Senin, 07 Juni 2010

Peradaban Islam: Peradaban Ilmu dan Tulisan

Peradaban Islam: Peradaban Ilmu dan Tulisan

Imam Syafii mengingatkan, “Ilmu itu bagaikan binatang liar, menulis (mencatat) adalah pengikatnya.”

Oleh: Nuim Hidayat*

BANGSA Arab hingga pada masa jahiliah, telah mengapresiasi kegiatan tulis-menulis dan urgensinya. Ketika itu, mereka memasukkan kemampuan menulis sebagai salah satu dari tiga syarat utama seseorang disebut minal kamilin (di antara orang-orang yang sempurna). Ibnu Sa’ad menuturkan, “Orang yang sempurna (al-Kamil) menurut mereka pada masa Jahiliah dan permulaan Islam adalah orang yang dikenal mampu menulis Arab, piawai dalam berenang, dan ahli dalam memanah.”

Rasulullah saw telah mendidik sahabat tentang pentingnya ilmu, dunia tulis menulis, dokumentasi dan lain-lain. Prof. Mustafa Azami misalnya, menyebut Rasulullah mempunyai 65 sekretaris (dalam bukunya Kuttabun Nabi, diterjemahkan GIP dengan judul 65 Sekretaris Nabi). Jumlah tersebut merupakan hasil penelitian sumber kitab-kitab yang ternama, dan manuskrip-manuskrip yang belum ditemukan oleh ulama sebelumnya.

Azami menyatakan bahwa saat meneliti dan menulis kitab itu, ia memperoleh naskah fotokopi dari kitab yang sangat bernilai, yaitu kitab al-Intishar lil Qur’an karya al-Baqilani (w. 403 H). Al-Baqilani mengulas para sekretaris Nabi saw. Ia menyebutkan nama-nama sekretaris Nabi yang sebagian besar telah dikenal oleh para penulis yang lain. Tetapi, sebagian lainnya tidak terdapat di kitab-kitab yang lain. Bahkan, ada beberapa nama dalam kitab tersebut yang tidak kami temukan di kitab-kitab yang beredar dan dikenal mengulas biografi sahabat, seperti kitab Thabaqat Ibni Sa’ad, Usudul Ghabah, al-Ishabah, dan kitab-kitab besar lainnya.

Al-Baqilani berkata, “Nabi saw. mempunyai banyak jamaah yang hebat dan cerdas. Semuanya dikenal sebagai sekretaris beliau, dan berasal dari kalangan Muhajirin dan Anshar.”

Azami menyebutkan, di antara sekretaris Rasulullah saw antara lain: Zaid bin Tsabit yang ditugaskan untuk menulis surat kepada raja-raja, Ali bin Abi Thalib yang bertugas menulis akad-akad perjanjian, al-Mughirah bin Syu’bah yang menulis kebutuhan-kebutuhan Nabi yang bersifat mendadak, Abdullah ibnul Arqam yang betugas mencatat utang-piutang dan akad lainnya di tengah masyarakat, dan lain-lain.

Guru Besar Universitas Ibnu Saud ini menyatakan, salinan naskah dari surat-surat Nabi saw. yang dikirimkan ke berbagai pihak di seantero penjuru itu juga dipelihara keberadaannya oleh beberapa sahabat. Misalnya Ibnu Abbas, Abu Bakar bin Hazm, Abu Bakar ash-Shiddiq, dan Umar ibnul Khaththab. Abu Bakar memiliki naskah surat Nabi saw. tentang masalah sedekah. Sementara Umar menyimpan semua naskah tentang akad-akad perjanjian dan kesepakatan yang diambil dari para tokoh terkemuka. Salinan atau copy-an dari surat-surat tersebut sangat berguna mengingat wilayah kekuasaan Islam yang luas.

Peradaban Tulisan

Dalam sirah Nabi, dapat dibaca bahwa belum genap satu tahun Rasulullah saw. tinggal di Madinah, beliau langsung menulis piagam yang dikenal dengan “Undang-Undang Negara Modern,” meminjam istilah beberapa peneliti. Piagam tersebut mengatur hubungan antara kaum Muhajirin (Mekah) bersama kaum Anshar (Madinah) di satu pihak, dan kaum Muslimin bersama kaum Yahudi di pihak lain. Menurut Azami, Madinah menjadi sebuah negara bagi kaum Muslimin. Sebuah negara menuntut adanya tata tertib, fasilitas, dan administrasi yang jelas. Sehingga tumbuh diwan-diwan atau kesekretariatan pada masa Nabi saw.

Tentang tradisi tulis menulis ini, akhirnya Prof. Azami menyimpulkan: ”Ketika Islam datang, jumlah para penulis masih dibilang minim (di kalangan kaum Quraisy hanya terdapat 17 orang -pen). Tetapi, berkat strategi pengajaran yang diterapkan Nabi saw., ilmu pun tersebar luas dalam waktu yang sangat singkat. Sehingga, jumlah para sahabat yang menulis untuk Nabi ketika itu mencapai enam puluh orang. Dengan merujuk sumber-sumber yang cukup memadai di tengah-tengah kita sekarang ini, kita dapat menggambar grafik yang luas bagi aktivitas tulis-menulis atau administrasi pada masa Nabi saw.”

Mengutip kembali al-Baqilani, Azami menyatakan, “Nabi saw. mempunyai banyak jamaah yang hebat dan cerdas. Semuanya dikenal sebagai sekretaris beliau, dan berasal dari kalangan Muhajirin dan Anshar.”

Azami mengkategorikan sekretaris Rasulullah sebagai berikut :

1. Kelompok yang dikenal sebagai sekretaris yang sering menulis, seperti Ali bin Abi Thalib, Utsman bin Affan, Zaid bin Tsabit, Ubay bin Ka’ab, Mu’awiyah bin Abu Sufyan ridhwanullah ‘alaihim ajma’in.

2. Kelompok sahabat yang ditetapkan sebagai sekretaris, tetapi frekuensi menulisnya tidak sama seperti kelompok pertama. Mereka misalnya Abu Bakar ash-Shiddiq, Umar ibnul Khaththab, Abu Ayyub al-Anshari, dan lain sebagainya, ridhwanullah ‘alaihim ajma’in.

3. Kelompok sahabat yang nama-namanya tercantum dalam kitab al-Watsa`iqus Siyasiyyah dan kitab-kitab lainnya, tetapi kami tidak menemukan penyebutan nama mereka sebagai sekretaris Nabi saw.. Mereka misalnya Ja’far, al-Abbas, Abdullah bin Abu Bakar ridhwanullah ‘alaihim ajma’in.

Di antara Sekretaris Nabi dari kalangan Muhajirin, disebutkan: Abu Bakar ash-Shiddiq, Umar ibnul Khaththab, Utsman bin ‘Affan, Ali bin Abi Thalib, Zaid bin Arqam, Khalid bin Sa’id, dan lain-lain. Para ahli sejarah menuturkan bahwa Nabi sangat memercayai Khalid, sehingga beliau menyuruhnya untuk mengumpulkan dokumen yang ditulisnya dan surat-surat yang distempelnya. Ia juga sebagai sekretaris Abu Bakar. Sedangkan Umar menugaskannya sebagai pengurus Baitul Maal.

Pada masa permulaan Islam, tempat “berkantor” para sekretaris dinamakan Diwan. Diwan juga dapat diartikan kumpulan lembaran-lembaran dan daftar tulisan yang berisi nama-nama tentara dan para pemberi sedekah. Dari hasil penelitiannya, Azami menyimpulkan ada tiga macam diwan pada masa permulaan Islam, yaitu:

1. Diwanul Insya` (kantor pembuatan surat-surat kenegaraan).

2. Diwanul Jaisy (pusat data personel militer)

3. Diwanul Kharaj/ al-Jibayah (pusat pengelolaan keuangan negara) untuk menginventarisasi pajak yang dikembalikan pada Baitul Maal dan pemberian yang diwajibkan atas setiap muslim.

Mengenai Diwanul Insya`, al-Qalaqsyandi berkata, “Diwan ini (al-Insya`) merupakan diwan yang pertama ada dalam Islam. Diwan ini telah digunakan pada masa Nabi saw.”

Pusat administrasi—dalam formatnya yang sederhana—telah dipergunakan pada masa Nabi saw. Tatkala roda pemerintahan dipegang oleh Sayyidina Umar r.a. dan Daulah Islam telah meluas, maka pengembangan sistem administrasi adalah suatu hal yang sangat penting. Umar r.a. telah menginstruksikan untuk membuat pusat administrasi (diwan) dengan format yang lebih menyeluruh dari format diwan sebelumnya.

Sebagai bukti, Diwanul Insya`(kantor pembuatan surat-surat kenegaraan)—sebagaimana dinyatakan al-Qalaqsyandi—adalah diwan yang pertama kali dibuat dalam Islam. Penggunaannya telah dimulai pada masa Nabi saw.

Berkaitan dengan Diwanul Jaisy (pusat data personel militer), sebuah keterangan dalam Shahih al-Bukhari dijelaskan, “…dari Hudzaifah r.a., ia berkata, ‘Nabi saw. bersabda, ‘Tulislah bagiku orang yang mengucapkan (ikrar) Islam.’ Maka kami pun menuliskannya sebanyak 1500 orang.”

