Minggu, 12 Mei 2013

Wahid Hasyim vs The Wahid Institute


Oleh: Nuim Hidayat (Ketua Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia Kota Depok)

Entah apa yang dikatakan Wahid Hasyim bila tahu nama Wahid sekarang digunakan cucunya untuk melawan syariat Islam. Bila Wahid Hasyim dulu sangat bersemangat Islam ditulis dalam undang-undang, maka The Wahid Institute (TWI) sangat benci bila Islam diundangkan.  Yenny Wahid Direktur TWI, misalnya menyatakan bahwa Perda Syariah adalah perda bermasalah.  Begitu pula Ulil Abshar, pendiri JIL kolega Yenny, menyatakan bahwa biarlah Islam menjadi kesadaran, karena bisa jadi hipokrit kalau dibuat undang-undang.

Entah apa yang dibenak Ulil dan Yenny. Mereka tentu tidak mau kalau dibuat Undang-Undang di Indonesia bahwa orang Indonesia yang mati, harus dilemparkan ke laut (untuk menghemat penggunaan tanah di Indonesia). Dan orang Islam yang normal, tentu akan bergembira bila ada undang-undang tertulis sesuai dengan keyakinannya.

Bila Yenny Wahid gigih dalam menentang Perda Syariah, bagaimana dengan kakeknya KH Wahid Hasyim? Seperti diketahui, Wahid Hasyim adalah anak kelima dari KH Hasyim Asyari pendiri Nahdhatul Ulama. Ia lahir di desa Tebu Ireng Jombang, 1 Juni 1914 (5 Rabiul Awwal 1333H). Nama aslinya adalah Abdul Wahid. Sejak kecil ayahnya mendidiknya dengan pendidikan yang Islami. Dari pesantren ke pesantren sampai pernah belajar beberapa saat di  Mekah. Ia pernah menjabat menteri agama RI dan meninggal di usia muda, 39 tahun, tepatnya 19 April 1953.

Senin, 28 Januari 2013

 Bagi yang berminat karya saya, buku Imperialisme Baru (291 hlm) berhadiah buku Sayyid Quthb, hanya Rp 50.000,-. Insya Allah banyak manfaatnya. Bagi yang mau pesan bisa hubungi Ibu Eni, Komp Timah CCII/18, Kelapa Dua, Depok. Hp 082110500570 dan 081808220970. Terima kasih.

Daftar Isi (Imperialisme Baru):
Liberalisme Islam, Orientalisme dan Imperiaslime
Orientalis-Orientalis Klasik yang Memutar Balikkan Islam
Islam Liberal: Suara Kristen atau Sekuler?

Selasa, 11 Desember 2012

Islam Agama Tercepat Pertumbuhannya di Inggris dan Amerika

Oleh: Nuim Hidayat
 
Sebuah sensus baru 11 Desember 2012 lalu, menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang paling cepat berkembang di Inggris dan Wales. "Agama adalah sulit untuk mendefinisikan dan sulit untuk diukur," kata Nick Spencer, direktur riset di think-tank teologi Theos kepada The Daily Mail. "Sensus mengukur identifikasi agama, bukan keyakinan atau praktek. Ini tentang apa yang orang menyebut diri mereka, dan kelompok mana yang mereka ingin mengidentifikasikan "

Bias Media AS dalam Menggambarkan Citra Islam

Sebuah penelitian terbaru menemukan bahwa media utama AS didominasi oleh kelompok anti Islam yang membuat gambaran publik tentang Islam menjadi bias sejak tragedi WTC 11 September 2001.
 
“Organisasi pinggiran anti Muslim mendominasi media massa dengan menampilkan ketakutan dan kemarahan,”kata Christopher Bail, asisten profesor sosiologi di University of North Carolina, kepada majalah Wired. Bail telah melakukan penelitian pengaruh kelompok pinggiran ini pada liputan media AS terhadap Muslim.

Jumat, 19 Oktober 2012

Menengok Kejayaan Islam di Andalusia: Mungkinkah Kembali?


Oleh: Nuim Hidayat

Kejayaan Andalusia tidak bisa dilepaskan dari peranan besar khalifah Bani Umayah yang pertama di sana. Abdul Rahman I (756-788M) adalah seorang pemimpin yang terpelajar, berwibawa dan amat meminati bidang kesusasteraan. Karena begitu cintanya pada bidang ini, ia mendirikan satu tempat khusus di dalam istananya yang diberi gelar ‘Darul Madaniyat’ untuk kegiatan kesusasteraan kalangan wanita Andalus.

Pada zaman Abdul Rahman I, golongan cerdik pandai dan alim ulama begitu dihormati dan dipandang tinggi oleh pemerintah, para pembesar dan masyarakat Andalus. Pemerintah telah memberi penghormatan yang tinggi kepada ulama dari Timur seperti al Ghazi ibn Qais dan Abu Musa al Hawari untuk menyampaikan ilmu agama di sana.

Umar bin Abdul Aziz: Umara yang Ulama


Oleh: Nuim Hidayat (Penulis Buku ‘Imperialisme Baru’)

Suatu ketika sahabat Abdullah bin Zubair berkata,” “Suatu malam aku sedang menemani Umar bin Khattab berpatroli di Madinah. Ketika ia merasa lelah, ia bersandar ke sebuah dinding di malam gelap buta, Ia mendengar suara seorang wanita berkata kepada putrinya, ‘Wahai putriku, campurlah susu itu dengan air.’ Maka putrinya menjawab, ‘Wahai ibunda, apakah engkau tidak mendengar maklumat Amirul Mukminin?’ Ibunya bertanya, ‘Wahai putriku, apa maklumatnya?’ Putrinya menjawab, ‘Dia memerintahkan petugas untuk mengumumkan, hendaknya susu tidak dicampur dengan air.’ Ibunya berkata, ‘Putriku, lakukan saja, campur susu itu dengan air, kita di tempat yang tidak dilihat oleh Umar dan petugas Umar.’ Maka gadis itu menjawab, ‘Ibu, Amriul Mukminin memang tidak melihat kita. Tapi Rabb Amirul Mukminin melihatnya. “

Jumat, 21 September 2012

Musik dalam Islam: Bolehkah?



Oleh: Nuim Hidayat (Dosen STID Moh Natsir, Jakarta)

Masalah nyanyian atau musik dalam Islam seringkali menjadi kontroversi. Ada yang membolehkannya secara terbatas,tapi  ada pula yang mengharamkannya secara mutlak.  Bagaimana hukum nyanyian dan musik dalam Islam? Syekh Abdurrahman Al Baghdadi menguraikan dengan lugas dan jelas masalah ini. Berikut ringkasan  bukunya ‘Seni dalam Pandangan Islam’
.
Pakar Fiqih Islam ini menuliskan dalil-dalil dari kalangan ulama baik yang mengharamkan maupun yang membolehkan. Kemudian ia mentarjihnya dan mengambil kesimpulan. Ia berkesimpulan bahwa bagi yang telah mengkaji serius masalah hukum musik ini dan menarik suatu kesimpulan, maka itu menjadi hukum syara’ baginya.  Apakah itu haram, makruh atau mubah. Dengan kata lain, seorang mujtahid terikat dengan ijtihadnya, begitulah kaidah ushul menyatakan.