Maninjau yang bersuamikan seorang cina keturunan Taiwan.  Tadinya tanah ini akan dia bangunan perumahan, tapi daerah  keburu bergolak. Baptis berhasil mendapatkan tanah tanah milik pribadi itu. Notaris yang mengurus jual-beli itu melaporkan pada saya. “Nyiak, sebagai notaris saya tak bisa mengelak tugas. Namun yang jelas kini saya bocorkan informasi bahwa  tanah itu sudah dibeli Baptis. Kini terserah inyiak, mau diapakan fakta ini," kata Notaris itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya dan teman-teman lalu bermufakat, apa langkah langkah yang harus dilakukan,  karena secara fakta  tanah itu sudah lepas ke Baptis. Ada teman yang pasrah dengan telah resminya transaksi dihadapan notarius."Sudahlah, lah lapeh kijang karimbo,"ujarnya mengibaratkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian kami  "tabik pangana", perjuangan harus diarahkan bukan lagi pada  pemilik tanah karena "kijang lah lapeh karimbo", tetapi kepada "pemilik" kota ini yaitu pemerintah. Caranya dengan  mendesak   DPRD bersidang dan mengeluarkan keputusan agar Walikota tidak memberi izin pembangunan RS Baptis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa menunggu besok, di larut malam itu juga kami memburu ketua DPRD Bukit Tinggi. Waktu itu dijabat oleh pak Munir Marzuki Datuk Sutan Maharajo, beliau juga Ketua  Masyumi sekaligus  Ketua Muhammadiyah Bukittinggi. Kami datang  ke rumahnya. Kami paparkan semua kejadian dan bukti   bahwa RS Baptis sudah mendapatkan tanah. Lalu beliau bertanya,“Apa rencana tuan-tuan lagi?”&lt;br /&gt;Saya angkat bicara mewakili teman-teman. "Kami minta DPRD  melaksanakan rapat pleno darurat dengan keputusan  melarang Walikota Bukittinggi memberikan izin bangunan kepada Baptis”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagai "gayung bersambut", ketua DPRD terbakar semangatnya. "Ya, akan saya  desak kawan-kawan agar melaksanakan rapat darurat,"  tegasnya. "Jangan tunggu sehari dua, pak. Sedapatnya DPRD  cepat bersidang,"  desak saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai ketua Masyumi, pak Munir Marzuki tentu sudah sangat sependapat dengan kami. Tapi bagaimana dengan  anggota DPRD lainnya?. Rupanya, kader Masyumi  yang  di parlemen memang  teruji  kesetiaannya pada perjuangan umat. Besok paginya, pak Munir mendadak mengumpulkan  anggota  dewan,  lalu membicarakan tuntutan kami  yang mendesak dilaksanakannya 'sidang istimewa'  DPRD Bukittinggi dengan agenda tunggal melahirkan keputusan  melarang saudara Walikota mengeluarkan izin bangunan bagi RS Baptis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya maklum, saat itu cukup hangat perdebatan  di internal DPRD,  tapi saya juga tahu  para kader Masyumi di sana tetap setia dengan garis perjuangan Islam sebagai Dasar Negara dan penegakan Syariat Islam di tengah masyarakat. Karena itu saya juga yakin mereka akan turut  menggagalkan setiap rencana pemurtadan dan   penghancuran aqidah umat,  seperti melalui rencana pembangunan RS Baptis itu.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Maka, singkat kata, dalam perdebatan yang cukup hangat di siang itu, akhirnya DPRD sepakat menggelar Sidang Darurat. Bahkan tuntutan kami agar Sidang Darurat dilaksanakan dalam tempo 1x24 jam lagi, ternyata mereka penuhi. Walau saat itu   puasa (Ramadhan). Besok malamnya,  DPRD  Bukittinggi melaksanakan Sidang Darurat di kantornya,  di sebelah Masjid Raya sekarang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah peristiwa pertama  DPRD bersidang malam hari,   dengan agenda tunggal  yang terkait dengan nasib umat. Sidang dilaksanakan  setelah shalat tarawih  yang dipimpin langsung oleh Ketua DPRD Munir Marzuki. Hebatnya lagi, umat Islam  di kota Bukittinggi juga  datang berduyun-duyun  menyaksikan jalannya sidang karena  pak Munir Marzuki  tidak saja  menyurati semua anggota dewan  untuk melaksanakan sidang nanti malam, tetapi beliau juga menembuskan surat undangan itu kepada pengurus Masjid dan Ormas Islam di kota Bukittinggi. Tentu, bergegas kami mengantarkan tembusan surat itu sehingga dapat dibacakan pengurus Masjid dihadapan jamaah tarwih. Dampaknya luar biasa,  dari masjid  umat berduyun-duyun datang menyaksikan sidang istimewa DPRD. Ratusan kaum ibu bahkan datang sambil tetap mengenakan telekung. Massa membludak  hingga menutup jalan raya, pengeras suara terpaksa dipasang di tengah jalan.  Kata demi kata  yang terucap dalam sidang,  jelas terdengar oleh massa. Mereka  berulangkali meneriakan takbir  "Allahu Akbar!" &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam   gedung,  saya dan  pengurus MUI  duduk berhadapan dengan pengurus Baptis yang sengaja dihadirkan agar mendengar langsung apa keputusan DPRD. Semula mereka keberatan hadir, namun setelah dijamin keselamatannya, mereka akhirnya datang  juga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nyaris tidak ada perdebatan berarti dalam Sidang Darurat  DPRD Bukittinggi di tengah malam  itu. Menjelang makan sahur Ketua DPRD tampil membacakan hasil Keputusan Sidang Darurat  yang isinya adalah DPRD Bukittinggi memutuskan "Melarang  saudara Walikota Bukitinggi  memberikan Izin Mendirikan Bangunan kepada Yayasan Baptis untuk mendirikan Rumah Sakit  Baptis  di Luhak Anyir Bukittinggi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keputusan DPRD itu  disambut  pekikan takbir oleh  ribuan massa. Sebagian orang tua dan kaum ibu  saya lihat melakukan sujud syukur. Dari pelopak mata mereka  meneteskan air mata haru  di  kedinginan udara malam  yang membalut kota Bukittinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya dan teman-teman beranggapan sejak palu diketuk Ketua DPRD malam itu  maka  perjuangan telah selesai. Tapi rupanya pihak Baptis tidak kehilangan akal. Melalui orang-orangnya,  mereka berhasil mendekati Komandan Korem. Mereka kemudian diberikan tanah tentara yang kini berlokasi di RSU Pusat  sekarang.  Saya dan teman-kawan terus menggalang aksi penolakan. Sehinggap pada suatu hari  saya bersama pengurus Majelis Ulama Bukittinggi dipanggil oleh Komandan Korem ke rumah Dinasnya. Tanpa rasa  takut  saya memenuhi panggilan itu.  Dengan suara tegas Komandan Korem menyatakan "Saya sudah izinkan kepada Baptis mendirikan Rumah Sakit di sana."  Tanpa meminta  apa pendapat kami,  dia langsung mengeluarkan peringatan "Jika masih ada  yang banyak bicara, tiga Batalyon di belakang saya,'  tegasnya lantang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diancam  tuan rumah seperti  itu,  kami diam saja. Tak ada yang berucap sepatah katapun juga. Ada pegangan kami saat itu  yaitu pepatah Arab yang artinya, ‘Jika ada orang teler yang  bicara padamu, tak usah dijawab. Jawaban yang paling santiang, adalah diam.’ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di awal Juli 1968, datanglah pak Natsir dari Jakarta.  Beliau diundang oleh Gubernur Sumbar, ketika itu pak Harun Zain dan Walikota Padang Akhirun Yahya. Ketika itu  pak Harun berpikir  bagaimana  mengembalikan dan membangkitkan  harga diri orang Minang  yang merasa 'kalah’  pasca PRRI.  Rupanya ada yang menyarankan pak Harun,  kalau itu tujuannya undanglah  pak Natsir agar  berkenan datang ke Sumatera Barat. Akhirnya Gubernur dan juga Walikota Padang  mengundang pak Natsir.  Saya langsung ikut mendamping beliau sejak mendarat  di Bandara Tabing Padang hingga berhari-hari  kami turun ke daerah-daerah. Bertemulah pak Natsir dengan orang banyak  dan  kawan-kawan seperjuangan dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah  menginap di rumah kontrakan saya di Siteba, esoknya kami memenuhi undangan Gubernur dan Walikota Padang,  setelah itu dilanjutkanlah perjalanan ke Batusangkar, 50 Kota hingga  sampai ke desa Aia Kijang  tempat kami  terakhir turun dulu (keluar dari hutan),  terus ke ke Bukittinggi, lalu ke Padang Lua. Setiba  di Pakan Sinayan kami distop oleh masyarakat.Rupanya mereka rindu  melihat wajah pak Natsir. Kami diarak kemudian dibawa singgah ke rumah ibu Asma Malim yang sejak belia sudah menjadi aktivis terkemuka Muslimat Masyumi. Dari Pakan Sinayaan  terus ke Embun Pagi dan menurun ke Manjau melalui kelok 44, lalu berbelok ke kiri  untuk  terus ke Sungai Batang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perjalanan ini  saya satu mobil dengan beliau. Di sinilah kami berdialog tentang masalah pembangunan RS Baptis. Saya jelaskan kronologis perjuangan yang telah dilalui  dalam upaya menggagalkan pembangunan RS yang bermisi pemurtadan dan kristenisasi. Pak Natsir setuju dengan  tujuan perjuangan kami,  tetapi tidak dengan cara-cara  yang kami tempuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Natsir  berkata, "Kalau begitu  caranya Angku-Angku menentang Baptis, maka suatu ketika  orang banyak akan menghadap pada  Angku-angku.  Untuk itu buatlah  Rumah Sakit  karena dibutuhkan orang banyak. Tentang caranya, nanti kita persamakan. "&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawab saya, “Kalau itu yang harus saya sampaikan ke orang banyak,  lidah saya belum masin  lagi, pak.” Setiba di Nagari Sungai Batang, kami  berkunjung ke rumah Wali Nagari, kawan seperjuangan juga. Namanya Ismail, tapi kami biasa memanggilnya "Mai". "Angku Mai, pinjam  mesin tik, ya,"  kata pak Natsir setelah kami melepaskan rangkik-rangkik  agak sebentar. Pak Wali kaget,  tapi langsung bergerak mengambil mesin tik  dengan kertasnya sekalian. Seingat saya ketika itu kertasnya  hanya jenis kertas koran ukuran setengah folio.  Belum ada kertas HVS  seperti sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya diperintahkan  mengetik  apa yang diimlakkan (didiktekan)  pak Natsir. Isi  surat kecil itu persisnya saya lupa,  tapi  intinya:”Perlu mengubah cara  engku-engku sekalian dalam menghadapi lawan yang semakin hari semakin kuat. Yaitu dengan membuat amal-amal yang bermafaat bagi umat. Umpanya,  membuat Rumah Sakit Islam di Bukittingi. Pikirkanlah ini, dan nanti  kita persamakan. "&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah diketik, surat kecil setengah folio itu beliau baca dengan teliti,  lalu beliau tandatangani.  Surat itu  beliau lipat empat,  lalu beliau masukkan ke dalam saku baju saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah pak Natsir  kembali ke Jakarta,  surat kecil  pak Natsir saya serahkan ke Buya Datuk Palimokayo. "Buya, ini  surat yang diberikan pak Natsir untuk kita bersama. Bacalah,"  pinta saya. Dengan cekatan Buya Datuk  bergegas membacanya. Setelah  itu, beliau minta saya segera mengundang beberapa teman untuk rapat. Rapat pertama  di rumah Buya Datuk Palimokayo. Ada delapan orang yang hadir, di antaranya saya sendiri dan Buya Datuk, H. Anwar,  M. Bakri Datuk Rajo  Sampono, Baharudin Kari Basa, Hasan Basri, ibu Naimah Djambek dan Hj. Syarifah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rapat pertama itu  baru menghasilkan satu keputusan yaitu  sepakat  membentuk sebuah badan  yang diberi nama  Lembaga  Kesehatan Dakwah. Di hari-hari berikut,   tiga kali  pengurus Lembaga Kesehatan Dakwah melaksanakan rapat. Pertama di Surau Inyiak Djambek, kali kedua dan ketiga di Jambu Aia di rumah Buya Datuk.  Rapat terakhir  barulah  melahirkan keputusan bahwa  perlu dibangun Rumah Sakit Islam di Bukitinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi pertanyaan kemudian muncul, "Bagaimana caranya? " Tak  seorang pun diantara kami yang tunjuk tangan. Akhirnya peserta  rapat  menambah satu lagi keputusan,  yaitu  menyurati pak Natsir  minta beliau mengirimkan seorang tenaga  ahli di bidangnya, yaitu bidang pembangunan Rumah Sakit  beserta isinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka ditulislah  surat  setebal dua halaman yang intinya meminta pak Natsir mengirimkan tenaga ahli. Surat itu  ditandatangani oleh   H.M D. Palimokayo selaku Ketua Lembaga Kesehatan Dakwah  dan saya  selaku Sekretaris. Saat itu saya belum bergelar Datuk Tan Kabasaran, tapi Tuanku Sulaiman atau   M.S Tk. Sulaiman.&lt;br /&gt;Surat kami  cepat direspon pak Natsir. Beliau  mengirim seorang tenaga ahli  yaitu bapak Mr. Ezeddin  dengan tugas penyambung tangan Yayasan Kesehatan Dakwah  dalam membangun Rumah Sakit Islam. Cita-cita membangun Rumah Sakit Islam kemudian hari berhasil diwujudkan. Tidak hanya di Bukittinggi, pak Natsir juga memprakarsai  pembangunan RS Islam Yarsi di Padang, Padang Panjang, Payakumbuh,  Panti dan  di Kapar  Pasaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam  perjuangan membangun RSI  Ibnu Sina di kelima lokasi itu, pak Natsir adalah pemrakarsanya. Bahkan  sejak priode Pengurus Yayasan Rumah Sakit Islam (Yarsi) diketuai Tamrin Manan, SH  dan saya Wakil Ketua, sengaja kami cantumkan dalam anggaran dasar Yarsi  bahwa pak Natsir baik sebagai peribadi maupun sebagai ketua Dewan Dakwah Islamiyah Pusat,  adalah  sebagai pemrakarsa berdirinya Rumah Sakit Islam Yarsi itu.  &lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andai Saja Pak Natsir Didengarkan&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Satu hal yang tak saya lupakan adalah ketika ikut merintis  lahirnya Majelis Ulama  Sumatera Barat, pada tahun 1967. Ini merupakan  Majelis Ulama pertama di Indonesia, MUI baru terbentuk tahun 1975.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditengah gencarnya kami  melawan rencana pembangunan RS Baptis,  saya dan beberapa kawan menjadi panitia penyelangara Mubes Alim Ulama se Sumatera Barat bertempat di masjid  Jamik Birugo  Bukittinggi. Mubes itu berhasil membentuk  Majlis Ulama Sumatera Barat dengan pengurus terdiri dari Buya Datuk Palimo Kayo, Buya Zas, Iskandar Zulkarnaini dan buya Datuk  Nagari Basa. Saya sebagai Wakil Sekretaris. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Majlis Ulama Sumbar berjalan sampai tahun 1975 ketika terbentukMUI  di tingkat nasional. Perjuangan Majelis Ulama Sumbar yang berat adalah menghadapi  masalah     RS Baptis dan genacarnya kristenisasi hingga ke pelosok Pasaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah terbentuk MUI di Jakarta,  Januari 1975, datanglah Buya Hamka  ke Bukitinggi maka MUI Sumbar yang sudah ada  --dalam suatu pertemuan yang dipandu  Buya Hamka--  langsung  dilebur menjadi MUI Sumbar. Dengan penyesuaian struktur kepengurusan menurut  format MUI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Buya Hamka datang dan terbentuknya MUI itulah, kami timbang-terimakan masalah RS Baptis. Oleh Buya Hamka  masalah itu benar-benar ditindak lanjuti dengan berulangkali mendesak pemeritah Pusat.  Akhirnya pemeritah pusat turun tangan. Mulanya berupaya membeli dan mengambil alih RS Baptis itu  untuk dijadkan RSUD. Tapi pihak Baptis tidak mau menjual.  Mereka mau menjual bila pemerintah menyediakan lokasi di daerah lain. Buya Hamka dan MUI terus  melobi pemerintah. Akhirnya Baptis mendapatkan tempat di  Bandar Lampung. Di sana dibangun RS Imanuel yang  cukup megah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam suatu  dialog kami di atas mobil,  beliau juga pernah berpesan bahwa kebenaran itu sama dengan harimau. Kalau sudah keluar dari sarangnya, dia harus menangkap mangsanya. Cuma  tergantung waktu,  cepat atau lambat. Kadang baru keluar dari sarang Harimau sudah menerkam rusa yang melintas. Kadang berhari-hari baru bertemu kijang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebenaran sama dengan itu. “Kebenaran harus kita sampaikan, apapun resikonya,” kata pak Natsir. Hanya saja  kebenaran itu  ada yang cepat diterima, ada yang lambat, setelah bertahun-tahun kita menyampaikan. Contohnya tentang  PKI. Masyumi sejak awal tahun 50-an sudah  mengingatkan bahwa PKI itu musuh. PKI jangan dibawa bersama-sama dalam  kabinet. Tapi tidak pernah didengar rezim Soekarno, bahkan orang-orang PKI  diberi tempat dan jabatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesadaran akan peringatan Masyumi  tentang bahaya PKI,  baru  tumbuh tahun 1965. “Tapi harus dibayar dengan tujuh jenderal. Kalaulah sejak awal 50-an  Pemerintah  mendengarkan Masyumi, ‘penebusan’ dengan tujuh jendral itu tidak perlu terjadi. Tapi apa boleh buat, awak yang sejak awal melawan PKI, awak pula  yang dimusuhi.&lt;br /&gt;Begitulah kebenaran, cepat atau lambat  dia akan  diikuti. Yan penting, cepat sampaikan kebenaran itu. Jangan ragu, jangan gentar, dan itu telah dilakukan  pak Natsir dengan perbuatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jauh sebelum meletusnya PRRI,  pak Natsir sudah menelan pahitnya akibat menyampaikan kebenaran. Bahkan pada suatu malam,  rumahnya  diteror  pemuda rakyat. Allah SWT menakdirkan pak Natsir  berhasil meloloskan diri  menuju Padang. Jadi, beliau  ke Sumbar bukan kesengajaan untuk ikut PRRI, tapi karena merasa sudah terancam nyawanya di Jakata. Namun  ada pula hikmahnya ketika pak Natsir dan beberapa tokoh sipil seperti Pak Syaf  dan  Burhanudin  ikut PRRI.  Jika tak ada mereka di dalam, PRRI sudah menjadi gerakan separatis  pemisahan diri,  seperti  RMS atau  GAM.  Peta Indonesia akan berubah, paling  hanya  tinggal Jawa-Bali saja.&lt;br /&gt;Tapi itulah pak Natsir, dia berani mengatakan ‘Jangan!”  dihadapan para pemimpin Dewan Militer ketika PRRI akan mengambil langkah pemisahan diri dalam pertemuan di  Sungai Dareh.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang Saya:&lt;br /&gt;Saya  dilahirkan  pada bulan Juli  tahun  1927. Tanggalnya  tak ada yang tahu pasti. Tapi ibu saya yang meninggal di awal revolusi  dimana saya masih bayi, pernah bercerita pada etek saya bahwa  ketika terjadi gempa Padang Panjang,   saya  genap semusim penuh. Artinya, genap dua belas  bulan dalam kandungan.