Sebuah sensus baru 11 Desember 2012 lalu, menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang paling cepat berkembang di Inggris dan Wales. "Agama adalah sulit untuk mendefinisikan dan sulit untuk diukur," kata Nick Spencer, direktur riset di think-tank teologi Theos kepada The Daily Mail. "Sensus mengukur identifikasi agama, bukan keyakinan atau praktek. Ini tentang apa yang orang menyebut diri mereka, dan kelompok mana yang mereka ingin mengidentifikasikan "
"Berbuat Adillah, Karena Adil itu Lebih Dekat Kepada Taqwa" "(Ulil Albab) Mereka yang mendengarkan Perkataan, Lalu Mengikuti yang Terbaik"
Selasa, 11 Desember 2012
Islam Agama Tercepat Pertumbuhannya di Inggris dan Amerika
Sebuah sensus baru 11 Desember 2012 lalu, menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang paling cepat berkembang di Inggris dan Wales. "Agama adalah sulit untuk mendefinisikan dan sulit untuk diukur," kata Nick Spencer, direktur riset di think-tank teologi Theos kepada The Daily Mail. "Sensus mengukur identifikasi agama, bukan keyakinan atau praktek. Ini tentang apa yang orang menyebut diri mereka, dan kelompok mana yang mereka ingin mengidentifikasikan "
Bias Media AS dalam Menggambarkan Citra Islam
Oleh: Nuim Hidayat
“Organisasi
pinggiran anti Muslim mendominasi media massa dengan menampilkan
ketakutan dan kemarahan,”kata Christopher Bail, asisten profesor
sosiologi di University of North Carolina, kepada majalah Wired. Bail
telah melakukan penelitian pengaruh kelompok pinggiran ini pada liputan media AS terhadap Muslim.
Jumat, 19 Oktober 2012
Menengok Kejayaan Islam di Andalusia: Mungkinkah Kembali?
Oleh: Nuim Hidayat
Kejayaan Andalusia
tidak bisa dilepaskan dari peranan besar khalifah Bani Umayah yang pertama di
sana. Abdul Rahman I (756-788M) adalah seorang pemimpin yang terpelajar,
berwibawa dan amat meminati bidang kesusasteraan. Karena begitu cintanya pada
bidang ini, ia mendirikan satu tempat khusus di dalam istananya yang diberi
gelar ‘Darul Madaniyat’ untuk kegiatan kesusasteraan kalangan wanita Andalus.
Pada zaman Abdul
Rahman I, golongan cerdik pandai dan alim ulama begitu dihormati dan dipandang
tinggi oleh pemerintah, para pembesar dan masyarakat Andalus. Pemerintah telah
memberi penghormatan yang tinggi kepada ulama dari Timur seperti al Ghazi ibn
Qais dan Abu Musa al Hawari untuk menyampaikan ilmu agama di sana.
Umar bin Abdul Aziz: Umara yang Ulama
Oleh: Nuim Hidayat (Penulis Buku
‘Imperialisme Baru’)
Suatu ketika sahabat Abdullah bin
Zubair berkata,” “Suatu malam aku sedang menemani Umar bin Khattab berpatroli
di Madinah. Ketika ia merasa lelah, ia bersandar ke sebuah dinding di malam
gelap buta, Ia mendengar suara seorang wanita berkata kepada putrinya, ‘Wahai
putriku, campurlah susu itu dengan air.’ Maka putrinya menjawab, ‘Wahai ibunda,
apakah engkau tidak mendengar maklumat Amirul Mukminin?’ Ibunya bertanya, ‘Wahai
putriku, apa maklumatnya?’ Putrinya menjawab, ‘Dia memerintahkan petugas untuk
mengumumkan, hendaknya susu tidak dicampur dengan air.’ Ibunya berkata,
‘Putriku, lakukan saja, campur susu itu dengan air, kita di tempat yang tidak
dilihat oleh Umar dan petugas Umar.’ Maka gadis itu menjawab, ‘Ibu, Amriul
Mukminin memang tidak melihat kita. Tapi Rabb Amirul Mukminin melihatnya. “
Jumat, 21 September 2012
Musik dalam Islam: Bolehkah?
