Senin, 13 Juli 2009

Belajarlah, Agar Beradab!


Belajarlah, Agar Beradab!

Dr Adian Husaini
Peneliti INSISTS

Nuim Hidayat MSi
Peneliti INSISTS

Pendiri Nahdlatul Ula ma (NU), KH M Hasyim Asy’ari, menulis sebuah buku penting bagi dunia pendidikan. Judulnya, Aadabul ‘Aalim wal Muta’allim Terjemahan har fiahnya: Adab Guru dan Murid. Buku ini membahas tentang konsep adab. Kyai Hasyim Asy’ari membuka kitabnya dengan mengutip ha dits Rasulullah saw: “ Haqqul waladi ‘alaa waalidihi an-yuhsina ismahu, wa yuhsina murdhi’ahu, wa yuhsina adabahu.” (Hak se orang anak atas orang tuanya adalah men da patkan nama yang baik, pengasuhan yang baik, dan adab yang baik).


Jadi, mendidik anak agar menjadi orang beradab, seja tinya adalah tugas orang tua. Sebagai institusi pendidikan, sekolah mengambil alih sebagian tugas itu, menggantikan amanah yang dibebankan ke pada orang tua. Tujuannya te tap sama: jadikanlah anak beradab! Adab memang sangatlah penting kedudukannya dalam ajaran Islam. Imam Syafii, imam mazhab yang banyak menjadi panutan kaum Muslim di Indonesia, pernah ditanya, bagaimana upayanya dalam me raih adab? Sang Imam menjawab, bahwa ia selalu mengejar adab laksana seorang ibu yang mencari anak satu-satunya yang hilang.”

Demikianlah sebagian penjelasan KH Hasyim Asy’ari tentang makna adab. Menyimak paparannya, maka tidak bisa tidak, kata adab memang merupakan istilah yang khas maknanya dalam Islam. Bahkan, menurutnya, salah satu indikator amal ibadah seseorang diterima atau tidak di sisi Allah SWT adalah tergantung pada sejauh mana aspek adab disertakan dalam setiap amal perbuatan yang dilakukannya.

Lalu, apa sebenarnya kon sep adab? Uraian yang lebih rinci tentang konsep adab dalam Islam disampaikan oleh Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas, pakar filsafat dan sejarah Melayu. Menurut Prof. Naquib al-Attas, adab adalah “pengenalan serta pengakuan akan hak keadaan sesuatu dan kedudukan seseorang, dalam rencana susunan berperingkat martabat dan darjat, yang merupakan suatu hakikat yang berlaku dalam tabiat semesta.” Pengenalan adalah ilmu; pengakuan adalah amal. Maka, pengenalan tanpa pengakuan seperti ilmu tanpa amal; dan pengakuan tanpa pengenalan seperti amal tanpa ilmu. “Keduanya sia-sia kerana yang satu mensifatkan keingkaran dan keangkuhan, dan yang satu lagi mensifatkan ketiada sedaran dan kejahilan,” demikian Prof. Naquib al-Attas. (SM Naquib al-Attas, Risalah untuk Kaum Mus limin, (ISTAC, 2001).

Begitu pentingnya masalah adab ini, maka bisa dikatakan, jatuh-bangunnya umat Islam, tergantung sejauh mana me reka dapat memahami dan menerapkan konsep adab ini dalam kehidupan mereka. Ma nusia yang beradab terhadap orang lain akan paham bagai mana mengenali dan mengakui seseorang sesuai harkat dan martabatnya. Martabat ulama yang shalih beda dengan mar tabat orang fasik yang durha ka kepada Allah. Jika dikata kan menyebutkan, manusia yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling taqwa, ma ka seorang yang beradab tidak akan lebih menghormat kepa da penguasa yang zalim ketimbang guru ngaji di kampung yang shalih. Itu adab kepada manusia.

Adab terkait dengan iman dan ibadah dalam Islam. Adab bukan sekedar “sopan santun”. Jika dimaknai sopan santun, bisa-bisa ada orang yang menuduh Nabi Ibrahim a.s. sebagai orang yang tidak beradab, karena berani menyatakan kepada ayahnya, “Se sungguhnya aku melihatmu dan kaummu berada dalam kesesatan yang nyata.” (QS 6:74). Bisa jadi, jika hanya ber dasarkan sopan santun, tindakan mencegah kemunkaran (nahyu ‘anil munkar) akan dikatakan sebagai tindakan tidak beradab. Padahal, dalam Is lam, adab terkait dengan iman dan ibadah kepada Allah. Ukuran seorang beradab atau tidak ditentukan ber dasarkan ukuran sopansan tun menurut manusia. Seorang yang berjilbab di kolam renang bisa dikatakan ber perilaku tidak sopan, karena semua perenangnya berbikini.

Adab di Tamadun Melayu

Ulama besar dan sastrawan dari Riau, Raja Ali Haji pun telah menyinggung tentang pentingnya akal dan adab. Ia menyatakan kelebihan seorang manusia adalah pada akal dan adab dan bukan pada janis bangsa dan asal. Maka, dalam kitabnya, Bustan al Katibin, yang ditulisnya tahun 1850, ia menyatakan: “Jikalau beberapa pun bangsa jika tiada ilmu dan akal dan adab, ke bawah juga jatuhnya, yakni kehinaan juga diperolehnya.”

Maka agar seseorang, masyarakat atau bangsa itu menjadi mulia, Ali Haji menasehatkan agar individu-individu itu memahami agama. Sebagaimana hadits Rasulullah saw yang terkenal: “Barang siapa dikehendaki Allah kebaikan, maka ia diberi pemahaman kepada ilmu agama (ad diin).”

Pembinaan individu yang ber-adab ini juga menjadi perhatian yang serius ulama-ulama Melayu abad 18. Seperti Syekh Abdus Shamad al Palimbani dan Syekh Daud Abdullah Fathani. Syekh Palimbani misalnya menulis Hidayah as Salikin. Kitab ini disusun diantaranya merujuk pada karya-karya Imam al Ghazali Minhajul Abidin, Ihya’ Ulumud Din dan dan al-Ar bain fi Ushul ad Din. Sedangkan karya Syeikh Daud bin Abdul lah al Fathani di antara nya adalah menerjemahkan kitab al Ghazali Bidayah al Hidayah. (Dikutip dari maka lah pakar sejarah Melayu, Wan Mohd Shaghir Abdullah, “Se ja rah Tasawuf dan Perkembangannya di Nusantara”, 2006).

Syekh Wan Ahmad al Fathani dari Pattani (1856-1908), dalam kitabnya Hadiqatul Azhar war Rayahin (Terj. Oleh Wan Shaghir), berpesan agar seseorang mempunyai adab, maka ia harus selalu dekat dengan majelis ilmu. Ia menyatakan : “Jadi kan olehmu akan yang sekedudukan engkau itu (majelis) perhimpunan ilmu yang engkau muthalaah akan dia. Su pa ya mengambil guna eng kau daripada segala adab dan hikmah.”

Menjabarkan konsep adab Prof. SM Naquib al-Attas, Prof. Wan Mohd. Nor Wan Daud, guru besar Institut Alam dan Tamadun Melayu-Universiti Kebangsaan Malaysia, mencatat, bahwa sedikitnya terdapat 18 entri mengenai ta’dib, addaba dan adab yang bisa dijumpai dalam lebih dari satu buku koleksi hadits. Lihat AJ Wensinck dan JP Mensing, Boncordance Indices de la Tradition Musulmane, 7 jil. (Leiden :EJ Brill, 1943), I :26 ; Nasrat Abdel Rahman, The Semantic of Adab in Arabic, al Syajarah jil.2, No. 2, 1997, hh. 189-207. Dalam artikel ini Prof. Abdel Rahman mengana lisis pelbagai arti perkataan adab dan perkataan yang dide rivasi darinya, khususnya per kataan ta’dib, dari 50 penga rang (penulis) buku berbahasa Arab dan analisis tersebut secara umum menguatkan pemahaman al Attas.”

Perkataan adab, menurut al Attas, memiliki arti yang sangat luas dan mendalam, sebab pada awalnya perkataan adab berarti undangan ke sebuah jamuan makan,yang di dalamnya sudah terkandung ide mengenai hubungan social yang baik dan mulia. Namun adab kemudian digunakan dalam konteks yang terbatas, seperti untuk sesuatu yang merujuk pada kajian kesusastraan dan etika profesional dan kemasyarakatan. Menurut Wan Daud, filosof terkenal, Al Farabi juga mendefinisikan ta’dib sebagai aktivitas yang memproduksi suatu karakter yang bersumber dari sikap moral. Maka, sebenarnya, makna kedua istilah, ta’lim dan tarbiyah telah tercakup di dalam istilah ta’dib. Ibnul Mubarak menyatakan: “Kita lebih memerlukan adab daripada ilmu yang banyak.”

Jika adab hilang pada diri seseorang, maka akan mengakibatkan kezaliman, kebodohan dan menuruti hawa nafsu yang merusak. Karena itu, adab mesti ditanamkan pada selu ruh manusia dalam berbagai lapisan, pada murid, guru, pe mimpin rumah tangga, pemimpin bisnis, pemimpin masya rakat dan lainnya. Bagi orang-orang yang memegang institusi, bila tidak terdapat adab, maka akan terjadi kerusakan yang lebih parah. Kata Prof Wan Mohd. Nor: “Gejala penyalahgunaan kuasa, penipu an, pelbagai jenis rasuah, politik uang, pemu baziran, kehilangan keberanian dan keadilan, sikap malas dan ‘sam bil lewa’, kegagalan pemimpin rumah tangga dan sebagainya mencerminkan masalah pokok ini.”

Sikap boros dalam menggunakan kekayaan negara adalah sifat yang buruk bagi pemimpin dan dapat berakibat pada pencopotan dari jabatannya. Da lam teks Hikayat Aceh menurut Prof. Wan Mohd Nor (2007), terdapat dua kasus, dimana Sultan Seri Alam yang sangat boros dan Sultan Zainal Abidin yang zalim dimakzulkan dari kursi pemerintahan.