&lt;br /&gt;Gempa  itu diawal  Juni 1926, berarti  saya lahir  awal Juli 1927.&lt;br /&gt;Kini Usia saya sudah 83 tahun, lah laruik sanjo.&lt;br /&gt; Saya cuma tamatan Tsanawiyah Muhammadiyah Bukittinggi tahun 1940 dalam usia 15 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya saya  mendalami  ilmu agama dengan belajar ke rumah ulama setiap malam. Tapi  paginya,  saya belajar pula  di Sekolah Guru Muhammadiyah.&lt;br /&gt;Baru kelas dua,  Jepang masuk. Sekolah  dibubarkan.&lt;br /&gt;Lama saya berpikir kemanalah  akan  melanjutkan sekolah. Mau ke Padang atau Padang Panjang tak mungkin,  karena orang tua  bansaik (miskin).&lt;br /&gt;Akhirnya, karena  sejak kecil saya sudah bercita-cita menjadi urang siak,  masuklah saya ke sekolah terdekat yaitu ke  perguruan Islam Parabek Bukittinggi.&lt;br /&gt;Setelah mengikuti tes masuk, saya  diterima di kelas 5 dan  akhirnya tamat kelas 7.&lt;br /&gt;Saya tetap  bertahan di Parabek  kerena ingin  pendalaman  pengajian.&lt;br /&gt;Barulah  saat kemerdekaan diproklamirkan tahun 1945,  saya pulang kampung  dan membentuk Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII)  Ranting  Birugo.&lt;br /&gt;Tahun 1947  saya masuk Sekretariat GPII Sumatera Tengah  di Bukittinggi. “Disini saya membina diri.   Mulai dari tukang sapu  hingga Kepala Sekretariat.&lt;br /&gt;Karena saya juga sekolah di Muhammadiyah, maka saya menjadi anggota kepanduan HW  (Hisbul Wathan). Bahkan pada tahun 1957, saya memimpin  kontingen ke Jambore HW  se Sumatera Tengah  di Pekan Baru. Terakhir,  di HW saya sampai pada tingkat Komisaris Penghela HW Sumatera Tengah. (Komandan Pandu Dewasa).&lt;br /&gt;Keterampilan yang saya peroleh di Kepanduan HW itulah  sangat bermanfaat saat keluar masuk hutan bersama pak Natsir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Pengurus DDII Perwakilan Sumbar periode pertama dikukuhkan pak Natsir,   saya sebagai wakil Sekretaris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak dulu  hingga sekarang, saya tetap setia di kampung. Amanah pak Natsir agar saya tetap menjadi tampatan  bagi  kawan-kawan seperjuangan yang akan ke ranah Minang,  tetap saja tunaikan sampai hari  ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peribahasa  menyatakan,”Siapa yang tak sempat dibesarkan  orang tuanya,  maka  situasi dan kondisilah yang akan membesarkannya. ” Saya, salah satu generasi yang ditempa oleh zaman.*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Mantan Pengawal Pak Natsir di Hutan Sumatera Barat, Tokoh Masyumi Sumbar dan Senior Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia wilayah Sumatera Barat&lt;br /&gt;.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4691295274548167167-6264226298436624951?l=nuimhidayat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nuimhidayat.blogspot.com/feeds/6264226298436624951/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4691295274548167167&amp;postID=6264226298436624951&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4691295274548167167/posts/default/6264226298436624951'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4691295274548167167/posts/default/6264226298436624951'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nuimhidayat.blogspot.com/2009/02/bersama-pak-natsir-di-hutan.html' title='Bersama Pak Natsir di Hutan'/><author><name>Nuim Hidayat</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04748613359481249234</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='22' src='http://2.bp.blogspot.com/_5sXuNmRv_aA/SXrAMvDXeaI/AAAAAAAAAAM/KQ9cesHTMeQ/S220/FOTO+1.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4691295274548167167.post-7333815028218637577</id><published>2009-02-05T00:33:00.000-08:00</published><updated>2009-02-05T00:38:12.586-08:00</updated><title type='text'>Hikmah Fir'aun</title><content type='html'>HIKMAH FIR’AUN&lt;br /&gt;Mohammad Iqbal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kearifan umat beriman telah kulepaskan&lt;br /&gt;Kini kupelajari kearifan umat yang murtad&lt;br /&gt;Kearifan umat yang murtad adalah kebohongan dan tipu muslihat&lt;br /&gt;Apakah kebohongan dan tipu muslihat? Perusak jiwa dan penegak tubuh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah kearifan yang membebaskan diri dari tali iman&lt;br /&gt;Dan tersesat jauh dari rumah Cinta&lt;br /&gt;Orang-orang yang mengikuti jalan Fir’aun ini&lt;br /&gt;Berpikir seperti budak mengikuti majikannya&lt;br /&gt;Dengan cara yang memikat, pendeta dan ulamanya&lt;br /&gt;Menafsirkan agama menurut kemauan kaisarnya&lt;br /&gt;Kesatuan umat dipecah belah dengan program pembeoannya&lt;br /&gt;Tak ada yang berani menentang kecuali Musa dan Tongkatnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malanglah umat yang terperangkap tipu muslihat golongan lain&lt;br /&gt;Yang menghancurkan diri sendiri dan membangun untuk kepentingan umat lain&lt;br /&gt;Mereka memperoleh kecakapan imiah dan keterampilan seni&lt;br /&gt;Namun tak menyadari kepribadiannya sendiri&lt;br /&gt;Mereka menghapuskan ayat Tuhan dari cincinnya&lt;br /&gt;Cita-cita di hatinya bangkit cuma untuk tenggelam&lt;br /&gt;Mereka tak diberkati keturunan yang diresapi rasa hormat&lt;br /&gt;Jiwa dalam tubuh anak-anak mereka seperti bangkai dalam kuburan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Generasi tuanya congkak luar biasa&lt;br /&gt;Yang muda sibuk berias seperti wanita kampungan&lt;br /&gt;Kemauan yang muncul dari hati mereka tak pernah mantap&lt;br /&gt;Mereka dilahirkan mati dari rahim-rahim mereka&lt;br /&gt;Gadis-gadisnya terjerat oleh mode pakaian&lt;br /&gt;Dan bermacam-macam alat kecantikan&lt;br /&gt;Mereka senang berpakaian mewah&lt;br /&gt;Alis matanya dirias seperti sepasang pedang&lt;br /&gt;Perhiasannya gemerincing menyilaukan mata&lt;br /&gt;Buah dadanya dipamerkan seperti ikan di kolam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah bangsa yang abunya tak mengandung bara lagi&lt;br /&gt;Dan pagi harinya lebih gelap dari malam&lt;br /&gt;Yang diburu hanya kekayaan dunia&lt;br /&gt;Hidupnya diliputi kecemasan dan ngeri menghadapi kematian&lt;br /&gt;Kekayaannya membuatnya kikir dan cinta kesenangan dunia&lt;br /&gt;Yang diburu adalah kulit kerang, lupa akan mutiara terpendam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekayaan rajanya adalah tujuan pemujaan&lt;br /&gt;Sebagai ganti dari hilangnya iman kepada Tuhan&lt;br /&gt;Pandangannya tak mampu menembus tembok masa kini&lt;br /&gt;Dan karenanya tak pernah mampu menciptakan masa depan&lt;br /&gt;Sejarah anak cucunya di dalam genggaman tangannya&lt;br /&gt;Tapi sayang apa yang diucapkan tak diamalkan dalam perbuatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syahadatnya adalah mengabdi pada kekuatan asing&lt;br /&gt;Dan candi dibangun dengan batu bata rerontok masjid&lt;br /&gt;Sungguh malang bangsa yang menjauhkan diri dari Tuhan dan wahyu-Nya&lt;br /&gt;Ia adalah bangsa yang mati, namun tak sadar bahwa ia mati.1&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4691295274548167167-7333815028218637577?l=nuimhidayat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nuimhidayat.blogspot.com/feeds/7333815028218637577/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4691295274548167167&amp;postID=7333815028218637577&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4691295274548167167/posts/default/7333815028218637577'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4691295274548167167/posts/default/7333815028218637577'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nuimhidayat.blogspot.com/2009/02/hikmah-firaun.html' title='Hikmah Fir&apos;aun'/><author><name>Nuim Hidayat</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04748613359481249234</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='22' src='http://2.bp.blogspot.com/_5sXuNmRv_aA/SXrAMvDXeaI/AAAAAAAAAAM/KQ9cesHTMeQ/S220/FOTO+1.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4691295274548167167.post-4232466694166045356</id><published>2009-02-02T00:04:00.000-08:00</published><updated>2009-02-02T00:07:41.354-08:00</updated><title type='text'>Cita-cita Negeri Islami</title><content type='html'>Ada kesamaan pemikiran empat tokoh di atas, Natsir, Hassan al Banna, Maududi dan Nabhani sama-sama menginginkan terbentuknya negeri Islami atau masyarakat Islam.  Mereka sama-sama menekankan pentingnya pembentukan pribadi Muslim, Keluarga Muslim, Masyarakat Muslim dan Negeri Islam. Mereka juga sama-sama menginginkan jalan damai bagi pembentukan negeri Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbedaannya adalah pada cara pembentukan negera Islam itu, struktur negara Islam dan nama negara Islam itu.  Dalam pandangan Mohammad Natsir, Islam tidak mengatur nama dan struktur negara Islam.  Natsir menyatakan bahwa negara harus berlandaskan Islam dan pemimpin dalam negara itu harus bertekad melaksanakan hukum Islam dalam masalah individu, keluarga, masyarakat maupun negara. Natsir menyetujui istilah demokrasi Islam dan Natsir menerima negera Indonesia sebagai sebagai negeri Islam yang berdasarkan Pancasila (bagian dari UUD 45 yang dijiwai oleh Piagam Jakarta sesuai dengan Dekrit Presiden RI 5 Juli 1959). Pancasila dianggap Natsir sebagai sebagian dari prinsip-prinsip yang diajarkan oleh Islam dan ia juga menerima demokrasi parlementer dan sistem pemerintahan presidensial. Meski demikian, dalam sidang-sidang Dewan Konstituante tahun 50-an Natsir dengan partai Masyumi-nya berjuang keras agar landasan negara Indonesia adalah Islam.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir sama dengan Natsir, Hasan al Banna dan Abul A’la al Maududi juga demikian.  Meski al Banna dan Maududi menolak demokrasi Barat, mereka masih menerima sistem parlemen. Maududi mengajukan istilah Theodemokrasi, demokrasi berketuhanan atau demokrasi Islam. Begitu juga Hasan al Banna.  Pendiri Ikhwanul Muslimin ini, memang semasa hidupnya pernah mengecam habis partai-partai yang berlomba mengejar jabatan dan materi belaka di Mesir.  Menurut al Banna, partai atau organisasi-organisasi politik itu dibentuk untuk dakwah Islam dan memberikan pelayanan kepada masyarakat bukan hanya untuk kekuasaan belaka.  Karena itu, Ikhwanul Muslimin dulu dan kini di berbagai negara, masuk terlibat dalam kekuasaan pemerintahan yang berdasar demokrasi parlementer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maududi bahkan memperinci struktur negara dalam Islam, dengan menerima konsep demokrasi modern, legislatif, yudikatif dan eksekutif.  Cuma ia mencatat bahwa ketiga lembaga ini mesti memegang teguh Islam, Al Qur’an dan Sunnah, dalam menjalankan tugas-tugasnya.   Maududi yang berjasa besar dalam meletakkan dasar Islam bagi negara Pakistan ini, dengan Jamaat Islami-nya juga masuk dalam ‘politik parlementer’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Taqiyuddin an Nabhani menjelaskan bahwa nama dan struktur negara Islam sudah merupakan hal yang baku dalam Islam.  Titel kepala negara bernama khalifah dan negara Islam yang bernama khilafah Islamiyah adalah suatu hal yang qath’i bagi Hizbut Tahrir.  Bahkan an Nabhani juga mengharuskan nama-nama khusus untuk pejabat dalam struktur pemerintahan khilafah Islamiyah, seperti khalifah, naibul kahlifah, muawwin, muawwin tafwizh dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu an Nabhani juga menolak keras istilah demokrasi, bahkan demokrasi Islam sekalipun.  Menurutnya demokrasi adalah istilah dari Barat dan harus ditolak oleh kaum Muslimin. Pendiri Hizbut Tahrir ini juga mengajukan konsep revolusi (inqilabiyah) dalam penerapan Islam oleh negara. Dengan catatan bahwa perjuangan pembentukan Daulah Islamiyah ini, harus diperjuangkan dengan cara-cara damai. Sedangkan Natsir, Maududi, dan Al Banna lebih sepakat dengan konsep perubahan islahiyah secara bertahap, secara evolusi (islahiyah) bukan revolusi (inqilabiyah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu juga istilah nasionalisme, Nabhani menolak keras konsep ini.  Hal ini berbeda dengan Natsir, Maududi dan al Banna.  Ketiga tokoh ini menempatkan nasionalisme dalam bingkai Islam.  Menurut ketiganya, Islam memang tidak memandang ras, wilayah geografis dan lain-lain, tapi bila seorang Muslim mencintai negaranya, sebagai bumi Allah dan berjuang agar ditegakkan hukum-hukum Allah, maka itu adalah sebuah kewajiban.  Ketiganya juga memandang persatuan dunia Islam (khilafah Islamiyah) bisa diraih, dengan lebih dahulu membentuk negeri-negeri Islam di wilayah masing-masing.  Mohammad Natsir juga aktif memperjuangkan terbentuknya persatuan dunia Islam ini dengan banyak berdiskusi dan dialog dengan tokoh-tokoh Islam di negeri-negeri lain. Natsir juga mempunyai kepedulian tinggi dengan kondisi Palestina dan negeri-negeri Islam yang dijajah kaum imperialis, sehingga ia dan sahabat-sahabatnya kemudian membentuk KISDI (Komite Indonesia untuk Solidaritas Dunia Islam). Wallahu aliimun hakiim.*&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4691295274548167167-4232466694166045356?l=nuimhidayat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nuimhidayat.blogspot.com/feeds/4232466694166045356/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4691295274548167167&amp;postID=4232466694166045356&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4691295274548167167/posts/default/4232466694166045356'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4691295274548167167/posts/default/4232466694166045356'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nuimhidayat.blogspot.com/2009/02/cita-cita-negeri-islami.html' title='Cita-cita Negeri Islami'/><author><name>Nuim Hidayat</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04748613359481249234</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='22' src='http://2.bp.blogspot.com/_5sXuNmRv_aA/SXrAMvDXeaI/AAAAAAAAAAM/KQ9cesHTMeQ/S220/FOTO+1.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4691295274548167167.post-6813255643616890654</id><published>2009-02-01T23:59:00.000-08:00</published><updated>2009-02-02T00:03:45.684-08:00</updated><title type='text'>Kefaqihan Maududi</title><content type='html'>Ia lahir di Hyderabad, India Selatan, 25 September 1903.  Wafat pada 22 September 1979. Ia mendapatkan pendidikan Islam sejak kecil di keluarga dan lingkungannya.  Syekh Maududi adalah tokoh pendiri Jamaat Islami. Ia pemikir besar Islam dan peletak dasar negara Islam Pakistan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maulana Maududi mendapat pendidikan di Madrasah Furqaniyah , sebuah sekolah tinggi terkenal di Hyderabad yang dipanggil "Madrassah", bukan sekolah Islam tradisional . Kemudian melanjutkan pelajaran di Darul Ulum di Hyderabad. Ia mahir berbahasa Arab, Parsi, Inggris, dan Urdu .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1918, ketika usia 15 tahun, ia mulai bekerja sebagai wartawan dalam surat kabar berbahasa Urdu. Tahun 1920, menyandang jabatan sebagai editor surat kabar Taj, yang diterbitkan di bandar Jabalpore sekarang bernama Madhya Pradesh, India.&lt;br /&gt;Tahun 1921, Maulana Maududi pindah ke Delhi bekerja sebagai editor surat kabar Muslim (1921-1923), dan kemudian editor al-Jam’iyat (1925-1928), yang diterbitkan oleh Jam’iyat-i ‘Ulama-i Hind, sebuah organisasi politik Deoband. Hasil kepemimpinannya sebagai editor, al-Jam’iyat menjadi surat kabar utama untuk orang Islam di Asia Selatan (India, Pakistan, Bangladesh , Sri Langka dan Maldive). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maulana Maududi juga terlibat membentuk Pergerakan Khilafah dan Tahrik-e Hijrat, yaitu Organisasi Asia Selatan yang menentang penjajahan kolonial Inggris. &lt;br /&gt;Maulana Maududi aktif menerjemahkan buku-buku berbahasa Arab dan Inggris ke bahasa Urdu. Ia juga menulis buku bertajuk al-Jihad fi al-Islam diterbitkan secara berseri di al-Jam’iyat tahun 1927 dan dibukukan tahun 1930. Tahun 1933, Maulana Maududi menjadi editor majalah bulanan Tarjuman al-Qur'an ("Tafsiran al Qur'an"). Bidang penulisannya ialah tentang Islam, konflik antara Islam dengan imperialisme dan modenisasi. Ia juga menjelaskan jawaban Islam bagi setiap permasalahan masyarakat Islam yang dijajah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersama dengan filosof dan ulama Muhammad Iqbal, Maulana Maududi mendirikan pusat pendidikan Darul-Islam di bandar Pathankot di wilayah Punjab. Tujuan pusat pendidikan ini ialah melahirkan pelajar yang mempunyai falsafah politik Islam. Maulana Maududi mengkritik habis konsep-konsep Barat seperti nasionalisme, pluralisme and feminisme. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1941, Maulana Maududi mendirikan organisasi Jamaat-e-Islami untuk mengembangkan Islam sebagai satu cara hidup di Asia Selatan. Ia terpilih sebagai pemimpin Jamaat Islami dan memegang jabatan itu sampai 1972. &lt;br /&gt;Sebelumnya tahun 1953, Maududi pernah membuat tulisan yang mengkritik tajam Ahmadiyah.  Tulisan ini kemudian menimbulkan demo dan rusuh di Pakistan. Mahkamah militer menjatuhi hukuman mati ke Maududi. Tapi kemudian militer membatalkan hukuman mati kepadanya.&lt;br /&gt;Pada 22 September, 1979, Maududi meninggal dunia pada usia 76 tahun di Buffalo, New York.  (Lihat http://en.wikipedia.org/wiki/Sayyid_Abul_Ala_Maududi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semasa hidupnya Maududi menulis puluhan buku dan ratusan makalah atau tulisan lepas. Ulama-ulama di dunia Islam, bahkan orientalis pun mengakui kecendekiawanannya.  