Oleh: Nuim Hidayat (Dosen STID Moh Natsir,
Jakarta)
Masalah
nyanyian atau musik dalam Islam seringkali menjadi kontroversi. Ada yang
membolehkannya secara terbatas,tapi ada
pula yang mengharamkannya secara mutlak.
Bagaimana hukum nyanyian dan musik dalam Islam? Syekh Abdurrahman Al
Baghdadi menguraikan dengan lugas dan jelas masalah ini. Berikut ringkasan bukunya ‘Seni dalam Pandangan Islam’
.
Pakar Fiqih
Islam ini menuliskan dalil-dalil dari kalangan ulama baik yang mengharamkan
maupun yang membolehkan. Kemudian ia mentarjihnya dan mengambil kesimpulan. Ia
berkesimpulan bahwa bagi yang telah mengkaji serius masalah hukum musik ini dan
menarik suatu kesimpulan, maka itu menjadi hukum syara’ baginya. Apakah itu haram, makruh atau mubah. Dengan
kata lain, seorang mujtahid terikat dengan ijtihadnya, begitulah kaidah ushul
menyatakan.
Jalaluddin Rakhmat Ternyata Pembela Pluralisme
Oleh: Nuim Hidayat (Penulis Buku Imperialisme
Baru)
Insiden Sampang mencuatkan Jalaluddin Rakhmat
sebagai Ketua Ijabi (Ikatan Jamaah Ahlu Bait). Pendapat-pendapatnya banyak
dikutip media massa. Ternyata selain tokoh Syiah, ia adalah pembela gigih
pluralisme.
Jalaluddin
memang seorang tokoh yang luar biasa. Semenjak saya kuliah di IPB akhir 80’an, buku-bukunya
telah menjadi kegemaran saya dan best seller di Indonesia. Saat itu tiap
bukunya terbit, hampir selalu saya membelinya. Meski saya bukan penganut Syiah,
tapi karena saya haus buku saat itu, saya suka membaca karyanya. Karyanya enak
dibaca, bahasanya lugas dan logikanya ‘cerdas”.
Atas Nama Hawa Nafsu: Gerakan Liberalisme Denny JA dan Hanung Bramantyo
Oleh:
Nuim Hidayat (Penulis Buku: Islam Liberal)
Film
Cinta Terlarang Batman dan Robin, yang rencananya akan dirilis Oktober 2012
nanti, ternyata berasal dari buku kumpulan Puisi, Denny JA, Atas Nama Cinta.
Bulan April 2012 lalu, salah satu tokoh Jaringan Islam Liberal ini mencoba
kembali mengampanyekan liberalisme lewat puisi-puisinya dalam buku, film,
seminar dan lain-lain.
Lewat
bukunya yang berjudul Atas Nama Cinta, penerbit Rene Book, yang terdiri dari 216
halaman, Denny mencoba mengampanyekan pemikirannya. Perlu diketahui, penerbit
Rene Book ini juga yang menerbitkan buku Irshad Mandji: Allah, Liberty and
Love. Dalam karyanya ini, Denny menuliskan puisi-puisi yang intinya mengajak
kepada kebebasan, pembelaan terhadap non Islam dan penyamaan agama. Puisi Denny
ini memang diluncurkan besar-besaran. Selain dipromosikan besar-besaran di
Gramedia beberapa bulan lalu, buku ini juga dilombakan resensinya di Majalah
Tempo, dilombakan videonya, dibedah di beberapa tempat dan lain-lain. Banyak
tokoh memuji buku Denny ini diantaranya Komaruddin Hidayat, Ignas Kleden,
Bondan Winarno, M Sobary dan lain-lain. Beberapa tokoh menyebutnya genre baru
puisi –tapi sebenarnya model puisi ini telah dimulai oleh Taufiq Ismail.