Adab terhadap ilmu

Jadi, menurut Prof. Wan Mohd. Nor, jika adab hilang pada diri seseorang, maka akan mengakibatkan kezalim an, kebodohan dan menuruti hawa nafsu yang merusak. Ma nusia dikatakan zalim, jika - misalnya - meletakkan sesuatu tidak pada tempatnya. Maka, dengan pemahaman seperti itu, seorang Muslim yang ber adab pasti lebih mencintai dan meng idolakan Nabi Muham mad saw ketimbang manusia manapun.

Manusia Muslim yang beradab juga akan menghormati sahabat-sahabat nabi dan keluarganya. Begitu juga seorang muslim yang beradab akan lebih menghormati ulama pewaris nabi, ketimbang penguasa yang zalim.

Salah satu adab penting yang harus dimiliki se orang Muslim adalah adab terhadap ilmu. Saeorang yang ber adab, menurut SM Naquib al-Attas, seorang ber adab haruslah mengenal dera jat ilmu, mana ilmu yang wajib ‘ain (wa jib dimiliki oleh setiap muslim) dan mana yang wajib kifayah (wa jib dimiliki sebagian Muslim).

Islam memandang kedudukan ilmu sangatlah penting, sebagai jalan mengenal Allah dan beribadah ke pada-Nya. Ilmu juga satu-satunya jalan meraih adab. Orang yang berilmu (ulama) adalah pewaris nabi. Karena itu, dalam Bidayatul Hidayah, Imam Al-Ghazali mengingat kan, orang yang mecari ilmu dengan niat yang salah, untuk mencari keuntungan duniawi dan pujian manusia, sama saja dengan menghancurkan agama. Dalam kitabnya, Adabul ‘Alim wal-Muta’allim, KH Hasyim Asy’ari juga mengutip hadits Rasulullah saw: “Barangsiapa mencari ilmu bukan karena Allah atau ia mengharapkan selain keridhaan Allah Ta’ala, maka bersiaplah dia mendapatkan tempat di neraka.”

Ibnul Qayyim al-Jauziyah, murid terkemuka Syaikhul Islam Ibn Taimiyah, juga menulis sebuah buku berjudul Al-Ilmu. Beliau mengutip ungkapan Abu Darda’ ra yang menyatakan: “Barang siapa berpendapat bahwa pergi menuntut ilmu bukan merupakan jihad, sesungguhnya ia kurang akalnya.”

Abu Hatim bin Hibban juga meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah ra, yang pernah mendengar Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa masuk ke masjid ku ini untuk belajar kebaikan atau untuk mengajarkannya, maka ia laksana orang yang berjihad di jalan Allah.”

Karena begitu mulianya kedudukan ilmu dalam Islam, maka seorang yang beradab tidak akan menyia-nyiakan umurnya untuk menjauhi ilmu, atau mengejar ilmu yang tidak bermanfaat, atau salah niat dalam meraih ilmu. Sebab, akibatnya sangat fatal. Ia tidak akan pernah mengenal Allah, tidak akan pernah meraih kebahagiaan sejati. Sebab, dengan mengenal dan berzikir kepada Allah, maka hati akan menjadi tenang.

Maka, belajarlah ilmu yang benar! Belajarlah dengan niat yang benar! Jadilah manusia yang adil dan beradab! Ingatlah, nasihat Luqmanul Hakim kepada anaknya: ”Wa hai anak ku, janganlah kamu menserikatkan Allah, sesungguhnya syirik adalah kezaliman yang besar.” (QS 31:13).(-)

Kamis, 09 Juli 2009 pukul 01:57:00, http://republika.co.id/koran/155/61060/Belajarlah_Agar_Berasab

Jumat, 03 Juli 2009

Nasehat Natsir, Al Fatih dan Sayyidina Ali



Nasehat Natsir, Al Fatih dan Sayyidina Ali

Nuim Hidayat
Peneliti INSISTS

Mohammad Natsir lahir di Minangkabau, Sumatera Barat, 17 Juli 1908. Wafat di Jakarta 6 Februari 1993. Ia dididik Islam sejak kecil oleh orang tua dan lingkungannya. Pendidikan formal di HIS Solok, MULO (1923-1927) dan AMS di Bandung (1930). Ia antara lain berguru kepada KH A Hassan, KH Agus Salim dan Syekh Ahmad Syurkati.

Natsir beberapa periode pernah menjadi Menteri Penerangan dan Perdana Menteri. Natsir memegang sebagai Ketua Pimpinan Pusat Masyumi pada 1949, 1951, 1952, 1954 dan 1956. Setelah Masyumi dibubarkan, Buya Natsir dengan kawankawannya -tokoh-tokoh Islam Masyumimendirikan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia pada 1967.

Ketika berkiprah di Dewan Dakwah, Natsir melakukan pendidikan dai secara nasional dan sistematis, mendirikan perguruan tinggiperguruan tinggi Islam di luar IAIN, memelopori pendirian pesantren-pesantren di sekitar kampus-kampus umum, mengirimkan dai-dai sekolah ke Timur Tengah dan lain-lain.

Ketokohan Natsir bukan hanya pada tulisan-tulisannya yang bernas dan mence rahkan, tapi juga sejarah hidup dan perjuangan dakwahnya yang mencengangkan. Mulai remaja, dewasa sampai dengan tuanya, kehidupan Natsir penuh dengan keteladanan. Sehingga Mr. Mohammad Roem menyatakan bahwa kalaulah Natsir itu bukan orang yang paling pandai, ia adalah seorang yang terpandai di Indonesia.

Dalam dialognya dengan Amien Rais, Kuntowijoyo dkk pada 1986-1987, Natsir mengkhawatirkan adanya penyakit bangsa Indonesia, termasuk umat Islamnya, yaitu cinta berlebihan kepada dunia. Kata Natsir: “Umat Islam dihinggapi penyakit wahn, yakni dunia yang berlebihan dan takut mengambil risiko. Keadaan semacam ini pernah terjadi dalam sejarah, pada waktu itu para prajurit yang ikut berperang karena tergiur pada harta rampasan perang, lalu karena kelengahan dan kepongahan ini mereka dengan mudah dikalahkan musuh. Hal ini terjadi pada saat Islam mengembangkan sayapnya di daratan Eropa.

Di negara kita penyakit cinta dunia yang berlebihan itu merupakan gejala yang “baru”, tidak kita jumpai pada masa revolusi, dan bahkan pada masa Orde Lama (kecuali pada sebagian elite masyarakat). Tetapi gejala yang “baru” ini, akhir-akhir ini terasa pesat “perkembangannya”, sehingga seperti sudah menjadi wabah dalam masyarakat. Jika gejala ini dibiarkan berkembang terus, maka bukan saja umat Islam akan dapat mengalami kejadian yang menimpa Islam di Spanyol, tetapi bagi bangsa kita umumnya akan menghadapi persoalan sosial yang cukup serius.

Penyakit cinta dunia ini, dengan demikian, memang bukan semata-mata permasalahan dakwah, yang harus dihadapi para mubaligh dan dai, tetapi sudah merupakan permasalahan nasional. Dalam konteks yang terakhir ini masalahnya menjadi lebih sulit ( complicated) karena bukan saja merupakan masalah ekonomi, tetapi masalah sosial, budaya, dan bahkan politik. Untuk ini terpulanglah kepada para pengambil keputusan untuk mengatasinya.”

Nasehat Natsir ini selaras dengan nasehat Mohammad al Fatih, pemimpin besar Islam yang menaklukkan Konstantinopel menjelang wafatnya:

“Tak lama lagi aku akan menghadap Allah SWT. Namun aku sama sekali tidak merasa menyesal, sebab aku meninggalkan pengganti seperti kamu. Maka jadilah engkau seorang yang adil, saleh dan pengasih.

Rentangkan perlindunganmu terhadap seluruh rakyatmu tanpa perbedaan. Bekerjalah kamu untuk menyebarkan agama Islam sebab ini merupakan kewajiban raja-raja di bumi.

Kedepankan kepentingan agama atas kepentingan lain apapun. Janganlah kamu lemah dan lengah dalam menegakkan agama. Janganlah kamu sekali-kali memakai orang-orang yang tidak peduli agama menjadi pembantumu. Jangan pula kamu mengangkat orang-orang yang tidak menjauhi dosa-dosa besar dan larut dalam kekejian...

Oleh sebab ulama itu laksana kekuatan yang harus ada di dalam raga negeri, maka hormatilah mereka. Jika kamu mendengar ada seorang ulama di negeri lain, ajaklah dia agar datang ke negeri ini dan berilah dia harta kekayaan. Hati-hatilah jangan sampai kamu tertipu dengan harta benda dan jangan pula dengan banyaknya tentara. Jangan sekali-kali kamu mengusir ulama dari pintupintu istanamu. Janganlah kamu sekali-kali melakukan satu hal yang bertentangan dengan hukum Islam. Sebab agama merupakan tujuan kita, hidayah Allah adalah manhaj (pedoman) hidup kita dan dengan agama kita menang.

Ambillah pelajaran ini dariku. Aku datang ke negeri ini laksana semut kecil, lalu Allah karuniakan kepadaku nikmat yang demikian besar ini. Maka berjalanlah seperti apa yang aku lakukan. Bekerjalah kamu untuk meninggikan agama Allah dan hormatilah ahlinya. Janganlah kamu menghambur-hamburkan harta negara dalam foya-foya dan senang-senang atau kamu pergunakan lebih dari yang sewajarnya. Sebab itu semua merupakan penyebab utama kehancuran.”

Patut juga para pemimpin negeri ini mengambil ibrah dari surat-surat Sayyidina Ali r.a. yang sangat berharga. Nasehat khalifah keempat ini adalah surat-surat yang dikirimkannya kepada gubernur Mesir Malik bin Harits al Asytar, pada tahun 655M. Nasihat ini berisi prinsip-prinsip dasar tentang pengelolaan atau manajemen sebuah pemerintahan, organisasi dan lain-lain.

Menurut Profesor A Korkut Özal dari Turki, pada perkembangan selanjutnya ternyata surat ini memberi banyak inspirasi bahkan menjadi bahan acuan bagi banyak pemimpin, melintasi ruang dan waktu. Tercatat ia mampu melintasi Eropa di masa Renaissance bahkan Edward Powcock (1604-1691), profesor di Universitas Oxford, menerjemahkan surat ini ke dalam bahasa Inggris untuk pertama kalinya dan pada 1639 disebarkan melalui serial kuliahnya yang disebut Rhetoric. Diantara nasehatnya adalah: “Ketahuilah wahai Malik bahwa aku telah mengangkatmu menjadi seorang Gubernur dari sebuah negeri yang dalam sejarahnya berpengalaman dengan pemerintahan-pemerintahan yang benar maupun tidak benar.