Ia dan ulama-ulama Pakistan pernah konflik dengan Fazlurrahman dan menjadikan Fazlurrahman tidak betah tinggal di Pakistan dan akhirnya pindah ke Amerika. Puluhan karyanya menjadi rujukan kaum cendekia Islam. Diantaranya adalah: Tafhim al-Qur’an, al Jihad fil Islam, Islamic Law and Constitution, Islamic Way of Life, Economic System of Islam, Social System of Islam, Human Rights in Islam, Qadiani Problem, dll. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cita-cita Negara Islam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam masalah cita-cita Negara yang Islami, Abul A’la al Maududi menyatakan: &lt;br /&gt;“Negara ini berdasar atas dasar ideologi semata-mata dan tidak atas dasar ikatan-ikatan warna, ras, bahasa atau batas-batas geografis.  Setiap manusia dimanapun mereka berada di muka bumi ini, dapat menerima prinsip-prinsipnya apabila ia ingindan menggabungkan diri ke dalam sistemnya dan memperoleh hak-haknya sama persis tanpa perbedaan, kefanatikan dan kekhususan. Dan setiap negara, di seluruh dunia, yang ditegakkan atas dasar prinsip-prinsip ni adalah “negara Islam”, baik ia berdiri di Afrika, di Amerika, di Eropa, atau di Asia; dijalankan dan dilaksanakan urusan-urusannya oleh orang-orang yang berkulit merah, hitam ataupun kuning. Tidak ada suatu hambatan apapun yang menghalanginya untuk menjadi sebuah negara dengan kekhususan ideologi ini, menjadi seuah negara sesuai dengan hukum-hukum internasioal. Dan apabila di berbagai tempat di atas bumi ini terdapat beberapa negara seperti ini, maka semuanya adalah “negara Islam” yang dapat tolong menolong dan bantu membentu di antara mereka, sebagaimana layaknya antara sanak saudara yang saling mengasihi, tidak bertarung atas dasar nasionalisme ataupun ikatan-ikatan kebangsaan yang beraneka ragam. Dan apabila mereka sama-sama mencapai persetujuan, merekapun dapat membentuk perdamaian internasional dan kesatuan pendapat umum yang bersifat internasional.i&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Tiada pembahasan tentang tuntutan agar dibentuk negara Pakistan, dan tiada keterangan tentang kebangkitan kembali Islam mutakhir akan menjadi lengkap, tanpa membahas peranan yang dimainkan Abul A’la al Maududi dalam gerakan tersebut.  Faktor-faktor yang terkuat dan berdaya guna , yang mendorong pembentukan sebuah negara Islam dalam tahun-tahun pertama segera sesudah pembagian anak benua India dan pembentukan Pakistan, adalah Maududi, serta gerakan yang didirikan dan dipimpinnya Jamaat islami.”ii &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Negara ini berdasar atas dasar ideologi semata-mata dan tidak atas dasar ikatan-ikatan warna, ras, bahasa atau batas-batas geografis.  Setiap manusia dimanapun mereka berada di muka bumi ini, dapat menerima prinsip-prinsipnya apabila ia ingindan menggabungkan diri ke dalam sistemnya dan memperoleh hak-haknya sama persis tanpa perbedaan, kefanatikan dan kekhususan. Dan setiap negara, di seluruh dunia, yang ditegakkan atas dasar prinsip-prinsip ni adalah “negara Islam”, baik ia berdiri di Afrika, di Amerika, di Eropa, atau di Asia; dijalankan dan dilaksanakan urusan-urusannya oleh orang-orang yang berkulit merah, hitam ataupun kuning. Tidak ada suatu hambatan apapun yang menghalanginya untuk menjadi sebuah negara dengan kekhususan ideologi ini, menjadi seuah negara sesuai dengan hukum-hukum internasional. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan apabila di berbagai tempat di atas bumi ini terdapat beberapa negara seperti ini, maka semuanya adalah “negara Islam” yang dapat tolong menolong dan bantu membentu di antara mereka, sebagaimana layaknya antara sanak saudara yang saling mengasihi, tidak bertarung atas dasar nasionalisme ataupun ikatan-ikatan kebangsaan yang beraneka ragam. Dan apabila mereka sama-sama mencapai persetujuan, merekapun dapat membentuk perdamaian internasional dan kesatuan pendapat umum yang bersifat internasional.iii &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedaulatan dalam Islam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“...Maka kapan saja para ahli ilmu politik, yang terbius oleh pengertian ideologis dari kedaulatan, berusaha untuk menempatkan pemilik kedaulatan semacam ini dalam masyarakat manusia, maka mereka pasti akan gagal.  Karena mereka tidak akan menemukan seorang pun di kalangan manusia yang ukuran tubuhnya pas dengan toga kedaulatan ini.  Bahkan di semua jenis makhluk, tak satupun makhluk yang dibenarkan menggugat diri sebagai memiliki semua atribut kedaulatan. Al-Qur’an menekankan kebenaran mendasar ini ketika secara berulang-ulang menyatakan bahwa kedaulatan milik Allah dan hanya milik Allah saja (lihat QS 11/107, 21/23, 23/83, 59/23-24). iv “Dan Allah telah menjanjikan kepada orang-orang beriman dan yang mengerjakan amal saleh, bahwa Allah akan memberi kekhalifahan kepada mereka di muka bumi.” (QS 24/55)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teodemokrasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsep kehidupan seperti ini menjadikan khilafah Islam sebagai suatu demokrasi, yang pada inti dan dasarnya merupakan antitesis bentuk pemerintahan teokratis, monarkhis, dan kepausan.  Karena menurut konsep-konsep Barat modern, demokrasi merupakan filsafat organisasi politik yang di dalamnya ada anggapan bahwa rakyat memiliki kedaulatan mutlak.  Di lain pihak apa yang kita sebut demokrasi yang dianut oleh kaum Muslim adalah suatu sistem yang di dalamnya rakyat hanya menikmati hak Kekhalifahan Tuhan Yang Sendirian memegang kedaulatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam demokrasi sekular Barat, pemerintahan dibentuk dan diubah dengan pelaksanaan pemilihan umum.  Demokrasi kita juga memiliki wawasan yang mirip, tetapi perbedaannya terletak pada kenyataan bahwa kalau di dalam sistem Barat suatu negara demokrasi menikmati hak kedaulatan mutlak, maka dalam demokrasi kita, kekhalifahan ditetapkan untuk dibatasi oleh batas-batas yang digariskan oleh Hukum Ilahi.v &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Legislatif merupakan lembaga yang berdasarkan teminologi fiqh disebut sebagai “lembaga penengah dan pemberi fatwa” (ahlul halli wal aqdi). Cukup jelas bahwa suatu negara yang didirikan dengan dasar kedaulatan de jure Tuhan tidak dapat melakukan legislasi yang bertolak belakang dengan al-Qur’an dan as Sunnah, sekalipun konsensus rakyat menuntutnya.”vi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam suatu Negara Islam, tujuan sebenarnya dari lembaga eksekutif adalah untuk menegakkan pedoman-pedoman Tuhan yang disampaikan melalui al-Qur’an dan Sunnah serta untuk menyiapkan masyarakat agar mengakui dan menganut pedoman-pedoman ini untuk dijalankan dalam kehidupan mereka sehari-hari...Kata ulil amri dan umara digunakan masing-masing dalam Al-Qur’an dan Hadits untuk menyatakan lembaga eksekutif.”vii &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ruang lingkup lembaga yudikatif (yang dalam terminologi hukum Islam dikenal sebagai qadha) juga disiratkan maknanya oleh pengakuan atas kedaulatan de jure dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Ketika Islam menegakkan negaranya sesuai dengan prinsip-prinsip abadinya, Rasulullah saw sendirilah yang menjadi hakim pertama negara tersebut, dan beliau melaksanakan fungsi ini dengan sangat selaras dengan hukum Tuhan. Orang-orang yang melanjutkannya tidak memiliki alternatif lain kecuali mendasarkan keputusan mereka pada hukum Tuhan sebagaimana yang telah disampaikan kepada mereka oleh Rasulullah saw.viii &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oleh karena itu adililah mereka menurut apa yang diturunkan Allah dan janganlah kamu turuti hawa nafsu mereka yang akan membelokkan mereka dari kebenaran yang telah datang kepadamu.” (QS 5/48)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Setelah ini harus ditekankan bahwa pengadilan-pengadilan hukum dalam suatu negara Islam ditegakkan untuk menegakkan hukum Ilahi dan bukan untuk melanggarnya sebagaimana yang dilakukan dewasa ini di hampir semua negara Muslim.”ix &lt;br /&gt;Evolusi atau Revolusi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maududi lebih memilih reformasi atau evolusi (islahiyah) daripada revolusi (inqilabiyah).  Berikut kata Maududi dalam bukunya Nahnu wal Hadharatul Gharbiyah (Penjajahan Peradaban, terj.) : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Reformasi dan revolusi dua-duanya memiliki tujuan yang sama: memperbaiki kondisi ke arah yang lebih baik.  Kendati demikian, ada perbedaan yang amat mendasar dalam kedua jenis gerakan dan metode yang mmpergunakannya.  Reformasi berangkat dari penalaran dan pemikiran, dimana seseorang mengkaji terlebih dahulu obyektif yang ada dengan kepala dingin dan penelaahan yang mendalam, menemukan sebab-sebab kerusakan, mengevaluasi kemampuan dan merencanakan solusi.  Dan begitu faktor-faktornya sudah ia temukan, maka ia tidak melakukan gerakan penumbangan, kecuali pada batas-batas minimal yang tidak bisa tidak mesti dilakukan. Berbeda dengan itu, maka revolusi berangkat dari kebencian, keberingasan dan pendobrakan terhadap penindasan dan kekejaman.  Gerakan ini mnentang kekerasan dengan kekeraan pula, ekstrimitas dengan ekstrimitas serupa, dan mencapai tujuan baik melalui kekerasan dan radikalisme.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan tidak diragukan sedikitpun bahwa seorang ''pembaharu" seringkali terpaksa harus mempergunakan cara revolusioner serupa ini.  Kedua cara perbaikan ini membutuhkan sedikit pengetahuan tentang kondisi-kondisi yang ada yang berkenaan dengan kerusakan &lt;br /&gt;yang harus diperbaiki.  Hanya saja perbedaannya terletak pada bahwa reformasi bertolak dari pemikiran tentang apa dan sejauh mana kerusakan itu telah menjadi.  Lalu mengerahkan upaya sesuai dengan kerusakan yang ada dan menyediakan terapi yang manjur guna mengobati luka tersebut agar bisa secepatnya sembuh.  Berbeda dengan itu maka revolusi mengatasi semuanya itu dengan tindakan drastis tanpa disertai rencana-rencana jelas : ia menetak (mendepak) apa saja yang ada di depannya tanpa peduli apakah hal itu masih berguna ataukah tidak.  Gerakan ini tidak memiliki obat yang disiapkan sejak semula, dan kalaupun itu terpikirkan, biasanya muncul sesudah semuanya berjalan dan setelah munculnya dampak yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lazimnya revolusi itu terjadi ketika kerusakan-kerusakan sudah merajalela dan tujuan telah menyimpang jauh dari apa yang digariskan semula, dimana massa sudah tidak sabar lagi menanggung derita yang muncul dari kerusakan itu dan tidak bisa brpikir dengan kepala dingin, lalu mereka bergerak secara serempak untuk melakukan perbaikan. Dalam kondisi-kondisi serupa itu, muncullah gerakan massal yang berifat revolusioner sebagai upaya perbaikan itu, lalu pecahlah pertarungan antara dua kekuatan radikal yang selanjutnya menyulut semak-semak dendam.  Akhirnya kedua belah pihak terlibat dalam pertarungan yang memuncak, dimana masing-masing pihak meneriakkan kebenaran dirinya.  Di samping mereka masing-masing mempergunakan kekerasan untuk melindungi kebatilan, maka pada sisi lain mereka membelah massa menjadi "kelompok kita"dan "kelompok mereka" tanpa membedakan benar atau salah. Dan bila kemenangan telah sepenuhnya berada di tangan kaum revolusioner, maka mereka pun merampas segala sesuatu yang ada di tangan lawannya, baik secara hak maupun batil, entah benar entah salah.  Revolusi pun terus menggelinding bagaikan gelombang pasang yang menyapa apa saja yang merintangi jalannya tanpa ampun.  Dan sesudah muncul berbagai kerusakan dan kekacauan, dan di saat itu otak sudah kembali berfungsi, maka muncullah kesadaran tentang perlunya penanganan yang baik..."x*&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4691295274548167167-6813255643616890654?l=nuimhidayat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nuimhidayat.blogspot.com/feeds/6813255643616890654/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4691295274548167167&amp;postID=6813255643616890654&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4691295274548167167/posts/default/6813255643616890654'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4691295274548167167/posts/default/6813255643616890654'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nuimhidayat.blogspot.com/2009/02/kefaqihan-maududi.html' title='Kefaqihan Maududi'/><author><name>Nuim Hidayat</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04748613359481249234</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='22' src='http://2.bp.blogspot.com/_5sXuNmRv_aA/SXrAMvDXeaI/AAAAAAAAAAM/KQ9cesHTMeQ/S220/FOTO+1.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4691295274548167167.post-9064481992797029434</id><published>2009-01-29T07:12:00.000-08:00</published><updated>2009-01-29T07:14:48.491-08:00</updated><title type='text'>Kehebatan Nabhani</title><content type='html'>Taqiyudin an Nabhani dilahirkan di daerah Ijzim pada tahun 1909. Ia mendapat didikan ilmu dan agama di rumah dari ayahnya sendiri, seorang syaikh yang faqih fid din. Ayahnya seorang pengajar ilmu-ilmu syari’ah di Kementerian Pendidikan Palestina. Ibunya juga menguasai beberapa cabang ilmu syari’ah, yang diperolehnya dari ayahnya, Syaikh Yusuf bin Ismail bin Yusuf An Nabhani. Beliau ini adalah seorang qadly (hakim), penyair, sastrawan, dan salah seorang ulama terkemuka dalam Daulah Utsmaniyah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Taqiyyuddin kemudian meneruskan pendidikannya di Tsanawiyah Al Azhar pada tahun 1928 dan pada tahun yang sama ia meraih ijazah dengan predikat sangat memuaskan. Lalu ia melanjutkan studinya di Kulliyah Darul Ulum yang saat itu merupakan cabang Al Azhar. Taqiyyuddin An Nabhani menamatkan kuliahnya di Darul Ulum pada tahun 1932. Pada tahun yang sama beliau menamatkan pula kuliahnya di Al Azhar Asy Syarif menurut sistem lama, di mana para mahasiswanya dapat memilih beberapa syaikh Al Azhar dan menghadiri halaqah-halaqah mereka mengenai bahasa Arab, dan ilmu-ilmu syari’ah seperti fiqih, ushul fiqih, hadits, tafsir, tauhid (ilmu kalam), dan yang sejenisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menyelesaikan pendidikannya, Taqiyuddin kembali ke Palestina untuk kemudian bekerja di Kementerian Pendidikan Palestina sebagai seorang guru di sebuah sekolah menengah atas negeri di Haifa. Di samping itu beliau juga mengajar di sebuah Madrasah Islamiyah di Haifa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1948, sahabatnya Al Ustadz Anwar Al Khatib mengirim surat kepadanya, yang isinya memintanya agar kembali ke Palestina untuk diangkat sebagai qadly di Mahkamah Syar’iyah Al Quds. Syaikh Taqiyyuddin mengabulkan permintaan itu dan kemudian ia diangkat sebagai qadly di Mahkamah Syar’iyah Al Quds pada tahun 1948. Kemudian, oleh Kepala Mahkamah Syar’iyah dan Kepala Mahkamah Isti’naf saat itu –yakni Al Ustadz Abdul Hamid As Sa’ih– ia lalu diangkat sebagai anggota Mahkamah Isti’naf, dan ia tetap memegang kedudukan itu sampai tahun 1950.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1950 inilah, ia lalu mengajukan permohonan mengundurkan diri, karena Taqiyudin mencalonkan diri untuk menjadi anggota Majelis Niyabi (Majelis Perwakilan).&lt;br /&gt;Pada tahun 1951, Syaikh An Nabhani mendatangi kota Amman untuk menyampaikan ceramah-ceramahnya kepada para pelajar Madrasah Tsanawiyah di Kulliyah Ilmiyah Islamiyah. Hal ini terus berlangsung sampai awal tahun 1953, ketika ia mulai sibuk dalam Hizbut Tahrir, yang telah ia rintis antara tahun 1949 hingga 1953.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Publikasi pembentukan partai ini secara resmi tersiar tahun 1953, pada saat Taqiyyuddin An Nabhani mengajukan permohonan resmi kepada Departemen Dalam Negeri Yordania sesuai Undang-Undang Organisasi yang diterapkan saat itu. Dalam surat itu terdapat permohonan izin agar Hizbut Tahrir dibolehkan melakukan aktivitas politiknya. Dalam surat itu terdapat pula struktur kepengurusan Hizbut Tahrir dengan susunan sebagai berikut :&lt;br /&gt;1.Taqiyyuddin An Nabhani, sebagai pemimpin Hizbut Tahrir. &lt;br /&gt;2.Dawud Hamdan, sebagai wakil pemimpin merangkap sekretaris. &lt;br /&gt;3.Ghanim Abduh, sebagai bendahara. &lt;br /&gt;4.Dr. Adil An Nablusi, sebagai anggota. &lt;br /&gt;5.Munir Syaqir, sebagai anggota. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, Syaikh Taqiyyuddin kemudian menjalankan aktivitas secara rahasia dan segera membentuk Dewan Pimpinan (Qiyadah) yang baru bagi Hizb, di mana ia sendiri yang menjadi pucuk pimpinannya. Dewan Pimpinan ini dikenal dengan sebutan Lajnah Qiyadah. Beliau terus memegang kepemimpinan Dewan Pimpinan Hizb ini sampai wafatnya beliau pada tanggal 25 Rajab 1398 H, bertepatan dengan tanggal 20 Juni 1977 M. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bawah kepemimpinannya, Hizbut Tahrir telah melancarkan beberapa upaya pengambil-alihan kekuasaan di banyak negeri-negeri Arab, seperti di Yordania pada tahun 1969, di Mesir tahun 1973, dan di Iraq tahun 1972. Juga di Tunisia, Aljazair, dan Sudan. Sebagian upaya kudeta ini diumumkan secara resmi oleh media massa, sedang sebagian lainnya memang sengaja tidak diumumkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al Ustadz Dawud Hamdan menjelaskan karakter kitab-kitab Syaikh Taqiyyuddin –yang termasuk kitab-kitab yang disebarluaskan oleh Hizbut Tahrir–dengan pernyataannya :&lt;br /&gt;“Sesungguhnya kitab ini –yakni kitab Ad Daulah Al Islamiyyah– bukanlah sebuah kitab untuk sekedar dipelajari, akan tetapi kitab ini dan kitab lainnya yang telah disebarluaskan oleh Hizbut Tahrir –seperti kitab Usus An Nahdlah, Nizhamul Islam, An Nizham Al Ijtima’i fi Al Islam, An Nizham Al Iqthishady fi Al Islam, Nizham Al Hukm, Asy Syakhshiyah Al Islamiyah, At Takattul Al Hizbi, Mafahim Hizhut Tahrir, Mafahim Siyasiyah li Hizbit Tahrir– menurut saya adalah kitab yang dimaksudkan untuk membangkitkan kaum muslimin dengan jalan melanjutkan kehidupan Islam dan mengemban dakwah Islamiyah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena beraneka ragamnya bidang kajian dalam kitab-kitab yang ditulis oleh Syaikh Taqiyyuddin, maka tak aneh bila karya-karya beliau mencapai lebih dari 30 kitab. Ini belum termasuk memorandum-memorandum politik yang beliau tuliuntuk memecahkan problematika-problematika politik. Belum lagi banyak selebaran-selebaran dan penjelasan-penjelasan mengenai masalah-masalah pemikiran dan politik yang penting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.Nizhamul Islam. &lt;br /&gt;2.At Takattul Al Hizbi. &lt;br /&gt;3.Mahafim Hizbut Tahrir &lt;br /&gt;4.An Nizhamul Iqthishadi fil Islam. &lt;br /&gt;5.An Nizhamul Ijtima’i fil Islam. &lt;br /&gt;6.Nizhamul Hukm fil Islam. &lt;br /&gt;7.Ad Dustur. &lt;br /&gt;8.Muqaddimah Dustur. &lt;br /&gt;9.Ad Daulatul Islamiyah. &lt;br /&gt;10.Asy Syakhshiyah Al Islamiyah (3 jilid). &lt;br /&gt;11.Mafahim Siyasiyah li Hizbit Tahrir. &lt;br /&gt;12.Nazharat Siyasiyah li Hizbit Tahrir. &lt;br /&gt;13.Nida’ Haar. &lt;br /&gt;14.Al Khilafah. &lt;br /&gt;15.At Tafkir. &lt;br /&gt;16.Ad Dusiyah. &lt;br /&gt;17.Sur’atul Badihah. &lt;br /&gt;18.Nuqthatul Inthilaq. &lt;br /&gt;19.Dukhulul Mujtama’. &lt;br /&gt;20.Inqadzu Filisthin. &lt;br /&gt;21.Risalatul Arab. &lt;br /&gt;22.Tasalluh Mishr. &lt;br /&gt;23.Al Ittifaqiyyah Ats Tsana’iyyah Al Mishriyyah As Suriyyah wal Yamaniyyah &lt;br /&gt;24.Hallu Qadliyah Filisthin ala Ath Thariqah Al Amrikiyyah wal Inkiliziyyah. Nazhariyatul Firagh As Siyasi Haula Masyru’ Aizanhawar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua ini belum termasuk ribuan selebaran-selebaran (nasyrah) mengenai pemikiran, politik, dan ekonomi, serta beberapa kitab yang dikeluarkan atas nama anggota Hizbut Tahrir –dengan maksud agar kitab-kitabnya mudah ia sebarluaskan– setelah adanya undang-undang yang melarang peredaran kitab-kitab karya Syaikh Taqiyyuddin. Di antara kitab itu adalah :&lt;br /&gt;1.As Siyasah Al Iqthishadiyah Al Mutsla. &lt;br /&gt;2.Naqdlul Isytirakiyah Al Marksiyah. &lt;br /&gt;3.Kaifa Hudimat Al Khilafah. &lt;br /&gt;4.Ahkamul Bayyinat. &lt;br /&gt;5.Nizhamul Uqubat. &lt;br /&gt;6.Ahkamush Shalat. &lt;br /&gt;7.Al Fikru Al Islami. &lt;br /&gt;(lihat situs resmi Hizbut Tahrir Indonesia, http://hizbut-tahrir.or.id/2007/05/20/syaikh-taqiyyuddin-an-nabhani-pendiri-hizbut-tahrir/. Ini dikutip situs Hizbut Tahrir dari terjemahan kitab Mafhum Al Adalah al Ijtima’iyah fi Al Fikri Al Islami Al Mu’ashir, karya Ihsan Samarah, Dar An Nahdlah Al Islamiyah, Beirut, cetakan II, 1991). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini pemimpin pusat Hizbut Tahrir, adalah Ata Abu Rushta. Ia juga telah menulis sejumlah buku politik dan hukum Islam dan sebelumnya pernah menjadi juru bicara resmi partai. Abu Rushta adalah pemimpin pusat ketiga Hizbut Tahrir, setelah Abdul Qadim Zallum dan Taqiyuddin an Nabhani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hizbut Tahrir adalah organisasi politik Islam global yang didirikan pada 1953 di bawah pimpinan pendirinya - seorang ulama, pemikir, politisi ulung, dan hakim Pengadilan Banding di al-Quds (Yerusalem), Taqiuddin an-Nabhani. Hizbut Tahrir beraktivitas di seluruh lapisan masyarakat di Dunia Islam mengajak kaum Muslim untuk melanjutkan kehidupan Islam di bawah naungan Negara Khilafah. (lihat situs resmi Hizbut Tahrir  http://hizbut-tahrir.or.id/faq/)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khilafah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hizbut Tahrir beraktivitas di seluruh dunia Islam untuk memperkuat komunitas Muslim yang hidup secara islami dalam pikiran dan perbuatannya, dengan terikat pada hukum-hukum Islam dan menciptakan identitas Islam yang kuat. Hizbut Tahrir juga beraktivitas bersama-sama komunitas Muslim di Barat untuk mengingatkan mereka agar menyambut seruan perjuangan mengembalikan Khilafah dan menyatukan kembali umat Islam secara global. Hizbut Tahrir juga berupaya menjelaskan citra Islam yang positif kepada masyarakat Barat dan terlibat dalam dialog dengan para pemikir, pembuat kebijakan dan akademisi Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang menarik tentang khilafah ini, Taqiyudin an-Nabhani menyatakan: &lt;br /&gt;“...mengadakan banyak seminar tentang Khilafah, bukanlah jalan yang mengantarkan pada pembentukan Negara Islam.  Upaya menyatukan negara-negara yang memerintah negeri-negeri Islam bukanlah sarana yang bisa membangun Negara Islam.  Piagam atau deklarasi yang dikeluarkan berbagai muktamar bangsa-bangsa Islam, bukanlah bentuk perwujudan yang mampu menciptakan kehidupan yang Islami.  Semua itu dan yang sejenisnya bukanlah jalan (thariqah).  Itu adalah hiburan sesaat yang sedikit menyegarkan jiwa kaum Muslimin.  Kemudian semangat muktamar itu lambat laun menjadi padam.  Setelah itu duduk-duduk santai tanpa melakukan aktivitas yang nyata. Lebih dari itu semuanya adalah jalan yang bertentangan dengan thariqah Islam. Metode satu-satunya untuk mendirikan negara Islam hanya dengan mengemban dakwah Islam dan berbuat nyata dalam mewujudkan kehidupan yang Islami.  Hal ini menuntut menuntut satu kesatuan yang utuh.  Karena umat Islam adalah satu.  Mereka adalah kumpulan manusia yang dikumpulkan oleh aqidah yang satu.  Dari situ sistem negara Islam memancar.”1 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Metode satu-satunya untuk mendirikan negara Islam hanya dengan mengemban dakwah Islam dan berbuat nyata dalam mewujudkan kehidupan yang Islami.  Hal ini menuntut menuntut satu kesatuan yang utuh.  Karena umat Islam adalah satu.  Mereka adalah kumpulan manusia yang dikumpulkan oleh aqidah yang satu.  Dari situ sistem negara Islam memancar.”2 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan konsep khilafahnya, Taqiyuddin menentang habis nasionalisme:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ikatan kebangsaan (nasionalisme) tumbuh di tengah-tengah masyarakat, tatkala pola pikir manusia mulai merosot. Ikatan ini terjadi ketika manusia mulai hidup bersama dalam satu wilayah dan tidak beranjak dari situ...” 3&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ikatan nasionalisme (rabithah wathaniyah) ikatan yang rusak karena 3 hal: pertama, ikatan yang rendah karena tidak mampu mengikat satu manusia dengan yang lain menuju jalan kebangkitan. Kedua, ikatan reaksioner, yang selalu didsarkan pada perasaan yang muncul secara spontan dari naluri mempertahankan diri.  Juga ikatan ini sangat berpeluang berubah-ubah sehingga tidak bisa dijadikan ikatan yang langgeng antara manusia satu dengan yang lain. Ketiga, ikatan temporal, muncul saat membela diri karena datangnya ancaman.  Dalam keadaan stabil, ikatan ini tidak muncul.  Karena itu, ia tidak bisa dijadikan pengikat antara sesama manusia.” 4*&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4691295274548167167-9064481992797029434?l=nuimhidayat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nuimhidayat.blogspot.com/feeds/9064481992797029434/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4691295274548167167&amp;postID=9064481992797029434&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4691295274548167167/posts/default/9064481992797029434'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4691295274548167167/posts/default/9064481992797029434'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nuimhidayat.blogspot.com/2009/01/kehebatan-nabhani.html' title='Kehebatan Nabhani'/><author><name>Nuim Hidayat</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04748613359481249234</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='22' src='http://2.bp.blogspot.com/_5sXuNmRv_aA/SXrAMvDXeaI/AAAAAAAAAAM/KQ9cesHTMeQ/S220/FOTO+1.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4691295274548167167.post-2030783916007045405</id><published>2009-01-29T06:45:00.000-08:00</published><updated>2009-01-29T07:04:43.611-08:00</updated><title type='text'>Kejeniusan Al Banna</title><content type='html'>Hasan al Banna lahir di desa Mahmudiyah, Mesir 1906. Umur 14 tahun hafal al-Qur’an dan sejak kecil sampai dengan remaja, ia dididik dengan pendidikan Islam yang benar. Ia wafat syahid diberondong senapan, di mobilnya,  oleh tentara Raja Fuad (penguasa Mesir), pada 12 Februari 1949.  Ia adalah tokoh pendiri gerakan Ikhwanul Muslimin.  Karya-karyanya, meskipun sedikit, karena ia wafat ketika muda, menjadi referensi kader-kader ikhwan sampai kini.  Ia adalah seorang ulama besar, mujtahid dan mujahid.  Ceramah-ceramahnya yang menyentuh dan menarik tiap Selasa di Mesir, diikuti ribuan ulama dan kaum awam. Karya-karyanya antara lain: Mudzakkirat ad Da’wah wad Daiyyah, Majmuah Rasail, dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Banna dan Ikhwanul Muslimin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendiri Ikhwan adalah Hasan al-Banna (1906-1949), seorang Ulama, kelahiran Buhairah, Mesir. Al-Banna dengan pemikiran-pemikiran besarnya, telah mampu merumuskan Islam, sehingga secara dapat dipahami mulai dari Muslim intelektual sampai Muslim yang awam.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gerakan Ikhwanul Muslimin (al-Ikhwan al-Muslimun) dimulai dari kota Ismailiyah Mesir.  Yaitu ketika enam orang tokoh Ismailiyah datang ke al-Banna—setelah  banyak mendengar ketokohan dan ceramah-ceramah al-Banna yang menarik dan mendalam—mengusulkan pembentukan sebuah organisasi Islam.  Keenam tokoh itu adalah : Hafidh Abdul Hamid, Ahmad a-Kushari, Fuad Ibrahim, Abdur Rahman Hasbullah, Ismail Izz, dan Zaki al-Maghribi).  Di antara tokoh yang datang itu bertanya ke al-Banna, “Nama apa yang cocok untuk jamaah kita Tuan? Apakah kita membentuk yayasan, perkumpulan, aliran tarekat atau satu persatuan agar gerakan kita menjadi satu badan resmi?” Al-Banna menjawab, “Kita tidak akan membentuk ini dan itu, dan kita tidak terlalu berkepentingan dengan persoalan resmi atau tidak. Kita adalah bersaudara dalam mengabdi kepada Islam.  Oleh karena itu, saya namakan perkumpulan kita ini Persaudaraan Islam atau Ikhwanul Muslimin.” Kejadian itu berlangsung sekitar Maret 1928.1&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Empat tahun kemudian, sekitar Oktober 1932, al-Banna dipindahtugaskan sebagai guru ke sekolah Abbas pertama di Kairo, tepatnya di kawasan Sabtiah.  Perpindahan itu menyebabkan pengikut dan aktivitas Ikhwan justru makin cepat berkembang.  Di Kairo ia tinggal di sebuah gedung kampung Nafi’ no. 24, Srujiah.  Gedung tersebut sekaligus digunakan untuk markas umum Ikhwanul Muslimin dan al-Banna tinggal di tingkat atas gedung tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ceramah-ceramah dan kegesitan al-Banna dan kawan-kawannya dalam menyebarkan dakwah, menjadikan dakwah Ikhwan dengan cepat menyebar ke seluruh penjuru Kairo.  Saat itu Ikhwan telah membuka cabang lebih dari 50 di kota besar dan kecil serta pedesaan di Mesir.  Al-Banna sendiri, tiap hari tidak kenal lelah menggiatkan dan memonitor kegiatan Ikhwan.  Tokoh Ikhwan, Abdul Halim  Mahmud menceritakan, &lt;br /&gt;“Anda akan melihat ia senantiasa mengunjungi kantor pusat gerakan yang dipimpinnya dini hari untuk meninggalkan beberapa catatan yang berhubungan dengan pelaksanaan berbagai kegiatan sebelum pergi ke tempat kerjanya.  Kemudian sebelum pulang ke rumahnya setelah kerja, ia kembali mengunjungi kantor pusat.  Kemudian di malam hari, ia kembali lagi memberikan ceramah dan pelajaran kepada para pengunjung dan anggota jamaah.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang menjadikan Ikhwan banyak mendapatkan simpati antara lain karena kepribadian dan kepandaian al-Banna dalam melakukan pendekatan dakwah dan "kebernasan" isi dakwah-dakwahnya.  Tokoh Ikhwan, Isa Asyur menceritakan tentang perhatian masyarakat terhadap ceramah al-Banna tiap Selasa di Kairo,&lt;br /&gt;“Hari Selasa ini adalah hari-hari yang tersaksikan.  Ribuan orang berkumpul dari berbagai penjuru Kairo, Iskandaria, sampai Aswan, bahkan dari luar Mesir.  Mereka semua ingin mendengar Hasan al- Banna. Kemudian ia naik ke mimbar dengan jubah dan sorban putihnya, lalu sejenak memandangi segenap hadirin, sebelum kemudian suara itu mengaung dengan kekuatan jiwa yang penuh dan kalimat-kalimat memukau yang segera merasuk ke dalam hati para pendengar. Suara itu tidak bertumpu pada retorika, juga tidak membakar emosi dengan teriakan.  Suara itu sepenuhnya bertumpu pada kebenaran, membangun semangat dengan meyakinkan akal, menggelorakan jiwa dengan makna bukan dengan sekadar kata-kata, dengan ketenangan bukan dengan provokasi dan dengan hujjah bukan dengan hasutan.  Sehingga setiap orang yang pernah mendengarnya sekali, pasti akan terus mengikuti ceramah-ceramah itu secara rutin betapapun kesibukan dan hambatannya.”2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masa hidup al-Banna tidak lama, yaitu hanya 43 tahun.  Ia dibunuh pada 12 Februari 1949 oleh polisi Mesir, atas perintah Raja Farouk I.  Kejadiannya, ketika ia berada di dalam mobil untuk suatu keperluan (dakwah), beserta sahabatnya, Dr. Abdul Karim Manshur.  Kemudian tiba-tiba datang beberapa polisi rahasia–beberapa waktu kemudian pengadilan mengganjar para polisi itu dengan hukuman 25 tahun dan 15 tahun penjara—memberondong mobilnya dengan peluru, setelah mematikan lampu di sekitar kota itu.  Al-Banna saat itu masih sempat hidup dan kemudian wafat di Rumah Sakit al-Qashr al Aini.3&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umurnya yang pendek itu menjadikan Al-Banna tidak sempat merumuskan secara rinci landasan-landasan pergerakan atau buku-buku pegangan Ikhwan.  Meski demikian beberapa kumpulan tulisannya, sampai kini menjadi rujukan yang penting dan utama pergerakan Ikhwanul Muslimin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Banna memang berhasil menuangkan pemikiran-pemikiran Ikhwan secara mudah, misalnya ketika ia merumuskan tentang rukun baiat Ikhwanul Muslimin, al-Banna memaparkan secara ringkas sepuluh perkara, yaitu: faham, ikhlash, amal, jihad, berkorban, tetap pada pendirian, tulus, ukhuwah, dan percaya diri.  Kemudian al-Banna mengatakan, ”Wahai saudaraku yang sejati! Ini merupakan garis besar dakwah Anda.  Anda dapat menyimpulkan prinsip-prinsip tersebut menjadi lima kalimat, Allah Tujuan Kami, Rasulullah saw. teladan kami, Al-Qur`an Dustur (Undang-undang Dasar) Kami, Jihad Jalan Kami dan Mati Syahid Cita-cita Kami yang Tertinggi.”&lt;br /&gt;Lambang Ikhwanul Muslimin adalah dua belah pedang menyilang melingkari Al-Qur`an, ayat Al-Qur`an (wa’aiddu) dan tiga kata: haq (kebenaran), quwwah (kekuatan) dan hurriyah (kemerdekaan).4&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikhwan telah mengadopsi dakwah salafiyah menjadi gerakan dakwahnya.  Ia menekankan kepada pentingnya pendalaman dan pembahasan terhadap dalil serta pentingnya kembali kepada Al-Qur`an dan As-Sunnah dan membersihkan dari segala bentuk kemusyrikan untuk mencapai kesempurnaan tauhid.  Dakwah Ikhwan banyak dipengaruhi gerakan dakwah Syekh Abdul Wahab, Sanusiyah, dan Rasyid Ridha.  Pada umumnya dakwah tersebut merupakan kelanjutan dari Madrasah Ibnu Taimiyyah, yang juga merupakan kelanjutan Madrasah Imam Ahmad bin Hambal.5&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Strategi Pembentukan Negeri Islam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Hasan al-Banna menyatakan: &lt;br /&gt;“Sistem bekerja Ikhwamul Muslimin mempunyai tingkatan tertentu dan program yang jelas. Kami tahu apa yang kami inginkan dan cara apa yang harus ditempuh dalam mewujudkan cita-cita itu. Program-program itu ialah:&lt;br /&gt;1.Kami mendidik muslim paripurna, baik pemikiran dan aqidahnya, maupun akhlak dan amalnya.  Inilah cara pembentukan pribadi Ikhwanul Muslimin.&lt;br /&gt;2.Kami mengharapkan terbinanya sebuah rumah tangga muslim, baik dalam pemikiran, aqidah, akhlak, perasaan dan tingkah laku. Oleh karena itu Ikhwanul Muslimin sangat memperhatikan kaum wanita sebagaimana kaum pria.  Ikhwanul Muslimin sangat memperhatikan kaum wanita sebagaimana kaum pria.  Ikhwanul Muslimin sangat memperhatikan perkembangan anak-anak sebagaimana terhadap pemuda. Inilah cara pembinaan keluarga Ikhwanul Muslimin.&lt;br /&gt;3.Kemudian kami mengharapkan terbinanya suatu masyarakat muslimin dalam segala aspek kehidupan.  Maka Ikhwanul Muslimin berusaha agar dakwahnya dapat dilancarkan ke semua rumah, dan dapat di dengar di semua tempat.  Ikhwanul Muslimin berusaha agar gagasannya mudah berkembang sampai ke desa-desa dan kota-kota, dengan mempersiapkan tenaga dan sarananya.