Selasa, 07 Agustus 2012
Suatu Hari Ramadhan di Pesantren Husnayain Sukabumi Raja Ali Haji, A Teeuw dan Gorrys Keraf
Suatu Hari Ramadhan di Pesantren Husnayain Sukabumi
Raja Ali Haji, A Teeuw dan Gorrys Keraf
Oleh: Nuim Hidayat (Pengajar Pesantren Husnayain)
Seperti biasa tiap Senin pagi saya bersama beberapa Ustadz mengajar ke Pesantren Husnayain Sukabumi, Saya di pesantren itu diamanahi mengajar bahasa Indonesia untuk murid-murid SMA. Tapi kadangkala juga disuruh mengajar Tauhid, Sejarah dan lain-lain, seperti pada semester-semester lalu. Murid di pesantren itu tidak begitu banyak. Rata-rata santrinya sekelas kurang dari 20 orang. Bila pelajaran, mereka laki-laki dan perempuan kumpul dalam kelas. Laki-laki di depan, perempuan di belakang.
Dulu pernah ada niat untuk memisahkan laki-laki dan perempuan -atau baniin dan banaat, istilah popular di pesantren itu—tapi karena gurunya kurang, kini dicampur lagi.
Meski dicampur interaksi baniin dan banaat dijaga ketat. Bila ketahuan mereka pacaran –misalnya berduaan di tempat sepia tau berboncengan motor- pesantren tak segan-segan akan mengeluarkannya. Meski total jumlah santri tidak begitu banyak, tapi saya melihat semangat dalam diri mereka menyala dalam belajar. Mereka tiap hari latihan bicara bahasa Arab atau Inggris. Kosa kata ‘bahasa asing’ hampir tiap hari diberikan untuk dihafalkan. Untuk semakin memperlancar bahasa lain, mereka sering mengadakan latihan pidato dalam bahasa Arab/Inggris. Latihan ini diikuti oleh semua santri dan masing-masing mereka gantian ke depan mempersembahkan pidato terbaiknya. Saya pernah mengikuti acara ini –pada malam hari—serunya bukan main. Saya melihat hampir tidak ada yang malu atau grogi dalam latihan pidato itu. Mereka bertepuk tangan atau tertawa riang bila kawannya yang ngomong berbahasa asing itu salah ucap atau bingung memperpanjang ceramahnya.
Raja Ali Haji, A Teeuw dan Gorrys Keraf
Oleh: Nuim Hidayat (Pengajar Pesantren Husnayain)
Seperti biasa tiap Senin pagi saya bersama beberapa Ustadz mengajar ke Pesantren Husnayain Sukabumi, Saya di pesantren itu diamanahi mengajar bahasa Indonesia untuk murid-murid SMA. Tapi kadangkala juga disuruh mengajar Tauhid, Sejarah dan lain-lain, seperti pada semester-semester lalu. Murid di pesantren itu tidak begitu banyak. Rata-rata santrinya sekelas kurang dari 20 orang. Bila pelajaran, mereka laki-laki dan perempuan kumpul dalam kelas. Laki-laki di depan, perempuan di belakang.
Dulu pernah ada niat untuk memisahkan laki-laki dan perempuan -atau baniin dan banaat, istilah popular di pesantren itu—tapi karena gurunya kurang, kini dicampur lagi.
