Senin, 24 Maret 2014

“Kader Harun Nasution Ribuan”



Oleh : Nuim Hidayat (Redaktur Jurnal Islamia Republika)

Hal itu diungkapkan Dr Daud Rasyid dalam peluncuran kembali buku ‘Koreksi Terhadap Dr Harun Nasution” di Perpustakaan Terapung, Universitas Indonesia. Menurut Daud, kader-kader Harun di UIN/IAIN ribuan sedangkan Prof Rasjidi tidak mengkader secara serius. “Karena memang Rasjidi bukan orang gerakan,”terang pakar Hadits ini. Disitulah yang menjadikan pemikiran liberal sekuler Harun kini banyak mewarnai kampus-kampus UIN.

Buku Harun ‘Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya’ yang pertama kali diterbitkan tahun 1975 itu, menjadi buku wajib bagi mahasiswa di seluruh fakultas IAIN saat itu. “Sedangkan buku Rasjidi hanya dicetak dan dipajang di toko-toko buku. Sehingga buku itu habis cetakannya maka menghilang. Sedangkan buku Harun terus dicetak sampai sekarang karena menjadi buku text book,”terang Daud.

Mengapa Perlu Ada Nabi? (2)



Oleh: Nuim Hidayat (Direktur Institut Jurnalistik At Taqwa)

Syekh Maududi kemudian melanjutkan bahwa Nabi-Nabi dianugerahi Allah dengan watak atau keahlian yang khas. “Pandangannya (Nabi) menembus kepada perkara yang pelik-pelik yang tidak dapat dicapai oleh pandangan orang-orang lain dan tidak dapat difahami mereka, meskipun mereka menumpahkan segenap tenaga mereka bertahun-tahun. Akal yang sehat dapat menerima semua apa yang dikatakannya dan semua hati menjadi saksi atas kebenaran apa yang diterangkannya. “

Ulama besar Pakistan ini melanjutkan: “Nabi itu adalah suci fitrahnya dan bersih perangainya. Ia tidak menempuh dalam tiap-tiap urusannya kecuali jalan kebenaran, kesucian dan keutamaan. Ia tidak mendatangkan dalam perkataan-perkataan dabn perbuatan-perbuatannya sesuatu yang tidak sesuai dengan kebenaran. Ia member petunjuk kepada jalan yang benar dan mendahului orang lain dalam melaksanakan apa yang diperintahkannya kepada orang banyak.Sukar untuk mendapatkan satu contoh di dalam kehidupannya yang menunjukkan bahwa perbuatannya bertentangan dengan perkataannya. Ia tahan menderita kemudharatan demi untuk kemaslahatan orang lain, dan tidak memudharatkan mereka untuk kemaslahatan dirinya. Hidupnya seluruhnya merupakan kebenaran, kemuliaan, kejujuran, ketulusan niat, cita-cita yang luhur dan perikemanusiaan yang tinggi yang tidak ada cacatnya. Semua ini memberikan kesaksian yang berbicara, bahwa Nabi Allah yang benar ini diutus kepada manusia untuk member petunjuk kepada mereka.”

Jumat, 21 Februari 2014

Mengapa Perlu Ada Nabi? (1)



Oleh: Nuim Hidayat

Kaum Liberal ekstrim menafikan keberadaan Nabi. Bahkan pada sebuah perkuliahan di Universitas Indonesia tahun 2002, seorang lulusan IAIN Ciputat menyatakan:”Muhammad itu kan mengaku-aku aja sebagai Nabi.” Pernyataan ini seperti pernyataan orientalis yang tidak mengakui Nabi Muhammad saw sebagai nabi terakhir. Bagaimana memahami keimanan Nabi Muhammad ini?

Seorang tokoh Islam besar dari Pakistan menjawabnya. Abul A’la Maududi dalam bukunya ‘Mabaadiul Islam” (Prinsip-Prinsip Islam) mengulas secara logis masalah keimanan kepada Nabi yang mendasar ini. Begitu pentingnya buku ini sehingga International Islamic Federation of Student Organization menerjemahkan dalam bahasa Indonesia dan menyebarkannya secara luas di Asia Tenggara.