&lt;br /&gt;4.Seterusnya kami bercita-cita membangun suatu pemerintahan muslimin yang membina masyarakatnya ke masjid, yang sesuai dengan petunjuk Islam, sebagaimana yang telah dilaksanakan oleh para sahabat Rasulullah saw. Abu Bakar Shiddik dan Umar bin Khattab ra. Kami tidak membenarkan setiap sistem pemerintahan yang tidak berdasarkan prinsip Islam. Ikhwanul Muslimin tidak membenarkan sistem partai politik dan segala bentuk tradisional yang dipaksakan. Ikhwanul Muslimin akan berusaha menghidupkan sistem pemerintahan Islam dengan segala aspeknya. Dan akan membentuk pemerintahan Islam atas dasar sistem itu....”6&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nasionalisme&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika nasionalisme yang mereka maksud adalah keharusan bekerja serius untuk membebaskan tanah air dari penjajah, mengupayakan kemerdekannya, serta menanamkan makna kehormatan dan kebebasan dalam jiwa putra-putranya, maka kami bersama mereka dalam hal itu.7 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika nasionalisme yang mereka maksud adalah memperkuat ikatan antar anggota masyarakat di satu wilayah dan membimbing mereka menemukan cara pemanfaatan kokhnya ikatan untuk kepentingan bersama, maka kami juga sepakat dengan mereka.  Karena Islam menganggap itu sebagai kewajiban yang tidak dapat ditawar. Nabi saw bersabda: “Dan jadilah kamu hamba-hamba Allah yang bersaudara....”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya Islam tegas-tegas mewajibkan, hingga tidak ada jalan untuk menghindar, bahwa setiap orang harus bekerja untuk kebaikan negaranya, memberi pelayanan maksimal untuknya, mempersembahkan kebaikan yang mampu dilakukan untuk umatnya dan melakukan semua itu dengan cara melakukan semua itu dengan cara mendahulukan yang terdekat, kemudian yang dekat, baik famili maupun tetangga.  Sampai-sampai Islam tidak membolehkan memindah pembagian zakat kepada orang yang jaraknya melebihi jarak dibolehkannya mengqasar shalat kecuali dalam keadaan darurat.  Hal ini untuk lebih mengutamakan kerabat dekat dalam berbuat kebaikan.”8 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikhwan berkeyakinan bahwa khilafah adalah lambang kesatuan Islam dan bukti adanya keterikatan bangsa Muslim.  Ia merupakan identitas Islam yang wajib dipikirkan dan diperhatikan oleh kaum Muslimin. Khalifah adalah tempat rujukan bagi pemberlakuan sebagian besar hukum dalam agama Allah.  Oleh karena itu, para sahabat lebih mendahulukan penanganannya daripada mengurus dan memakamkan jenazah Nabi saw sampai mereka benar-benar menyelesaikan tugas tersebut (memilih khalifah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits yang menyebutkan kewajiban mengangkat imam, penjelasan tentang hukum-hukum kepemimpinan, dan perincian segala sesuatu yang terkait dengannya menegaskan bahwa diantara kewajiban kaum muslimin ialah serius memikirkan masalah khilafah, sejak ia diubah manhajnya sampai kemudian dihapuskan sama sekali hingga sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah untuk mengembalikan eksistensi khilafah harus didahului oleh langkah-langkah berikut:&lt;br /&gt;1.  Harus ada kerjasama yang sempurna antara bangsa-bangsa muslim menyangkut masalah wawasan, sosial, dan ekonomi&lt;br /&gt;2.  Setelah itu membentuk persekutuan dan koalisi, serta menyelenggarakan berbagai pertemuan dan muktamar diantara negara-negara tersebut.  Sungguh muktamar parlemen Islam untuk membahas masalah Palestina di London yang mengundang kerajaan-kerajaan Islam untuk menyerukan pengembalian hak-hak bangsa Arab di bumi Palestina yang diberkahi adalah pertanda baik dan langkah maju dalam hal ini.&lt;br /&gt;3. Setelah itu membentuk Persekutuan Bangsa-bangsa Muslim. Jika hal itu bisa diwujudkan dengan sempurna, akan dihasilkan sebuah kesepakatan untuk mengangkat imam yang satu, dimana ia merupakan penengah, pemersatu, penentram hati, dan naungan Allah di muka bumi.9&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4691295274548167167-2030783916007045405?l=nuimhidayat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nuimhidayat.blogspot.com/feeds/2030783916007045405/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4691295274548167167&amp;postID=2030783916007045405&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4691295274548167167/posts/default/2030783916007045405'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4691295274548167167/posts/default/2030783916007045405'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nuimhidayat.blogspot.com/2009/01/kejeniusan-al-banna.html' title='Kejeniusan Al Banna'/><author><name>Nuim Hidayat</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04748613359481249234</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='22' src='http://2.bp.blogspot.com/_5sXuNmRv_aA/SXrAMvDXeaI/AAAAAAAAAAM/KQ9cesHTMeQ/S220/FOTO+1.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4691295274548167167.post-133149914390263568</id><published>2009-01-28T01:48:00.001-08:00</published><updated>2009-01-28T01:55:05.819-08:00</updated><title type='text'>Mohammad Natsir : Teladan dan Pemikiran Politiknya</title><content type='html'>Natsir berhasil menjelmakan dalam hidupnya sebagai seorang pemimpin Islam, dai dan politisi Islam sebenarnya. Ia bukan hanya pintar berdakwah, berorasi dan berstrategi, tapi yang jauh lebih penting keteladanan hidup dan perjuangan Islamnya. Keteladanannya menyamai tokoh-tokoh gerakan di negeri-negeri Islam lainnya. Ini semua menjadikan kata-katanya bersinar hingga kini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;000&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mohammad Natsir lahir di Minangkabau, Sumatera Barat, 17 Juli 1908. Ia wafat di Jakarta 6 Februari 1993.  Pendidikan Islam sejak kecil dengan orang tua dan lingkungannya.  Pendidikan formal di HIS Solok, MULO (1923-1927), AMS di Bandung (1930). Ketika di Bandung itulah ia berkenalan dan menjadi murid sekaligus sahabat dari ulama pergerakan Islam, A Hassan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Natsir pernah menjadi Menteri Penerangan Kabinet Sjahrir I (3 Januari 1946 - 12 Maret 1946), Menteri Penerangan Kabinet (12 Maret 1946 - 2 Oktober 1946), Menteri Penerangan Kabinet (2 Oktober 1946 – 27 Juni 1947), Menteri Penerangan Kabinet Hatta I (29 Januari 1948 - 4 Agustus 1949), dan Perdana Menteri ’Kabinet Natsir’ (6 September 1950 – 26 April 1951).  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Natsir memegang sebagai Ketua Pimpinan Pusat Masyumi pada 1949, 1951, 1952, 1954 dan 1956.   Setelah Masyumi dibubarkan, Buya Natsir dengan kawan-kawannya –tokoh-tokoh Islam Masyumi—mendirikan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia pada 1967.  Ketika berkiprah di Dewan Dakwah, Natsir melakukan pendidikan dai secara nasional dan sistematis, mendirikan perguruan tinggi-perguruan tinggi Islam di luar IAIN, memelopori pendirian pesantren-pesantren di sekitar kampus-kampus umum, mengirimkan dai-dai sekolah ke Timur Tengah dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketokohan Natsir bukan hanya pada tulisan-tulisannya, tapi juga sejarah hidup dan perjuangan dakwahnya.  Mulai remaja, dewasa sampai dengan tuanya, kehidupan Natsir penuh dengan keteladanan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat-saat remajanya, digambarkan bagus oleh penulis Ajip Rosidi, bahwa setelah lulus AMS (Algemene Middelbare School/setingkar SMA), Natsir telah hidup mandiri.  Ia tidak mau bekerja di pemerintahan.  Padahal bila bekerja di pemerintahan, ia bisa dapat gaji cukup besar saat itu (paling kecil F. 130; harga beras saat itu tidak sampai F. 0,05/lima sen satu kilogram). Natsir juga tidak merasa sreg untuk melanjutkan ke Fakultas Hukum (RH) di Jakarta atau Fakultas Ekonomi di Belanda, meskipun kesempatan beasiswa terbuka lebar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Aneh!” kata Natsir hampir tiga puluh tahun kemudian (1958) dalam suratnya kepada istri dan anak-anaknya tatkala mengenangkan lagi saat ia berhasil mencapai cita-cita yang sudah lama diidamkannya sendiri, dan yang juga diharap-harapkan oleh ayahbundanya selama ini, yaitu mendapat beasiswa untuk melanjutkan pelajaran setelah tamat AMS sehingga jalan untuk menyandang gelar ”Mr” terbuka. ”Aneh! Semua itu tidak menerbitkan selera Aba sama sekali. Aba merasa ada satu lapangan yang paling penting daripada itu semua. Aba ingin mencoba menempuh jalan lain.  Aba ingin berkhitmad kepada Islam dengan langsung.  Belum terang benar Aba pada permulaannya, apa yang harus dikerjakan sesungguhnya.  Tapi dengan tidak banyak pikir-pikir Aba putuskanlah bahwa tidak akan melanjutkan pelajaran ke Fakultas manapun juga. Aba hendak memperdalam pengetahuan tentang Islam lebih dahulu. Sudah itu bagaimana nanti.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam biografinya ”M Natsir Sebuah Biografi”, Ajip Rosidi melanjutkan: ”Lalu, dimulainyalah hidup sebagai seorang bebas yang bermaksud membaktikan dirinya buat Islam.  Setiap hari dia pergi ke rumah Tuan Hassandi Gang Belakang Pakgade dengan sepeda untuk mengurus penerbitan majalah Pembela Islam dan pada malam hari ditelaahnya Tafsir Al Qur’an dan kitab-kitab lainnya yang dianggap perlu, termasuk yang ditulis dalam bahasa Inggris atau bahasa Eropa lainnya. Dibacanya majalah-majalah tentang Islam dalam berbagai bahasa, seperti Islamic Review dalam bahasa Inggris, Moslemische Revue dalam bahasa Jerman, dan juga majalah al Manar dalam bahasa Arab yang terbit di Kairo. Penguasaannya atas bahasa Arab sebenarnya belum sebaik terhadap bahasa Inggris, Perancis atau Jerman-jangan dikata lagi bahasa Belanda- tetapi Tuan Hassan selalu mendesaknya agar dia membaca kitab-kitab atau majalah-majalah dalam bahasa Arab.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal-hal yang menarik hati dari majalah yang dibacanya itu, disarikannya untuk dimuat dalam Pembela Islam, dengan demikian dibukanya semacam jendela sehingga para pembacanya dapat mengetahui juga keadaan dan pendapat sesama Muslim di bagian dunia yang lain. Pikiran-pikiran Amir Syakieb Arsalan misalnya mendapat tempat yang luas dalam halaman-halaman Pembela Islam, karyanya yang terkenal menelaah mengapa umat Islam mundur, dimuat bersambung di dalamnya.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika menjadi menteri penerangan, Natsir juga menunjukkan keteladanannya.  Ia tidak aji mumpung memanfaatkan jabatannya untuk menumpuk kekayaan dan bahkan ia tidak memerdulikan pakaiannya baru atau usang. “Saat pertama kali berjumpa dengannya di tahun 1948, pada waktu itu ia Menteri Penerangan RI, saya menjumpai sosok orang yang berpakaian paling camping (mended) di antara semua pejabat di Yogyakarta. Itulah satu-satunya pakaian yang dimilikinya, dan beberapa minggu kemudian staf yang bekerja di kantornya berpatungan membelikannya sehelai baju yang lebih pantas, mereka katakan pada saya, bahwa pemimpin mereka itu akan kelihatan seperti ‘menteri betulan’,” kata George McT Kahin, Guru Besar Cornell University.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika bergerak di Masyumi, Natsir dan kawan-kawan konsisten dan terus menerus memperjuangkan tegaknya syariat Islam di Indonesia.  Natsir tidak segan-segan mengusulkan Islam sebagai dasar negara, diantaranya dengan Piagam Jakarta. Argumen-argumen Natsir dan tokoh-tokoh Masyumi sangat kuat.  Ditambah kecakapan ilmiah, baik tertulis maupun orasi, kejujuran dan kesederhanaannya, maka Natsir sangat dihormati bahwa oleh kawan maupun lawan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pidatonya di Dewan Konstituante, 12 November 1957, Natsir mengatakan bahwa faham sekulerisme mengandung bahaya-bahaya. Sekulerisme adalah suatu pandangan hidup, opini-opini, tujuan-tujuan dan sifat-sifat yang dibatasi oleh batas-batas keberadaan duniawi.  Kata Natsir: “Meskipun mungkin pada suatu saat kaum sekuleris itu mengakui keberadaan Tuhan, di dalam kehidupan kesehariannya sebagai pribadi-pribadi sekuleris, tidak mengakui kebutuhan terhadap suatu hubungan itu dalam kehidupan sehari-hari dinyatakan dalam sikap-sikap, tingkah laku dan tindakan-tindakan atau dalam doa dan ibadah.”  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Natsir melanjutkan: “Juga kaum sekuleris memandang konsep-konsep mengenai Tuhan dan agama hanya sebagai hasil ciptaan manusia, yang ditentukan oleh kondsi-kondisi sosial, bukan ditentukan oleh kebenaran wahyu.  Bagi kaum sekuleris doktrin agama dan Tuhan relatif dan tergantung pada penemuan-penemuan umat manusia.  Dan tolok ukur kebenaran dan kebahagiaan atau ukuran keberhasilan manusia semata-mata ditentukan oleh materi (benda), Di negara sekuler, masalah-masalah ekonomi, hukum, pendidikan, sosial dan lain-lainnya semata-mata ditentukan oleh kepentingan material, bukan oleh nilai-nilai spiritual.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Natsir juga tak segan-segan berterus terang tentang perlunya Islam dan negara bersatu: “Kalau kita terangkan bahwa agama dan negara harus bersatu, maka terbayang sudah dimata seorang bahlul (bloody fool) duduk di atas singgasana, dikelilingi oleh haremnya menonton tari dayang-dayang.  Terbayang olehnya yang duduk mengepalai kementrian kerajaan, beberapa orang tua bangka memegang hoga.  Sebab memang beginilah gambaran pemerintahan Islam yang digambarkan dalam kitab-kitab Eropah yang mereka baca dan diterangkan oleh guru-guru bangsa Barat selama ini.  Sebab umumnya (kecuali amat sedikit) bagi orang Eropa: Chalifah=Harem, Islam=Poligami).” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Natsir melanjutkan : “Suatu negeri yang pemerintahannya tidak memperdulikan keperluan rakyat, membiarkan rakyat bodoh dan dungu, tidak mencukupkan sarana yang perlu untuk kemajuan agar jangan tercecer dari negeri-negeri lain, dan yang kepala-kepalanya menindas rakyat dengan memakai “Islam” sebagai kedok atau memakai ibadah-ibadah sebagai kedok; sedangkan kepala-kepala pemerintahan itu sendiri penuh dengan segala macam maksiyat dan membiarkan takhayul, khurafat merajalela sebagaimana keadaan pemerintahan Turki pada zaman Sultan-sultannya yang akhir-akhir, maka pemerintahan yang semacam itu bukanlah pemerintahan Islam. Islam tidak menyuruh dan tidak membiarkan orang menyerahkan sesuatu urusan kepada yang bukan ahlinya. Malah Islam mengancam akan datang kerusakan dan bala’ bencana, bila suatu urusan diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya itu. “Apabila satu urusan diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya, tunggulah saat kehancurannya.” (HR Bukhari).” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bukunya Agama dan Negara dalam perspektif Islam, Mohammad Natsir menyatakan: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagi kaum muslimin urusan agama itu bukanlah ibarat satu baju yang boleh dipakai dan digantungkan, bilamana suka, akan tetapi menjadi urusan prive semata, melainkan juga masalah kemasyarakatan (maatschappelijk probleem) bahkan masalah kenegaraan, staatkundig probleem, yang berarti bagi kaum Muslimin Indonesia belumlah cukup “kerayaannya” satu kerajaan Indonesia Raya selama belum didasarkan dan diatur menurut dasar-dasar susunan hukum kenegaraan Islam, sekalipun ditakdirkan, yang memegang pucuk pimpinan pemerintahan Indonesia Raya itu sudah sebangsa dan setanah air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tegasnya dengan semata-mata jatuhnya pucuk pemerintahan ke dalam tangan Indonesia, belumlah tercapai ideologi pergerakan Muslimin Indonesia. Paling banyak mereka kaum Muslimin pada saat itu baru sampai ke zaman (fase) yang kedua dari pergerakan mereka.  Dan selama itu pula mereka akan meneruskan perjuangan, sehingga tercapai cita-cita kenegaraan Islamietisch Staatkundig Ideaal mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lama atau lekasnya akan sampai kepada tujuan tersebut, bergantung kepada keadaan gelanggang perjuangan dalam zaman yang kedua itu, dan bergantung kepada besar kecilnya kekuatan kaum Muslimin di saat itu dibandingkan dengan partai-partai lain.  Dan ini bergantung kepada persiapan organisasi kaum Muslimin di Indonesia dari sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditakdirkan sebagai misal, pada saat kaum Muslimin berada dalam keadaan lemah walaupun jumlah mereka  pada hekekatnya jauh lebih besar dari jumlah golongan bukan Islam, perjuangan merekapun tidak boleh dihentikan, walaupun ibaratnya sebagai partai oposisi dalam pemerintahan negara, sekalipun pemerintahan itu terletak dalam tangan bangsa sendiri, sampai kepada satu saat dimana pemerintahan didasarkan atas dasar Keislaman, tidak mungkin dan tidak boleh mereka hentikan, serta tunduk kepada perintah agama mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Berbuat baktilah kepada Allah dengan segenap kesanggupanmu.” (At-Taghabun:16).” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelaksanaan Hukum Islam di Indonesia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Natsir secara tegas menyatakan bahwa hukum-hukum Islam harus dilaksanakan di Indonesia.  Menghadapi pertanyaan : Bagaimana umpamanya di satu negeri seperti di Indonesia ini apakah semua urusan diatur menurut kemauan Islam juga sedangkan penduduknya ada bermacam-macam agama? Jawab Natsir : “Kalau kekuasaan sudah ada dalam orang Islam (bukan Kemalisten caplokan Turki) memang sudah tentu begitu.  Bagaimanakah lagi kalau tidak begitu.  Dalam satu negeri yang berdasar Islam, orang-orang yang bukan Islam mendapatkan kemerdekaan beragama dengan luas.  Malah lebih luas lagi daripada apa yang mungkin diberikan oleh setengah negeri di Eropa sekarang kepada agama-agama yang ada disana.  Dan apa keberatannya bagi penduduk negeri yang bukan Islam, apabila dalam negeri itu berlaku wet-wet Islam urusan bermuamalah dan lain-lain.  