Sesungguhnya orang-orang akan melihat segala urusanmu, sebagaimana engkau dahulu melihat urusan para pemimpin sebelummu. Rakyat akan mengawasimu dengan matanya yang tajam, sebagaimana kamu menyoroti pemerintahan sebelumnya juga dengan pandangan yang tajam. Mereka akan bicara tentangmu, sebagaimana kau bicara tentang mereka.

Sesungguhnya rakyat akan berkata yang baik-baik tentang mereka yang berbuat baik pada mereka. Mereka akan (dapat) ‘menggelapkan’ semua bukti dari tindakan baikmu. Karenanya, harta karun terbesar akan kau peroleh jika kau dapat menghimpun harta karun dari perbuatan-perbuatan baikmu. Jagalah keinginan agar selalu di bawah kendali dan jauhkan dirimu dari halhal yang terlarang. Mereka adalah makhlukmakhluk yang lemah, bahkan sering melakukan kesalahan. Bagaimanapun berikanlah ampun dan maafmu sebagaimana engkau menginginkan ampunan dan maaf dari-Nya. Sesungguhnya engkau berada di atas mereka dan urusan mereka ada di pundakmu.

Sedangkan Allah berada di atas orang yang mengangkatmu. Allah telah menyerahkan urusan mereka kepadamu dan menguji dirimu dengan urusan mereka. Jangan katakan:”Aku ini telah diangkat menjadi pemimpin, maka aku bisa memerintahkan dan harus ditaati”, karena hal itu akan merusak hatimu sendiri, melemahkan keyakinanmu pada agama dan menciptakan kekacauan dalam negerimu.

Bila kau merasa bahagia dengan kekuasaan atau malah merasakan semacam gejala rasa bangga dan ketakaburan, maka pandanglah kekuasaan dan keagungan pemerintahan Allah atas semesta, yang kamu sama sekali tak mampu kuasai. Hal itu akan meredakan ambisimu, mengekang kesewenang-wenangan dan mengembalikan pemikiranmu yang terlalu jauh.*

Kamis, 11 Juni 2009 pukul 01:06:00
http://republika.co.id/koran/155/55731/Nasehat_Natsir_Al_Fatih_dan_Sayyidina_Ali

Senin, 08 Juni 2009

Ketika Adab Berpolitik Hilang

Ketika Adab Berpolitik Hilang
Oleh : Nuim Hidayat*

“Jikalau beberapapun bangsa (keturunan) jika tiada ilmu, akal dan adab, ke bawah juga jatuhnya, yakni kehinaan juga diperolehnya” (Raja Ali Haji dalam Bustan al Katibin)

Menyaksikan atraksi elit-elit partai politik menjelang koalisi memilih pasangan presiden beberapa waktu lalu, banyak orang mengelus dada. Beberapa elit partai ngomongnya plintat plintut, omongan hari kemarin bisa berbeda dengan esok hari. Seolah-olah dalam berpolitik boleh tidak konsisten, tanpa adab, seolah-olah kehidupan politik boleh bohong, dan boleh tidak berakhlak. Politik dan aktor-aktornya seolah-olah berada di ruang vakum yang berbeda dengan ruang kehidupan masyarakat lainnya, ruang pendidikan, ruang akhlak, ruang sosial dan terutama ruang agama.

Mereka lupa adanya kata berhikmah “politik hari ini adalah sejarah esok hari”. Masyarakat, terutama kaum terpelajarnya, akan mencatat dengan teliti perkataan para politikus yang kurang beradab. Akan dicatat pula oleh sejarah adanya pemimpin yang suka meninggalkan musyawarah. Pemimpin yang mengikuti hawa nafsunya mengikuti kehendaknya sendiri, meski beberapa sahabat koalisinya mengusulkan sesuatu yang lain yang lebih baik.

Begitulah kalau politik meninggalkan adab. Politik meninggalkan kaidah-kaidah agama. Boleh jadi yang meninggalkan adab dalam berpolitik ini adalah partai-partai Islam sendiri. Sehingga kenapa perolehan suara partai-partai Islam menurun atau stagnan dalam pemilu kali ini, seharusnya elit-elit partai politik Islam mengevaluasi dirinya sendiri. Apakah elit politik partai Islam saat ini hidupnya bermewah-mewah seperti partai sekuler lain? Apakah elit politik partai Islam saat ini mau mengorbankan gajinya karena penduduk Indonesia yang miskin minimal masih 40 juta? Apakah elit politik masih berprinsip yang penting berkuasa meski proses yang ditempuh tidak Islami? Apakah elit politik Islam masih tergoda ketamakan terhadap tahta, wanita, harta? Apakah elit politik Islam masih memikirkan dakwah dan keteladanan dalam sikap politiknya?

Itu diantara pertanyaan-pertanyaan yang mengemuka sekarang. Sulit rasanya kalau aktor-aktor politik Islam meninggalkan adab dalam berpolitik, meninggalkan kaidah-kaidah agama dalam politik, mereka akan mendapat simpati dari mayoritas umat Islam. Terutama simpati tokoh-tokoh umat yang alim dan terpelajar. Banyaknya umat Islam yang golput dan apatis terhadap partai politik, adalah karena ulah elit politik Islam sendiri. Perlu dicatat, bahwa semakin hari, semakin tahun, umat Islam Indonesia –sebagaimana juga tren manusia di dunia-- makin terpelajar, makin kritis dan makin tidak mudah lupa terhadap terhadap sejarah aktor-aktor politik di negeri ini.

Sebagai insan politik, yang sejatinya manusia juga, maka elit politik tidak lepas dari nafsu-nafsu yang menggoda manusia. Apakah nafsu rakus harta, nafsu rakus jabatan, nafsu rakus pemujaan dan juga nafsu rakus seks kepada lain jenis. Para ulama telah bersepakat, bahwa yang dapat mengerem atau mengendalikan nafsu hanyalah agama atau keimanan kepada Allah SWT. Bila iman hilang, maka nafsu itulah yang mengemuka. Imam Ghazali mengibaratkan bahwa dengan akal yang disinari wahyu, maka seorang kusir bisa mengendalikan kudanya (nafsu). Bila tidak maka kudanya akan menjadi liar.

Tercatat dalam sejarah, bagaimana presiden Soekarno tidak bisa mengerem nafsunya kepada wanita. Presiden Soeharto terjajah nafsunya oleh harta. Presiden-presiden berikutnya kita bisa menilai sendiri, nafsu apakah yang mengendalikan mereka. Mungkin nafsu rakus jabatan, nafsu rakus pemujaan atau nafsu-nafsu yang merusak lainnya. Bila nafsu yang lebih berkuasa daripada akal (yang disinari iman), maka menjadilah orang lupa kepada diri sejatinya. Lupa kepada dirinya sebagai manusia biasa yang akan diminta pertanggungan jawab, bukan hanya oleh rakyat tapi yang terutama oleh Yang Maha Pencipta, setelah kematiannya nanti.

Melihat ke negeri tetangga, kondisi elit politik di Malaysia ternyata juga tak jauh beda dengan negeri kita. Ini dicatat oleh Guru Besar UKM, Prof. Mohd Nor Wan Daud : ”Gejala penyalahgunaan kuasa, penipuan, pelbagai jenis rasuah, politik uang, pemubaziran, kehilangan keberanian dan keadilan, sikap malas dan ’sambil lewa’, kegagalan pemimpin rumah tangga dan sebagainya mencerminkan masalah pokok ini.”

Sikap boros dalam menggunakan kekayaan negara adalah sifat yang buruk bagi pemimpin. Dalam teks hikayat Aceh menurut Wan Daud (2007), terdapat dua kasus dimana Sultan Seri Alam yang sangat boros dan Sultan Zainal Abidin yang zalim dimakzulkan dari kursi pemerintahan.

Sifat hasad dengki juga adalah nafsu yang mesti dihindari. Contoh dalam sejarah Melayu yang terkenal adalah rasa iri hati semua para pembesar Malaka –kecuali Bendahara dan Temenggong—di zaman Sultan Mansur Shah terhadap Laksamana Hang Tuah sehingga sanggup menyebarkan fitnah dengan mencipta ”fakta yang palsu” terhadap Hang Tuah. Tindakan sultan yang terburu-buru akibat dan sifat amarah yang tak terkawal telah membuahkan banyak tindakan yang banyak merugikan bangsa (Kassim Ahmad dalam Wan Daud 2007).

Sifat hasad dengki ini juga masyhur dalam kisah pemuda bijak ikhlas dalam sebuah cerita Singapura ’dilanggar’ Todak. Dalam cerita ini tertayang Sultan adalah seorang yang pendek akal dan dikelilingi oleh para pembesar yang kurang berwibawa sehingga sanggup membiarkan banyak orang mati membentengi serangan Todak. Potensi masa depan pemuda yang didengki para pembesar itu dikuatiri oleh Sultan: ”Tuanku, budak (pemuda) itu jikalau sudahabesar, besarlah akalnya. Baiklah ia kita bunuh.”

Karena itu banyak pemikir Islam, yang menulis nasihat-nasihat untuk para pemimpin. Imam Ghazali menulis ’Nasihat al Muluk’ (Nasihat untuk Raja). Imam as Suyuthi menuliskan keteladanan pemimpin-pemimpin Islam dalam ”Tarikhul Khulafa” (Sejarah Para Khalifah). Juga dokumentasi surat-surat nasehat khalifah keempat Ali bin Abi Thalib kepada Gubernur Mesir Malik bin Harits Al Asytar. Menurut Profesor A Korkut Özal dari Turki, pada perkembangan selanjutnya ternyata surat ini memberi banyak inspirasi bahkan menjadi bahan acuan bagi banyak pemimpin, melintasi ruang dan waktu. Tercatat ia mampu melintasi Eropa di masa Renaissance bahkan Edward Powcock (1604-1691), profesor di Universitas Oxford, menerjemahkan surat ini ke dalam bahasa Inggris untuk pertama kalinya dan pada 1639 disebarkan melalui serial kuliahnya yang disebut Rhetoric.