Meski dicampur interaksi baniin dan banaat dijaga ketat. Bila ketahuan mereka pacaran –misalnya berduaan di tempat sepia tau berboncengan motor- pesantren tak segan-segan akan mengeluarkannya. Meski total jumlah santri tidak begitu banyak, tapi saya melihat semangat dalam diri mereka menyala dalam belajar. Mereka tiap hari latihan bicara bahasa Arab atau Inggris. Kosa kata ‘bahasa asing’ hampir tiap hari diberikan untuk dihafalkan. Untuk semakin memperlancar bahasa lain, mereka sering mengadakan latihan pidato dalam bahasa Arab/Inggris. Latihan ini diikuti oleh semua santri dan masing-masing mereka gantian ke depan mempersembahkan pidato terbaiknya. Saya pernah mengikuti acara ini –pada malam hari—serunya bukan main. Saya melihat hampir tidak ada yang malu atau grogi dalam latihan pidato itu. Mereka bertepuk tangan atau tertawa riang bila kawannya yang ngomong berbahasa asing itu salah ucap atau bingung memperpanjang ceramahnya.
Jumat, 03 Agustus 2012
Rhoma Irama, Kenapa Dihabisi? Sebuah Catatan Kecil
Rhoma Irama, Kenapa Dihabisi?
Sebuah Catatan Kecil
oleh: Nuim Hidayat (mantan wartawan)
Kasus Rhoma ini menarik. Seseorang yang ceramah di dalam masjid tentang kepemimpinan dalam Islam, kemudian dimasalahkan KPUD. Setelah tentu saja sebelumnya media massa (sekuler) mempermasalahkannya. Memang ada ketentuan dalam aturan kampanye bahwa dilarang kampanye dalam tempat ibadah. Tapi masalahnya... saat ini belum waktunya kampanye, dan juga bagi umat Islam tidak mungkin dilarang menggunakan masjid untuk membicarakan masalah pemimpin.
Masalah kepemimpinan masalah yang urgen bagi umat Islam. Al Qur'an dan Sunnah Rasulullah mengkaji dengan serius masalah itu. Dalam Islam, memilih pemimpin yang pertama dilihat agamanya. Yakni harus Islam. Tidak boleh mengangkat pemimpin non Islam bila masih ada orang Islam yang mampu. Yang kedua, baru keahliannya. Al Qur'an mengingatkan: "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpinmu. Sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golonganan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim." (QS Al Maidah 51).
oleh: Nuim Hidayat (mantan wartawan)
Kasus Rhoma ini menarik. Seseorang yang ceramah di dalam masjid tentang kepemimpinan dalam Islam, kemudian dimasalahkan KPUD. Setelah tentu saja sebelumnya media massa (sekuler) mempermasalahkannya. Memang ada ketentuan dalam aturan kampanye bahwa dilarang kampanye dalam tempat ibadah. Tapi masalahnya... saat ini belum waktunya kampanye, dan juga bagi umat Islam tidak mungkin dilarang menggunakan masjid untuk membicarakan masalah pemimpin.
Masalah kepemimpinan masalah yang urgen bagi umat Islam. Al Qur'an dan Sunnah Rasulullah mengkaji dengan serius masalah itu. Dalam Islam, memilih pemimpin yang pertama dilihat agamanya. Yakni harus Islam. Tidak boleh mengangkat pemimpin non Islam bila masih ada orang Islam yang mampu. Yang kedua, baru keahliannya. Al Qur'an mengingatkan: "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpinmu. Sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golonganan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim." (QS Al Maidah 51).
Selasa, 19 Juni 2012
Piagam Jakarta 22 Juni 1945: Dokumen Negara yang Sah untuk Penerapan Syariat Islam
Piagam Jakarta: Dokumen Negara yang Sah untuk Penerapan Syariat Islam
Oleh: Nuim Hidayat (Peneliti Insists, Dosen Universitas Az Zahra, Jakarta)
Ketika 2004, Hidayat Nur Wahid menjadi Ketua MPR, langsung diinterupsi seorang anggota DPR dari PDIP, bahwa jangan sekali-kali membawa-bawa Piagam Jakarta. Begitu pula ketika banyak UU di negeri ini yang sesuai dengan nilai-nilai Islam, kalangan Kristiani menyatakan : “Kita memerlukan presiden yang tegas dan berani menentang segala intrik atau manuver-manuver kelompok tertentu yang ingin merongrong Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ini. Ketika kelompok ini merasa gagal memperjuangkan diperlakukannya “Piagam Jakarta”, kini mereka membangun perjuangan ini lewat jalur legislasi. Mereka memasukkan nilai-nilai agama mereka ke dalam perundang-undangan. Kini ada banyak UU yang mengarah kepada syariah, misalnya UU Perkawinan, UU Peradilan Agama, UU Wakaf, UU Sisdiknas, UU Perbankan Syariah, UU Surat Berharga Syariah (SUKUK), UU Yayasan, UU Arbitrase, UU Pornografi dan Pornoakasi, dan lain-lain. Apapun alasannya semuanya ini bertentangan dengan prinsip dasar negara ini.” (Tabloid Kristen, Reformata edisi 110/2009).