Padahal peraturan itu tidak ada yang bertentangan dengan peraturan agama mereka, lantaran dalam agama mereka memang tidak ada peraturan-peraturan yang bersangkutan dengan hal-hal yang bersangkutan dengan hal-hal yang semacam itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan berlakunya wet-wet Islam dalam negeri, agama mereka tidak terganggu, tidak rusak dan tidak kurang satu apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi sebaliknya: orang yang tidak mau mendasarkan negara itu kepada hukum-hukum Islam dengan alasan tidak mau merusakkan hati orang yang bukan beragama Islam, sebenarnya (dengan tidak sadar atau memang disengaja) berlaku zalim kepada orang Islam sendiri yang bilangannya di Indonesia 20 kali lebih banyak; lantaran tindakan begitu menggugurkan sebagian dari peraturan-peraturan agama mereka (agama Islam).  Itu berarti merusakkan hak-hak mayoritas, yang sama-sama hal itu tidak berlawanan dengan hak-hak dan kepentingan minoritas, hanya semata-mata lantaran takut, kalau si minoritas itu “tidak doyan”.  Ini namanya “staatkundige – demokrasi – tunggang balik.!” Entah inikah gerangan yang dinamakan “reele staatkunde” oleh ahli-ahli “staatsrech” rasional, entahlah! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pergerakan Politik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mencapai tujuan agar hukum Islam dapat berlaku dalam sebuah negara.  Natsir mendorong umat masuk dalam pergerakan politik.  Ketika ada pertanyaan: Jalan apakah yang harus ditempuh oleh kaum Muslimin dalam hal ini?  Natsir menjawab: “Kaum Muslimin Indonesia tidak akan mungkin mencapai ideologi mereka ini dengan mencemplungkan diri dalam pergerakan politik yang berdasarkan kebangsaan, yang memang sudah tidak suka mengambil Islam sebagai dasar hukum negara.  Ini sudah terang!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalan yang satu-satunya membawa mereka kepada tujuan mereka adalah: Mendirikan dan memperkuat barisan pergerakan politik yang berdasar Islam dan bertujuan Islam dengan arti yang telah berulang-ulang dikemukan di atas tadi (Bukan dengan arti sekedar menuliskan dalam statuen; kalimah-kalimah “berdasar Islam” atau “karena Allah” atau yang semacam itu).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lambat atau cepatnya berhasil cita-cita mereka itu, bukanlah bergantung kepada kemurahan dan kerahiman orang lain yang memang berlainan kepentingannya, dan bukan pula kerahiman golongan-golongan dalam masyarakat Indonesia sendiri yang berlainan tujuan dan cita-cita dengan mereka. Akan tetapi semata-mata bergantung kepada kekuatan yang ada dalam kalangan kaum Muslimin yang sama kepentingan, sama dasar, sama cita-cita dan sama tujuan hidup.  Ini pula bergantung kepada persiapan kaum Muslimin dari sekarang dalam gerakan politik, sosial dan lain-lain yang perlu untuk membangunkan satu masyarakat dan negara di bawah bendera Islam yang munasabah dengan jamannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan tentang titel khalifah, Natsir berbeda dengan Taqiyudin an Nabhani, pendiri gerakan Hizbut Tahrir..  Kata Natsir: “Hanyalah yang dibawakan oleh Nabi Muhammad saw  ialah beberapa patokan untuk mengatur negara. Supaya negara itu menjadi kuat dan subur, dan boleh menjadi wasilah yang sebaik-baiknya untuk mencapai tujuan hidup manusia yang berhimpun dalam negara itu, untuk keselamatan diri dan msyarakat, untuk kesentosaan perorangan dan kesentosaan umum.  Dalam pada itu, apakah yang menjadi kepala pemerintahan itu bertitel khalifah atau tidak, buknlah urusan yang utama. Titel Chalifah bukan menjadi syarat mutlak dalam pemerintahan Islam, bukan conditio sine qua non. Cuma saja yang menjadi kepala negara yang diberi kekuasaan itu, sanggup bertindak bijaksana dan peraturan-peraturan Islam berjalan dengan semestinya dalam susunan kenegaraan baik dalam kaedah maupun dalam praktek.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Natsir juga mengatakan: “Apakah bunyinya gelar atau titel yang  harus diberikan kepada Kepala Negara itu sebagaimana telah kita katakan, tidak menjadi syarat yang terpenting.  Khalifah boleh, Amirul Mukminin boleh, Presiden boleh, apa saja boleh, asal sifat-sifat, hak dan kewajibannya adalah sebagaimana yang dikehendaki oleh Islam...Ditetapkan si Kepala itu wajib bermusyawarah dengan orang-orang yang ptut dan layak dibawa bermusyawarah dalam urusan mengenai umat, yakni dalam hal-hal yang perlu dimusyawarahkan lebih dahulu.  Tapi bukan dalam hal hukumhukum yang telah ada ketentuannya dalam agama.  Apakah permusyawaratan itu dilakukan sebagaimana Sayidina Abu Bakar bermusyawarah dengan Amir-amirnya di padang pasir dan pohon kurma, ataukah diatur dengan parlementer-stelsel seperti pada abad ke-20 ini, ataukah akan dipakai individueel kiesrecht ataukah organisch-kiesrecht, tidak ditetapkan oleh agama Islam.  Hal itu diserahkan dengan leluasa kepada ijtihad sendiri, apa yang cocok untuk zaman kita pula, asal permusyawarahan atau syura itu ada berlaku!” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut yang menjadi syarat untuk menjadi kepala Negara Islam adalah agamanya, sifat dan tabiatnya, akhlak dan kecakapannya untuk memegang kekuasaan yang diberikan kepadanya, jadi bukanlah bangsa dan keturunannya ataupun semata-mata intelektualnya saja. Ia juga menegaskan bahwa terhadap penguasa negara terpilih, umat mempunyai kewajiban mengikutinya selama ia benar dalam menjalankan kekuasaannya.  Bila menyimpang, umat berhak melakukan koreksi atau mengingkari penguasa negara.  Dalam masalah ini Islam menekankan kewajiban musyawarah tentang hak dan kewajiban antara penguasa dan yang dikuasai.” Meski setuju dengan kehidupan parlemen, Natsir mewanti-wanti: “Dalam parlemen negara Islam, yang hanya boleh dimusyawarahkan adalah tata cara pelaksanaan hukum Islam (syariat Islam) tetapi bukan dasar pemerintahannya.”  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pancasila dan Islam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Natsir tidak menolak mentah-mentah Pancasila.  Menurutnya di atas tanah yang beriklim Islam, Pancasila dapat hidup subur.  Kata Natsir: “Dalam pandangan Al Qur’an, Pancsila akan hidup subur.  Satu dengan lain tidak a priori bertentangan, tapi tidak pula identik (sama). Di mata seorang Muslim, perumusan Pancasila bukan kelihatan a priori sebagai “barang asing” yang berlawanan dengan ajaran Al Qur’an.  Ia melihat di dalamnya satu pencerminan dari sebagai yang ada pada sisinya.  Tapi ini tidak berarti Pancasila memang mengandung tujuan Islam, tetapi Pancasila itu bukanlah berarti Islam.  Kita berkeyakinan yang tak kunjung kering, di atas tanah dan dalam iklim Islamiyah Pancasila akan hidup subur.  Sebab iman kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa tidak dapat ditumbuhkan dengan semata-mata hanya mencantumkan kata-kata dan istilah “Ketuhanan Yang Maha Esa” itu saja dalam perumusan Pancasila itu.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Natsir kemudian melanjutkan: “Kita mengharapkan Pancasila dalam perjalanannya mencari isi semenjak ia dilancarkan itu, tidaklah akan diisi dengan ajaran yang menentang Al Qur’an, wahyu Ilahi yang semenjak berabad-abad telah menjadi darah daging bagi sebagian terbesar dari bangsa kita ini. Dan janganlah pula ia dipergunakan untuk menentang kaidah-kaidah dan ajaran yang termaktub dalam Al Qur’an itu, yaitu induk serba sila, yang bagi umat Muslim Indonesia menjadi pedoman hidup dan pedoman matinya, yang mereka ingin sumbangkan isinya kepada pembinaan bangsa dan negara, dengan jalan-jalan parlementer dan demokratis.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun demikian, dalam pidatonya di Sidang Pleno Konstituante, 12 November 1957, Natsir –sebagai cita-cita Masyumi-- memperjuangan Islam sebagai dasar negara. Menurutnya Pancasila yang ingin tetap berdiri sendiri, netral dari ideologi komunisme atau Islam, menjadikan Pancasila tidak dapat berwujud apa-apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata Natsir: “Inilah satu tragik yang dihadapi oleh Pancasila yang sekuler (ladiniyah) dan netral.  Jika demikian, bagaimana saudara Ketua, Pancasila dapat dijadikan dasar negara. Itulah sebabnya sebagaimana yang saya katakan dalam permulaan keterangan ini, Pancasila sebagai falsafah dasar negara itu adalah kabur dan tak bisa berkata apa-apa kepada jiwa umat Islam yang sudah mempunyai dan sudah memiliki satu ideologi yang tegas, terang dan lengkap, serta hidup dalam kalbu rakyat Indonesia sebagai tuntutan hidup dan sumber kekuatan lahir dan batin, yakni Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari ideologi Islam ke Pancasila bagi umat Islam adalah ibarat melompat dari bumi tempat berpijak, ke ruang hampa, vacum, tak berhawa.  Betul, demikianlah ibaratnya, Saudara Ketua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seruan Kepada Pendukung Pancasila,&lt;br /&gt;Saudara Ketua,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya ingin menyampaikan seruan yang sungguh-sungguh kepada saudara-saudara yang mendukung Pancasila.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sila-sila yang saudara-saudara maksud ada terdapat dalam Islam.  Bukan sebagai “pure concept” yang steril, tetapi sebagai nilai-nilai hidup yang mempunyai substansi yang riil dan terang.  Dengan menerima Islam sebagai falsafah negara, saudara-saudara pembela Pancasila sedikitpun tidak dirugikan apa-apa.  Baik sebagai pendukung Pancasila atau sebagai orang yang beragama. Malah akan memperoleh satu state philosophy yang hidup berjiwa, berisi, tegas dan mengandung kekuatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak satupun dari lima sila yang terumus dalam Pancasila itu, yang akan terluput atau gugur, apabila saudara-saudara menerima Islam sebagai dasar negara.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Islam terdapat qaedah-qaedah yang tentu-tentu dimana “pure concept” dari lima yang lima itu mendapat substansi yang riil, mendapat jiwa dan roh penggerak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada saudara-saudara yang memajukan sosial ekonomi sebagai dasar, saya berseru, dalam Islam saudara-saudara pasti akan bertemu dengan konsep sosial ekonomi yang progresif.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demokrasi Islam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Natsir dengan Masyumi-nya juga secara tegas ingin menegakkan demokrasi Islam.  Dalam pidatonya di depan Sidang Pleno Konstituante itu Natsir menyatakan: “Saudara Ketua, timbul pertanyaan : Apakah sekarang negara yang berdasarkan Islam seperti itu satu negara teokrasi?  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teokrasi adalah satu sistem kenegaraan dimana pemerintahan dikuasai oleh satu priesthood (sistem kependetaan), yang mempunyai hirarki (tingkat bertingkat), dan menjalankan demikian itu sebagai wakil Tuhan di dunia.  Dalam Islam tidak dikenal priesthood semacam itu. Jadi negara yang berdasarkan Islam sukanlah satu teokrasi.  Ia negara demokrasi.  Ia bukan pula sekuler yang saya uraikan lebih dahulu. Ia adalah negara demokrasi Islam  Dan kalaulah saudara Ketua hendak memberi nama yang umum juga, maka barangkali negara yang berdasarkan Islam itu dapat disebut Theistic Democracy.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang partai Natsir, Masyumi juga secara tegas menegaskan bahwa tujuan partai adalah menegakkan hukum Islam di Indonesia.  Di Anggaran Dasar Partai Politik Islam Indonesia Masjumi ditegaskan: "Tujuan Partai ialah terlaksananya ajaran dan hukum Islam, di dalam kehidupan orang seorang , masyarakat dan negara Republik Indonesia, menuju keridhaan Ilahi." (Pasal III). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada pasal IV-nya dinyatakan: "Usaha partai untuk mencapai tujuannya:&lt;br /&gt;1. Menginsyafkan dan memperluas pengetahuan serta kecakapan Umat Islam Indonesia dalam perjuangan politik&lt;br /&gt;2. Menyusun dan memperkokoh kesatuan dan tenaga umat Islam Indonesia dalam segala lapangan&lt;br /&gt;3. Melaksanakan kehidupan rakyat terhadap perikemanusiaan, kemasyarakatan, persaudaraan dan persamaan hak berdasarkan taqwa menurut ajaran Islam Bekerjasama dengan lain-lain golongan dalam lapangan bersamaan atas dasar harga menghargai.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesan kepada Pejuang “Politik Islam”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buya Natsir berpesan kepada para pemimpin politik Islam agar tidak ragu dalam mengambil Islam sebagai asasnya.  Kata Natsir: “Berhadapan dengan Nasrani dan Yahudi, Muhammad saw tidak gugup-gugup memperingatkan terus terang:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Artinya): “Barangsiapa berkehendak kepada satu agama lain dari Islam, maka itu tidak akan diterima dari dia, dan pada hari kemudian jadilah dia setengah dari orang-orang yang merugi.” (Ali Imran:84).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada “separo Islam” yang dia benarkan, tak ada “setengah Nasrani” yang dia akui. Tak ada Muhammad SAW mengendur-ngendurkan kekuasaan kebenarannya.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut sastrawan Ajip Rosidi, tulisan ini menyindir golongan Islam yang pada masa itu hendak berkompromi dengan golongan lain sehingga dalam Anggaran Organisasinya mencantumkan “Islam dan...” tidak merasa cukup Islam saja. Dengan melukiskan keteguhan Muhammad dalam memegang teguh Keislamannya, maka Natsir melanjutkan dalam tulisannya “Kontan dan Ikhlas” di Pembela Islam no. 32 (Agustus 1931): &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dalam memisahkan yang hak dari yang bathal, maka Pemimpin itu tidak merembuk pada siapa atau dimana letak kebathilan. Tak enggan mengorbankan pertalian dengan “kawan” yang membahayai “pergerakannya”, tak enggan menyingkirkan karib yang munafik kepada usahanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Artinya):”Hai orang-orang yang beriman! Hendaklah kamu jadi kaum yang mendirikan keadilan (dan kaum) yang menjadi saksi karena Allah, walaupun menentang diri kamu atau ibu bapa dan kaum kerabat.  Orang yang (kamu) saksikan itu kalau kaya atau miskin, Allah lebih patut mengurusnya.  Tetapi janganlah kamu turut hawa nafsu buat tidak adil; dan jika kamu bengkok atau berpaling, maka sesungguhnya Allah itu amat mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Nisa’:135)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat yang amat perlu kepada pertulungan kawan, pada saat yang sangat penting kekuatan bersama, penentang musuh dalam peperangan, tak sayang Pemimpin umat ini menolak “sokongan” mereka yang bimbang-bimbang, mundur segan, maju tak berani:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Artinya):”...(Tidak perlu) kamu keluar bersamaku selama-lamanya, dan tidak (perlu) kamu memerangi musuh bersamaku, karena kamu telah suka duduk-duduk dulu, maka sekarang duduklah bersama orang-orang tinggal (di belakang).” (At Taubah:83).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan persekutuan dengan munafik yang bisa menolak pengaruh pengkhianat dari dalam dan serangan musuh dari luar.  Hanyalah mengasingkan diri, berpisah, “berhijrah” dari golongan lawan yang memang sudah musuh, dari golongan lawan yang memakai bulu kawan.  Hijrah dengan keyakinan teguh kepada kesucian dasar dan kerjanya, hijrah yang mencari kekuatan dalam kaum seasas, secita-cita, hijrah yang tak diragui, oleh bayangan-bayangan mereka yang berlainan tujuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka dalam kerjanya sebagai Pemimpin, Muhammad saw juga menderita bencana dari pihak mereka yang merupakan diri sebagai kawan.  Sedikitpun tidak mendatangkan kecewa pada dirinya.  Bukan nama harum yang menjadi tujuannya, bukan “simpazi” orang dicari-carinya, maka lambat-lekasnya berhasil usahanya itu, tidak jadi taksiran dan kira-kira.  Hanya keyakinan pada kesucian agamanya, dan keinsafan kepada kewajibannya sebagai Rasulullah yang jadi sumber kekuatannya setiap saat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sengsara dan bahaya memperkuat pendirian; tak menanti-nanti dan meminta-minta keakuran orang banyak; merasa cukup dengan pimpinan Tuhannya. Kemenangan dan kesentosaan tak menerbitkan megah dan sombong.  Senantiasa ingat dan peringatkan yang dia hanya hamba dan Pesuruh Allah yang melakukan kewajibannya.  Senantiasa berada dalam kelapangan.  Menyerah kepada Tuhannya, dalam sengsara bersabar dan dalam kesenangan bersyukur kepada Allah.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dunia Islam, Natsir juga aktif menggalang bantuan untuk Palestina dan menghadiri seminar-seminar yang bertema pembebasan Palestina.  Selain itu Natsir juga beberapa kali bertemu dengan tokoh-tokoh pergerakan Islam Ikhwanul Muslimin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam negeri, selain Natsir mengadakan pembinaan dan pengkaderan dai-dai dan ulama Islam, ia juga aktif mengirim mahasiswa-mahasiswa ke luar negeri, khususnya ke Timur Tengah.  Ketika Dewan Dakwak Islamiyah dipimpin Natsir, buku-buku karya Hasan al Banna, Sayyid Qutb, Abul A’la al Maududi diterjemah dan disebarluaskan ke seluruh tanah air.  Ketokohan Natsir ini bisa kita lihat juga penghormatan tokoh-tokoh politik, seperti Amien Rais dan Anwar Ibrahim kepadanya. Dalam Tempo edisi 14-20 Juli 2008, Amien Rais menyandingkan ketokohan Mohammad Natsir di dunia Islam, dengan Abul A’la al Maududi dan Sayid Qutb, dalam kolomnya di Tempo edisi 14-20 Juli 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan Juli 2008, bertepatan dengan seratus tahun kelahiran Mohammad Natsir, majalah Tempo dan al Mujtama’ mengangkat Natsir sebagai laporan utama.  