Sifat berani menegakkan yang benar, adalah sifat yang mulia. Imam as Suyuthi mengutip al Bazaar dalam Musnadnya berkisah tentang keberanian Abu Bakar yang diceritakan oleh Ali bin Abi Thalib. Kata Ali : ”Sesungguhnya tatkala peristiwa Badar, kami membuat bangsal berteduh untuk Rasulullah. Kami kemudian berkata: Siapakah yang akan tinggal bersama Rasulullah agar tidak ada seorang pun yang mendekatinya? Maka demi Allah, saat itu tidak ada seorang pun yang mendekat dari kami kecuali Abu Bakar...”

Urwah bin Zubair berkata: ”Saya bertanya Abdullah bin Amr bin Ash tentang kejahatan terbesar yang dilakukan kaum Musyrikin kepada Rasulullah. Abdullah menyatakan: Saya melihat Uqbah bin Muith mendatangi Rasulullah saat shalat. Ia mengikatkan selendangnya di leher Rasulullah dan mencekiknya dengan cekikan yang sangat keras. Kemudian datang Abu Bakar melepaskan selendang itu dari leher Rasulullah. Abu Bakar berkata: Apakah kalian akan membunuh seorang laki-laki yang mengatakan Tuhanku Allah, sedangkan dia datang dengan tanda-tanda kebesaran Tuhannya kepada kalian?

Diantara nasehat khalifah Ali kepada gubernur Malik adalah agar elit politik senantiasa waspada bahwa rakyat selalu mengawasinya. Kata Ali: "Sesungguhnya orang-orang akan melihat segala urusanmu, sebagaimana engkau dahulu melihat urusan para pemimpin sebelummu. Rakyat akan mengawasimu dengan matanya yang tajam, sebagaimana kamu menyoroti pemerintahan sebelumnya juga dengan pandangan yang tajam."

Perlu juga dibaca oleh para pemimpin Islam, buku yang ditulis oleh Dr. Ali Muhammad as Shalabi tentang Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Utsmaniyah. As Shalabi diantaranya menulis di buku itu tentang sifat-sifat mulia Sultan Muhammad al Fatih sehingga menjadi pemimpin besar dalam sejarah Islam. Al Fatih menurut para ulama dan sejarawan adalah tokoh yang disebut Rasulullah sebagai penakluk Konstatinopel. "Konstatinopel akan bisa ditaklukkan di tangan seorang laki-laki . Maka orang yang memerintah di sana adalah sebaik-baik penguasa dan tentaranya adalah sebaik-baik tentara." (HR Ahmad)

Sifat-sifat itu adalah: perhatian yang tinggi terhadap universitas dan sekolah, kepeduliannya yang besar terhadap para ulama, perhatiannya terhadap penyair dan sastrawan, kepeduliannya terhadap penerjemahan buku-buku, perhatiannya terhadap pembangunan dan rumah sakit, kepeduliannya terhadap perdagangan dan industri, perhatiannya terhadap masalah administrasi, kepeduliannya terhadap tentara dan armada laut dan komitmennya pada keadilan.

Diantara nasehat Sultan Muhammad al Fatih kepada anaknya, juga kepada para pemimpin negara adalah: "Tak lama lagi aku akan menghadap Allah SWT. Namun aku sama sekali tidak merasa menyesal, sebab aku meninggalkan pengganti seperti kamu. Maka jadilah engkau seorang yang adil, saleh dan pengasih. Rentangkan perlindunganmu terhadap seluruh rakyatmu tanpa perbedaan. Bekerjalah kamu untuk menyebarkan agama Islam sebab ini merupakan kewajiban raja-raja di bumi. Kedepankan kepentingan agama atas kepentingan lain apapun. Janganlah kamu lemah dan lengah dalam menegakkan agama. Janganlah kamu sekali-kali memakai orang-orang yang tidak peduli agama menjadi pembantumu. Jangan pula kamu mengangkat orang-orang yang tidak menjauhi dosa-dosa besar dan larut dalam kekejian.” *

Jumat, 10 April 2009

Demokrasi vs Teodemokrasi

Demokrasi vs Teodemokrasi
Catatan untuk Syafii Maarif dan Azyumardi Azra
Oleh: Nuim Hidayat (Dosen STID M Natsir)

Azyumardi Azra dalam Resonansinya di Republika 25 September 2008, meski mengritik demokrasi, Azra nampak tetap mengagungkan demokrasi. Hal itu terlihat dari rasa gembiranya ikut serta dalam Hari Demokrasi Internasional. Ia menyatakan: “Saya beruntung ikut terlibat dalam sebuah 'percakapan meja bundar' menyambut Hari Demokrasi Internasional itu di New York pada 12 September 2008. Percakapan ini diselenggarakan International IDEA (Institute for Democracy and Electoral Assistance), UNDP, dan UN DPA dengan menghadirkan sejumlah pembicara dan pembahas yang merupakan pemikir dan aktivis demokrasi terkemuka di berbagai penjuru dunia.

'Percakapan meja bundar' ini bertitik tolak dari kepedulian tentang kaitan antara demokrasi dan pembangunan, sebaliknya antara pembangunan dan demokrasi. Memang, dalam beberapa kasus, pertumbuhan demokrasi tidak selalu berjalan seiring dengan pembangunan ekonomi dan sosial. Bahkan, terlihat demokrasi yang memunculkan berbagai konsekuensi yang tidak terduga (unintended consequences) dan ekses-ekses telah menghambat pembangunan. Kasus ini terlihat jelas, misalnya, dalam pengalaman Indonesia di masa sepuluh tahun penerapan demokrasi multipartai yang mengakibatkan terjadinya 'pelambatan'' dalam pembangunan ekonomi dan sosial.”

Hal yang sama juga nampak pula dalam diri Syafii Maarif. Dalam artikel Resonansi Republika 12 Agustus 2008, Syafii Maarif nampak pula memuji habis demokrasi. Menurutnya belum ada satupun sistem di dunia ini dalam era sekarang, yang menandingi demokrasi. Ia menyatakan: “Kesulitan kita dengan era modern adalah kenyataan peradaban umat manusia sampai detik ini belum menemukan sistem yang lebih baik dan lebih unggul dari demokrasi.”

Selain itu Maarif juga menguraikan tentang cacat demokrasi di negara kita. Khususnya perilaku elite politik yang jor-joran meraup kekayaan negara dan sistem pemilihan langsung yang nilainya mengerikan, yaitu sampai 400 trilyun. Kemudian dia bertanya sendiri, apakah mungkin sistem demokrasi ini diganti? Jawab Maarif: “Demokrasi harus bertahan karena itu pilihan kita sejak awal. Yang harus digugat secara keras adalah pelaku demokrasi yang semakin teler, menjadi penikmat demokrasi, sebuah pengkhianatan politik yang harus segera demokrasi.”

Kita tentu saja setuju dengan gagasan Azra dan Maarif untuk menghilangkan borok-borok demokrasi negara kita. Tapi pertanyaannya apakah sistem demokrasi kita saat ini bisa menghilangkan perilaku korup, biaya hura-hura pemilu dan biaya iklan pemilu saat ini? (Seorang calon presiden saja saat ini menyewa konsultan dan mengontrak iklan di TV untuk mem-push dirinya ditulis media massa kontraknya sampai 300 milyar!) Terus terang saya sangat meragukan. Karena demokrasi punya cacat bawaan sejak lahir. Dalam perjalanan sejarah demokrasi hanya menguntungkan segelintir elit tertentu atau paling jauh negara-negara tertentu.

Sistem politik yang ideal adalah sistem teodemokrasi bukan sistem demokrasi. Teodemokrasi adalah gagasan yang diluncurkan oleh tokoh-tokoh Islam, antara lain Abul A’la al Maududi, Mohammad Natsir dan Yusuf Qaradhawi. Ketiga tokoh ini setuju konsep teodemokrasi dan menolak konsep Teokrasi, sebuah konsep bentuk negara yang lahir dari sejarah kekuasaan gereja. Maududi, Natsir dan Qaradhawi mengajukan konsep Teodemokrasi (Natsir menyebutnya demokrasi Islam), karena melihat ada keliaran dan cacat bawaan sistem demokrasi, seperti yang kita rasakan sekarang. Meski seolah-olah mirip antara demokrasi dan teodemokrasi, tapi ibaratnya bagai ibarat api dan air.

Konsep demokrasi dan teodemokrasi ini, mirip perbedaannya dengan konsep jual beli dan riba. Zina dan nikah. Jual beli ada keridhaan antara penjual dan pembeli, sedangkan riba ada kezaliman yang terjadi antara ‘periba’ dan yang ‘diribai’. Riba menjadikan masyarakat dipenuhi kezaliman, sedangkan perdagangan menjadikan masyarakat kreatif dan berkeadilan. Begitupula zina, meski keduanya ada kesamaan hubungan biologis di sana, tapi ada perbedaan mendasar. Zina tidak ada syarat-syarat lafadz ijab kabul, saksi dan wali, sedangkan nikah mesti ada syarat-syarat itu. Zina hanya berkeinginan nikmat sesaat belaka. Sedangkan nikah selain ada kenikmatan juga ada tujuan melahirkan dan mendidik anak-anak saleh. Zina mengakibatkan masyarakat hedonis dan hura-hura dan meruntuhkan keluarga, sedangkan pernikahan membawa dampak ketenangan keluarga dan masyarakat.

Maka, demokrasi bukanlah sistem final bagi umat manusia. Para ulama telah mengajukan konsep teodemokrasi. Dimana seolah-olah konsep ini mirip demokrasi, tapi sebenarnya jauh panggang dari api. Di dalam teodemokrasi, kebenaran dari wahyu adalah utama. Sedangkan dalam demokrasi, kebenaran bersumber dari akal semata. Dalam demokrasi rakyat yang berdaulat, dalam teodemokrasi Tuhan yang berdaulat. Dalam teodemokrasi rakyat berkuasa, tapi kedaulatan di ‘tangan Tuhan’. Sebab secara kenyataannya rakyat atau manusia tidak punya kedaulatan meski terhadap dirinya sendiri. Manusia tidak bisa menciptakan mata, otak, syaraf telinga, jantung, dan lain-lain. Bagaimana dikatakan dia berdaulat, sementara kepada dirinya sendiri ia tidak berdaulat?