Di antara indikator yang menunjukkan salah satu kebiasan mereka dalam mencatat orang-orang yang ditentukan keikutsertaannya dalam peperangan, adalah riwayat Imam Bukhari dalam kitabnya, Shahih al-Bukhari. “…dari Ibnu Abbas, ia mendengar Nabi saw. bersabda, ‘Seorang laki-laki sungguh tidak boleh menyendiri bersama seorang perempuan. Dan seorang perempuan sungguh tidak boleh melakukan perjalanan kecuali ada mahram yang ikut bersamanya.’ Maka seorang pria berdiri dan berkata, ‘Wahai Rasulullah! Apakah aku dicatat untuk ikut dalam peperangan ini dan itu, sementara istriku keluar demi suatu keperluan...’”

Rasululullah saw juga terbiasa menyuruh para sahabat agar segera menjawab surat-surat yang masuk kepada pemerintahan-Nya. Ibnul Qasim meriwayatkan dari Malik, ia berkata, “Telah sampai kepadaku sebuah riwayat, bahwa ada sepucuk surat yang sampai kepada Rasulullah saw., ‘Siapa yang mau menjawab surat ini atas namaku?’ Tanya beliau. Abdullah ibnul Arqam menjawab, ‘Saya.’ Ia pun lekas menulis surat jawaban atas nama Nabi. Kemudian ia membawa surat itu ke hadapan beliau (dan membacakannya). Beliau pun kagum dengan isi surat tersebut lalu meluluskannya.”

Tentang pentingnya menulis ini, Imam Syafii mengingatkan: “Ilmu itu bagaikan binatang liar, menulis (mencatat) adalah pengikatnya. Ikatlah hewan buruanmu dengan tali yang kuat. Adalah bodoh bila Anda memburu seekor kijang, kemudian Anda lepas begitu saja tanpa tali pengikat.”

Kehebatan dalam dunia tulis menulis ini terus berkembang, sehingga generasi sahabat, tabiin, tabiiut tabiin, dan seterusnya berprestasi dalam menjaga keotentikan Al-Qur’an dengan membukukannya, menuliskan Sunnah Rasulullah saw, melahirkan ilmu aj jarh wat ta’dil, ilmu bahasa Arab (sharaf, nahwu dll), ilmu matematika, ilmu fisika, dan lain-lain. Sejarah Islam kemudian mencatat ilmu terus berkembang dan perkembangan buku dalam Islam --apalagi setelah ditemukannya teknologi kertas-- melimpah luar biasa.

Dr Ahmad Amin dalam bukunya yang terkenal “Dhuha Islam“ menyatakan: “Banyak sekali jenis kertas yang terdapat dalam masa pemerintahan kerajaan Abbasiyah, antaranya ialah kertas firaun (mengambil nama orang-orang Firaun di Mesir), kertas sulaimani (mengambil nama Sulaiman bin Rashid, Gubernur Harun al Rashid di Khurasan), kertas jaafari (mengambil nama Jaafar al Barmaky), kertas al talhi (mengambil nama Thalhah bin Hasan). Pada masa tersebut juga terdapat banyak sekali tempat perusahaan kertas, di antaranya ialah di Samarqand, Baghdad, Tihamah, Yaman, Mesir, Damsyik, Tarablus, Humah, Khimath, Mambaj, Maroko, dan juga Andalus. Dalam abad yang kedua Hijrah terdapat perusahaan kertas yang dibuat dari perca-perca kain, kertas jenis ini telah digunakan secara meluas dan dapat menandingi kertas-kertas yang lain.”

Hasil dari wujudnya bahan-bahan kertas serta penulisan ilmu pengetahuan pada masa itu, maka terciptalah buku-buku dan tempat menyimpan buku (perpustakaan). Karena itu, perpustakaan merupakan sumber utama bagi kebudayaan di zaman Abbasiyah.

Ahmad Amin melanjutkan: “Satu perkara yang kita sebutkan di sini bahwa dengan sebab banyaknya kertas yang digunakan sebagai bahan penulisan dan banyaknya buku yang muncul pada masa itu, maka lahirlah pula satu perusahaan yang bernama Wiraqah yaitu perusahaan yang bertugas untuk menyalin, mentashih, serta menjilid buku-buku, dan lain-lain perkara yang berhubung dengan buku. Dengan sebab itu banyak sekali toko Wiraqah dan ia merupakan sumber yang penting bagi perkembangan ilmu pengetahuan pada masa itu, karena pemilik toko-toko ini menyalin buku-buku ilmu pengetahuan, kemudian mereka mentashihnya, setelah itu dijilid lalu dijual kepada pembeli. Dengan demikian buku-buku tersebut tersebar luas di seluruh daerah. Mereka yang ingin mempelajari sesuatu ilmu pengetahuan pula akan mengunjungi toko-toko ini untuk membaca dan mengkaji buku-buku yang terdapat disini.”

Ziauddin Sardar dan MW Davies dalam bukunya berjudul Distorted Imagination menggambarkan penerbitan buku di dunia Islam 10 abad silam, hampir setara dengan pencapaian peradaban Barat saat ini, baik secara kualitas maupun kuantitas. “Hampir 1000 tahun sebelum buku hadir di peradaban Barat, industri penerbitan buku telah berkembang pesat di dunia Islam,”paparnya. (lihat Republika, 9 September 2008).

Sardar menyatakan bahwa di dunia Islam kali pertama perpustakaan umum berdiri. Peradaban Islam pula yang menjadikan perpustakaan sebagai tempat untuk meminjam buku. Tak cuma sebatas itu, darul al ilm (perpustakaan) pun menjadi tempat pertemuan dan diskusi. Perpustakaan di era kejayaan Islam juga menjadi sarana pertukaran ilmu antara guru dan murid. Di Baghdad saja saat itu, terdapat sekitar 36 perpustakaan umum, sebelum kota metropolis intelektual itu dihancurkan oleh tentara Mongol.*

http://hidayatullah.com/opini/pemikiran/12000-peradaban-islam-peradaban-ilmu-dan-tulisan

Rabu, 05 Mei 2010

Peran Penting Islam di Tanah Melayu


Peran Penting Islam di Tanah Melayu
Oleh : Nuim Hidayat (Penulis Buku Imperialisme Baru)

Hati hampa yang tiada mengandung Sejarah Bangsa,
Tiadakan dapat tahu menilai hidup yang mulia;
Penyimpan Khabar zaman yang Lalu menambah lagi
Pada umurnya umur berulang berkali-ganda
(Prof Naquib al Attas)

Sejarah masuknya Islam di tanah Melayu (khususnya di Indonesia), selama ini masih banyak yang mengikuti alur teori Snouck Hugronje. Pelajaran sejarah kita di SD, SMP, SMA atau universitas, menyatakan bahwa Islam masuk ke Indonesia abad ke-13 dan dibawa oleh para pedagang Gujarat. Karena telah berlangsung puluhan tahun pengajaran sejarah seperti itu, maka seolah-olah teori sejarah itu menjadi kebenaran.

Teori masuknya Islam ke Indonesia abad ke-13 dan dibawa oleh para pedagang Gujarat, telah dibantah kelas oleh para cendekiawan Muslim yang konsen terhadap sejarah. Mereka sepakat menyatakan bahwa Islam masuk ke tanah Melayu-Indonesia pertama kali abad ke-7 dan dibawa langsung oleh para ulama (dan wirausahawan) dari jazirah Arab. Termasuk dalam deretan cendekiawan ini diantaranya adalah : Prof Dr Buya Hamka, Prof Dr Naquib al Attas, KH Abdullah bin Nuh dan Prof Ahmad Mansur Suryanegara. Sedangkan ‘teori sejarah orientalis’ itu diantaranya dipelopori oleh: Snouck Hugronje, WF Sttutterheim, Bernard HM Vlekke, Clifford Geertz, Harry J Benda dan John Bastin.

Buya Hamka membantah bahwa Islam masuk ke Indonesia abad ke-13 dengan ditandai berdirinya kerajaan Samudera Pasai (1275). Menurut Hamka, apakah mungkin tiba-tiba berdiri sebuah kerajaan tanpa Islam menyebar terlebih dahulu di daerah itu di masa-masa sebelumnya? Karena itu, Hamka berkeyakinan dan menunjukkan bukti bahwa Islam telah berkembang ke pulau Sumatera di abad ke-7. Yaitu dengan ditemukannya komunitas Islam di Palembang pada abad itu.

Prof Ahmad Mansur dalam bukunya Api Sejarah dan Menemukan Sejarah, menyatakan bahwa pada masa Khalifah Muawiyah (661-750M), Islam menyebar di tanah Melayu. Muawiyah memang dalam sejarah dikenal dengan armada maritimnya. Di masanya, ia diperkirakan telah mempunyai sekitar 600 kapal laut. Prof Mansur menyatakan : “Besar kemungkinannya bahwa Islam dibawa oleh para wirausahawan Arab ke Asia Tenggara pada abad pertama dari tarikh Hijriyah atau abad ke-7M. Hal ini menjadi lebih kuat, menurut TW Arnold dalam The Preaching of Islam – Sejarah Da’wah Islam pada abad ke-2H perdagangan dengan Sailan atau Srilangka sudah seluruhnya di tangan bangsa Arab. Pendapat yang sama juga dikemukakan oleh Prof Dr BH Burger dan Prof Dr Mr Prajudi dalam Sedjarah Ekonomis Sosiologis Indonesia.”