Selasa, 18 Februari 2014

Judul Buku, Ulama, dan Orientalis



Oleh, Nuim Hidayat

Cara yang terbaik mengetahui tujuan penulis adalah melihat judul bukunya. Orientalis Bernard Lewis menulis The Roots of Muslim Rage dan The Crisis of Islam. Leonard Binder menulis Islamic Liberalism. Lewis ingin menyatakan Muslim itu penuh kekerasan dan Islam itu penuh masalah alias krisis. Binder ingin menyatakan bahwa Islam itu harus liberal dan lain-lain.
 
Para ulama juga menulis judul sangat menarik. Lihatlah Imam al Ghazali menulis judul Ihya' Uluumud Diin, Menghidupkan Ilmu-ilmu Agama. Ibnu Rusyd menulis Bidaayatul Mujtahid wa Nihaayatul Muqtashid, Permulaan Mujtahid dan Tujuan Akhir. Sayid Qutb, ulama yang sangat dibenci Lewis, Binder dan para orientalis menulis Fi Zhilaalil Qur'aan dan Tashwiirul Fan fil Qur'aanil Kariim. Di bawah Bayang-Bayang Al Qur'an dan Keindahan Seni dalam Al Qur'an yang Mulia.

Senin, 17 Februari 2014

Ulama dan Kekuasaan: Sejarah Melayu



Oleh: Nuim Hidayat (Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Kota Depok)

Kerajaan Islam Aceh sejak awal punya hubungan erat dengan Timur Tengah. Hubungan dengan Timur menjadi lebih kuat di Kerajaan Aceh pada abad ke 17. Hubungan ini dibuktikan dengan jaringan ulama Makkah-Aceh. Ulama-ulama terkenal pada periode tersebut, Nurudin ar Raniri (wafat 1608), Abdurrauf as Sinkili (1615-1693) dan Yusuf al Maqassari (1627-1699) belajar di Makkah. Mereka membentuk ‘lingkaran komunitas Jawi’ (ashab al jawiyin) dengan ulama Makkah yang mengajar mereka. Mereka juga menjadikan kerajaan sebagai tempat untuk menyebarkan Islam di masyarakat. Ar Raniri dan as Sinkilin  berkarir di Kerajaan Aceh, sementara al Maqassari yang lahir di Sulawesi, membangun karirnya di kerajaan Banten, Jawa Barat.

Senin, 10 Februari 2014

Perintis Orientalis : Walid bin Mughirah



“Biarkanlah Aku (yang bertindak) terhadap orang-orang yang Aku sendiri telah menciptakannya. Dan Aku berikan baginya kekayaan yang melimpah. Dan anak-anak yang selalu bersamanya. Dan Aku berikan kepadanya kelapangan (hidup) yang seluas-luasnya. Kemudian dia ingin sekali agar Aku menambahnya. Tidak bisa. Sesungguhnya dia telah menentang ayat-ayat Kami (Al Quran). Aku akan membebaninya dengan pendakian yang memayahkan. Sesungguhnya dia telah memikirkan dan menetapkan. Maka celakalah dia bagaimana dia menetapkan? Kemudian dia memikirkan. Lalu berwajah masam dan cemberut. Kemudian berpaling dan menyombongkan diri. Lalu dia berkata: “(Al Quran) ini hanyalah sihir yang dipelajari (dari orang-orang dahulu). Inilah hanyalah perkataan manusia.” Kelak Aku akan memasukkanya ke dalam (neraka) Saqar.” (QS al Mudatsir 11-26). 

Minggu, 09 Februari 2014

Ikatlah Ilmu Dengan Menuliskannya



“Biasakan banyak baca, banyak berdiskusi, banyak bersilaturahmi dan banyak berjalan-jalan,”kata Nuim Hidayat dalam training jurnalistik di Depok, Sabtu kemarin (8/2). Dalam pelatihan sehari itu, Direktur Instititut Jurnalistik At Taqwa itu memberikan motivasi dan tips-tips menulis.
 
Untuk membaca, mesti ada manfaat yang kita ambil. “Kotak manfaat itu yang menentukan apakah kita cepat bosan atau nggak dalam membaca,”terangnya. Karena itu banyaklah membaca yang bermanfaat bagi kita. Dengan membaca seseorang mendapatkan secara tidak sengaja perbendaharaan kosa kata, gaya kalimat dan gaya penulisan. “Riset peneliti Dr Stephen membuktikan bahwa seseorang menjadi penulis karena banyak membaca.”