Di dalam teodemokrasi musyawarah diutamakan sebagaimana demokrasi di negara kita. Tapi tentu saja dalam teodemokrasi musyawarah tidak boleh terhadap hal-hal yang melawan wahyu Allah. Seperti bermusyawarahnya para wakil rakyat (seperti di sebagian di negara Barat), membolehkan minum minuman keras asal di rumah, tidak di tempat-tempat publik atau di jalanan, karena dikhawatirkan menganggu masyarakat. Peraturan seperti ini kan aneh, dibiarkan orang merusak dirinya sendiri. Yang tidak boleh hanya merusak orang lain.

Dalam teodemokrasi maka sistem politik dibangun secara jujur untuk kemuliaan manusia. Tidak ada kemunafikan disana. Misalnya minuman yang telah terbukti membahayakan, maka kepada individu maupun masyarakat dilarang untuk mengkonsumsinya. Begitu pula perzinahan. Dimana telah nyata-nyata menghancurkan akhlak individu dan meruntuhkan moral masyarakat, maka jelas harus dilarang negara. Begitu pula untuk hal-hal lainnya. Begitupula masalah pencurian uang rakyat, penghambur-hamburan uang rakyat, tidak mungkin disahkan dalam sistem teodemokrasi.

Jadi bila dalam demokrasi, akal bisa mengalahkan wahyu, maka dalam teodemokrasi akal mesti tunduk kepada wahyu. Karena logikanya, pembuat wahyu adalah pembuat akal manusia. Jadi wahyu bila diterapkan maka akan menerangi akal, tidak mungkin menggelapkan akal. Dalam demokrasi, karena sangat mengagungkan akal, maka yang terjadi akhirnya akal-akalan. Korupsi diakali bagaimana agar tidak ketahuan, tidak ada bukti dan tidak melanggar hukum. Penimbunan suara rakyat diakali dengan pemberian bantuan tunai, kredit partai dan lain-lain.

Dalam demokrasi, yang terjadi adalah ‘one man one vote’. Kasarnya meskipun makhluk itu setengah manusia, tapi bila dipilih mayoritas maka ia pun terpilih. Karena itu, modal kapital, siasat yang seringkali licik, iklan yang kerap menipu dan ‘pemolesan lipstik’ kandidat menjadi senjata utama. Seorang calon meskipun ia hebat, akhlaknya bagus, manajerialnya hebat dan pemikirannya cemerlang, ia tidak akan jadi pemimpin formal bila ia tidak bermodal atau ada partai yang memodali. Maka jangan heran, bila di Amerika Presiden George W Bush yang jelas-jelas bobrok pribadi dan timnya terpilih dua kali di sana. Di Indonesia, demokrasi, terutama pemilihan Kepala Daerah, menjadikan masyarakat kelas bawah dan bahkan para kiyai berantem. Di Jakarta, pemilihan Gubernur beberapa waktu lalu menjadikan beberapa kiyai dan mubalig saling menfitnah kepada kelompok pendukung atau kandidat yang bukan pilihannya.
Dalam Teodemokrasi, meski tidak menafikan pemilu, tapi musyawarah antar tokoh masyarakat atau ulama menjadi utama. Bila ada pemilihan kandidat bupati, gubernur atau presiden, mestinya tokoh-tokoh itu berembug siapa yang paling cakap untuk memimpin masyarakat. Kepentingan individu dalam hal ini mesti dikesampingkan. Karena para pemimpin negara itu diangkat untuk mengurus masyarakat bukan mengurus orang per orang atau partai per partai. Rasulullah saw menyatakan : Imam Al-Hakim meriwayatkan hadits dari Ibnu Abbas r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda,”Barangsiapa memilih seorang pemimpin untuk suatu kelompok, yang di kelompok itu ada orang yang lebih diridlo’i Allah dari pada orang tersebut, maka ia telah berkhianat kepada Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman.”
Rasulullah saw., bersabda,”Tiga golongan yang pada hari kiamat kelak tidak akan diajak bicara oleh Allah, tidak akan disucikan (dihapus dosa-dosanya), dan bagi mereka siksaan yang pedih. Golongan pertama adalah seseorang yang memiliki kelebihan air di jalanan (berumah di pinggir jalan), tapi menolak memberikannya kepada ibnu sabil (musafir yang sedang lewat). Golongan kedua adalah seseorang yang memilih pemimpin karena si calon memiliki harta. Jika si calon memberi apa yang ia inginkan, ia akan memilihnya; jika si calon tidak memberinya sesuatu yang berupa materi, si calon tidak dipilihnya. Adapun golongan ketiga adalah, seseorang yang menawarkan barang dagangan kepada orang lain di waktu sore hari, ia bersumpah atas nama Allah bahwa barangnya telah ditawar sekian, sehingga calon pembeli membelinya dengan harga tersebut, padahal tidak pernah ada sebelumnya orang yang menawar seperti itu.” (HR Bukhari)


Memang selain ada cacat bawaan, tidak bisa dipungkiri demokrasi juga membuat masyarakat Barat lebih maju. Keterbukaan informasi, transparansi, semangat bersaing, dan semangat pengembangan teknologi menjadi berkembang pesat. Dalam Teodemokrasi hal-hal yang merupakan fitrah manusia ini, tentu tidak akan dinafikan. Bahkan semangat untuk pengembangan ilmu, transparansi dan persaingan itu diberikan nilai, sehingga memberikan manfaat kepada manusia sebear-besarnya. Maka jangan heran di kala peradaban Islam mempengaruhi dunia (abad ke-7 sampai abad ke-19), ilmu pengetahuan berkembang pesat. Tidak heran, bila budaya tulis, budaya kertas, budaya sastra dan budaya ilmu, dicatat oleh sejarah bahwa peradaban Islam lah yang merintisnya.

Kemunafikan demokrasi Barat, juga terlihat, bagaimana dunia Barat memperlakukan demokrasi sesuai dengan keuntungan dirinya. Untuk negara-negara Timur Tengah, dimana Barat telah menaklukkan penguasanya, maka demokrasi tidak diekspor. Karena bila ia ekspor, maka akan memukul dirinya. Barat membiarkan hal-hal yang tidak demokratis berlangsung disana. Maka kita ingat bagaimana Barat mendukung kelompok militer di Aljazair untuk menghancurkan Partai Islam FIS yang jelas-jelas menang pemilu secara demokratis tahun 1991. Juga bagaimana Barat menjegal dan memblokade Hamas yang menang Pemilu di Palestina secara demokratis tahun 2006. Barat juga sedikit kepeduliannya terhadap nasib-nasib negara miskin. Padahal negaranya ekonominya berkelihan.

Walhasil, di dunia Islam, yang cocok adalah teodemokrasi bukan demokrasi. Dan bukan mustahil sistem ini akan terwujud di negeri-negeri Islam. Banyak hal-hal yang tak terduga di masa depan. Wallahu aliimun hakiim.*

Selasa, 07 April 2009

Pemilu 2009: Memilih atau Tidak Memilih

Pemilu 2009: Memilih atau Tidak Memilih
Oleh : Nuim Hidayat*

“Leiden is lijden “ (Kasman Singodimedjo)

Pemilu 2009 ini mungkin dilema bagi orang-orang muslim yang terpelajar, kritis dan bukan caleg. Memillih atau tidak memilih. Diskusi ramai baik di kantor-kantor, masjid atau internet tentang pemilu ini. Suara mengajak golput pun mengemuka baik oleh beberapa aktivis gerakan Islam, seperti HTI, Anshorut Tauhid maupun beberapa kelompok sekuler yang frustasi terhadap sistem demokrasi di Indonesia .

Pemilu yang ketiga paska tumbangnya Orde Baru ini, memang menjadikan banyak orang semakin kritis. Rakyat melihat bagaimana sehari-hari polah tingkah wakil yang dipilihnya selama lima tahun atau sepuluh tahun itu. Bagaimana kepedulian wakil rakyat partai-partai Islam itu kepada orang-orang miskin, kepada kader-kader dakwah yang melarat, gagasan-gagasan pembangunan yang Islami dan keseriusan perjuangan mereka dalam menegakkan nilai-nilai Islam di daerah dan nasional dalam Undang-undang dan lain-lain.

Kita memahami adanya sekelompok orang yang menginginkan golput dalam pemilu ini. ”Pemilu ini seperti judi,”kata Ridwan Saidi. Maksudnya banyaknya caleg yang mengeluarkan uang milyaran dan berharap uang akan balik modal ketika ia menjabat, memang sekilas seperti judi. Tapi, mungkin orang lain bisa berpendapat seperti investasi dalam dagang.

Meutya Hafidz caleg dari Partai Golkar, dalam sebuah dialog di Metro TV sekitar sebulan lalu, menyatakan bahwa ia telah mengeluarkan uang 300 juta dalam kampanyenya di Sumatra Utara. ”Mungkin nanti akan menghabiskan sampai 500 jutaan” tuturnya. Mantan wartawan yang pernah disandera mujahidin Irak ini menyatakan bahwa itu adalah biaya untuk spanduk, pamflet, jamuan makan untuk konstituen, tim yang membantunya dalam kampanye dan lain-lain. Ia menyatakan biaya yang ia keluarkan seharusnya sampai 1 milyar sampai kampanye selesai nanti.

Memang biaya pemilu nasional tahun ini luar biasa. Yaitu menurut KPU sebesar Rp. 47.941.202.175.793, hampir 48 trilyun. Dengan jumlah pemilih (DPT) sekitar 174 juta orang. Bila dijumlahkan antara pengeluaran yang dibelanjakan oleh para caleg dan anggaran dari KPU mungkin jumlahnya lebih dari 60 trilyun.

Sistem Pemilu

Memang kalau kita amati, sistem pemilu ini luar biasa borosnya. Bagi orang-orang yang telah mengikuti beberapa pemilu, kemungkinan besar akan jengkel dengan banyaknya spanduk, pamflet, billboard, bendera yang dipajang hampir di tiap gang, atau jalan-jalan di kota. Bila kita melihat ’model demokrasi’ yang diterapkan di Malaysia atau di negara-negara maju, nampaknya tidak norak seperti yang terjadi di Indonesia.

Pemborosan ini, makin bertambah bila model pemilihan bupati/walikota atau gubernur tidak diubah. Kabarnya di pemerintahan atau DPR sendiri kini sedang diupayakan untuk penghapusan pemilihan langsung kepala daerah itu.