Prof Mansur menambahkan : “JC Van Leur dalam bukunya Indonesian: Trade and Society, menyatakan bahwa pada 674 (M) di pantai Barat Sumatra telah terdapat perkampungan (koloni) Arab Islam. Dengan pertimbangan bangsa Arab telah mendirikan perkampungan perdagangannya di Kanton pada abad ke-4. Perkampungan perdagangan ini mulai dibicarakan lagi pada 618 dan 626. Tahun-tahun berikutnya perkembangan perdagangan ini mulai mempraktikkan ajaran agama Islam. Hal ini mempengaruhi pula perkampungan Arab yang terdapat di sepanjang jalan perdagangan di Asia Tenggara.”

Prof Mansur juga mengkritik keras adanya upaya sebagian sejarawan yang menyatakan bahwa Islam baru masuk ke Indonesia setelah runtuhnya kerajaan Hindu Majapahit (1478) dan ditandai berdirinya kerajaan Demak. Kata pakar sejarah ini: “Pada umumnya keruntuhan Kerajaan Hindoe Madjapahit sering didongengkan akibat serangan dari Kerajaan Islam Demak. Padahal realitas sejarahnya yang benar Keradjaan Hindhoe Madjapahit runtuh akibat serangan radja Girindrawardhana dari Kerajaan Hindoe Kediri pada tahun 1478M.”

Para cendekiawan Muslim juga menyatakan bahwa pembawa ajaran Islam ke tanah Nusantara (Melayu) adalah para ulama Islam dan wirausahawan Islam dari jazirah Arab. Menurut Buya Hamka, hal itu ditandai dengan berkembangnya mazhab Imam Syafii yang berkembang di tanah air. Sedangkan Gujarat, menurut Prof Mansur, banyak bermazhab Syiah.

Prof Al-Attas menyorot tajam ulah kebanyakan para Sarjana Barat terhadap sejarah Islam di tanah Melayu: “Sarjana2 Barat dan ahli sejarahnya melangsungkan penilitian ilmiah terhadap sejarah dan kebudayaan Kepulauan Melayu-Indonesia telah lama menyebarkan fahaman bahwa masharakat Kepulauan ini seolah2 merupakan masharakat penyaring dan penapis serta penyatu unsur2 murni dan agung agama2 yang tiba dengan pengaruhnya masing2 di daerah ini seperti agama2 Hindu, Buddha, dan Islam. Akan tetapi fahaman yang mensifatkan daya sinkretis terhadap masharakat Melayu-Indonesia ini sebenarnya kosong belaka, tiada berdasarkan hujah2 tulen.”

Meski Van Leur sepakat para cendekiawan Islam tentang awal masuk Islam ke Nusantara abad ke-7, tapi menurut al Attas, Van Leur telah mengelirukan peranan penting Islam di tanah Melayu. Kata cendekiawan besar ini: “Keputusan akhir Van Leur laksana hukuman yang telah dijatuhkan terhadap Islam ialah bahwa Islam itu tiada membawa apa2 perubahan asasi dan tiada pula membawa suatu tamaddun yang lebih luhur daripada apa yang sudah sedia ada. Bawaan pemikiran sarjana2 Belanda dari dahulu memang sudah mengisharatkan kecenderungan ke arah memperkechil-kechilkan Islam dan peranannya dalam sejarah Kepulauan ini dan sudahpun nyata, misalnya dalam tulisan2 Snouck Hugronje pada akhir abad yang lalu”

Apa yang dibawa Islam di tanah Melayu ini? Al Attas menguraikan : “Para penyebar agama Islam mendakyahkan kepercayaan ketuhanan yang kudratNya terhukum pada hikmatNya; yang iradatNya berjalan selaras dengan Akal. Insan dichitakan sebagai hasil tertinggi chiptaan raya –bahwa pada gelang kehidupan semesta, insanlah umpama khatim permata jauharnya. Sifat asasi insan itu ialah akalnya, dan unsur akliah inilah yang menjadi perhubungan antara dia dan Hakikat semesta….sebagaimana kegelapan yang menyelubungi Eropa sebelum menyingsingnya Abad Pertengahan lenyap dipanchari sinaran surya baru galakan Islam, menerangi alam baru di layar lakonan sejarah –demikian juga kedatangan Islam di Kepulauan Melayu Indonesia harus kita lihat sebagai menchirikan zaman baru dalam persejarahannya,sebagai semboyan tegas membawa rasionalisma dan pengetahuan akliah serta menegaskan suatu sistim masharakat yang berdasarkan orang perseorangan, keadilan dan kemuliaan kepribadian insan.”

Jadi Islam membawa peradaban yang tinggi, intelektualisme dan ketinggian budi insan di tanah Melayu. Prof al-Attas juga menunjukkan bukti bahwa dari tangan ulama-ulama Islam lahirlah budaya sastra, tulisan, falsafah, budaya buku dan lain-lain, yang tidak dibawa peradaban sebelumnya. Islam memang tidak meninggalkan kebudayaan patung/candi sebagaimana kebudayaan pra Islam. Kembali mengutip al-Attas: “Salah satu kejadian baru yang terpenting mengenai kebudayaan, yang dengan sechara langsung digerakkan oleh proses sejarah kebudayaan Islam adalah penyebaran bahasa Melayu sebagai bahasa pengantar, bukan sahaja dalam kesusasteraan epik dan roman, akan tetapi –lebih penting– dalam pembicharaan falsafah. Penggunaan bahasa Melayu sebagai bahasa kesusasteraan falsafah Islam di kepulauan Melayu-Indonesia menambah serta meninggikan perbendaharaan katanya dan istilah2 khususnya dan merupakan salah satu faktor terutama yang menjunjungnya ke peringkat bahasa sastera yang bersifat rasional, yang akhirnya berdaya serta sanggup menggulingkan kedaulatan bahasa Jawa sebagai bahasa sastera Melayu-Indonesia.”

Prof Naquib al Attas, lebih jauh menyorot tentang adanya upaya-upaya ahli sejarah yang selalu mengkait-kaitkan perkembangan Islam di tanah Melayu dengan budaya India (Hindu). Memang diakui al-Attas bahwa budaya India mempengaruhi budaya Jawa, diantaranya adalah bukti adanya tulisan Jawa Kuno yang ‘modelnya’ mirip dengan tulisan India. Karena itu, menurutnya merupakan keputusan yang mendalam ketika para Ulama mengembangkan bahasa Melayu sebagai bahasa pengantar-pemersatu tanah Melayu (juga pemersatu di Indonesia).

Bahasa Jawa, menurut al Attas telah banyak tercampur dengan alam berfikir Hindu. Meski kemudian para Ulama Melayu tetap menghormati Jawa, dengan dikembangkannya tulisan Melayu atau Jawa dengan huruf Arab, dengan sebutan Arab Jawi (sayangnya tulisan Arab Jawi/Arab Pegon ini sekarang dihilangkan/hampir hilang dalam tradisi pendidikan kita). Hal ini menurut al-Attas mirip dengan perkembangan bahasa Arab, yang dipilih sebagai bahasa al Qur’an (dipilih Allah SWT). Bukan bahasa Yunani (Latin) yang telah jauh terpengaruh oleh kebudayaan Yunani/Romawi atau bukan bahasa Persia yang telah terhegemoni budaya Persia. (lihat Naquib al Attas dalam bukunya Islam dalam Sejarah dan Kebudayaan Melayu).

Walhasil, lihatlah ketinggian falsafah puisi yang ditulis ulama, penasehat Raja dan ahli bahasa Raja Ali Haji, dalam Gurindam Dua Belas-nya (1846/1847):

Jika hendak mengenal orang berbangsa
Lihat kepada budi dan bahasa
Jika hendak mengenal orang yang berbahagia
Sangat memeliharakan (diri dari) yang sia-sia
Jika hendak mengenal orang mulia
Lihatlah kepada kelakuan dia

Jika hendak mengenal orang yang berilmu
Bertanya dan belajar tiada jemu
Jika hendak mengenal orang yang berakal
Di dalam dunia mengambil bekal
Jika hendak mengenal orang yang baik perangai
Lihat pada ketika bercampur dengan orang ramai.*

(artikel ini telah dimuat di Majalah Hidayatullah edisi Mei 2010).

Jumat, 23 April 2010

Dr Anis Malik Thoha, Ahli Pluralisme dari Demak

Dr Anis Malik Thoha, Ahli Pluralisme dari Demak

Bicaranya tenang, berlogika tinggi dan terkesan hati-hati. Ia excellent bila berbicara dalam bahasa Inggris dan Arab sekaligus. Kemahirannya yang tinggi dalam bahasa ini, menyebabkan ia diangkat International Islamic University Malaysia, menjadi Direktur IIUM Press. Selain mengajar berbagai bidang pemikiran Islam, kini ia bertanggungjawab terhadap seluruh pe ner bitan di IIUM. Mulai dari newsletter, buku, jurnal, makalah dan lain-lain.

Bagi banyak cendekiawan Muslim di Indonesia yang peduli dengan khazanah pemikiran Islam, namanya sudah cukup akrab. Dr Anis Malik Thoha, lahir di Demak, 31 Desember 1964. Masa kecilnya banyak dilalui di pesantren. Orang tuanya mendidik agama dengan ‘ketat’. “Saya tidak boleh mendengarkan musik saat itu dan kalau keluar rumah tidak boleh gundulan, harus pakai kopiah,”ujarnya kepada Islamia-Republika.

Ayahnya hanyalah seorang Muslim yang taat dan bekerja sebagai petani biasa. Di pesantren ia sering ‘kurang sangu’. Tapi kondisi itu justru menyebabkan dirinya terpacu untuk belajar lebih tekun. Di masa remajanya, ia telah menamatkan hafalan seribu bait kaidah bahasa Arab, Alfiyyah Ibnu Malik.