Konferensi Wali Gereja Indonesia, induk kaum Katolik di Indonesia, pernah mengirim surat kepada calon presiden SBY yang isinya: “Untuk menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia, kami menganjurkan kepada presiden dan wakil presiden terpilih untuk membatalkan 151 peraturan daerah ini dan yang semacamnya serta tidak pernah akan mengesahkan peraturan perundang-undangan yang bertentangan dengan konstitusi Republik Indonesia.” (Adian Husaini, Pancasila bukan untuk Menindas Hak konstitusional Umat Islam, GIP).
Oleh: Nuim Hidayat (Peneliti Insists, Dosen Universitas Az Zahra, Jakarta)
Ketika 2004, Hidayat Nur Wahid menjadi Ketua MPR, langsung diinterupsi seorang anggota DPR dari PDIP, bahwa jangan sekali-kali membawa-bawa Piagam Jakarta. Begitu pula ketika banyak UU di negeri ini yang sesuai dengan nilai-nilai Islam, kalangan Kristiani menyatakan : “Kita memerlukan presiden yang tegas dan berani menentang segala intrik atau manuver-manuver kelompok tertentu yang ingin merongrong Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ini. Ketika kelompok ini merasa gagal memperjuangkan diperlakukannya “Piagam Jakarta”, kini mereka membangun perjuangan ini lewat jalur legislasi. Mereka memasukkan nilai-nilai agama mereka ke dalam perundang-undangan. Kini ada banyak UU yang mengarah kepada syariah, misalnya UU Perkawinan, UU Peradilan Agama, UU Wakaf, UU Sisdiknas, UU Perbankan Syariah, UU Surat Berharga Syariah (SUKUK), UU Yayasan, UU Arbitrase, UU Pornografi dan Pornoakasi, dan lain-lain. Apapun alasannya semuanya ini bertentangan dengan prinsip dasar negara ini.” (Tabloid Kristen, Reformata edisi 110/2009).
Konferensi Wali Gereja Indonesia, induk kaum Katolik di Indonesia, pernah mengirim surat kepada calon presiden SBY yang isinya: “Untuk menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia, kami menganjurkan kepada presiden dan wakil presiden terpilih untuk membatalkan 151 peraturan daerah ini dan yang semacamnya serta tidak pernah akan mengesahkan peraturan perundang-undangan yang bertentangan dengan konstitusi Republik Indonesia.” (Adian Husaini, Pancasila bukan untuk Menindas Hak konstitusional Umat Islam, GIP).
Selasa, 13 Maret 2012
Mengapa Kaum Muslimin Mundur?
Mengapa Kaum Muslimin Mundur?
oleh: Nuim Hidayat (Dosen STID M Natsir)
Pertanyaan ini selalu mengemuka bagi mereka yang sehari-hari bergelut dengan perjuangan menegakkan Islam, melanjutkan risalah Rasulullah saw. Kenapa saat ini lebih dari 1,3 milyar Muslim di dunia mundur, tidak maju dan tidak dapat memimpin dunia, sedangkan orang-orang non Muslim mengalami kemajuan yang mengagumkan dan memimpin peradaban dunia? Pertanyaan hampir sama pernah diungkapkan oleh Syekh Muhammad Basyumi Imran, Imam bagi Kerajaan Sambas, Kalimantan kepada Ustadz Al Amir Syakib Arsalan.