Terhadap pemborosan negara ini, kita teringat nasehat Sultan Muhammad al Fatih, pembebas Konstantinopel Turki kepada anaknya (dan juga kepada para pemimpin-pemimpin negara) : ” Janganlah kamu menghambur-hamburkan harta negara dalam foya-foya dan senang-senang atau kamu pergunakan lebih dari yang sewajarnya. Sebab itu semua merupakan penyebab utama kehancuran.”

Memang bila para calon anggota DPR mengeluarkan ratusan juta atau milyaran dalam kampanye, mungkin kita akan sulit mengharapkan anggota DPR itu tidak memboroskan uang negara. Perhitungan modal atau investasi 1 milyar misalnya, maka anggota DPR mungkin akan berhitung bila gaji mereka di senayan 50 juta sebulan ditambah uang sidang dan lain-lain 60 juta misalnya (bulan-bulan tertentu bisa 75-100 juta), maka dalam waktu tidak lebih dari 17 bulan uang akan balik modal. Maka 43 bulan berikutnya adalah tinggal memanen untung. (Tentu ada pengecualian bagi calon wakil-wakil rakyat yang melarat atau yang mengeluarkan dana hanya puluhan juta).

Padahal, harusnya partai-partai Islam, PKS, PBB, PPP dan lain-lain bila ingin mengadakan perubahan secara fundamental di negeri ini, maka caleg-caleg itu harusnya minta penurunan gaji, bukan kenaikan gaji. Gaji 25 juta dengan ritme kerja DPR Pusat yang kerjanya rombongan itu (lain dengan menteri yang pekerjaannya individual), tentu sudah cukup memadai. Seorang wakil rakyat, apalagi dari partai Islam, harusnya memberikan teladan tidak memboroskan uang negara. Tapi sulit kita mengharap mereka akan minta dan berjuang untuk penurunan gaji, karena perhitungan modal kampanye yang telah mereka keluarkan. Apalagi bila caleg itu tidak bisa mengekang nafsu memmiliki harta itu yang memang tidak ada habisnya. Orang yang kaya biasanya ingin terus bertambah-tambah kekayaannya.

Kenapa gaji DPR perlu diturunkan? Karena DPR adalah wakil rakyat yakni yang mewakili suara rakyat. Ketika gaji DPR besar, maka Gaji Menteri, Presiden atau Pejabat Negara lain ingin lebih besar pula. Karena yang membuat UU untuk penggajian adalah DPR, maka merekalah yang harusnya memberi teladan terlebih dahulu. Mereka seharusnya mikir bahwa di tengah-tengah mereka rakyat miskin masih berjumlah hampir 40 juta orang dengan penghasilan di bawah 200 ribu per bulan. Maka kadangkala timbul pertanyaan di benak gaji wakil rakyat 50 juta sebulan itu halal, haram atau syubhat? (Ingat harta itu adalah harta rakyat. Ibaratnya DPR atau pegawai pemerintah itu seperti amil yang harus mengalokasikan gaji untuk harta yang dkumpulkan amil itu sekedarnya. Bukan menjadi amil kemudian menumpuk-numpuk kekayaan dari harta rakyat itu. Barangkali perkecualian bagi anggota-anggota DPR yang bersedekah separo gajinya atau lebih).

Tidak Memilih?

Melihat gaji, kinerja dan gaya hidup sebagian besar anggota DPR, kita mungkin muak. Mengaku wakil rakyat, tapi seringkali ia hanya mewakili dirinya sendiri atau partainya dan dalam kerja sehari-harinya tidak serius memikirkan rakyat. Bila dalam masa kampanye menyerukan agar berbondong-bondong masyarakat miskin atau kader-kader hadir atau mendukungnya, seringkali setelah terpilih, dan rakyat miskin itu butuh bantuan, kebanyakan penyakit ”pelit bin medit” menghinggapi (cerita banyaknya kader-kader yang miskin butuh bantuan tidak dipedulikan anggota DPR itu sangat banyak). Lupa otaknya terhadap kader-kader yang naik motor berpanas-panasan, bensin beli sendiri, bahkan kadang-kadang harus merelakan cuti kantor atau tidak mendapatkan uang hari itu karena mendukung caleg atau partai itu.

Akhirnya dengan model gaya hidup anggota DPR itu, banyak orang berfikir nggak ada gunanya untuk milih. Kelakuan partai sekuler dan partai Islam ternyata sama saja.

Kita memahami cara berfikir orang-orang golput ini. Tapi pertanyaannya ’dengan tidak memilih itu’ apakah pemilu gagal? Apakah keadaan akan berubah lebih baik? Pertanyaan itu yang harus kita jawab.

Bila kita berpikir cermat, maka memilih ternyata lebih baik. Meski kebanyakan wakil rakyat adalah ’brengsek’, tapi masih ada beberapa orang yang baik. Mereka yang muslimnya bagusnya, hidupnya sederhana, peduli kepada masyarakat miskin, suka bekerja keras dan lain-lain. ”Bila kita tidak memilih maka suara kita yang mestinya masuk ke orang-orang yang mungkin baik itu (caleg-caleg partai Islam), jadi hilang,”kata politisi Islam, Hartono Mardjono dan Hussein Umar almarhum. Suara partai sekuler/kristen jadi tambah, karena mereka tidak menganjurkan golput. Bila kita memilih ada kemungkinan orang yang baik terpilih. Bila tidak, maka kemungkinan orang baik terpilih itu jadi hilang. Apalagi ketika gereja-gereja menyuruh warganya memilih. Arti memilih itu lebih penting lagi, ketika masyarakat Islam menjadi minoritas atau seimbang komposisinya di sebuah daerah pemilihan dengan orang non Muslim.

Maka penulis ingat ketika Pak Natsir dan tokoh-tokoh Masyumi tidak menganjurkan golput di tahun 70, 80 atau 90 an, meski saat itu yang naik ke panggung politik adalah para politisi Islam kelas dua. Pak Natsir, Pak Roem, Pak Syafruddin politisi Islam kelas satu, dilarang berpolitik saat itu dan akhirnya membentuk Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia. Para tokoh itu melihat perubahan masyarakat, bukanlah berpangkal dari politik, perubahan masyarakat dari pendidikan dan dakwah. Politik hanyalah membantu perubahan itu dan ia bukan titik sebab atau sentral perubahan.

Begitulah, keadaan ini kita jalani. Karena kita memang ditakdirkan hidup di Indonesia yang lagi euforia terhadap kebebasan. Kita tidak hidup di Arab Saudi yang tidak ada pemilu. Kita ingin memperbaiki negeri Indonesia ini agar lebih baik dan lebih Islami. Dan dalam sunnatullah perubahan sosial, perubahan masyarakat itu terjadi bertahap. Tidak ada perubahan di dunia ini, perubahan sosial yang tiba-tiba meskipun dengan revolusi.

Apalagi dan alhamdulillah kita di Indonesia ini, para tokoh-tokoh Islam pendahulu kita telah memperjuangkan Piagam Jakarta menjadi landasan negara. Meski kemudian yang disahkan adalah UUD 45 setelah proklamasi 1945, tapi dalam Dekrit 5 Juli 1959 dinyatakan bahwa Piagam Jakarta menjiwai UUD 45. Menurut tokoh Masyumi Mohammad Roem, Piagam Jakarta itu lebih tinggi dari UUD 45. Karena jiwa lebih tinggi dari fisik. Artinya perjuangan penegakan syariat Islam di negeri ini, mempunyai landasan yang kuat di negeri ini. Tergantung saat ini bagaimana para ahli hukum Islam dan kita semua masyarakat Islam, baik yang berjuang dalam sistem maupun luar sistem bersama-sama mengaplikasikan syariat Islam ini menjadi Undang-undang yang ’applicable’.

Dan sunnatullah perjuangan adalah dimulai dari pemimpin. Baik pemimpin formal (anggota DPR, menteri, bupati/gubernur dll) maupun pemimpin informal (pemegang media massa, kiyai, ustadz, dosen, guru, aktivis gerakan dan lain-lain).

Bila pemimpin tidak memberikan teladan, maka rusaklah pengikut-pengikutnya. Biasanya kerusakan sebuah gerakan, partai atau organisasi, bahkan negara dimulai dari kerusakan pemimpin-pemimpinnya. Pepatah yang terkenal ”Ikan busuk dari kepalanya”. Dan kesederhanaan, tidak bermewah-mewah adalah ciri utama dari seorang pemimpin Islam.

Maka suatu hari di tahun 1925, Mohammad Roem diajak ngaji oleh Kasman Singodimedjo dan Soeparno ke rumah Haji Agus Salim. Jalan ke rumah Agus Salim itu becek bila kena hujan dan saat Kasman datang, Agus Salim Salim berkomentar: ”Hari ini anda datang secara biasa. Kemarin peranan manusia dan sepeda terbalik.” Kasman menjelaskan ke Roem bahwa kemarin ia ditunggangi sepeda bukan ia menunggangi sepeda. Maka Kasman menjawab ke Agus Salim : ”Een leidersweg is een lijdensweg, Leiden is lijden.”

Maknanya : ”Jalan pemimpin bukan jalan yang mudah, Memimpin adalah menderita.” ***

*Sekjen Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia Kota Depok

Kamis, 12 Maret 2009

Islamisasi Ilmu Dari Salman Kemudian Terabaikan


Kamis, 12 Maret 2009 pukul 11:22:00
Islamisasi Ilmu Dari Salman Kemudian Terabaikan


Gagasan Islamisasi Ilmu memang mendesak untuk dilakukan. Sebab, ilmu yang rusak, adalah sumber dari segala kerusakan. Dari ilmu yang rusak, lahir pula cendekiawan yang rusak bahkan ulama yang rusak.


Pada 16 Desember 2008 lalu, dalam sebuah diskusi di Masjid Salman ITB-Bandung, Pendidikan Islam, Prof. Wan Mohd. Nor Wan Daud meng ingatkan tentang kembali sebuah gagasan lama yang sempat semarak, tapi kemudian terabaikan: “Islamisasi ilmu.” Pada Desember itu, Prof. Wan Mohd Nor, alumnus Chicago University yang kemudian berguru kepada begawan Islmisasi ilmu, Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas, melakukan serangkaian diskusi di sejumlah kampus di Jawa (Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Universitas Gajah Mada Yogyakarta, Uni versitas Pajajaran Bandung, dan Uni ver sitas Indonesia). Tema sentral diskusi itu adalah perlunya gerakan “Islamisasi il mu” dihidupkan lagi di dunia Islam, khu susnya di Indonesia, sebagai negara Mus lim terbesar.