Sejak duduk di Perguruan Islam Mathali’ul Falah, Pati Jawa Tengah, ia sudah mempunyai cita-cita untuk melanjutkan di Universitas Madinah. Ia melihat beberapa gurunya telah pergi ke sana dan kebetulan sekolahnya juga sudah mendapat akreditasi (mu’adalah) Universitas Islam Madinah.

Niatnyapun kesampaian. Di Madinah, ia ingin memperdalam lebih jauh bahasa Arab. Ia memilih Fakultas Bahasa Arab. Tapi ketika tes, ia tak lolos. “Saya dianggap ‘cacat aqidah’ oleh komite muqabalah syakhshiyyah (yang terdiri dari empat dosen senior) yang menguji saya selama kurang-lebih tiga jam. Saya lulus semua pertanyaan, tapi mentok pada pertanyaan tentang masalah aqidah,”kenangnya. Komite Dosen itu akhirnya merekomendasikan dirinya agar masuk ke Fakultas Da’wah dan Ushuluddin. Anis merasa syok dengan keputusan itu. Fakultas itu bukan cita-citanya. “Setahun lebih saya down tidak semangat belajar,”tuturnya. Tapi dari situlah justru titik baliknya. Minat keilmuannya tumbuh dan dia kini menyadari Allah SWT Yang Maha Tahu mempunyai rencana lain kepada dirinya.

Di Madinah inilah, Anis memahami makna dari perang pemikiran. “Terus terang, apa yang kemudian dikenal dengan war of ideas inilah yang sejatinya telah menyentak kesadaranku untuk melanjutkan belajar ke jenjang yang lebih tinggi lagi guna mempersiapkan dan membekali diri dengan ‘senjata dan amunisi’ yang diperlukan dalam ‘perang’ ini. Seumur-umur, baru mulai waktu itulah aku baru tahu agamaku, aku baru ngerti apa artinya keberpihaanku pada Islam dan apa yang harus saya lakukan untuk Islam,” ungkapnya.

Lulus dari Madinah (1988), Anis melanjutkan Masternya di Universitas Punjab dan Universitas Islam Internasional Islamabad, Pakistan. Ia mengambil bidang yang selama ini menjadi minatnya. Yaitu Islamic Studies (Punjab) dan Comparative Religion (Islamabad). Tesis Masternya berjudul: Al-Islam wa Tayyar al-Taghrib fi Indonesia, 1971-1991 (Islam dan Arus Pembaratan di Indonesia, 1971-1991),

Tahun 2001 ia menyelesaikan doktornya di International Islamic University Islamabad dengan disertasi berjudul: “Al-Taaddudiyyah al-Diniyyah: Ru’yah Islamiyyah (Pluralisme Agama, Pandangan Islam). Disertasi ini mendapat tiga penghargaan sekaligus: Gold Medal dari International Islamic University Islamabad (2005), Isma’il Al-Faruqi Publications Award dari International Islamic University Malaysia (2006) dan Best Non-Fiction Book Award dari Islamic Book Fair 2007, Jakarta.

Karya disertasinya ini memang diselesaikan dengan penuh perjuangan. Selain ia kerjakan jauh dari anak-istri, ia juga hampir putus asa ketika menyelesaikan tulisan ini. Kisahnya, ketika ia sudah hampir menyelesaikan draf terakhirnya, laptop tuanya basah kuyup kehujanan. Ia panik luar biasa. “Sambil menangis, saya berdoa kepada Allah SWT apa yang terbaik bagi saya. Waktu itu, saya sudah menyiapkan diri untuk menerima keadaan yang terburuk sekalipun, yakni gagal dan angkat koper (pulang). Habis, kalau harus mulai dari awal lagi, rasanya sudah tidak mungkin, karena sudah terlalu lama (2 tahunan) jauh dari anak-istri,” kenangnya dengan mata berkaca-kaca. Allah pun mengabulkan doanya. Setelah sekitar sehari semalam ia mengeringkan laptopnya dengan kipas, akhirnya komputer jinjingnya itu bisa dihidupkan. Itu pun dengan tampilan layar yang tidak jelas. Ia harus memati-hidupkan beberapa kali, sehingga akhirnya file drafnya dapat dibuka dengan sempurna.

Selain sehari-hari mengajar dan pernah mengepalai di Department of Ushuluddin and Comparative Religion IIUM, Anis juga sering diundang menjadi pembicara di berbagai seminar internasional, antara lain di Turki, Kanada, Jepang dan lain-lain.

Ketika ditanyakan kepadanya siapakah guru yang paling berpengaruh kepada dirinya? Laki-laki lima anak ini menyatakan bahwa semua guru-gurunya berpengaruh membentuk kepribadiannya. Ia merasa tanpa bimbingan dan didikan mereka, ia bukanlah apa-apa. "Tapi kalau harus menyebut siapa guru yang paling ber pe ngaruh, maka guru itu adalah kedua orangtuaku. Merekalah yang pertama kali mengajar dan mendidikku tentang agamaku. Allahumma irhamhuma kama rabbayani shaghira." nuim hidayat

http://koran.republika.co.id/koran/155/108703/DR_ANIS_MALIK_THOHA_Ahli_Pluralisme_dari_Demak

Senin, 12 April 2010

JANGAN HINA NABI!


Kamis, 11 Maret 2010 pukul 15:36:00
JANGAN HINA NABI!
Oleh:
Nuim Hidayat

http://koran.republika.co.id/koran/155/105997/JANGAN_HINA_NABI

Pada 9 dan 11 Januari 1918, media cetak berbahasa Jawa, Djawi Hisworo, yang terbit di Surakarta, mengeluarkan tulisan yang menghina Nabi Muhammad SAW. Artikel yang ditulis Martodharsono dan Djokodikoro itu, isinya menyatakan bahwa Nabi Muhammad SAW adalah pemabuk dan pemadat. Penerbitan ini mendapat reaksi hebat dari umat Islam. Di Surabaya, pada Februari 1918, digelar satu rapat umum yang isinya menuntut agar pemerintah Hindia Belanda menindak kedua penulis dan pemimpin redaksi media tersebut. Centraal Sjarikat Islam juga membentuk panitia, Tentara Nabi Muhammad SAW, dengan tujuan: (1) Membangun kesatuan dan persatuan lahir dan batin antar-Muslimin. (2) Menjaga dan melindungi kehormatan agama Islam, kehormatan Rasulullah Muhammad saw dan kehormatan kaum Muslimin. Tokoh-tokoh Sjarikat Islam, antara lain adalah Oemar Said Djokroaminoto, H Agoes Salim, Abdoel Moeis, Soerjopranoto dan Wignjadisastra. (Ahmad Mansur Suryanegara, Api Sejarah, 2009: 392).

Pada tahun 1931, kaum Muslim Indonesia juga memberikan respon keras terhadap kasus Ten Berge (Ten Berge Affair). Peristiwa ini terjadi ketika seorang pastor Jesuit bernama J.J. Ten Berge menerbitkan dua artikel berjudul De Koran en Evanglie en Koran; Studien, Tijdscift voor Godsdient, Wetenschap en Litteren (1931).

Dalam artikelnya itu, Ten Berge memberikan komentar terhadap QS Surat Al Maidah ayat 75: Almasih putra Maryam itu hanyalah seorang Rasul yang sesungguhnya telah berlalu sebelumnya beberapa rasul, dan ibunya benar-benar seorang perempuan. Keduanya memerlukan makanan. Komentarnya, Siapa saja dapat menyaksikan bahwa, menurut Muhammad, orang-orang Kristen memahami sang Bapak, ibu dan putra dalam pengertian seksual. Bagaimana mungkin dia (Muhammad) seorang antropomorfis, seorang Arab yang bodoh, dan sensualis yang tiada tandingnya, yang terbiasa tidur dengan banyak perempuan, memahami konsep kebapakan yang berbeda dan pada ke nyataannya lebih canggih?

Insiden itu memicu kemarahan kaum Muslim Indonesia. Berbagai aksi massa dilakukan di sejumlah kota di Indonesia dilakukan oleh organisasi-organisasi Islam. Pemerintah kolonial mencoba menenangkan umat Islam dengan menyita seluruh sisa penerbitan. Peristiwa itu sendiri terus menyedot perhatian rakyat Indonesia, karena umat Katolik di bawah pimpinan Mgr. Wilekens, mengecam tindakan peme rintah kolonial dan menganggapnya tidak sah. Kaum Muslim memang dikenal sangat tinggi sensitivitasnya soal penghinaan Nabi Muhammad SAW. Kasus Roman Langit Makin Mendung karya Ki Panji Kusmin yang digugat oleh Hamka. Hampir seratus tahun kemudian penghinaan kepada Nabi terjadi lagi.

Paus Benedict XVI, pada September 2006 menyatakan: Show me just what Muhammad brought that was new, and there you will find things only evil and inhuman, such as his command to spread by the sword the faith he preached. Paus menyebut Nabi Muhammad sebagai evil dan inhuman. Ketika itulah, terjadi reaksi yang hebat dari umat Islam di seluruh dunia. Tapi bukan berarti Paus tidak ada yang membelanya. Apa yang dikatakan intelektual AS, Daniel Pipes di artikelnya New York Sun, 19 September 2006? Pipes menyatakan: The West Should Be Free To Criticize Islam (Barat seharusnya bebas untuk mengritik Islam).