Surat itu disampaikan via pemimpin majalah Al Manaar, Mesir, Sayid Muhammad Rasyid Ridha. Oleh Rasyid Ridha jawaban dari Ustadz Syakib Arsalan itu diberi kata pengantar dan dicetak menjadi sebuah buku yang terbit pertama kali pada 1349 H. Buku itu diberi judul "Limadza taakharal Muslimun wa limadza taqaddama ghairuhum?" (Mengapa Kaum Muslimin Mundur dan Kaum non Muslim Maju?)
Pada bukunya itu, Syakib Arsalan menjelaskan: "Tentang sebab-sebab kemajuan yang diperoleh dan dicapai oleh umat Islam pada masa dahulu, pada pokoknya secara singkat demikian: agama Islam yang baru lahir di seluruh Jazirah Arabia pada masa itu, lalu segera diikuti dan ditaati benar-benar oleh bangsa Arab dan kabilah-kabilah di sekitar Jazirah Arab. Mereka dengan petunjuk dan pimpinan Islam yang benar itu telah berubah dari berpecah belah dan bercerai berai kini menjadi satu, seia dan sekata, dari biadab menjadi beradab, dari bodoh menjadi pandai, dari dungu menjadi cerdik, dari kekerasan hati dan kekerasan perangai menjadi lunak, ramah tamah dan kasih saying sesame makhluk dan dari penyembah berhala menjadi penyembah Tuhan Yang Maha Esa."
oleh: Nuim Hidayat (Dosen STID M Natsir)
Pertanyaan ini selalu mengemuka bagi mereka yang sehari-hari bergelut dengan perjuangan menegakkan Islam, melanjutkan risalah Rasulullah saw. Kenapa saat ini lebih dari 1,3 milyar Muslim di dunia mundur, tidak maju dan tidak dapat memimpin dunia, sedangkan orang-orang non Muslim mengalami kemajuan yang mengagumkan dan memimpin peradaban dunia? Pertanyaan hampir sama pernah diungkapkan oleh Syekh Muhammad Basyumi Imran, Imam bagi Kerajaan Sambas, Kalimantan kepada Ustadz Al Amir Syakib Arsalan.
Surat itu disampaikan via pemimpin majalah Al Manaar, Mesir, Sayid Muhammad Rasyid Ridha. Oleh Rasyid Ridha jawaban dari Ustadz Syakib Arsalan itu diberi kata pengantar dan dicetak menjadi sebuah buku yang terbit pertama kali pada 1349 H. Buku itu diberi judul "Limadza taakharal Muslimun wa limadza taqaddama ghairuhum?" (Mengapa Kaum Muslimin Mundur dan Kaum non Muslim Maju?)
Pada bukunya itu, Syakib Arsalan menjelaskan: "Tentang sebab-sebab kemajuan yang diperoleh dan dicapai oleh umat Islam pada masa dahulu, pada pokoknya secara singkat demikian: agama Islam yang baru lahir di seluruh Jazirah Arabia pada masa itu, lalu segera diikuti dan ditaati benar-benar oleh bangsa Arab dan kabilah-kabilah di sekitar Jazirah Arab. Mereka dengan petunjuk dan pimpinan Islam yang benar itu telah berubah dari berpecah belah dan bercerai berai kini menjadi satu, seia dan sekata, dari biadab menjadi beradab, dari bodoh menjadi pandai, dari dungu menjadi cerdik, dari kekerasan hati dan kekerasan perangai menjadi lunak, ramah tamah dan kasih saying sesame makhluk dan dari penyembah berhala menjadi penyembah Tuhan Yang Maha Esa."
Langganan:
Komentar (Atom)