Tiga hari sebelumnya, saat membuka seminar di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Prof. Dr. Yunahar Ilyas, wakil ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, menekankan pentingnya integrasi antara keilmuan dan akhlak. Karena itu, menurutnya, diperlukan sebuah pengkajian yang serius terhadap ilmu pengetahuan serta mengintegrasikannya dengan nilainilai luhur Islam atau yang dikenal sebagai “Islamisasi”.

Pada kesempatan itu, Prof. Wan Mohd Nor mempresentasikan makalah bertajuk “Dewesternization and Islamization: Their Epistemic Framework and Final Purpose”. Tantangan terbesar yang dihadapi kaum Muslimin saat ini, kata Prof. Wan begitu dia biasa disapa — adalah problem ilmu. Teori ilmu yang telah berkembang di Barat termanifestasikan dalam berbagai aliran seperti rasionalisme, empirisisme, skeptisisme, agnostisisme, positivisme, objektifisme, subjektifisme dan relativisme.

Aliran-aliran semacam ini setidaknya berimplikasi sangat serius dalam sejumlah hal. Pertama, menegasikan dan memutuskan relasi manusia dengan alam metafisika, mengosongkan manusia dan kehidupannya dari unsur-unsur dan nilai transenden serta mempertuhankan manusia. Kedua, melahirkan dualisme. Manusia dibuat terjebak pada dua hal yang dikotomis dan tak dapat dipersatukan, seperti dikotomi dunia-akhirat, agama-sains, tekstual-kontekstual, akalwahyu, objektif-subjektif, induktifdeduktif dan seterusnya. Ini mengakibatkan manusia sebagai makhluk yang terbelah jiwanya (split personality).

Sebagai solusi alternatif atas bencana implikasi peradaban materialis-sekuler yang anti Tuhan ini diperlukan de westernisasi dan Islamisasi Ilmu-ilmu kontemporer. kontemporer. Karena telah begitu dominannya paradigma keilmuan Barat saat ini, maka salah satu aspek penting dalam Islamisasi Ilmu adalah melakukan “Dewesternisasi”. Proses ini bukanlah dipahami sebagai gerakan anti Barat dan peradabannya. Dewesternisasi ialah membersihkan berbagai pernik peradaban masa kini dari unsur-unsur worldview (pandangan hidup) Barat yang bertentangan dengan worldview Islam yang ‘tauhidi’ dan melahirkan implikasi yang sangat serius dan destruktif atas kemanusiaan sejagad.

Dari Masjid Salman
Bagi para akademisi Muslim di ITB, ide Islamisasi Ilmu bukanlah hal yang baru. Tahun 1981, penerbit Pustaka-Salman ITB, telah menerbitkan buku Islam dan Sekularisme, karya Prof. Naquib al-Attas. Tahun 1984, juga diterbitkan buku Islamisasi Pengetahuan karya Prof. Ismail Ra ji al-Faruqi. Tahun 1983, juga diterbitkan buku penting karya Muhammad Asad, yang berjudul Islam Disimpang Jalan (terjemah dari Islam at The Crossroads, yang terbit pertama tahun 1934).

Muhammad Asad mengatakan seorang Yahudi yang sebelum masuk Islam bernama Leo pold Weiss – problem terberat yang diha dapi umat manusia adalah dominasi per adaban Barat yang materialistik dan anti-agama. Sebab, katanya, saripati per adaban Barat modern adalah ‘irreligious’. Semangat Barat modern untuk membuang semua unsur agama dalam berbagai aspek kehidupan – termasuk bidang keilmuan itulah – itulah yang kemudian dijadikan sebagai standar pengembangan keilmuan dan pendidikan di dunia internasional. Agama dijauhkan dari ilmu pengetahuan. Sarjana biologi, kedokteran, fisika, matematika meskipun Muslim dijauhkan dari ilmuilmu keislaman, seperti al-Quran, hadits, ushul fiqih, bahasa Arab, dan sebagainya.

Bahkan, bidang ilmu-ilmu keislaman pun tak luput dari westernisasi. Meskipun men dirikan berbagai pusat studi agama, tetapi agama tetap diletakkan sebagai “produk budaya”. Agama, juga Tuhan, ha rus tunduk dalam kerangka pikir manusia. Manusialah yang jadi Tuhan dan ber hak mengatur Tuhan. Bukan Tuhan lagi yang mengatur manusia. Dalam istilah Prof. al-Attas: “Man is deified and Deity humanised.” (Lihat, Jennifer M. Webb (ed.), Powerful Ideas: Perspectives on the Good Society, vol 2, hal. 231-240).

Di Masjid Salman, Prof. Wan juga sempat mengklarifikasi gagasan Islamisasi Ilmu dan kesalahpahaman yang selama ini terjadi di berbagai negara, termasuk di Indonesia, sehingga gagasan yang sempat berkembang pada tahun 1980-an itu kemudian tenggelam. Ide Islamisasi, menurutnya, terburu-buru menjadi po -pu ler tanpa disertai penjelasan dan konsep yang mendasar. Padahal, konsep itu sebenarnya telah dipikirkan dan dijabarkan bahkan diaplikasikan dengan matang oleh Prof. Naquib al-Attas.

Pada bab berjudul “Dewesternisasi Pengetahuan” dari buku terbitan Pustaka-Salman ITB tahun 1981, dikutip katakata Prof. Naquib al-Attas tentang karakter keilmuan Barat:

“Saya memberanikan diri untuk menyatakan bahwa tantangan terbesar yang secara diam-diam telah timbul dalam zaman kita adalah tantangan pengeta huan, memang, tidak sebagai tantangan terhadap kebodohan, tetapi pengetahuan yang difahamkan dan disebarkan ke seluruh dunia oleh peradaban Barat. Pengetahuan Barat itu sifatnya telah menjadi penuh permasalahan karena ia telah kehilangan maksud yang sebenarnya sebagai akibat dari pemahaman yang tidak adil. Ia juga telah menyebabkan kekacauan dalam kehidupan manusia, dan bukannya perdamaian dan keadilan. Pengetahuan Barat tersebut berdalih betul, namun hanya memberi hasil kebingungan dan skeptisisme. Barat telah mengangkat peraguan dan pendugaan ke derajat ‘ilmiah’ dalam hal metodologi. Peradaban Barat juga memandang keragu-raguan sebagai suatu sarana epistemologis yang cukup baik dan istimewa untuk mengejar kebenaran.” (hal. 195-196).

Ya. Ilmu adalah sumber dari segala problem kemanusiaan. Jika ilmu yang dipelajari oleh umat manusia adalah ilmu yang rusak, maka rusaklah pikirannya. Lalu, menyusul, rusak pula perilakunya. Ilmu yang salah akan menyebabkan tindakan yang salah pula. Seorang sekular akan berpandangan bahwa menggelar konser amal sambil bertelanjang dan ‘teler’ adalah sebuah amal kebajikan dan kemanusiaan. Bagi seorang humanis sekular, kemanusiaan adalah di atas nilai agama. Seorang pezina tetap bisa dihargai sebagai manusia terhormat, jika dia suka menolong orang lain.

Tujuan ilmu
Dalam bukunya, What Islam Did For Us: Understanding Islam’s Contribution to Western Civilization, Tim Wallace-Murphy mengingatkan, agar orang-orang Barat tidak melupakan hutang budi mereka terhadap Islam. Buku ini sarat dengan datadata sejarah transfer ilmu pengetahuan dari dunia Islam ke dunia Barat di zaman Pertengahan dan abad modern. Tetapi, karena semangat pemberontakan terhadap agama yang sangat tinggi di Eropa, ilmu pengetahuan itu kemudian dipisahkan dari unsur-unsur ketuhanan. Unsur rasio menjadi satu-satunya penentu kebenaran. Unsur wahyu dan ketuhanan dibuang jauh-jauh dari dunia ilmiah.

Apa yang terjadi ketika ilmu menjadi tersekularkan? Ilmu kemudian kehilangan tujuan hakiki dan hanya berfungsi memenuhi hawa nafsu dan kebutuhan jangka pendek. Meskipun ilmu pengetahuan dan tek nologi yang mereka ciptakan mampu melahirkan peradaban yang “maju”, namun “kemajuan” tidak membawa pada ke te nangan, kedamaian dan keadilan. Padahal, dalam Islam, menurut Prof. Wan Mohd Nor, tujuan tertinggi dari ilmu adalah mencetak manusia-manusia yang beradab. Manusia yang beradab pada Allah, pada Rasul, pada ulama pewaris nabi, dan sebagainya.

Dalam pandangan Islam, ilmu harus mengantarkan manusia tidak menjadi syirik, sebab syirik adalah “kezaliman besar”, tindakan yang tidak beradab kepada Allah (QS 31:13). Ilmu yang benar, ha rus mengantarkan manusia kepada keyakinan dan kebahagiaan yang hakiki. Se bab, hanya dengan keyakinan, manusia akan mampu meraih kebahagiaan yang ha kiki.

Untuk itulah, gagasan Islamisasi Ilmu memang mendesak untuk dilakukan. Sebab, ilmu yang rusak, adalah sumber dari segala kerusakan. Dari ilmu yang rusak, lahir pula cendekiawan yang rusak; bahkan ulama yang rusak. Padahal, kata Imam al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin, rakyat rusak gara-gara penguasanya rusak; dan penguasa rusak, gara-gara ulama yang rusak; dan ulama rusak karena terjangkit penyakit “hubbuddunya” (gila dunia). Wallahu A’lam. Adian H. Jurnal Islamia Republika. http://republika.co.id/koran/155/36835/Islamisasi_Ilmu_Dari_Salman_Kemudian_Terabaikan

Minggu, 15 Februari 2009

Untuk Para Pemimpin Politik

"Sesungguhnya orang-orang akan melihat segala urusanmu, sebagaimana engkau dahulu melihat urusan para pemimpin sebelummu. Rakyat akan mengawasimu dengan matanya yang tajam, sebagaimana kamu menyoroti pemerintahan sebelumnya juga dengan pandangan yang tajam." (Surat Khalifah Ali r.a. kepada Gubernur Mesir)

Jabatan politik saat ini menjadi tren dan rebutan jutaan orang dan partai politik. Kampanye lewat spanduk, brosur, kartu nama, facebook, email bertebaran di dunia nyata maupun dunia maya. Salah satu sisi, hal itu menambah ketidaksedapan keindahan tata kota, tapi di sisi lain hal itu tidak bisa dihindari, karena peraturan negara lewat KPU sendiri dibuat untuk memubahkan hal-hal seperti itu.