Sebelumnya tahun 1997 seorang perempuan Israel mengedarkan secara luas sebuah poster Muhammad as a pig. Tahun 1988, Salman Rushdi menerbitkan novel yang menghina Nabi. Tahun 2002, pendeta Jerry Falwell dari AS menyebut Nabi Muhammad sebagai teroris. Ulah Falweell ini memicu pembakaran gereja di India dan terjadi kerusuhan, sehingga sedikitnya 10 orang terbunuh.

Ketika Koran Denmark Jyllands-Posten, Februari 2006 memuat 12 gambar yang menghina Nabi Muhammad SAW, reaksi dari negerinegeri Islam sangat keras ke Denmark.

Beberapa tokoh Islam menyerukan pemboikotan terhadap produk Denmark dan di Nigeria terjadi kerusuhan yang menyebabkan beberapa orang meninggal.Tapi Daniel Pipes di New York Sun, 7 Februari 2006, membuat judul yang menghina Islam: gCartoons and Islamic Imperialism.

Disitu Pipes menyatakan : The key issue at stake in the battle over the twelve Danish cartoons of the Muslim prophet Muhammad is this: Will the West stand up for its customs and mores, including freedom of speech, or will Muslims impose their way of life on the West? Ultimately, there is no compromise: Westerners will either retain their civilization, including the right to insult and blaspheme, or not.

Pipes jelas tidak benar. Kaum Muslim tidak pernah memaksa pandangan hidupnya ke Barat. Dalam Islam, tidak dibenarkan pemaksaan seseorang atau sebuah komunitas untuk memeluk Islam. Menghadapi reaksi keras negeri-negeri Islam terhadap 12 kartun Denmark saat itu, negara Barat terbelah. Beberapa negara seperti Inggris, AS, New Zealand dan Polandia mengecamnya.

Tapi beberapa negara lain membelanya. Mereka beralasan, bahwa negara mereka memberikan jaminan terhadap kebebasan berekspresi (freedom of expression).

Bila negeri Barat terbelah menyikapi 12 kartun Denmark yang menghina Islam itu, maka tidak ada satupun negeri Islam yang mendukung kartun Denmark itu. Umat Islam tidak bebas berbuat apa saja untuk menghina agamanya. Apalagi menghina Nabi Muhammad SAW; manusia yang paling mulia. Karena itulah, umat Islam bersikap tegas terhadap setiap bentuk penyimpangan terhadap Islam.

Kemunculan setiap nabi palsu dipandang oleh umat Islam sebagai sebuah bentuk penyimpangan dan penodaan agama. Mirza Ghulam Ahmad ditolak pengakuannya sebagai Nabi. Di Indonesia, Lia Eden yang mengaku juga sebagai Malaikat Jibril juga menerima hukuman atas kasus penodaan agama. Karena itu, tidak mungkin seorang yang mengaku Muslim, sampai menyatakan, bahwa Kesalahan Lia Aminuddin persis sama dengan kesalahan Kanjeng Nabi Muhammad, meyakini suatu ajaran dan berusaha menyebarluaskannya.

Bagaimana mungkin orang yang mengaku Islam bisa berkata seperti itu? Kini, atas nama Kebebasan Beragama, sekelompok orang menuntut agar di Indonesia tidak ada lagi per aturan yang menghakimi satu aliran sesat atau tidak. Menurut mereka, pemahaman sesat atau tidak adalah relatif. Setiap penafsiran terhadap agama selalu bersifat relatif, sehingga seorang tidak boleh menghakimi yang lain sebagai sesat atau tidak. Bahkan, Lia Eden disetarakan dengan Nabi Muhammad SAW. Padahal, Nabi Muhammad SAW adalah Nabi sejati. Sedangkan Lia Eden adalah mengaku-aku sebagai jelmaan Malaikat Jibril.

Jika mengaku-aku sebagai utusan Presiden suatu negara saja bisa dijatuhi suatu hukuman; bukankah merupakan suatu kejahatan besar jika seorang mengaku sebagai utusan Allah?!

Selasa, 02 Februari 2010

Teladan Gubernur Said bin Amir: Bahkan Sayyidina Umar pun Terpana Olehnya


Teladan Gubernur Said bin Amir:
Bahkan Sayyidina Umar pun Terpana Olehnya


Oleh: Nuim Hidayat


Kasus Bank Century sekali lagi membuka mata kita bahwa negeri ini telah kacau pengaturan ekonominya. Kerakusan harta seolah-olah menjadi biasa bila yang bertindak adalah para pejabat tinggi di negeri ini. Para wakil rakyat yang mengusutnya pun sebenarnya bukan orang-orang yang bersih. Dibanding dengan kinerjanya yang ‘berjamaah’, gaji 60 juta per bulan untuk para anggota DPR sebenarnya mengusik nurani kita. Apakah tidak sebaiknya gaji wakil rakyat itu 30 juta saja per bulan, dengan melihat rakyat negeri kita yang miskin masih lebih dari 40 juta?


Sulit rasanya negeri ini akan makmur bila para pemimpinnya mulai dari yang teratas hingga ke bawah masih tamak terhadap harta negara. Tidak mudah mengubah perilaku tradisi buruk para pemimpin negeri ini yang telah sistemik. Tapi marilah kita baca sejenak kisah teladan hebat dari seorang gubernur sahabat Rasulullah saw yang bernama Said bin Amir al Jumahi.

Sejarawan Islam Dr. Abdurrahman Ra’fat Basya menempatkan tokoh sepanjang zaman ini dalam urutan pertama dalam kitabnya Shuwarum min Hayatis Shahabat. Bahkan Sayyidina Umar pun terpana melihat budi kepemimpinannya.


000


Said bin Umar al Jumahi, termasuk seorang pemuda di antara ribuan orang yang pergi ke Tan’im, di luar kota Makkah. Mereka berbondong-bondong ke sana, dikerahkan para pemimpin Quraisy untuk menyaksikan pelaksanaan hukuman mati terhadap Khubaib bin Adi, yaitu seorang sahabat Nabi yang mereka hukum tanpa alas an.


Dengan semangat muda yang menyala-nyala, Said maju menerobos orang banyak yang berdesak-desakan. Akhirnya dia sampai ke depan, sejajar dengan tempat duduk orang-orang penting, seperti Abu Sufyan bin Harb, Shafwan bin Umayah dan lain-lain.


Kaum kafir Quraisy sengaja mempertontonkan tawanan mereka dibelenggu. Sementara para wanita, anak-anak dan pemuda, menggiring Khubaib ke lapangan maut. Mereka ingin membalas dendam terhadap Nabi Muhammad saw, serta melampiaskan sakit hati atas kekalahan mereka dalam perang Badar.


Ketika tawanan yang mereka giring sampai ke tiang salib yang telah disediakan, Said mendongakkan kepala melihat kepada Khubaib bin Adi. Said mendengar suara Khubaib berkata dengan mantap,”Jika kalian bolehkan, saya ingin shalat dua rakaat sebelum saya kalian bunuh…”


Kemudian Said melihat Khubaib menghadap ke kiblat (Ka’bah). Dia shalat dua rakaat. Alangkah bagus dan sempurnanya shalatnya itu. Sesudah shalat, Khubaib menghadap kepada para pemimpin Quraisy seraya berkata,”Demi Allah! Seandainya kalian tidak akan menuduhku melama-lamakan shalat untuk mengulur-ngulur waktu karena takut mati, niscaya saya akan shalat lagi.” Mendengar ucapan Khubaib tersebut, Said melihat para pemimpin Quraisy naik darah, bagaikan hendak mencincang-cincang tubuh Khubaib hidup-hidup.


Kata mereka,”Sukakah engkau si Muhammad menggantikan engkau, kemudian engkau kami bebeskan?”


“Saya tidak ingin bersenang-senang dengan istri dan anak-anak saya, sementara Muhammad tertusuk duri,”jawab Khubaib mantap.


“Bunuh dia! Bunuh dia!” teriak orang banyak. Said melihat Khubaib telah dipakukan ke tiang salib. Dia mengarahkan pandangannya ke langit sambil berdoa,”Ya Allah! Hitunglah jumlah mereka! Hancurkan mereka semua. Jangan disisakan seorang jua pun!”


Tidak lama kemudian Khubaib menghembuskan nafasnya yang terakhir di tiang salib. Sekujur tubuhnya penuh dengan luka-luka karena tebasan pedang dan tikaman tombak yang tak terbilang jumlahnya.


Kaum Kafir Quraisy kembali ke Makkah biasa-biasa saja. Seolah-olah mereka telah melupakan peristiwa maut yang merenggut jiwa Khubaib dengan sadis. Tetapi Said bin Amir al Jumahi yang baru meningkat remaja tidak dapat melupakan Khubaib walau ‘sedetikpun’. Sehingga dia bermimpi melihat Khubaib menjelma dihadapannya. Dia seakan-akan melihat Khubaib menjelma di hadapannya. Dia seakan-akan melihat Khubaib shalat dua rakaat dengan khusyu’ dan tenang di bawah tiang salib. Seperti terdengar olehnya rintihan suara Khubaib mendoakan kaum kafir Quraisy. Karena itu Said ketakutan kalau-kalau Allah SWT segera mengabulkan doa Khubaib, sehingga petir dan halilintar menyambar kaum Quraisy.


Keberanian dan ketabahan Khubaib menghadapi maut mengajarkan Said beberapa hal yang belum pernah diketahuinya selama ini.


Pertama, hidup yang sesungguhnya adalah hidup beraqidah, beriman, kemudian berjuang mempertahankan aqidah itu sampai mati.


Kedua, iman yang telah terhunjam di hati seseorang dapat menimbulkan hal-hal yang ajaib dan luar biasa.