Tempo membuat tulisan panjang dengan membuat cover majalah berjudul “Politik Santun Diantara Dua Rezim”. Sedangkan al Mujtama’ membuat tulisan penuh satu majalah dengan cover depan berjudul :“Maestro Dakwah yang Tak Kenal Lelah”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang kepribadian, sejarah hidup dan pergerakan dakwah Mohammad Natsir, berpengaruh besar hingga ke generasi Islam Indonesia saat ini.  Kita bisa membandingkan ketokohan Natsir dengan tiga tokoh besar dunia abad ke-20, yang pemikiran dakwah dan pemikiran Islamnya berpengaruh hingga kini.  Mohammad Natsir, Hasan al Banna, Abul A’la al Maududi dan Taqiyudin an Nabhani pada dasarnya mempunyai cita-cita yang sama, menginginkan terbentuknya individu Islami, keluarga Islami, masyarakat Islami dan negeri yang Islami. Strategi yang mereka terapkan berbeda, karena pengalaman hidup, pendidikan dan pergaulan mereka berbeda.*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Tahun 1945, Natsir tercatat sebagai anggota, ketua Masyumi saat itu adalah Dr. Sukiman Wirjosandjojo. Tahun 1949, Natsir menjadi ketua, sebagai  presiden partai adalah Dr. Sukiman (struktur partai berubah). Lihat buku Deliar Noer, Partai Islam di Pentas Nasional, Grafiti Pers, 1987, hal. 100-105&lt;br /&gt;  Ajip Rosidi, Natsir Sebuah Biografi, Girimukti Pasaka, 1990, hal. 76&lt;br /&gt;  Mohammad Natsir dalam Feith, dalam Ahmad Suhelmi, Soekarno versus Natsir hal. 75. &lt;br /&gt;  Mohammad Natsir, Agama dan Negara dalam Perspektif Islam, Media Dakwah, 2001, hal. 79&lt;br /&gt;  Idem Natsir, hal. 80&lt;br /&gt;  Mohammad Natsir, Agama dan Negara dalam Perspektif Islam, Media Dakwah, 2001, hal. 51&lt;br /&gt;  Idem Natsir, hal. 70&lt;br /&gt;  Idem Natsir, hal. 70-71&lt;br /&gt;  Idem Natsir, 83&lt;br /&gt;  Idem Natsir, 86&lt;br /&gt;  Lihat Ahmad Suhelmi, Soekarno versus Natsir hal. 56-57&lt;br /&gt;  Idem Natsir hal. 163. Artikel ini ditulis Natsir pada Mei 1954 (Ramadhan 1373 H)&lt;br /&gt;  Idem Natsir hal. 218&lt;br /&gt;  Idem Natsir hal. 220&lt;br /&gt;  Lihat buku SU Bajasut, Alam Fikiran dan Djedjak Perjuangan Prawoto Mangkusasmito, hal. 381&lt;br /&gt;  Lihat Ajip Rosidi, Natsir Sebuah Biografi, hal.78&lt;br /&gt;  Idem Ajip Rosidi, hal. 79-80&lt;br /&gt;  Abdul&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4691295274548167167-133149914390263568?l=nuimhidayat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nuimhidayat.blogspot.com/feeds/133149914390263568/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4691295274548167167&amp;postID=133149914390263568&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4691295274548167167/posts/default/133149914390263568'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4691295274548167167/posts/default/133149914390263568'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nuimhidayat.blogspot.com/2009/01/mohammad-natsir-teladan-dan-pemikiran.html' title='Mohammad Natsir : Teladan dan Pemikiran Politiknya'/><author><name>Nuim Hidayat</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04748613359481249234</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='22' src='http://2.bp.blogspot.com/_5sXuNmRv_aA/SXrAMvDXeaI/AAAAAAAAAAM/KQ9cesHTMeQ/S220/FOTO+1.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4691295274548167167.post-650486391012300933</id><published>2009-01-26T23:38:00.000-08:00</published><updated>2009-01-26T23:39:42.935-08:00</updated><title type='text'>Budaya Ilmu</title><content type='html'>Tradisi ilmu kaum Muslimin dulu dikenal dalam sejarah sangat mengagumkan.  Cendekiawan Islam maupun Barat mengakui bahwa kejayaan ilmu pengetahuan di zaman kejayaan Islam telah mempengaruhi secara signifikan pertumbuhan peradaban Barat.  Tapi kini umat Islam terperosok, ia menjadi bangsa yang tidak disegani bahkan menjadi bangsa-bangsa yang diibaratkan Rasulullah sebagai “makanan” yang diperebutkan bangsa Barat.  Kenapa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tradisi ilmu dalam Islam sebenarnya telah diproklamirkan Rasulullah saw semenjak ayat Al Qur’an yang pertama turun.  Ayat Iqra’, bacalah, telah mengubah sahabat-sahabat Rasulullah dari orang-orang jahiliyah yang suka mabuk-mabukan, main perempuan, berleha-leha, menipu, menjadi orang-orang yang senang dengan ilmu pengetahuan dan berakhlak mulia. Mengubah generasi-generasi Arab jahiliyah yang tidak diperhitungkan dalam pergolakan dunia, menjadi pemimpin-pemimpin dunia yang disegani di seluruh kawasan dunia saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tradisi baca dan tulis-menulis begitu hidup saat itu.  Tiap ayat al-Qur’an turun, Rasulullah saw. memerintahkan kepada sahabat dekatnya untuk menulis, Zaid bin Tsabit, Ali bin Abi Thalib dll. Bahkan tradisi membaca dan menulis ini menjadi simbol kemuliaan seseorang. Ibnu Saad mengatakan: “Bangsa Arab Jahiliyah dan permulaan Islam menilai bahwa orang yang sempurna adalah yang dapat menulis, berenang dan melempar panah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah saw menugaskan Abdullah bin Said bin al Ash untuk mengajarkan tulis menulis di Madinah.  Juga memberi mandat Ubadah bin as Shamit mengajarkan tulis menulis ketika itu. Kata Ubadah, bahwa ia ia pernah diberi hadiah panah dari salah seorang muridnya, setelah mengajarkan tulis menulis kepada Ahli Shuffah. Saad bin Jubair berkata: “Dalam kuliah-kuliah Ibn Abbas, aku biasa mencatat di lembaran. Bila telah penuh, aku menuliskannya di kulit sepatuku, dan kemudian di tanganku. Ayahku sering berkata:” Hapalkanlah, tetapi terutama sekali tulislah. Bila telah sampai di rumah, tuliskanlah. Dan jika kau memerlukan atau kau tak ingat lagi, bukumu akan membantumu.” (lihat Prof. Mustafa Azami, 2000)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semangat mereka dalam memburu ilmu pengetahuan makin tinggi, berkat pemahaman terhadap Al-Qur’an yang banyak ayat-ayatnya mendorong agar Muslim senantiasa menggunakan akalnya.  Juga ratusan sabda Rasulullah yang menunjukkan pujian terhadap orang-orang yang berilmua. Diantaranya sabda Rasulullah saw: “Barangsiapa pergi mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan jalannya ke surga.” (HR Imam Ahmad). Ibnu Taimiyah meriwayatkan bahwa banyak sahabat yang tinggal di asrama untuk mengikuti madrasah Rasulullah. Menurut Ibnu Taimiyyah, jumlah orang yang tinggal di dalam Suffah (asrama tempat belajar), mencapai 400 orang.  Sedangkan menurut Qatadah, jumlah mereka mencapai 900 orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Prof. Azami, Rasulullah mempunyai sekitar 65 sekretaris yang bertugas menulis berbagai hal khusus. Khusus menulis Al Qur’an: Ali bin Abi Thalib, Zaid bin Tsabit, Utsman bin Affan dan Ubay bin Kaab. Khusus mencatat harta-harta sedekah: Zubair bin Awwam dan Jahm bin al Shalit. Masalah hutang dan perjanjian lain-lain: Abdullah bin al Arqam dan al Ala’ bin Uqbah. Bertugas mempelajari dan menerjemahkan bahasa asing (Suryani): Zaid bin Tsabit. Sekretaris cadangan dan selalu membawa stempel Nabi: Handhalah (lihat “Kuttabun Nabi”, Prof. Mustafa Azami).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Setelah itu, pendahulu-pendahulu kita juga demikian: Abu Bakar Al-Anbari membaca setiap pekan sebanyak 10 ribu lembar. Hingga beliau sering sakit dan membawanya pada kematian karena sering membaca. Syekh Ali Ath-Thantawi membaca 100 – 200 halaman setiap harinya. Menulis artikel di Media massa lebih dari 13 ribu halaman, sedangkan yang hilang sejumlah itu juga dan bahkan lebih. Imam Ibnu Jarir Ath Thabari mampu menulis empat puluh halaman kitab setiap harinya, selama 40 tahun dari usianya yang terakhir. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jabir ibn Abdullah ra menempuh perjalanan sebulan penuh dari kota Madinah ke kota ‘Arisy di Mesir hanya demi mencari satu Hadits. Ibnu al-Jauzi menulis lebih dari seribu judul. Imam Ahmad pernah menempuh perjalanan ribuan kilomater untuk mencari satu Hadits, bertani untuk mencari rezeki dan masih membawa-bawa tempat tinta pada usia 70 tahun. Imam Syafi’i pernah terjaga semalaman sampai fajar dalam mempelajari satu hadits dan satu masalah. Malam-malam beliau isi dengan membaca, sholat, atau belajar. Imam al-Bukhari menulis kitab Shahih-nya selama 16 tahun dan selalu sholat dua rakaat setiap kali menulis satu Hadits, serta berdoa meminta petunjuk Allah. Sehingga karyanya menjadi contoh teladan, tujuan para ulama dan pemuncak cita-cita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Nawawi (w. 676 H), penulis Kitab Riyadhush Shalihin, al-Majmu’, dan Syarah Shahih Muslim, disebutkan bahwa beliau setiap hari belajar 8 cabang ilmu dari subuh sampai larut malam.  Al-Mizzi, Ibn Katsir, Ibn al-Qayyim al-Jauziyah, Ibn Hajar, al-Suyuthi, al-Sakhawi, dan ulama besar lainnya, menyisihkan lebih dari 15 jam per hari untuk membaca dan menulis. Ulama kontemporer Prof. Dr. Wahbah Zuhaili, menurut murid-muridnya juga meluangkan waktu sekitar 15 jam per hari untuk membaca dan menulis. Sehingga ia melahirkan karya-karya yang monumental setingkat ensiklopedi .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejayaan dan Kejatuhan Bangsa &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam masalah tradisi ilmu ini, Prof. Wan Daud menyatakan bahwa kejayaan atau kejatuhan suatu bangsa tergantung pada kuat atau tidaknya budaya ilmu pada bangsa itu. “Pembinaan budaya ilmu yang terpadu dan jitu merupakan prasyarat awal dan terpenting bagi kesuksesan, kekuatan dan kebahagiaan seseorang dan suatu bangsa. Suatu individu atau suatu bangsa yang mempunyai kekuasaan atau kekayaan tidak bisa mempertahankan miliknya, atau mengembangkannya tanpa budaya ilmu yang baik. Malah dia akan bergantung kepada orang atau bangsa lain yang lebih berilmu. Kita telah melihat sendiri betapa beberapa negara minyak yang kaya-raya terpaksa bergantung hampir dalam semua aspek penting kehidupan negaranya kepada negara lain yang lebih maju dari segi keilmuan dan kepakaran. Sedangkan unsur lain, yaitu harta dan tahta, bersifat eksternal dan sementara. Keduanya bukanlah ciri yang sejalan dengan diri seseorang atau suatu bangsa tanpa ilmu yang menjadi dasarnya. Sebaliknya jika ilmu terbudaya dalam diri pribadi dan masyarakat dengan baik, maka bukan saja bisa mempertahankan dan meningkatkan lagi keberhasilan yang ada, malah bisa memberikan kemampuan untuk memulihkan diri dalam menghadapi segala kerumitan dan tantangan,”papar Guru Besar ISTAC ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia kemudian mencontohkan peristiwa dalam sejarah: “Bangsa yang telah begitu banyak mempengaruhi peradaban manusia ialah bangsa Yunani. Pencapaian bangsa ini, khususnya yang berpusat di Athena hampir lebih 2.000 tahun silam bisa memberikan banyak pengajaran kepada kita. Salah satunya ialah bahwa yang mempunyai tradisi ilmu akan mempunyai pengaruh yang besar kepada bangsa lain yang jauh lebih besar jumlah rakyatnya dan lebih kuat bala tentaranya. Hal ini juga nampaknya merupakan salah satu hukum umum sejarah. Hasil keilmuan Yunani, terutama yang berpusat di Athena, mempunyai pengaruh besar terhadap Roma dan bangsa lain hingga hari ini. Pada zaman kegemilangannya, jumlah rakyat dan tentaranya tidak sebanyak dan sekuat Roma. Bidang ilmu seperti filsafat dengan segala aspek penelitiannya, logika, matematika (terutama geometri) adalah hasil pemikiran Yunani yang mempengaruhi beberapa aliran dalam peradaban Islam, dan terutamanya peradaban Barat hingga hari ini. Dalam bidang kedokteran, sumpah Hippocrates (meninggal dunia di sekitar 500 sebelum Masehi) yang menggariskan etika kedokteran Barat dan modern masih digunakan. Malah Olimpiade sendiri adalah penjelmaan kembali salah satu ciri budaya Yunani kuno yang berpengaruh itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia juga menggambarkan bagaimana budaya ilmu itu menjadi kebangkitan bagi kejayaan Cina, Barat dan Jepang.  Ia mencontohkan sebuah peristiwa di Jepang: “Di Jepang pendidikan adalah jalan terpenting untuk mendaki tangga kesuksesan. Para remaja dan pelajar disajikan dengan kisah-kisah keberhasilan individu dari Timur dan Barat. Contohnya buku Yukichi Fukuzawa, Galakkan Belajar dijual sebanyak 600.000 eksemplar pada tahun 1882. Buku itu menyatakan: “Manusia tidak dilahirkan mulia atau hina, kaya atau miskin, tetapi dilahirkan sama dengan yang lain. Barang siapa yang gigih belajar dan menguasai ilmu dengan baik akan menjadi mulia dan kaya, tetapi mereka yang jahil akan menjadi papa dan hina.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, tidak ada kata lain bahwa kebangkitan Islam, kebangkitan negara, masyarakat atau individu Muslim mesti dimulai dengan kebangkitan budaya ilmu.  Karena kepemimpinan yang benar adalah kepemimpinan berfikir, bukan kepemimpinan ekonomi atau militer.  Peradaban dunia dunia saat ini yang mengunggulkan kepemimpinan ekonomi dan militer, maka hasilnya kita lihat, adalah peradaban yang jauh dari kemanusiaan.  Banyak negara yang egois dengan nasionalismenya masing-masing, sehingga rela memperdaya dan memiskinkan negara-negara lain.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan jangan bermimpi negeri-negeri Islam akan memimpin dunia Barat, bila tradisi ilmu belum membudaya dalam masyarakat. Wallahu aliimun hakiim.* (Jurnal Al Insan, 2008)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4691295274548167167-650486391012300933?l=nuimhidayat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nuimhidayat.blogspot.com/feeds/650486391012300933/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4691295274548167167&amp;postID=650486391012300933&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4691295274548167167/posts/default/650486391012300933'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4691295274548167167/posts/default/650486391012300933'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nuimhidayat.blogspot.com/2009/01/budaya-ilmu.html' title='Budaya Ilmu'/><author><name>Nuim Hidayat</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04748613359481249234</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='22' src='http://2.bp.blogspot.com/_5sXuNmRv_aA/SXrAMvDXeaI/AAAAAAAAAAM/KQ9cesHTMeQ/S220/FOTO+1.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4691295274548167167.post-4376175213292931362</id><published>2009-01-26T23:34:00.000-08:00</published><updated>2009-01-26T23:35:44.692-08:00</updated><title type='text'>Tugas Cendekiawan Muslim</title><content type='html'>Melihat politik luar negeri Amerika yang tidak beradab saat ini, menjadikan ilmu-ilmu politik yang dibangun Barat perlu dipertanyakan kembali relevansinya. Untuk apa ilmu pengetahuan disusun dan disebarluaskan, sementara dalam praktiknya justru menyengsarakan umat manusia? Di mana peran cendekiawan Amerika yang tidak beres mengurusi negaranya atau menasihati pemerintahannya agar tidak bertindak semena-mena? Sementara dalam waktu yang sama mereka merekrut pemuda-pemuda cerdas dari Indonesia dan negara di dunia ketiga lainnya untuk dididik di Amerika. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat inilah seharusnya para cendekiawan Muslim berperan untuk merumuskan ilmu dan membangun kembali peradaban yang nyata-nyata gagal dikendalikan ilmuwan Barat. Konsep dasar ilmu Barat memang berbeda dengan Islam. Bila dalam Islam ilmu selain berpijak pada akal, juga tidak boleh menyimpang dari wahyu. Sementara di Barat, ilmu hanya berakar dari akal atau rasionalisme. Dan di sinilah awal mula kerusakan di Barat, karena akal sifatnya terbatas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, dalam konsep Islam, hal yang urgent, antara ilmu dan amal menyatu. Bila amalnya menyalahi ilmu, maka ia akan dijuluki munafik, fasiq, zalim, atau ahli maksiat. Makanya dalam ilmu hadis diajarkan bahwa orang tidak saja dilihat dari apa yang diucapkannya, tetapi juga dari perilakunya. Di Barat, ilmu dan amal tidak harus menyatu. Memang sebagian orang Barat menyatakan bahwa ilmu dan amal harus menyatu. Tapi dalam kenyataan yang dilakukan cendekiawannya atau praktik politiknya, antara ilmu dan amal jauh panggang dari api. Tokoh-tokoh Barat, seperti Faucault dan JJ Rousseau, terkenal sebagai intelektual yang gonta-ganti perempuan dan rusak akhlaknya. Politik AS dan negara Barat saat ini ke dunia Islam, terlihat kebiadabannya. Bagaimana sebuah negari Islam dihancurkan infrastrukturnya, dibunuhi rakyatnya, dirusak masa depan anak-anaknya dan dimiskinkan negaranya? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan pendidikan&lt;br /&gt;Menurut mantan Guru Besar ISTAC, Wan Mohd Nor Wan Daud, ada dua pandangan teoritis mengenai tujuan pendidikan. Pertama, orientasi kemasyarakatan, yaitu pandangan yang menganggap pendidikan sebagai sarana utama dalam menciptakan rakyat yang baik. Kedua, lebih berorientasi kepada individu yang lebih memfokuskan diri pada kebutuhan, daya tampung, dan minat pelajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara umum, sistem pendidikan yang diterapkan di dunia ini berorientasi kemasyarakatan dan kenegaraan. Pandangan ini juga dianut oleh aliran perenial atau aliran transmisi kebudayaan yang sering dihubung-hubungkan dengan Plato dan sarjana Barat Abad Pertengahan, juga beberapa sarjana modern seperti William T Harris, Robert Hutchins, dan Adler di Amerika Serikat, para feminis yang giat meneriakkan prinsip-prinsip kebebasan, dan sebagainya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya, menurut Wan Daud, hampir semua agama besar di permukaan bumi ini menganut pandangan yang berorientasi kepada individu. Pandangan teoritis pendidikan yang berorientasi individual ada dua aliran. Pertama , mereka yang berpendapat bahwa tujuan pendidikan adalah mempersiapkan peserta didik agar bisa meraih kebahagiaan optimal melalui pencapaian kesuksesan kehidupan bermasyarakat dan ekonomi, jauh lebih berhasil yang pernah dicapai oleh orangtua mereka. Aliran kedua adalah mereka yang lebih menekankan peningkatan intelektual, kekayaan, dan keseimbangan jiwa peserta didik. Menurut mereka, meskipun memiliki banyak persamaan dengan peserta didik yang lain, seorang peserta didik masih tetap memiliki keunikan dalam pelbagai segi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara Prof Naquib Al Attas menyatakan bahwa tujuan pendidikan menurut Islam bukanlah untuk menghasilkan warga negara dan pekerja yang baik. Tujuan pendidikan Islam adalah untuk menciptakan manusia yang baik. Manusia yang baik, mesti menjadi warganegara yang baik. Tidak sebaliknya. Dalam bukunya Islam dan Sekulerisme, Al Attas menyatakan bahwa tujuan mencari ilmu adalah untuk menanamkan kebaikan ataupun keadilan dalam diri manusia sebagai seorang manusia dan individu, bukan hanya sebagai warga negara ataupun anggota masyarakat. Yang perlu ditekankan (dalam pendidikan) adalah nilai manusia sebagai manusia sejati, sebagai warga kota, sebagai warga negara dalam kerajaannya yang mikro, sebagai sesuatu yang bersifat spiritual. Dengan demikian yang ditekankan itu bukanlah nilai manusia sebagai entitas fisik yang diukur dalam konteks pragmatis dan utilitarian berdasarkan kegunaannya bagi negara, masyarakat, dan dunia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya Al Attas menguraikan bahwa Alquran adalah undangan Allah kepada manusia untuk menikmati jamuan makan di muka bumi. "Kitab Suci Alquran adalah undangan Tuhan kepada manusia untuk menghadiri jamuan keruhanian dan cara memperoleh ilmu pengetahuan yang sebenarnya mengenai Alquran adalah dengan menikmati makanan-makanan lezat yang tersedia dalam jamuan makanan keruhanian tersebut. Artinya, karena kenikmatan makanan yang lezat dalam jamuan istimewa itu, ditambah kawan yang Agung dan Pemurah dan karena makanan tersebut disikapi menurut cara-cara, sikap dan etiket yang suci, hendaknya ilmu pengetahuan yang dimuliakan sekaligus dinikmati itu didekati dengan perilaku yang sesuai dengan sifatnya yang mulia." (Prof Wan Mohd Nor Wan Daud, 2003). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, intelektual muslim asal Bogor tersebut mempopulerkan istilah ta'dib untuk pendidikan Islam. Dengan ta'dib maka pribadi yang terbentuk menjadi mempunyai adab. Bila pendidikan akhirnya malah membentuk manusia-manusia yang jahat, maka pendidikan ( ta'dib) bisa dikatakan telah gagal total.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka menjadi tugas cendekiawan muslim saat ini untuk kembali merumuskan dan bergerak mendidik para pemuda dengan arah pendidikan yang benar. Pendidikan yang menghasilkan pribadi-pribadi yang cemerlang akal, jiwa, dan sikapnya, bukan melaksanakan pendidikan yang hanya berorientasi ekonomi atau pendidikan siap kerja. Karena bila penekanan 'ekonomi' lebih dipentingkan, maka hasil didikannya hanya menjadi pekerja-pekerja yang sekuler, tidak beradab, dan materialis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan memang memerlukan tenaga dan biaya besar serta jangka waktu 'panen' yang lama. Pendidikan di universitas saja, mungkin baru dilihat hasilnya pada mahasiswa-mahasiswa yang berkualitas itu, sekitar 10 tahun kemudian. Apalagi bila pendidikan itu dimulai dari masa kanak-kanak. Tapi mau tidak mau, untuk membangun peradaban Islam yang berkualitas dari sinilah jalan setapak harus dimulai. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesempatan emas kembali membangun dunia pendidikan ini, ketika Barat telah gagal mendidik rakyat dan kaum elitenya, sayang bila dilewatkan. Dengan pendidikan yang memadukan akal dan jiwa, duniawi dan ukhrawi, fisik dan ruhani, nilai dan materi, maka pendidikan Islam justru bisa menjadi sumber cahaya yang akan menerangi Barat kembali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ilmuwan dan penyair terkenal, Mohammad Iqbal, telah mengritik habis-habisan metode pendidikan Barat yang sekuler ini. Iqbal dalam karya-karyanya menekankan pengembangan individu Muslim yang matang dengan kepribadian Alquran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikhtisar&lt;br /&gt;- Kejahatan Amerika Serikat (AS) terhadap dunia Islam yang kini terjadi membuat kita perlu mempertanyakan kembali ilmu-ilmu yang selama ini dikembangkan Barat.&lt;br /&gt;- Fenomena tersebut menunjukkan bahwa di Barat, ilmu tidak dikembangkan selaras dengan perilaku manusia. &lt;br /&gt;- Dalam Islam, ilmu dan amal haruslah menyatu.&lt;br /&gt;- Pendidikan dalam Islam juga tidak hanya dilaksanakan untuk tujuan yang sifatnya materi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://www.republika.co.id/kolom.asp?kat_id=16, Republika, 27 Juli 2007&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4691295274548167167-4376175213292931362?l=nuimhidayat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nuimhidayat.blogspot.com/feeds/4376175213292931362/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4691295274548167167&amp;postID=4376175213292931362&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4691295274548167167/posts/default/4376175213292931362'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4691295274548167167/posts/default/4376175213292931362'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nuimhidayat.blogspot.com/2009/01/tugas-cendekiawan-muslim.html' title='Tugas Cendekiawan Muslim'/><author><name>Nuim Hidayat</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04748613359481249234</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='22' src='http://2.bp.blogspot.com/_5sXuNmRv_aA/SXrAMvDXeaI/AAAAAAAAAAM/KQ9cesHTMeQ/S220/FOTO+1.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4691295274548167167.post-2167891997440085407</id><published>2009-01-26T23:31:00.000-08:00</published><updated>2009-01-26T23:32:13.322-08:00</updated><title type='text'>Kebebasan vs Amar Makruf Nahi Mungkar</title><content type='html'>“Hendaklah kamu beramar makruf nahi mungkar. Kalau tidak, maka Allah akan menguasakan atasmu orang-orang yang paling jahat diantara kamu, kemudian orang-orang baik diantara kamu berdoa, Allah tidak mengabulkan.” (HR Al-Bazaar) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu konsep utama yang membedakan Islam dengan Barat, adalah konsep amar ma’ruf nahi munkar.  Al-Qur’an telah menyebut istilah ini dalam berbagai ayat dengan kalimat yang sama ‘amar makruf nahi mungkar’. Dan Al-Qur’an hanya menyuruh umat Islam melaksanakan amar makruf nahi mungkar, tidak disuruh melaksanakan amar makruf nahi makruf, amar mungkar nahi makruf atau amar mungkar nahi mungkar. Perilaku orang yang bekerjasama dalam kemungkaran - “ya’muruuna bilmungkar wayanhauna anil ma’ruf” (QS. at Taubah 67), disebut Al-Qur’an sebagai perilaku orang-orang munafik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan Barat tidak jelas konsep amar makruf nahi mungkarnya. Kadang-kadang mereka amar makruf, kadang-kadang mereka amar mungkar. Kadang-kadang mereka nahi mungkar, kadang-kadang mereka nahi makruf.  Karena mereka sendiri tidak mempunyai definisi yang jelas tentang makruf dan definisi yang jelas tentang mungkar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Islam yang disebut makruf adalah hal-hal yang sesuai atau tidak bertentangan dengan Al-Qur’an dan as-Sunnah, sedangkan yang disebut mungkar adalah hal-hal yang bertentangan dengan Al-Qur’an dan as-Sunnah.  Karena itu kita dapati seluruh ormas atau gerakan Islam, menjadikan amar makruf nahi mungkar sebagai dasar atau asas dakwah mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Al Qur’an disebutkan bahwa amar makruf nahi mungkar adalah tugas individu, kelompok (jamaah) dan negara.  Bahkan Al-Qur’an mensyaratkan agar seorang idividu, masyarakat atau bangsa mencapai kejayaan, maka ia mesti melaksanakan amar makruf nahi mungkar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.” (Ali Imran : 110)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makruf secara makna bahasa (Arab) artinya dikenal atau diketahui. Berasal dari kata dari arafa, ya’rifu, irfaanan -ma’ruufan. Yang menarik arufa (thaaba riihuhu), artinya harum baunya. Jadi hal yang makruf itu sebenarnya dikenali secara fitrah oleh manusia –kecuali manusia yang membutakan fitrahnya.  Seperti perintah Islam untuk jujur, rajin, kerja keras, hemat, sedekah, beribadah dll, adalah dikenali manusia sebagai hal yang baik.  Dan mungkar adalah lawan dari makruf, dimana fitrah manusia cenderung mengingkarinya, seperti zina, mencuri, riba (memiskinkan masyarakat), bohong dan lain-lain.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan mungkar secara bahasa artinya hal yang tidak dikenali atau hal yang diingkari. Nakural amru artinya sha‘uba wasytadda, hal yang sulit atau susah. Jadi hal mungkar itu, sebenarnya susah untuk dikerjakan manusia dan juga bisa dimaknakan, orang yang mengerjakan kemungkaran, akan mengalami kesusahan di dunia atau di akherat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Islam, tidak ada perubahan konsep amar makruf nahi mungkar oleh waktu dan tempat (kondisi geografis).  Masyarakat di zaman Rasulullah yang masih sederhana struktur sosial dan teknologinya, zina diharamkan.  Dalam masyarakat yang modern saat ini, di mana industri dan pabrik-pabrik bertebaran, teknologi digital visual dimana-mana, laki-laki dan perempuan banyak yang bekerja, zina tetap haram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lain dengan Barat.  Bila kita belajar ilmu sosiologi, maka perubahan masyarakat dari pertanian ke industri misalnya, memaksa hubungan sosial laki-laki perempuan mengalami pergeseran.  Dan dianggap budaya dansa-dansi, pesta laki-laki perempuan anak-anak muda biasa saja, dan ujung-jungnya zina bukan suatu hal yang haram.  Karena itu di Barat, hubungan seksual dianggap hubungan biologis semata.  Tidak ada halal-haram di situ.  Meskipun ada kalangan Kristen Konservatif yang mengharamkan perzinahan, tapi mereka tidak serius melarang masyarakatnya berzina.  Misalnya, meskipun ada diantara warganya yang tidak setuju perzinahan, aborsi, lesbian atau lainnya, tapi pemerintah Amerika tidak serius melarangnya. Mereka tidak membuat peraturan yang melarang perzinahan.  Membiarkan, bila tidak dikatakan menfasilitasi film-film porno (ingat tahun 90’an kasus “perijinan jaringan bioskop 21 vs ekspor tekstil Indonesia”), setengah porno dibuat dan diedarkan di seluruh dunia.  Mereka tidak bisa melarang film-film perzinahan, kebohongan, pencurian minyak ke negara lain, dan lain-lain, karena landasan negara dan masyarakatnya bukan amar makruf nahi mungkar tapi kebebasan (freedom). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebebasan adalah sebuah konsep yang tidak jelas ke mana manusia mau dibawa. Karena seringkali kebebasan itu merusak, bukan memperbaiki manusia.  Seorang yang melakukan hubungan seksual  sebebas-bebasnya, orang yang bebas minum dan makan apa saja, orang yang berpakaian seenak nafsunya, maka yang terjadi pada orang itu adalah kerusakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita lihat misalnya, beberapa film Barat bagus tentang persekongkolan politik, pembunuhan dan lain-lain, tapi seringkali di film itu diselipkan dengan aktivitas-aktivitas yang mungkar (pemainnya berzina, berselingkuh dan lain-lain). Karena sutradara atau pemainnya tidak memiliki konsep amar makruf nahi mungkar untuk film, yang mereka miliki adalah ideologi uang atau kebebasan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, satu dengan yang lain adalah (sama), mereka menyuruh (berbuat) yang mungkar dan mencegah (perbuatan) yang makruf dan mereka meng-genggamkan tangannya (kikir). Mereka telah melupakan kepada Allah, maka Allah melupakan mereka (pula). Sesungguhnya orang-orang munafik itulah orang-orang yang fasik” (at-Taubah : 67)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsep kebebasan adalah konsep yang absurd.  Tidak ada kebebasan yang mutlak pada manusia. Maka, di sini Islam melandasi pembangunan masyarakat dengan amar makruf nahi mungkar bukan kebebasan. Kebebasan manusia dibingkai oleh Islam dalam makruf dan mungkar. Sebagaimana indra kita, mata, telinga, dan lain-lain, kita tidak bisa liarkan. Kita membatasi fungsi indra kita pada hal-hal yang bermanfaat yang tidak bertentangan dengan Islam.   Bila sebuah aktivitas disebut makruf, manusia bebas disitu untuk berkreasi dan bila sebuah kegiatan disebut mungkar, maka manusia harus berhenti dan berusaha mencegahnya sekuat mungkin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaidah Amar Makruf Nahi Mungkar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Firman Allah SWT, “Dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, melaksanakan shalat, menunaikan zakat, dan taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka akan diberi rahmat oleh Allah. Sungguh, Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana.” (QS at-Taubah 71)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memerintahkan yang makruf dan mencegah kemungkaran adalah salah satu pokok Islam yang penting. Untuk itulah para rasul diutus, kitab-kitab diturunkan dan syariat agama ditegakkan. Allah swt berfirman ketika menjelaskan sifat Nabi kita saw,“Dia memerintahkan mereka berbuat yang makruf dan mencegah yang mungkar, menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala buruk”. Sahabat Abu Hurairah berkata: “Kalian adalah sebaik-baik manusia, kalian datangi mereka dalam keadaan terbelenggu dan terikat hingga kalian menghantarkannya masuk surga”. Dikatakan kepada Ibnu Mas’ud: “Siapakah mayat yang hidup? Beliau menjawab: “Yaitu yang mengenal yang makruf dan tidak pula mengingkari kemungkaran”.&lt;br /&gt;Kelompok yang menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar, namun tidak menjaga kaidah-kaidah pengingkaran, fikih yang makruf, dampak, ekses serta kerusakan yang mungkin akan ditimbulkan. Karena itulah, Imam Hasan Al Banna mengingatkan kaidah amar makruf nahi mungkar ini,”Dengan sarana-sarana yang terbaik, yang tidak mendatangkan hal-hal yang lebih buruk darinya”.&lt;br /&gt;Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menegaskan, “Apabila kerusakan yang akan timbul dari seruan atau pencegahan lebih besar dari kemaslahatannya, maka tidaklah ia tergolong yang diperintahkan Allah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Taimiyah juga mengungkapkan,“Sesungguhnya sebuah seruan atau pencegahan, betapapun mengandung kemaslahatan serta mencegah kerusakan maka harus dilihat dampak-dampaknya, apabila kemaslahatan yang akan hilang dan kerusakan yang akan terjadi lebih besar, maka ia tidak termasuk yang diperintahkan, bahkan menjadi haram apabila kerusakannya lebih besar dari kemaslahatannya, akan tetapi tolok ukur maslahat atau kerusakan adalah berdasarkan timbangan syariat...” (Al Fatawa: 28/129 dalam www.al-ikhwan.net).  Wallahu aliimun hakiim.*&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4691295274548167167-2167891997440085407?l=nuimhidayat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nuimhidayat.blogspot.com/feeds/2167891997440085407/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4691295274548167167&amp;postID=2167891997440085407&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4691295274548167167/posts/default/2167891997440085407'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4691295274548167167/posts/default/2167891997440085407'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nuimhidayat.blogspot.com/2009/01/kebebasan-vs-amar-makruf-nahi-mungkar.html' title='Kebebasan vs Amar Makruf Nahi Mungkar'/><author><name>Nuim Hidayat</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04748613359481249234</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='22' src='http://2.bp.blogspot.com/_5sXuNmRv_aA/SXrAMvDXeaI/AAAAAAAAAAM/KQ9cesHTMeQ/S220/FOTO+1.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4691295274548167167.post-2450406939114898770</id><published>2009-01-26T23:22:00.000-08:00</published><updated>2009-01-26T23:26:18.793-08:00</updated><title type='text'>Bagaimana Menghadapi Israel?</title><content type='html'>Delegasi parlemen Israel (Knesset) pada 29 April - 4 Mei 2007 ini akan berkunjung ke Indonesia.  Kedatangan mereka ke Bali itu dalam rangka acara Inter Parliamentary Union (IPU).  Menurut Menlu RI Nur Hassan Wirajuda, kedatangan delegasi Israel itu adalah hal yang lumrah. “Kehadiran seluruh anggota IPU itu lumrah saja. Kita juga tak perlu melakukan special welcome, cukup mereka (IPU) saja yang menyambutnya,”kata Hassan. (Republika, 17 April 2007).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketua Badan Kerjasama Antarparlemen (BKSAP), Abdillah Toha memaparkan, delegasi parlemen Israel mendapatkan undangan dari IPU. Undangan itu dibuat langsung oleh IPU Pusat, karena Israel merupakan satu dari 148 anggota IPU.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menanggapi rencana kedatangan anggota Knesset ke Bali itu, Ketua Badan Kerja Sama Antarparlemen Dewan Perwakilan Rakyat Abdillah Toha meminta agar hal 