Tentu ketika mencalonkan menjadi caleg, capub, cagub atau capres, mereka mempunyai mimpi-mimpi indah untuk diri mereka. Kita tidak tahu apakah mereka mempunyai mimpi indah juga untuk konstituen atau masyarakatnya. Misalnya bila dihadapkan pada kondisi krisis, siapa yang dikorbankan dirinya atau rakyatnya, kita tidak tahu apa yang ada dalam benak mereka.

Para ulama dan pemimpin-pemimpin Islam dalam sejarah, telah memberikan nasehat yang berharga tentang masalah ini. Diantaranya adalah nasihat khalifah keempat yang mulia Ali bin Abi Thalib kepada gubernur Mesir Malik bin Harits al Asytar, pada tahun 655M. Nasihat ini berisi prinsip-prinsip dasar tentang pengelolaan atau manajemen sebuah pemerintahan, organisasi dan lain-lain.


Menurut Profesor A Korkut Özal dari Turki, pada perkembangan selanjutnya ternyata surat ini memberi banyak inspirasi bahkan menjadi bahan acuan bagi banyak pemimpin, melintasi ruang dan waktu. Tercatat ia mampu melintasi Eropa di masa Renaissance bahkan Edward Powcock (1604-1691), profesor di Universitas Oxford, menerjemahkan surat ini ke dalam bahasa Inggris untuk pertama kalinya dan pada 1639 disebarkan melalui serial kuliahnya yang disebut Rhetoric.


Berikut cuplikan nasehat-nasehat Sayyidina Ali r.a. yang sangat berharga itu:


"Ketahuilah wahai Malik bahwa aku telah mengangkatmu menjadi seorang Gubernur dari sebuah negeri yang dalam sejarahnya berpengalaman dengan pemerintahan-pemerintahan yang benar maupun tidak benar. Sesungguhnya orang-orang akan melihat segala urusanmu, sebagaimana engkau dahulu melihat urusan para pemimpin sebelummu. Rakyat akan mengawasimu dengan matanya yang tajam, sebagaimana kamu menyoroti pemerintahan sebelumnya juga dengan pandangan yang tajam.


Mereka akan bicara tentangmu, sebagaimana kau bicara tentang mereka. Sesungguhnya rakyat akan berkata yang baik-baik tentang mereka yang berbuat baik pada mereka. Mereka akan 'menggelapkan' semua bukti dari tindakan baikmu. Karenanya, harta karun terbesar akan kau peroleh jika kau dapat menghimpun harta karun dari perbuatan-perbuatan baikmu. Jagalah keinginan-keinginanmu agar selalu di bawah kendali dan jauhkan dirimu dari hal-hal yang terlarang. Dengan sikap yang waspada itu, kau akan mampu membuat keputusan di antara sesuatu yang baik atau yang tidak baik untuk rakyatmu.


Kembangkanlah sifat kasih dan cintailah rakyatmu dengan lemah lembut. Jadikanlah itu sebagai sumber kebijakan dan berkah bagi mereka. Jangan bersikap kasar dan jangan memiliki sesuatu yang menjadi milik dan hak mereka. Sesungguhnya manusia itu ada dua jenis, yakni orang-orang yang merupakan saudara seagama denganmu dan orang-orang sepertimu.


Mereka adalah makhluk-makhluk yang lemah, bahkan sering melakukan kesalahan. Bagaimanapun berikanlah ampun dan maafmu sebagaimana engkau menginginkan ampunan dan maaf dari-Nya. Sesungguhnya engkau berada di atas mereka dan urusan mereka ada di pundakmu. Sedangkan Allah berada di atas orang yang mengangkatmu. Allah telah menyerahkan urusan mereka kepadamu dan menguji dirimu dengan urusan mereka.


Janganlah engkau persiapkan dirimu untuk memerangi Allah, karena engkau tidak mungkin mampu menolak azab-Nya dan tidak mungkin dirimu akan meninggalkan ampunan dan rahmat-Nya.


Janganlah pernah menyesal atas ampunan yang kau berikan. Begitupun janganlah bergembira dengan sebuah hukuman. Jangan pula tergsa-gesa memutuskan atau melakukan semata karena emosi, sementara engkau sebenarnya dapat memperoleh jalan keluar.


Jangan katakan:"Aku ini telah diangkat menjadi pemimpin, maka aku bisa memerintahkan dan harus ditaati", karena hal itu akan merusak hatimu sendiri, melemahkan keyakinanmu pada agama dan menciptakan kekacauan dalam negerimu. Bila kau merasa bahagia dengan kekuasaan atau malah merasakan semacam gejala rasa bangga dan ketakaburan, maka pandanglah kekuasaan dan keagungan pemerintahan Allah atas semesta, yang kamu sama sekali tak mampu kuasai. Hal itu akan meredakan ambisimu, mengekang kesewenang-wenangan dan mengembalikan pemikiranmu yang terlalu jauh.


Jangan sampai engkau melawan Allah dalam keagungan-Nya dan menyerupai-Nya dalam keperkasaan-Nya. Sesungguhnya Allah akan merendahkan setiap orang yang angkuh dan menghinakan setiap orang yang sombong.


Senantiasa belajarlah segala sesuatu hal pada mereka yang memiliki pengalaman yang matang dan penuh kebijakan. Seringlah bertanya pada mereka tentang hal-hal kenegaraan sehingga engkau dapat mempertahankan kebaikan dan perdamaian yang oleh para pendahulumu sudah pernah ditegakkan.


Tajamkanlah matamu pada orang-orang yang sejak dulu atau sekonyong dekat denganmu, akan cenderung menggunakan posisinya untuk mengambil atau mengorupsi milik dan hak orang lain dan siap berlaku tidak adil. Tekanlah sedalamnya kecenderungan seperti itu.


Buatlah peraturan-peraturan di bawah kendalimu yang tidak memberi kesempatan sekecil pada kerabatmu. Hal itu akan mencegah mereka melakukan kekerasan pada hak orang lain dan menghindarkanmu dari kehinaan di depan Allah dan manusia umumnya."


Menarik juga membaca surat wasiat Sultan Muhammad al Fatih (831 H) kepada anaknya. Al Fatih oleh para ulama dan sejarawan Islam disebut sebagai penakluk Konstatinopel. Ia adalah laki-laki yang disebut Rasulullah saw sebagai : "Konstatinopel akan bisa ditaklukkan di tangan seorang laki-laki . Maka orang yang memerintah di sana adalah sebaik-baik penguasa dan tentaranya adalah sebaik-baik tentara." (HR Ahmad)


Dr. Ali Muhammad as Shalabi mengemukakan sifat-sifat mulia Muhammad al Fatih ini sehingga menjadi pemimpin besar dalam sejarah Islam. Sifat-sifat itu adalah: perhatian yang tinggi terhadap universitas dan sekolah, kepeduliannya yang besar terhadap para ulama, perhatiannya terhadap penyair dan sastrawan, kepeduliannya terhadap penerjemahan buku-buku, perhatiannya terhadap pembangunan dan rumah sakit, kepeduliannya terhadap perdagangan dan industri, perhatiannya terhadap masalah administrasi, kepeduliannya terhadap tentara dan armada laut dan komitmennya pada keadilan.


Berikut cuplikan nasehat sang penakluk Konstatinopel (Turki) itu:

"Tak lama lagi aku akan menghadap Allah SWT. Namun aku sama sekali tidak merasa menyesal, sebab aku meninggalkan pengganti seperti kamu. Maka jadilah engkau seorang yang adil, saleh dan pengasih. Rentangkan perlindunganmu terhadap seluruh rakyatmu tanpa perbedaan. Bekerjalah kamu untuk menyebarkan agama Islam sebab ini merupakan kewajiban raja-raja di bumi. Kedepankan kepentingan agama atas kepentingan lain apapun. Janganlah kamu lemah dan lengah dalam menegakkan agama. Janganlah kamu sekali-kali memakai orang-orang yang tidak peduli agama menjadi pembantumu. Jangan pula kamu mengangkat orang-orang yang tidak menjauhi dosa-dosa besar dan larut dalam kekejian. Hindari bid'ah-bid'ah yang merusak. Jauhi orang-orang yang menyuruhmu melakukan itu. Lakukan perluasan negeri ini melalui jihad. Jagalah harta baitul mal jangan sampai dihambur-hamburkan. Jangan sekali-kali engkau mengulurkan tanganmu pada harta rakyatmu kecuali itu sesuai dengan aturan Islam. Himpunlah kekuatan orang-orang yang lemah dan fakir, dan berikan penghormatanmu kepada orang-orang yang berhak.


Oleh sebab ulama itu laksana kekuatan yang harus ada di dalam raga negeri, maka hormatilah mereka. Jika kamu mendengar ada seorang ulama di negeri lain, ajaklah dia agar datang ke negeri ini dan berilah dia harta kekayaan. Hati-hatilah jangan sampai kamu tertipu dengan harta benda dan jangan pula dengan banyaknya tentara. Jangan sekali-kali kamu mengusir ulama dari pintu-pintu istanamu. Janganlah kamu sekali-kali melakukan satu hal yang bertentangan dengan hukum Islam. Sebab agama merupakan tujuan kita, hidayah Allah adalah manhaj (pedoman) hidup kita dan dengan agama kita menang.


Ambillah pelajaran ini dariku. Aku datang ke negeri ini laksana semut kecil, lalu Allah karuniakan kepadaku nikmat yang demikian besar ini. Maka berjalanlah seperti apa yang aku lakukan. Bekerjalah kamu untuk meninggikan agama Allah dan hormatilah ahlinya. Janganlah kamu menghambur-hamburkan harta negara dalam foya-foya dan senang-senang atau kamu pergunakan lebih dari yang sewajarnya. Sebab itu semua merupakan penyebab utama kehancuran." Wallahu aziizun hakiim.*