Ketiga, orang yang paling dicintai Khubaib ialah sahabatnya, yaitu seorang Nabi yang dikukuhkan dari langit.


Sejak itu Allah SWT membukakan hati Said bin Amir untuk menganut agama Islam. Kemudian dia berpidato di hadapan khalayak ramai, menyatakan: ‘alangkah bodohnya orang Quraisy menyembah berhala’. Karena itu dia tidak mau terlibat dalam kebodohan itu. Lalu dibuangnya berhala-berhala yang dipujanya selama ini. Kemudian diumumkannya, mulai saat itu dia masuk Islam.


Tidak lama sesudah itu, Said menyusul kaum Muslimin hijrah ke Madinah. Di sana dia senantiasa mendampingi Nabi saw. Dia ikut berperang bersama beliau, mula-mula dalam peperangan Khaibar. Kemudian dia selalu turut berperang dalam setiap peperangan berikutnya.


Setelah Nabi saw berpulang ke rahmatullah, Said tetap menjadi pembela setia Khalifah Abu Bakar dan Umar. Dia menjadi teladan satu-satunya bagi orang-orang mukmin yang membeli kehidupan akhirat dengan kehidupan dunia. Dia lebih mengutamakan keridhaan Allah dan pahala daripada-Nya di atas segala keinginan hawa nafsu dan kehendak jasad.


Kedua khalifah Rasulullah, Abu Bakar dan Umar bin Khattab, mengerti bahwa ucapan-ucapan Said sangat berbobot dan taqwanya sangat tinggi. Karena itu keduanya tidak keberatan mendengar dan melaksanakan nasihat-nasihat Said.


Pada suatu hari di awal pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab, Said datang kepadanya memberi nasihat. Kata Said,”Ya Umar! Takutlah kepada Allah dalam memerintah manusia. Jangan takut kepada manusia dalam menjalankan agama Allah! Jangan berkata berbeda dengan perbuatan. Karena sebaik-baik perkataan ialah yang dibuktikan dengan perbuatan. Hai Umar! Tujukanlah seluruh perhatian Anda kepada urusan kaum Muslimin, baik yang jauh maupun yang dekat. Berikan kepada mereka apa yang Anda dan keluarga sukai. Jauhkan dari mereka apa-apa yang Anda dan keluarga tidak sukai. Arahkan semua karunia Allah kepada yang baik. Jangan hiraukan cacian orang-orang yang suka mencaci.”


“Siapakah yang sanggup melaksanakan semua itu, hai Said?” Tanya Khalifah Umar. “Tentu orang seperti Anda! Bukankah Anda telah dipercayai Allah memerintah umat Muhammad ini? Bukankah antara Anda dengan Allah tidak ada lagi suatu penghalang?”jawab Said meyakinkan.


Pada suatu ketika Khalifah Umar memanggil Said untuk diserahi suatu jabatan dalam pemerintahan. “Hai Said! Engkau kami angkat menjadi Gubernur di Himsh!” kata Khalifah Umar.


“Wahai Umar! Saya mohon kepada Allah semoga Anda tidak mendorong saya condong kepada dunia,”kata Said.


“Celaka engkau!” Balas Umar marah. “Engkau pikulkan beban pemerintahan ini di pundakku, tetapi kemudian engkau menghindar dan membiarkanku repot sendiri.”


“Demi Allah! Saya tidak akan membiarkan Anda,”jawab Said.


Kemudian Khalifah Umar melantik Said menjadi gubernur di Himsh. Sesudah pelantikan khalifah Umar bertanya kepada Said,”Berapa gaji yang Engkau inginkan?”


“Apa yang harus saya perbuat dengan gaji itu, ya Amirul Mukminin?”jawab Said balik bertanya. “Bukankah penghasilan saya dari Baitul Mal sudah cukup?”


Tidak berapa lama setelah Said memerintah di Himsh, sebuah delegasi dating menghadap khalifah Umar di Madinah. Delegasi itu terdiri dari penduduk Himsh yang ditugasi Khalifah mengamat-amati jalannya pemerintahan di Himsh.


Dalam pertemuan dengan delegasi tersebut, Khalifah Umar meminta daftar fakir miskin Himsh untuk diberikan santunan. Delegasi mengajukan daftar yang diminta khalifah. Di dalam daftar tersebut terdapat nama-nama di Fulan, dan nama Said bin Amir al Jumahi.


Ketika Khalifah meneliti daftar tersebut, beliau menemukan nama Said bin Amir al Jumahi. Lalu beliau bertanya,”Siapa Said bin Amir yang kalian cantumkan ini?”


“Gubernur kami!” jawab mereka. “Betulkan gubernur kalian miskin?” jawab Khalifah heran.


“Sungguh, ya Amirul Mukminin! Demi Allah! Seringkali di rumahnya tidak kelihatan tanda-tanda api menyala (tidak memasak),” jawab mereka meyakinkan.


Mendengar perkataan itu, Khalifah Umar menangis, sehingga air mata beliau meleleh membasahi jenggotnya. Kemudian beliau mengambil sebuah pundit-pundi berisi uang seribu dinar.


“Kembalilah kalian ke Himsh. Sampaikan salamku kepada Gubernur Said bin Amir, dan uang ini saya kirimkan untuk beliau, guna meringankan kesulitan-kesulitan rumah tangganya,”ucap Umar sedih.


Setibanya di Himsh, delegasi itu segera menghadap Gubernur Said, menyampaikan salam dan uang kiriman Khalifah untuk beliau. Setelah Gubernur Said melihat pundi-pundi berisi uang dinar, pundi-pundi itu dijauhkannya dari sisinya seraya berucap, inna lillahi wa inna ilaihi raji’un (kita milik Allah dan pasti kembali kepada Allah).


Mendengar ucapannya itu, seolah-olah suatu mara bahaya sedang menimpanya. Karena itu istrinya segera menghampiri seraya bertanya,”Apa yang terjadi, hai Said? Meninggalkah Amirul Mukminin?”


“Bahkan lebih besar dari itu!” jawab Said sedih. “Apakah tentara kaum Muslimin kalah berperang?” tanya istrinya lagi. “Jauh lebih besar dari itu!” jawab Said tetap sedih. “Apa pulalah gerangan yang lebih dari itu?” tanya istrinya tak sabar. “Dunia telah datang untuk merusak akhiratku. Bencana telah menyusup ke rumah tangga kita,” jawab Said mantap.


“Bebaskan dirimu daripadanya!”kata istri Said memberi semangat, tanpa mengetahui perihal adanya pundi-pundi uang yang dikirimkan Khalifah Umar untuk pribadi suaminya.


“Maukah engkau menolongku berbuat demikian?” Tanya Said.


“Tentu!” jawab istrinya bersemangat. Maka Said mengambil pundi-pundi uang itu, lalu disuruhnya istrinya membagi-bagikan kepada fakir miskin…*


(Kisah ini adalah cuplikan dari kitab Shuwarum min Hayatis Shahabat. Tahun 1984, tokoh Islam Mohammad Natsir mempercayakan terjemahan buku ini kepada H. Ma’mur Daud. Akhirnya diterbitkan dengan judul “Kepahlawanan Generasi Sahabat Rasulullah saw”, penerbit Media Da’wah)

Minggu, 13 Desember 2009

Prof. Dr. HM Rasjidi: Melihat Apa yang Tidak Dilihat Orang Lain


Prof. Dr. HM Rasjidi:
Melihat Apa yang Tidak Dilihat Orang Lain

Oleh:
Nuim Hidayat


“Sebenarnya banyak orang yang kecewa, seperti yang saya dengar sendiri langsung dari kalangan IAIN, mengapa ia, dengan latar belakang pendidikan seperti itu, hanya puas dengan menerjemahkan buku, padahal pekerjaan itu dapat dilakukan oleh orang lain dengan mutu yang sama profesionalnya? Betapapun dinilai banyak kelemahannya, Harun Nasution telah mengarang paling tidak enam buku yang berharga untuk dibaca, yang memberikan interpretasinya sendiri tentang filsafat, agama dan Islam. Demikian pula Nurcholish Madjid telah menyeleksi bahan-bahan dari Khasanah Intelektual Islam dengan uraian penilaian yang kritis dan baru, baik dalam cara maupun isinya.”



Demikian kritik Prof. Dawam Rahardjo pada Rasjidi pada buku 70 Tahun Prof Dr HM Rasjidi. Meski Dawam kemudian meneruskan tulisannya bahwa Chairil Anwar pun juga menerjemahkan karya-karya puisi asing, di samping mencipta puisi sendiri, tapi di kalimat itu jelas terlihat bahwa Dawam berniyat meninggikan Harun Nasution dan Nurcholish Madjid serta ‘merendahkan’ Rasjidi. Karya Nurcholish memang kaya referensi, tapi mempunyai ia mempunyai kesalahan fundamental dalam bidang aqidah. Karyanya ibarat gedung yang mengagumkan banyak orang karena interiornya yang bagus, tapi pondasinya retak dan rapuh, sehingga sewaktu-waktu bangunan itu runtuh. Dan hanya para ahli bangunan yang berpengalamanlah yang dapat melihat kerapuhan gedung itu.



Mungkin di sinilah peranan Prof Rasjidi sebagai ‘ahli bangunan’ yang telah berpengalaman internasional dalam mendidik mahasiswa dan manusia-manusia Islam. Pengalaman intelektual Rasjidi di Al Azhar Mesir, McGill Kanada, Sorbonne Perancis, Yogyakarta, Jakarta dan lain-lain menjadikan dirinya saat itu melawan dan menulis kritikan keras kepada pemikiran-pemikiran Harun Nasution dan Nurcholish Madjid. Rasjidi tahu bahaya pemikiran keduanya. Dan memang seorang ‘alim’ (ulama/intelektual Islam) seringkali mengetahui, melihat apa yang tidak dilihat oleh orang ‘jahil’.



Rasjidi menulis buku Koreksi terhadap Drs. Nurcholish Madjid tentang Sekulerisme dan buku Koreksi terhadap Dr. Harun Nasution tentang Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya. Tentang buku Harun Nasution, Rasjidi menyatakan: “Saya menjelaskan kritik saya fasal demi fasal dan menunjukkan bahwa gambaran Dr. Harun tentang Islam itu sangat berbahaya, dan saya mengharapkan agar Kementrian Agama mengambil tindakan terhadap buku tersebut, yang oleh Kementrian Agama dan Direktorat Perguruan Tinggi dijadikan buku wajib di seluruh IAIN di Indonesia.”



Kini timbul pertanyaan siapa Rasjidi? Rasjidi, yang nama kecilnya Saridi, lahir di Kotagede Yogyakarta pada Kamis 20 Mei 1915 atau 4 Rajab 1333 H. Ia anak kedua dari Bapak Atmosugido. Ia menempuh sekolah dasar di Muhammadiyah Yogyakarta. Rasjidi kemudian melanjutkan sekolah menengahnya di perguruan Al Irsyad al Islamiyah, Malang, dibawah pimpinan Syekh Ahmad Surkati. Semangat mencari ilmunya makin tinggi, karena yang mengajar di situ bukan hanya guru-guru dari Indonesia, tapi juga dari Mesir, Sudan dan Mekkah.



Syekh Ahmad Surkati pendiri al Irsyad al Islamiyah, mendidik langsung Rasjidi dengan seksama. Menurut Surkati, Rasjidi adalah anak yang tekun dan cerdas, sehingga dicintai guru-gurunya. Kepandaian Rasjidi dalam bahasa Arab –mampu menghafal Alfiyah Ibnu Malik dalam usia 15 tahun —menjadikannya diangkat sebagai asisten pelajaran gramatika bahasa Arab. Dalam usia remaja itu, Rasjidi juga hafal buku Logika Aristoteles yang berjudul “Matan as Sullam.”



Perkenalannya dengan banyak guru-guru Timur Tengah itu, menjadikan Rasjidi bersemangat untuk melanjutkan studinya di Mesir. Ketika di Mesir, selain mempelajari ilmu-ilmu agama, di Sekolah Persiapan Darul Ulum (setingkat Sekolah Menengah) juga ia diajar aljabar, ilmu bumi, sejarah dan lain-lain. Sehingga kemudian Rasjidi menguasai bahasa Perancis, Inggris, Arab dan Belanda tentunya. Ia pun menjadi seorang hafizh, hafal al Qur’an 30 juz. Penulis Soebagijo IN menceritakan : “Dengan diantar oleh Syekh Thantawy Djauhary pengarang Tafsir al Jawahir yang masyhur serta sahabat karib Sjekh Ahmad Surkati, dia mendaftarkan ke Sekolah Persiapan untuk memasuki Sekolah Guru Tinggi bahasa Arab yang bernama Darul Ulum (kelas III)...Rasjidi diuji untuk masuk kelas V. Di kelas itu dia belajar 8 bulan lamanya, dan akhirnya berhasil meraih diploma Sekolah Menengah Umum dengan agama dan hafal al Qur’an secara lengkap, yakni 30 juz Al Qur’an, di samping mendapatkan sertifikat untuk mata pelajaran bahasa Inggeris dan Prancis. Karena di sana berlaku sistem Prancis, maka di Mesir diploma Sekolah Menengah Lanjutan disebut surat ijazah Baccalaureat. Dengan ijazah Baccalaureat itu, Rasjidi berhak meneruskan ke perguruan tinggi.”



Ia kemudian melanjutkan ke Universitas al Azhar, Kairo. Di sana ia mengambil jurusan Filsafat dan Agama. Setelah empat tahun belajar di situ, ia mendapat gelar Licence. Di kelas itu mahasiswanya hanya tujuh orang. Ia menempati rangking satu mengalahkan mahasiswa dari Mesir, Albania dan Sudan.



Setelah kembali ke tanah air beberapa tahun, Rasjidi melanjutkan kuliahnya di Fakultas Sastra, Universitas Sorbonne, Paris. Pada hari Jumat, 23 Maret 1956, Rasjidi akhirnya meraih gelar doktor di universitas terkemuka itu dengan disertasi berjudul l'Evolution de l'Islam en Indonesie ou Consideration Critique du Livre Centini (Evolusi Islam di Indonesia atau Tinjauan Kritik terhadap Kitab Centini).



Rasjidi adalah Menteri Agama RI pertama. Di pemerintahan, ia juga pernah menjabat sebagai Duta Besar RI di Mesir, Arab Saudi dan lain-lain. Sebelumnya di bidang organisasi, ia pernah terlibat diantaranya dalam organisasi PII dan Masyumi. Ia juga pernah aktif sebagai Dosen di Sekolah Tinggi Islam (UII) Yogyakarta, Guru Besar Fakultas Hukum UI, Guru Besar Filsafat Barat di IAIN Syarif Hidayatullah dan menjadi Dosen tamu di McGill University.



Rasjidi menulis buku dan menerjemahkan buku-buku yang bermutu yang ia temui ketika belajar atau bertugas di luar negeri. Karya-karya asli Rasjidi antara lain : Islam Menentang Komunisme, Islam dan Indonesia di Zaman Modern, Islam dan Kebatinan, Islam dan Sosialisme, Mengapa Aku Tetap Memeluk Agama Islam, Agama dan Etik, Empat Kuliah Agama Islam pada Perguruan Tinggi, Strategi Kebudayaan dan Pembaharuan Pendidikan Nasional, Hendak Dibawa Kemana Umat Ini? Sedangkan karya terjemahnya antara lain: Filsafat Agama, Bibel QurĂ¡n dan Sains Modern, Humanisme dalam Islam, Janji-janji Islam dan Persoalan-persoalan Filsafat.



Rasjidi, yang murid-muridnya kini banyak tersebar di Indonesia, telah meninggalkan warisan perjalanan hidup dan karya tulis yang berharga bagi kita. Adakah kita mengambil pelajaran dari liku-liku kehidupannya?*

Rabu, 04 November 2009

Politik dan Pendidikan Islam


Politik dan Pendidikan Islam

Oleh: Nuim Hidayat



”Wahai anak-anakku pelajarilah ilmu, maka apabila kamu sekalian berada di tengah-tengah ilmu kamu bisa memimpin, dan apabila kamu bisa menyediakan ilmu kamu bisa hidup.” (Khalifah Abdul Malik bin Marwan)



Tahun 60-an ada perbincangan yang menarik antara Prof Deliar Noer dengan Kiyai Zarkasyi. ”Cuma ada pesan saya...kan pak Natsir tidak boleh berpolitik,”kata Kiyai Zarkasyi kepada Deliar Noer.”Sekurang-kurangnya walau tak resmi, namun langkahnya dalam berpolitik terlambat. Saya ada pesan,”lanjutnya, dan minta agar disampaikannya ke Pak Natsir. ”Saya ingat Ki Hajar Dewantoro,”kata Kiyai Zarkasyi. ”Setelah ia kembali dari Belanda dan tidak boleh bergerak aktif dalam bidang politik, ia membatasi dirinya bergerak dalam bidang sosial, khususnya dalam pendidikan. Ia mendirikan Taman Siswa, dan ia berhasil dengan usahanya ini. Saya berpikir apakah setidaknya Pak Natsir tidak berbuat hal yang seperti ini,”kata Kiyai Zarkasyi. ”Ia seorang pemimpin: bisa di bidang politik dan sosial. Tetapi asalnya juga dari bidang pendidikan.”



Dan, Kiyai Zarkasyi menyebut-nyebut kegiatan Natsir di jaman Belanda dengan sekolah-sekolah Pendis-nya (Pendidikan Islam) di Bandung, terdiri dari TK, HIS, MULO dan HIK. Menurut Kiyai Zarkasyi, Pendis ini sedikit banyak berhasil. ”Kalau tidak Jepang masuk,”tambahnya,”tentu sekolahan tersebut akan berkembang.”



”Dan kini dalam bidang politik, Pak Natsir mendapat hambatan,”sambung pendiri Gontor ini,”Alihkan perhatian penuh ke bidang yang agaknya lebih perlu dikelola,”katanya tegas. ”Dan saya harap,”sambungnya,”Saudara menyampaikan ini kepada beliau.” Ia menambahkan bahwa orang seperti Pak Natsir, dana pun akan tiba. Dan dengan pendidikan usahanya akan lebih nyata, kebebasan juga akan lebih terpelihara...begitu saya kembali dari Gontor, permulaan tahun 1970-an itu, pesan Kiyai Zarkasyi sempat saya sampaikan kepada Pak Natsir. (Prof. Dr. Deliar Noer dalam KH Imam Zarkasyi di Mata Umat, Gontor Press, 1996, 643-644)



Politik



Kehidupan politik Indonesia saat ini cenderung materialistis. Uang dan jabatan menjadi motivasi dan tujuan akhir. Dalam pemilihan ketua partai (kecuali sebagian kecil), bupati, gubernur, bahkan presiden uang menjadi faktor utama penentu keberhasilan. Bukan ilmu, kapabilitas calon dan adab atau akhlak yang baik yang dimiliki sang calon.



Padahal ilmu dan adab pemimpin politik itu menjadi syarat utama dalam memimpin masyarakat. Ulama Melayu terkemuka, Syekh Ahmad al Fathani mencirikan sifat-sifat yang mesti dimiliki pemimpin politik. Diantaranya: sempurna anggota (indera), baik budi pekerti, baik kefahaman, cerdik/bijaksana, faham terhadap sekalian ilmu terutama ilmu berhitung dan ilmu tarikh, benar dalam perkataan dan menjauhkan kebohongan, elok perlakuan muamalat, berkelakuan yang lembut, dalam perjumpaan selalu memberikan kelapangan, tidak tamak pada makanan, minuman dan perkawinan, menjauhi bermain-main dalam segala urusan, mempunyai ketinggian himmah (cita-cita), bersungguh-sungguh pada membangun kerajaan, mencintai keadilan, benci kezaliman, mempunyai hati yang tabah dan berani dan mengetahui sekalian muslihat.”



Pentingnya ilmu politik ini, dikemukakannya pada kitab Hadiqatul Azhar : ”Muhimmah, pada bicara ilmu siasat (politik). Yaitu ilmu memperbaiki rakyat dengan menunjukkan mereka itu kepada jalan yang melepaskan mereka itu daripada tiap-tiap kekeruhan pada dunia dan akherat..maka hukumnya ilmu itu wajib kifayah.” (Wan Mohd Saghir: 1992, 103).



Masalahnya, dalam ilmu politik sekuler saat ini, masalah akherat tidak dimasukkan sebagai urusan negara. Akherat tidak dijadikan pertimbangan dalam pengambilan keputusan politik dan inilah awal malapetaka politik di Indonesia dan negeri-negeri Islam lainnya. Sehingga suap, ingkar janji, kebohongan, hasad, tamak, riya’ menjadi tontotan politik sehari-hari.



Padahal dahulu bila para ulama memberikan nasehat kepada raja atau sultan selalu diawali dengan nasehat agar para pemimpin itu mula-mula bertakwa kepada Allah, taat kepada Rasul-Nya dan seterusnya. Dulu, dalam sejarah Islam, Jendral Abdullah bin Husain, ketika menasihati anaknya, maka dia menulis agar agar ingat kepada Allah SWT, ingat hari pembalasan, orang miskin dan sebagainya. Apakah ada jenderal sekarang ini yang menasihati anaknya demikian? Juga ketika khalifah Ali bin Abi Thalib menasihati kepada gubernurnya. Ia menasihatkan tentang pentingnya ketakwaan kepada Allah SWT, perhatian kepada orang miskin, jangan terpengaruh godaan dunia dan lain-lain. Apakah ada sekarang ulama atau pejabat yang menasihatkan seperti itu?



Politik dan Pendidikan Islam



Dalam era kehidupan politik yang sekuler saat ini, juga ditandai dengan munculnya pemimpin-pemimpin palsu dalam segala bidang. Pemimpin-pemimpin ini hanya mampu mengulang-ulangi praktek pendidikan yang yang datang atau dipengaruhi sepenuhnya oleh Barat. Intelektual terkemuka Melayu, Syed Muhammad Naquib al Attas mengemukakan dalam bukunya Risalah untuk Kaum Muslimin : ”Saluran yang melancarkan penyelundupan faham-faham asasi yang asing itu adalah sistem pembelajaran dan pendidikan yang dikuatkuasakan oleh kuasa-kuasa politik serta gejala-gejala pentadbirannya, dan seterusnya dibantu oleh golongan para guru dan pensharah dan golongan penulis yang menyamarkan faham-faham itu sebagai hasil sastera. Dan betapakah lagi kacaunya andaikata orang-orang yang mewakili kuasa-kuasa tersebut, dan guru dan pensharah dan penulis itu tiada pula memahami serta mengenali dan mengetahui benar-benar sifat serta hakikat kandungan faham-faham yang dikuatkuasakan dan dianjurkannya itu! Kaum Muslimin harus insaf bahawa sebahagian besar mereka yang memainkan peranan dalam menyebarkan kekeliruan dan kepalsuan ini –baikpun secara disedari mauhupun tiada disedari—merupakan orang-orang yang bukan sahaja tiada memahami serta mengenali dan mengetahui benar ilmu kebudayaan Barat, bahkan jua yang tiada mempunyai ilmu keislaman, dan yang pengetahuan serta amalan Islamnya sangat-sangatlah menyedihkan sebab sekadar yang bertaraf kebudak-budakan belaka. Padahal golongan-golongan ini dibiarkan –malah diberi amanah—oleh kaum Muslimin untuk memimpinnya dalam pelbagai lapangan kehidupan!”



Lebih lanjut Prof al Attas menasehatkan: ”Janganlah hendaknya kau fikir –wahai saudaraku Muslimin—bahwa sekarang ini kononnya dengan tersingkirnya ciri-ciri zahiriah kolonialisme kebudayaan Barat, pemimpin-pemimpin kita yang Islam yang telah kita amanahkan untuk menjalankan tugas membimbing masyarakat kita itu, memang benar-benar menunaikan tugas mereka dengan secara yang tiada berlawanan dengan Islam. Kau harus insaf bahwa kebanyakan mereka itu mewarisi ilmu serta cara berfikir kolonial yang jahil terhadap Islam. Mereka belum lagi berhasil menunaikan syarat-syarat serta pencapaian ilmu yang fardhu ain di sisi Islam, dan boleh dikatakan langsung sunyi daripada ilmu pengetahuan Islam yang harus dianggap sebagai fardhu kifayah yang terutama bagi mereka, maka betapakah dapat mereka itu menghindarkan diri dan masyarakatnya terpesong (terperosok) ke jalan yang sesat!”



Dalam bidang ilmu pengetahuan yang merujuk kepada pendidikan dan pelajaran, kata al Attas, pemimpin-pemimpin kita yang bertanggungjawab mengenainya tiada sadar bahwa banyak yang diajarkan di sekolah-sekolah dan pusat-pusat pengajian tinggi itu bukanlah ilmu pengetahuan, akan tetapi ilmu yang batil yang berselaputkan dugaan yang mensia-siakan masa dan mengelirukan fikiran dan diri penuntutnya



Prof Wan Mohd Nor Wan Daud, Guru Besar ATMA UKM Malaysia, menjelaskan lebih jauh, bahwa perubahan yang terpenting dalam pendidikan adalah perubahan pendidikan di tingkat tertinggi. S3, S2 dan S1. “Ini bukan bersifat elitis yang negatif, tapi elitis yang stratejik. Pendidikan mengubah orang dewasa dahulu. Yakni kalau orang dewasa telah berubah, maka anak-anak akan berubah. Semua anbiya’ diturunkan untuk mengajar kepada orang-orang dewasa. Dan mereka menyadarkan pemimpin-pemimpn politik tertinggi saat itu. Karena itu kita mendirikan ISTAC dulu, juga Prof Al-Attas ketika tahun 70-an Seminar di Mekkah tentang Pendidikan, mengingatkan tentang pentingnya Universitas. Bila universitas telah dibereskan, maka sekolah-sekolah menengah juga akan beres. Sebab guru-guru sekolah menengah dari universitas juga, pegawai-pegawai kantor juga universitas, paling kurang S1. Kalau fokus di level bawah, maka perubahan itu tidak akan berlaku dengan sebaik-baiknya. Orang-orang Barat faham akan hal itu. Mereka tidak menggarap SD, atau sekolah menengah, tapi menggarap di tingkat universitas.”



Sejarah Islam



Dalam zaman Umawiyah tampak sekali bahwa tujuan pendidikan selain untuk kepentingan agama juga untuk kepentingan sosial. Umpamanya Abdul Malik bin Marwan berkata kepada anak-anaknya,”Wahai anak-anakku pelajarilah ilmu, maka apabila kamu sekalian berada di tengah-tengah ilmu kamu bisa memimpin, dan apabila kamu bisa menyediakan ilmu kamu bisa hidup.” Orang mengetahui bahwa pada waktu itu banyak ulama mengajar anak-anak khalifah dan orang-orang dari kelompok atas, syair, sejarah, juga sejarah orang-orang Arab, nenek moyang mereka dan tindakan-tindakan mereka yang hebat-hebat.



Adapun dalam zaman Abasiyah, maka kedudukan ulama adalah tinggi sekali. Para khalifah menghormati para ulama dan ditempatkan pada tempat yang tinggi sesuai dengan ilmunya. Inilah sebabnya mengapa orang-orang giat belajar supaya mereka memperoleh kedudukan yang baik. Perlu diketahui bahwa para ulama itu pada umumnya dari kalangan orang-orang miskin dan rakyat biasa. Lalu mereka meningkat karena ilmunya kepada tingkatan yang tinggi. Ahli syair Abul Itahiyah asalnya adalah tukang batu, Abu Tamam asalnya adalah penjual air di masjid Amr. Ayah Bashar adalah orang yang membikin alat dari tanah, al Jahiz penjual roti dan ikan, az Zajjaz tukang menulis di kaca, dan bapak al Ghazali penenun bulu. (KH Imam Zarkasyi di Mata Umat, hal. 928).*

Mudah-mudahan manfaat, bisa dilihat di : http://hidayatullah.com/index.php?option=com_content&view=article&id=9723:politik-dan-pendidikan-islam&catid=68:opini&Itemid=68